Sunday, December 15, 2019

Kekuatan Anak Muda Mewujudkan Energi Hijau

Halaman sampul depan majalah Time memberikan kejutan di penghujung tahun. Greta seorang remaja wanita berusia 16 tahun asal Swedia menjadi sampul utama majalah Time sebagai Person of the Year. Ia terpilih sekaligus mengalahkan sejumlah nama orang serta kelompok atas aksinya pada pemerintah. Majalah Time menuliskan kata-kata: The Power of Youth dalam menggambarkan aksi berani Greta. 

Greta Thunberg dinilai adalah sosok yang gigih dalam menyuarakan kelestarian ekologi, saat remaja sebayanya sedang sibuknya bermain atau belajar. Greta sudah lantang menyuarakan pentingnya kelestarian alam dan peran energi terbarukan (ET) di depan umum pada konferensi iklim di markas besar PBB. Aksi Greta memberikan simpatik jutaan orang atas pendapatnya bahwa suara anak muda punya cara menentukan arah masa depan. 
Bila di Swedia ada Greta Thunberg, di Indonesia pun mungkin ada banyak anak muda yang belum terekspos. Mereka siap secara personal atau kelompok menginspirasi dan memberi tahu pada dunia akan pentingnya pemanfaatan ET. Apalagi bangsa kita masih terlalu sulit beralih dari energi fosil, meningat jumlahnya makin hari makin menyusut, tak sebanding dengan pengguna yang terus meningkat.

Dalam waktu singkat manusia menghabiskannya bahan bakar fosil. Ada begitu banyak tambang bahan bakar fosil tutup setelah masa produksi selesai. Bahkan meningkat perubahan iklim yang sangat serius, seperti menaikkan suhu bumi akibat jebakan lapisan gas efek rumah kaca.

Mungkin hati kita terasa pilu saat melihat pemberitaan mengenai bencana alam akibat efek domino penggunaan energi yang mengganggu siklus bumi. Perubahan iklim dari longsoran es di kutub, kenaikan permukaan air laut, kekeringan di sejumlah wilayah, gagal panen, topan siklon besar hingga banjir bandang yang menghancurkan pemukiman warga.
Krisis energi yang melanda masa depan anak muda
Saat ini energi fosil sudah memasuki masa akhir produksi.  Pemerintah dan semua pihak harus memutar otak, di sinilah peran anak muda bermain, bahan bakar ide kreatifnya tak ada habisnya. Anak muda punya cara memberikan siap berinovasi dalam mengembangkan energi hijau ramah lingkungan.

Lalu muncul pertanyaan, apakah bahan bakar fosil bisa habis?, Iya, saat ini minyak bumi jumlah yang digunakan dalam setahun mencapai 11 miliar ton/tahun dan cadangannya terus menyusut 4 miliar ton/tahunnya. Bila produksi terus digenjot, otomatis di tahun 2052 cadangan minyak bumi akan habis. Untuk Indonesia hanya ada cadangan sebesar 3,2 miliar ton dengan konsumsi 1,7 juta barel/hari. Tanpa impor dari luar negeri, Pertamina selaku pemasok akan kehabisan produksi di tahun 2030.

Lalu ada gas alam, Indonesia terkenal sebagai salah satu produsen gas alam terbesar dengan cadangan mencapai 135, 5 triliun kubik. Gas alam dianggap sebagai cadangan energi yang mampu bertahan lebih lama dibandingkan dengan minyak bumi. Berdasarkan jumlahnya saat ini, bila produksi terus ditingkatkan. Di tahun 2060 gas alam akan menyusul minyak yang terlebih dahulu habis.

Terakhir adalah batu bara, di Indonesia batu bara banyak digunakan sebagai bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Uap. Memang cadangannya masih sangat besar, mencapai angka 38,8 miliar. Penggunaan rata-rata tahunan mencapai 500 juta ton, diprediksi di tahun 2088 Indonesia akan kehabisan pasokan batu bara.
Bukan berarti saat itu bahan bakar fosil habis secara keseluruhan, tetapi cadangan minyak yang dimiliki semakin sedikit dan tidak bisa dieksplorasinya secara besar-besaran lagi. Artinya ada rentang 30 – 60 tahun lagi waktu yang harus dioptimalkan dalam mencari energi alternatif. Sebelum bom waktu saat energi tak terbarukan habis dan manusia belum bisa mengoptimalkan ET.

Milenial dan Gebrakannya pada Pemerintah terkait Masalah Energi
Berbagai isu perubahan iklim yang digaungkan datang dari kalangan milenial. Kepedulian mereka seperti menyuarakan penghematan energi, dukungan pengalihan energi, hingga kasus perubahan iklim. Aksi getol yang dilakukan tergolong sederhana, mereka mencoba melakukan kampanye melalui sosial media akan daruratnya perubahan iklim serta proses mekanisme peralihan ke dalam ET.

Kampanye dari sosial media jadi opsi yang anak milenial lakukan, seperti tweet dan postingan beserta tagar (#) hingga menulis blog pribadi dengan data dan diksi yang ia mainkan. Dijamin buat masyarakat sadar untuk menjaga lingkungan jadi lebih baik dan mengenali berbagai ET di sekitar.
Kampanye ala milenial membuat pemerintah tersadar dan merancang Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) tahun 2019-2028. Pengembangan yang dilakukan adalah mengembangkan ET mulai dari geotermal, PLTA, PLTB, PLTS, biomassa, biofuel, biogas hingga gasifikasi batu bara. Diharapkan pada tahun 2025 sudah ada sebanyak 23% penggunaan listrik nasional menggunakan ET.

Melihat Potensi Energi Terbarukan Paling Tepat di Indonesia
Selama ini Indonesia jadi negara yang bertumpu besar dalam pemenuhan energi menggunakan bahan bakar fosil. Ada begitu banyak pembangkit listrik dengan kapasitas Megawatt yang mengandalkan bahan bakar fosil. Itu belum termasuk kendaraan yang digunakan masyarakat mayoritas menggunakan bahan bakar fosil dengan tingkat emisi yang cukup parah.
Mengingat makin langkanya bahan bakar fosil seakan pilihan energi terbarukan (ET) jadi solusi terbaik. Berbagai riset dan pengembangannya terus digenjot yang bisa dinikmati oleh masyarakat. Bagi saya, untuk proses penerapan ET harus punya tolak ukur yang wajib dipenuhi yaitu fleksibilitas (terkait lokasi pembangkit listrik) dan tentu saja biaya yang dibutuhkan untuk beralih sepenuhnya dan perbandingan harga antara listrik berbahan fosil dengan ET.

Tak perlu khawatir karena Indonesia punya segudang ET yang belum dioptimalkan. Berdasarkan riset, ada 7 ET yang akan dikembangkan yang punya potensi besar. Energi yang dioptimalkan mulai dari geotermal, bioenergi, surya, angin, gelombang laut, air dan micro hydro. Nantinya akan banyak instalasi besar yang menjadi lokasi penerapan energi tersebut.
Potensi Sarulla dan listrik yang dihasilkan
Pengaplikasian yang cukup sukses adalah dengan berdirinya pembangkit listrik bertenaga panas bumi di Sarulla, Sumatera Utara. Apalagi Indonesia merupakan penghasil energi panas bumi terbesar di dunia dengan total 40% cadangan panas bumi dunia. Hanya saja baru sekitar 4-5% yang baru dimanfaatkan secara optimal, semuanya berasal dari aktivitas vulkanik dan tektonik.

Energi Masa Depan Melalui Pengembangan Industri Baterai
Keberadaan baterai sudah begitu lama dikenal manusia dan sering disepelekan. Hingga akhirnya inovasi datang dari tiga ilmuwan John Goodenough, Stanley Whittingham, dan Akira Yoshino berkat penemuan baterai lithium-ion. Dedikasi mereka dalam penemuan dan pengembangan baterai lithium ion secara massal mengantar ketiganya meraih penghargaan bergengsi Nobel Kimia tahun 2019.
Bayangkan andai saja dunia modern belum menemukan baterai lithium-ion hingga saat ini. Mungkin kita belum mengenal ponsel pintar, laptop, hingga kendaraan listrik. Semuanya masih mengandalkan baterai konvensional alkali standar yang gampang sekali kehabisan daya, atau bisa saja masih terpaku secara penuh dengan bahan bakar fosil.

Selama ini baterai yang kita kenal menggunakan Elektroda dan Anoda berbahan alkali-acid. Digantikan menggunakan bahan lithium-kobalt dan grafit. Alhasil lahirlah baterai dengan kelebihan mengisi daya lebih cepat, bertahan lebih lama, dan punya tingkat kepadatan daya lebih tinggi dengan bentuk ringkas.
Proses pengisian daya pada kendaraan listrik
Baterai dinilai sebagai renewable fuel yang bisa diisi ulang dan digunakan dalam jangka panjang. Membuat manusia yang dulu mengandalkan segala aktivitas geraknya seperti berkendara menggunakan kendaraan berbahan fosil mulai mempertimbangkan beralih ke energi listrik.

Kini tren mobil listrik sudah jadi demam di masyarakat, salah satunya pabrikan asal Amerika Serikat yang sedang menjajal Indonesia sebagai pusat pembangunan baterai lithium-ion milik mereka. Ini sangat cocok karena ada banyak bahan baku berupa nikel dan kobalt. Bahkan Tesla sudah merencanakan pembangunan pabrik seluas 120 hektar di Indonesia tepatnya di Morowali, Sulawesi Tengah.
Pemerintah sudah mendukung kendaraan listrik dengan mengeluarkan Perpres (Peraturan Presiden) No. 55 Tahun 2019 terkait percepatan program kendaraan bermotor listrik bertenaga baterai (Battery Electric Vehicle) sebagai moda transportasi jalan. Termasuk memberikan kompensasi harga dan penggunaan listrik buat pengguna kendaraan listrik. Serta bekerja sama dalam membangun infrastruktur power station untuk penggunan moda kendaraan listrik.
Perangkat Powerwall untuk dipasang di rumah
Bahkan dari rumah pengguna bisa mengisi daya melalui teknologi penyimpanan layaknya Powerbank. Teknologi tersebut bernama Powerwall, berupa kapasitor berukuran besar yang bisa digunakan untuk menyimpan daya listrik. Artinya energi yang dihasilkan dari proses pengolahan hingga pemanfaatannya merupakan energi hijau.

Industri Mobil Listrik dan Peran Anak Muda Indonesia
Selama ini pengembangan teknologi listrik identik dengan Elon Musk. Tapi jangan salah,  Indonesia punya anak muda yang mampu membuat pembangkit listrik bertenaga kincir angin hingga prototype mobil listrik. Namanya Ricky Elson, ada sebanyak 14 paten teknologi hijau yang ia punyai. Salah satunya dalam membantu masyarakat pesisir mendapatkan listrik yang layak.
Ricky Elson dan cita-citanya mengembangkan
kincir angin dan mobil listrik
Nama pembangkit yang ia kembangkan adalah Lentera Angin Nusantara (LAN), berhasil diterapkan pada masyarakat pedesaan di Dusun Lembur Tengah, Desa Ciheras, Tasikmalaya, Jawa Barat. Konsepnya menggunakan micro wind turbine bertenaga angin, pembangkit tersebut berdiri di atas pematang sawah warga yang tak terpakai.

Penemuan paling fenomenal adalah prototype mobil listrik yang Ricky buat dan berhasil memikat Dahlan Iskan yang kala itu menjabat sebagai Menteri BUMN. Namanya Selo yang punya tenaga seperti mobil sport dan daya jelajah yang cukup jauh.
Dibekali motor listrik penggerak berkapasitas 130 kw yang mampu menghasilkan torsi energi hingga 182 dk. Selo punya transmisi otomatis dengan 6 percepatan dan kemampuan berakselerasi hingga kecepatan 220 km/jam. Proses pengisian daya cukup 4 jam saja, tapi waktu yang singkat tersebut bisa menempuh jarak hingga 250 km untuk sekali pengisian daya.

Ricky Nelson satu dari sekian banyak anak muda yang tertarik pada pengembangan bisnis kendaraan bertenaga hijau. Ada banyak anak muda lainnya yang mencoba cara yang dilakukan oleh Ricky dalam pengembangan kendaraan listrik. Mungkin kita pernah mendengar nama kendaraan listrik seperti Tucuxi, Hevina (Ahmadi), Gendhis, hingga Lowo Ireng. Berikut sejumlah mobil listrik karya anak bangsa.
Hanya saja yang menjadi kendala saat ini adalah urusan harga dan penerapannya masih mahal. Ada sejumlah komponen seperti baterai dan motor listrik yang masih dipesan dari luar negeri. Kerja sama dengan Tesla dalam pengembangan pabrik baterai seakan memberikan langkah Indonesia bisa sepenuhnya komponen utama mobil listrik sekaligus membangun industrinya.
Di tengah krisis bahan bakar fosil, kehadiran renewable fuel bertenaga baterai seakan merevolusi bisnis otomotif. Secara perlahan-lahan kendaraan bertenaga fosil tergantikan dengan kendaraan listrik. Anak muda Indonesia pun siap dalam mengembangkan sekaligus jadi pionir bisnis kendaraan listrik di Indonesia. Kita akan bangga dengan inovasi dan kreasi dari tangan mereka atas dedikasi dan inovasi mengubah kebiasaan masyarakat kita mencinta energi hijau.

Semoga tulisan ini menginspirasi dan Have a Nice Day….

Share:

1 comment:

  1. Baru tahu, ternyata pemuda Indonesia hebat2 ya. Sayang berita yang beginian jarang diekspos dan pemerintah pun seolah menutup mata dan telinga dengan peluang ini.

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer