Saturday, December 21, 2019

Sophia, Bukti AI Mampu Tandingi Manusia

Menonton kartun Spongebob Squarepant yang jenaka sering saya lakukan sebelum berangkat kerja. Sembari membuat pagi hari menjadi menyenangkan dengan tontonan kartun yang makin hari makin sedikit. Satu hal yang menarik, ada banyak tokoh yang menarik bagi saya karena tingkah lakunya yang jenaka. Tokoh yang unik dan menarik perhatian adalah Plankton dan istri robotnya bernama Karen.

Sebagai catatan, Karen punya ukuran RAM fantastis yaitu 256 GB,  saat ini komputer paling canggih baru mempunya ram 64 GB. Meskipun memiliki bentuk yang jadul dan kotak, Karen dianggap sebagai robot super karena kemampuan berkomunikasi, melakukan kalkulasi, analisa masalah, dan perencanaan dalam merampok Credit Patty di Krusty Krab. Meskipun ada sebagian idenya gagal karena kecerobohan dan sikap gampang puas plankton.
Mungkin itu hanya khayalan kartun di pagi hari yang menghibur. Nyatanya teknologi tersebut sudah berhasil digapai di dunia nyata melalui sebuah robot bernama Sophia. Menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) lemah dalam menganalisis setiap kebutuhan manusia. Bahkan setiap percakapan manusia berhasil dicerna dan dibalas dengan cepat.

Kehadiran Sophia dinilai jadi sebuah revolusi baru dalam hal perkembangan AI Robot. Sekaligus menepis anggapan bahwa robot dianggap sebagai sebuah benda buatan manusia yang mengancam koloni manusia di masa depan. Ada satu yang diusung pada robot pintar karena sudah ditanamkan AI di dalam program sehingga mampu berpikir secara mandiri dan bahkan memecahkan masalah yang dianggap rumit oleh manusia.

Bila dulunya robot hanya berupa program komputer yang mampu menganalisa dan mengambil keputusan cepat. Kini manusia mencoba mengadopsikannya pada bentuk robot. Artinya ada daya gerak layaknya manusia sekaligus memudahkan kinerja manusia. Robot AI ibarat gabungan chat bot dengan robot biasa yang punya kendali penuh terhadap dirinya sendiri, begitu kurang lebih gambarannya. 
Kekurangannya mungkin pada kemampuan bicaranya yang masih sangat mengandalkan script yang sudah dituliskan (clue card). Sehingga robot seperti Sophia tidak bisa menjawab atau berpikir secara out of the box. Bagi saya ini sangat wajar karena masih dalam tahap proses AI Vision, saat ia punya kemampuan AI kuat akan mampu memberikan perubahan. Sophia bak batu loncatan bahwa AI robot akan terus berkembang di masa depan.

Robot Sophia dan Proses Pengembangannya
Sekilas mengenai ide pembuatan AI Vision datang dari salah satu divisi robotika yang berada di Hong Kong yaitu Hanson Robotics. Riset panjang yang mereka lakukan berbuat manis dengan aktifnya Sophia sebagai robot humanoid sosial pertama pada 14 Februari 2016.
Perkenalan Sophia pada dunia
Nama Sophia sendiri berasal dari Bahasa Yunani yang berarti kebijaksanaan. Kemudian bentuk wajahnya yang digunakan pun menyerupai salah seorang aktris kenamaan inggris di era 60-an yaitu Audrey Hepburn. Meskipun saya menilai pada bagian pipi Sophia lebih sedikit tirus dibandingkan Audrey.

Mengapa Audrey yang terpilih?
Hanya pihak Hanson Robotics yang tahu jawaban tersebut. Tapi menurut saya karena semasa hidup Audrey cukup banyak terlihat sebagai pekerja sosial. Perannya yang humanis tersebut seakan cocok dengan karakter robot humanoid. Serta ia pun wajah yang ramah dan terlihat awet muda. 
Audrey dan Sophia
Ada satu yang unik yaitu sengaja didesain tidak punya rambut supaya publik bisa melihat sirkuit komponen yang ada di kepalanya. Di situ segala proses pengolahan data dan informasi dilakukan dengan sangat cepat.

Bila Karen istri plankton kepalanya menyerupai monitor dan sangat tidak futuristik. Sophia dibuat sedemikian menjadi robot modern dari wujudnya, Tapi tetap pada sentuhan robot sebagai ciri khas yang Hanson Robotics tonjolkan.

Selaku AI vision, Sophia menggunakan AI dalam memproses data visual dan pengenalan wajah lawan biacaranya. Karena masih sangat sederhana setiap gerakannya dan ekspresi wajahnya tidak terlalu banyak. Pada proses percakapannya masih menggunakan clue yang sudah terdata di dalam databasenya. Umumnya pertanyaan yang sudah ia tahu, ibarat Google translate atau chatbot dalam wujud robot. 
Apalagi proses pengenalan dan penerapan teks tulisan menjadi teks suara dikembangkan oleh Alphabet inc selaku induk dari perusahaan Google. Bahkan Alphabet yang saat diduduki oleh Sundar Pichai selaku CEO Google. Sejak dulu sangat getol dalam melakukan pengembangan AI Vision lebih mendalam. Saya menganggap Sophia masih tergolong pengembangan dengan AI vision rendah yang ia gunakan.

Serta ada kemampuan dari text-to-speech cereproc, hal ini yang memungkinkan Sophia bernyanyi atau menirukan suara-suara unik. Jadi ia menjadi hiburan tersendiri bagi anak-anak, orang tua atau para penanya yang ingin tahu lebih banyak mengenai AI Vision.

Hanson Robotic tak hanya menciptakan Sophia saja tapi ada sepuluh saudaranya dengan nama unik lainnya. Karakter yang digunakan beragam sesuai dengan kebutuhan AI Vision yang akan berkembang di masa depan. Saudaranya di antaranya, Alice, Albert Einstein Hub, BINA48, Han, Jules, Joey Chaos, Profesor Einstein, Philip K, Dick Android, dan Zeno.

Bagaimana Mekanisme Kerja AI Vision
Bagi sebagian orang, robot adalah sosok yang menakutkan. Itu digambarkan begitu jelas dalam film Terminator. Di masa depan robot ibarat mutan atau koloni baru yang siap menginvasi manusia. Sifatnya yang beringas dan kehilangan kontrol dari manusia membuatnya menguasai manusia serta memusnahkan manusia.

Tapi jangan salah, film genre science fiction Hollywood terlalu paranoid dan berlebihan dalam mengisahkan robot. Malahan robot bertolak belakang dengan Film Manga Jepang yang menganggap robot cukup banyak membantu manusia. Seperti jadi teman manusia dan bahkan membantu manusia memecahkan solusi dunia secara bersama. 
Nah.. sistem kerja yang dianut oleh Sophia adalah mengombinasikan antara kamera (sensor) di dalam robot dengan algoritma komputer. Lalu juga gerak kinetik dari pergelangan tangannya dan kakinya. Artinya ia menjadi robot mobile ke mana pun ia mau. Lalu juga dengan mimik wajah dan kontak mata terhadap target (lawan bicara) tetap dipertahankan sebagai fokus utamanya.

Pengembangan yang dilakukan oleh Hanson Robots terhadap Sophia dianggap revolusioner. Ia merupakan gabungan dan penyempurnaan sejumlah robot terdahulu. Sistem AI Vision pada Sophia terhubung secara langsung dengan namanya Synthetic Organism Unifying Language atau disingkat (SOUL).
Konsep SOUL digunakan dalam memproses data dengan cepat, pengambilan keputusan dan pemilihan kata dari respons objek. Alhasil jadi lebih cepat dan jawaban yang diberikan lebih akurat serta minim kesalahan. Meskipun masih sangat terbatas, tetapi dengan pengembangan secara berkelanjutan, AI Vision akan semakin pintar. Misalnya dari jawaban, mimik wajah hingga humor yang ia mainkan. Ini membuat manusia main tertarik serta menghapus anggapan robot jahat seperti di film science-fiction.

Siapa yang paling membutuhkan Sophia?
Dianggap mempresentasikan masa depan, bagi si pembuatnya yaitu David Hanson menilai bahwa AI Vision seperti Sophia sangat cocok di sejumlah bidang. Beberapa bidang fokus yang nantinya akan banyak bersinggungan dengan robot. Mulai dari bidang kesehatan, layanan pelanggan, terapi, hingga pendidikan.
Sophia mampu menjawab pertanyaan pemuas yang selama ini sulit dijawab oleh orang tua sang anak. Itu hanya sebagian kecil dan bahkan dianggap sebagai pengingat manusia kala lupa atau keliru mengambil keputusan. Bahkan di masa depan ada banyak penelitian dan kerja sama yang menghubungkan manusia dengan robot. Sehingga mampu mempercepat prosesnya jadi lebih mudah dan produktif.

Sebagai contoh sederhana yaitu dalam menulis novel atau karya lainnya, yang paling lama adalah proses riset atau pengumpulan data. Adanya AI seakan membuat penulis bisa berkolaborasi dengan bahan yang ia inginkan. Ia tak akan kesulitan harus mencari banyak referensi yang memakan waktu karena semua sudah serba cepat.

Pada guru besar kampus atau bahkan penulis dengan mudah tahu bahan apa yang harus ia masukkan di dalam karyanya. Cukup dengan menentukan ide, alur, dan bahan pelengkap. Semua jadi serba gampang. Tinggal AI yang mengolahnya jadi sedemikian rupa sesuai keinginannya. Manusia hanya bertugas mengedit hasil karya yang sudah dibuat oleh AI.

Artinya robot sangat berguna untuk siapa saja dan bidang apa pun yang digeluti. Manusia jadi lebih produktif dan bahkan menghasilkan sebuah kolaborasi sempurna. Selama ini manusia harus bekerja seorang diri dengan benda (gadgetnya). Adanya robot membuatnya bisa bekerja sama dalam memecahkan masalah dan solusi. So…, kalian tertarik tidak punya robot?

Peluang dan Bisnis Besar Robot di masa depan
Sejumlah investor mulai tertarik dalam mengembangkan proyek ini jauh lebih besar. Peran robot sangat besar dan apa yang dilakukan Hanson Robotics dianggap sebagai perusahaan pengembang robot masa depan. Salah satunya adalah ketertarikan Softbank dalam mengucurkan dana berlimpah dan memasarkan lebih banyak robot di seluruh dunia.

Bagi yang belum tahu siapa SoftBank, ia merupakan sebuah Bank dan pengembang yang cukup banyak menginvestasikan uangnya ke sejumlah pengembang dan startup dunia. Kucuran dana berlimpah tersebut dinilai tinggal menunggu waktu saja, ada banyak robot seperti Sophia yang siap menggantikan kerja manusia.

Jumlahnya meningkat tajam di masa depan dan dianggap menjadi sama banyaknya seperti kini memiliki gadget seperti saat ini. Kini tinggal bagaimana cara mengedukasi robot bisa berinteraksi dan bersahabat dengan manusia. 
Di negara maju, respons dari perkembangan robot cukup positif, mereka sadar akan perannya. Bertolak belakang dengan negara berkembang yang masih menganggap robot adalah ancaman pekerjaan dan nyawa mereka di masa depan.

Pengembangan hanya perlu mengedukasikan robot, karena ia punya beragam peran yang sulit manusia lakukan. Bila promosinya berhasil, otomatis bisnis robot akan laris manis. Apalagi negara berkembang terkenal dengan jumlah penduduk yang besar. Robot bak bisnis menjanjikan dan Sophia adalah representasi robot cerdas masa depan yang dibutuhkan manusia.

Mengelola Robot dalam Menata Masa Depan
Di masa depan sejumlah pekerjaan yang mudah, berulang dan punya tingkat bahaya tinggi akan tergantikan oleh teknologi. Salah satunya robot, karena manusia harus tampil unik dan berbeda agar bisa bersaing. Kemampuan seperti itu tidak akan mampu dilakukan oleh teknologi bahkan dengan kecerdasan kuat sekali pun. Sedangkan Sophia yang tergolong lemah saja sudah terlebih dahulu mengatakan bahwa ia diciptakan bukan untuk bersaing dengan manusia.
Akan ada banyak robot di masa depan, salah satunya adalah dengan menerapkan sejumlah peraturan ketat mengenai AI Vision. Salah satunya adalah kemampuan self awareness (kesadaran diri), karena ditakutkan robot akan menganggap manusia sebagai makhluk lemah. Salah satu antisipasi dalam perkembangan AI Vision adalah dengan menanamkan gold rules dalam sistem robot. Sehingga manusia tetap menjadi tuannya andai AI Vision terus berkembang.

Misalnya AI Vision tidak digunakan dalam kegiatan perang atau senjata pemusnah massal. Ini dinilai akan menimbulkan banyak korban jiwa dari manusia. Serta mengontrol perkembangan AI Vision karena di masa depan dengan kemampuan Deep Learning, robot bisa mampu bersaing dengan manusia. Sekaligus mengurangi kecemburuan manusia terhadap robot, tapi dengan adanya robot makin banyak kedamaian dan cinta di muka bumi.

Semoga postingan ini menginspirasi dan akhir kata, Have a Nice Day.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?