Thursday, December 26, 2019

"From Facebook" Sebuah Kedigdayaan Facebook di Jagat Maya

Beberapa minggu terakhir mungkin Anda tak asing dalam membuat platform sosial kenamaan WhatsApp dan Instagram. Ada penambahan embel-embel tulisan “From Facebook” sebelum proses log in. Menandakan bahwa Facebook punya andil atas kesuksesan keduanya sekaligus memberi tahu kepada pengguna: ini mahakarya kami.


Bagi pengguna, ada beragam tanggapan. Mulai dari yang menanggapnya tidak berpengaruh langsung hingga kesannya Facebook yang terlalu “Memaksa”. Setiap orang punya pandangan masing-masing dalam menyikapinya.

Menghapus Masa Kelam Facebook
Beberapa tahun terakhir Facebook seakan digambarkan punya masa yang kelam. Berbagai kasus dan kegagalan bisnis seakan menghantui sepak terjang Facebook. Selama ini Facebook dikenal sebagai platform hoaks terbesar di dunia, platform yang tak menjaga data pengguna hingga kegagalan bisnisnya dalam membangun mata uang kripto, Libra. 
Kampanye #DeleteFacebook yang menjadi trending  setelah kasus Cambridge Analytica beberapa tahun silam. Ada banyak perusahaan besar pun merespons hal tersebut dengan menutup akun Facebook milik mereka karena khawatir data perusahaan bisa saja tersebar.
Ini seakan membuat pengguna seakan mulai melupakan Facebook. Sebagai contoh di Indonesia, yang masih setia menggunakan Facebook hanyalah para orang tua dan orang yang baru mengenal dunia internet. Main Facebook sudah ketinggalan zaman, kata anak muda. 

Itu karena fiturnya yang tak pernah berubah selama satu dekade terakhir ditambah sikap manusia yang gampang bosan. Namun begitu, jumlah masih sangat besar. Setiap bulannya ada sebanyak 605 juta dengan rata-rata waktu pengguna hingga 10 menit-an.
 
Kasus di atas semakin membuat banyak pengguna beralih, sialnya perusahaan hasil akuisisinya malah lebih besar dari perusahaan induk sendiri. WhatsApp dan Instagram yang dulu bukan siapa-siapa, setelah dibeli dan dipoles seakan menjadi lebih besar dari pemiliknya. Bagi anak muda, lebih tertarik dengan sosial media Instagram atau WhatsApp jadi aplikasi sejuta umat mengalahkan Messenger selaku divisi Facebook.

Kelemahan Facebook yang masih belum dibenahi
Selama ini Facebook punya banyak kendala, mulai dari jaringan yang sering down, sistem enkripsi pengguna hingga isu pencekalan di sejumlah negara. Belum lagi banyak orang menilai Mark jadi orang yang sangat berbahaya, ia memegang data miliar orang penduduk bumi. Andai saja disalah gunakan, ini sangat merugikan pengguna dan mengancam stabilitas keamanan sebuah negara. 
Ini yang membuat Facebook harus berbenah, bila tidak Facebook hanya jadi sebuah brand mengalahkan divisi bisnis lainnya. Cara yang dilakukan beragam, mulai dari mengubah algoritma dari Facebook terkait ujaran kebencian, hoaks, dan spam. Selama ini tumbuh subur di Facebook dan membuat pengguna kabur dan beralih platform.

Kendala ini membuat Facebook seakan kehilangan pengguna, apalagi kini menggunakan penerapan algoritma baru dan sudah diterapkan serupa dengan Instagram. Contoh lebih mengedepankan post dengan interaksi dan komentar yang lebih sering muncul di timeline. Serta kegemaran dan akun yang disukai akan lebih sering muncul, bukan mengedepankan siapa yang pertama tapi siapa yang paling banyak interaksinya. 
Kemudian dalam mengatasi kebocoran data, pihak Facebook telah berjanji akan memperbaiki sistem penyimpanan cloud mereka dari aksi peretas dan pencurian. Mulai dari mengajak kepolisian dan polisi federal hingga menambah data center cloud di sejumlah negara agar mampu menampung banyak data pengguna.
Teakhir adalah layanan end to end encryption dalam penerapan layanan chat milik mereka salah satunya di WhatsApp. Selama ini Facebook bekerja sama dengan pemerintah dalam memerangi hoaks, terorisme hingga aksi kejahatan siber lainnya. Meskipun satu sisi dapat mengganggu privasi pengguna, di sisi lain sangat membantu pemerintah.
  
Strategi Facebook Menjadi Lebih Besar
Membangun company branding, siapa yang tak kenal Facebook. Hanya saja selama ini Facebook hanya platform sosial media yang berdiri sendiri. Nyatanya Facebook bukan hanya sebatas platform, semenjak berhasil IPO 18 Mei 2012.

Nilainya cukup fantastis kala itu saat IPO, US$ 90 triliun dan langsung membuat Facebook menyandang sebagai perusahaan teknologi. Sama halnya dengan Google, Apple atau pun Microsoft lakukan di masanya. Mark Zuckerberg pun didapuk sebagai CEO muda kaya atas keberhasilan tersebut, wajahnya pun sering terpampang di majalah bisnis dari Silicon Valley.
Setelah itu, Facebook tak pernah berhenti dalam membuat strategi dan inovasi. Bila hanya mengandalkan Facebook dan platform sosial media saja, usia Facebook tak akan lama. Di dunia digital ada banyak disrupsi yang terjadi dalam waktu singkat. Salah satu memperkuat perusahaan adalah dengan inovasi dan akuisisi.

Tujuan utama dari akuisisi adalah memperkuat lini perusahaan jadi lebih solid. Sejak berdiri di tahun 2004 dan berhasil IPO di tahun 2012. Facebook sudah begitu banyak melakukan akuisisi, total sampai Bulan Desember 2019. Ada 82 perusahaan yang diakuisisi dengan nominal menggiurkan, apakah dipublikasi ke publik atau tidak.
Setiap bulannya selalu saja divisi bagian pengembangan di Facebook sibuk melakukan negosiasi terhadap startup mana yang layak bergabung ke dalam Facebook Inc. Ada yang kemudian berhasil besar dan ada juga yang seakan tenggelam atau bahkan gagal.

Dari sekian banyak, terlintas nama besar seperti Instagram, WhatsApp, dan Oculus VR. Untuk ketiga perusahaan tersebut pihak Facebook harus merogoh kocek sebanyak US$ 22 Miliar. Jumlah yang sangat besar kala itu, khususnya WhatsApp yang harganya mencapai US$ 19 Miliar. Tapi itu sebanding dengan kemajuan dan penggunanya, kini layanan buat Jan Koum jadi media chatting sejuta umat.

Adanya tulisan “From Facebook” membuat masyarakat tahu bahwa ada banyak perusahaan buatan Facebook. Bahkan yang selama ini ia gunakan sehari-hari adalah produk milik Facebook. Sehingga masyarakat awam tahu bahwa Facebook lebih dari sekedar platform sosial media tapi beragam produk digital berbasis software dan hardware.

Terakhir adalah ide Facebook menyamaratakan platform yang ia miliki. Persaingan yang begitu keras dari setiap aplikasi sosial media membuat siapa yang tidak mampu berkreasi dan berinovasi lebih berarti ia siap-siap mengali kubur sendiri. Namun yang tak mengenakkan adalah inovasi yang nyaris sama satu sama lain. Ini yang coba Facebook terapkan. 
Coba perhatikan, sekarang sudah hampir semua sosial media besutan Facebook menggunakan Story, apakah itu Messenger, Instagram, dan WhatsApp. Ada banyak kesamaan konsep yang ditawarkan dan memperlihatkan sosial media tak punya keunikannya lagi.

Pada mulanya Instagram yang berpatok pada layanan photo sharing dan WhatsApp yang berpatok sebagai instant messagging. Setiap pengguna sosial media punya penggunanya sesuai segmen yang ia inginkan. Tapi Facebook berkata lain dengan menerapkan bahwa menyama ratakan semua platform untuk lebih kuat di sosial media.

Itu diperparah dengan sikap narsisme dan arogansi direksi Facebook serta Mark sendiri. Selama ini Facebook dianggap sangat arogan dalam berbagai hal, karena hampir ¾ sosial media yang digunakan adalah miliki mereka. Jadi Facebook dinilai cukup jumawa dan membuat harus ada verifikasi Facebook sebelum masuk ke platform milik mereka.

Sebagai perbandingan adalah Google+ yang sudah mati, Twitter yang mulai kehilangan pengguna, Snapchat yang terjun bebas dan Ask FM yang tak terdengar lagi. Mungkin pesaing terbesar adalah Tik Tok, tapi ia lebih ke ranah music dan Facebook sudah mengantisipasinya dengan sejumlah fitur musik milik mereka.

Apakah Perusahaan Teknologi Lain Melakukan Hal Serupa?
Terlepas dari kontroversi yang Facebook lakukan, nyata perusahaan teknologi lainnya pernah dan lebih dahulu melakukannya. Hanya saja cara company branding yang dilakukan lebih dalam penggabungan. Sebagai contoh Google sering melakukan akuisisi dan jumlahnya lebih banyak dari Facebook.

Sudah ada 231 perusahaan yang dibeli dan kebanyakan tetap berdiri sendiri. Tak jarang disematkan dalam lini produk unggulan punya Google. Misalnya saja Waze yang bergabung dalam divisi Google Map. Motorola dalam layanan produk Android. Hingga PostRank yang digunakan sebagai layanan analitik terhadap Blogger milik Google. 
Lalu Microsoft melakukan hal serupa dan termasuk pionir Bersama Apple di akhir era 70-an. Sejak era 80-an sudah sangat getol melakukan akuisisi, dan didanai. Cara Microsoft serupa dengan yang Google lakukan, ia menambahkan platform tersebut pada layanan utama miliki mereka. Salah satunya Windows, di dalamnya sudah ada Skype, Linkedin, GitHub, dan bahkan Beam.

Termasuk membeli Nokia dan membuat software Windows Phone, meskipun akhirnya gagal dan gagal bersaing dengan Android serta iOS. Patut diacungi bahwa strategi Microsoft lebih jelas, ia membeli layanan untuk kemudian mengembangkannya. Bukan hanya mendompleng nama seperti Facebook seperti yang dilakukan untuk saat ini.
Serta promosi yang mereka lebih banyak membantu perusahaan lainnya, peran Google dan Microsoft punya andil sangat besar dalam beragam perangkat. Tanpa harus menaruh embel-embel From Google atau From Microsoft. Tapi tetap saja, kedua perusahaan teknologi tersebut punya pangsa yang berbeda dan tetap saja strategi marketing terselubung atau terang-terangan tetap mereka lakukan.

Jangan salah juga, sebelum ada banyak perusahaan teknologi dan digital melakukannya. Perusahaan konvensional sudah melakukan hal serupa. Tren penerepan merk pada sub-merk sudah dilakukan dan sangat trend. Salah satu perusahaan fashion yang pernah melakukan hal tersebut adalah Moss Bros company. Ada banyak anak perusahaannya yang berkembang di bidang fashion dan selalu saja menyertakan nama Moss di setiap sub-merk milik mereka. 
MOSS lebih dulu melakukannya di bidang Fashion
Karena dianggap company branding, sekaligus mengenalkan bahwa merk utama produk punya andil besar dalam berbagai sub-merk lainnya. Mungkin saja, tanpa Facebook mengakuisisi Instagram atau WhatsApp, aplikasi itu hanyalah aplikasi sekedar numpang lewat di Play Store ponsel Anda.

Semoga psotingan ini bermanfaat dan Have a Nice Day.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer