Saturday, December 28, 2019

Digitalisasi Koperasi dan UKM Melalui Big Data

Koperasi dan UMKM selama ini jadi tulang punggung masyarakat dalam membangun ekonomi. Sebelumnya perannya sering dianggap sebelah mata, padahal ada begitu banyak sumber daya manusia yang ada di dalamnya.

Indikator sebuah kemajuan bangsa sangat tercermin jelas dengan rendahnya pengangguran dan devisa pemasukan negara yang terus meningkat. Koperasi dan UMKM melakukan tugasnya sebagai wadah memajukan bangsa.

Semakin banyak UMKM dan koperasi berdiri, otomatis semakin banyaknya usaha perorangan dan kelompok yang dimiliki masyarakat. Mungkin di perusahaan besar ada banyak kriteria yang harus dipenuhi seorang pekerja. Misalnya saja harus punya pendidikan tinggi tapi tidak untuk UMKM, ia mampu merangkul semua kalangan dalam memajukan usaha.
Sebagai catatan, UMKM punya peran sampai angka 99,99% dalam peran ekonomi Indonesia. Total ada sebanyak 98,74% untuk level usaha mikro dan mampu menyerap tenaga kerja hingga 67 juta pekerja. UMKM dianggap paling tahan terhadap resesi dan krisis ekonomi, karena umumnya menggunakan modal sendiri dan tidak tergantung dengan modal luar.

Jangan pernah menganggap remeh koperasi dan UMKM, karena perannya sangat krusial di era Revolusi Industri 4.0. Selain itu pasar yang menjangkau UMKM sangat besar karena menjangkau kalangan menengah ke bawah. Ada begitu banyak target lapisan masyarakat yang ada di dalamnya, andai saja semuanya beralih ke era digital. Pasti ia menghasilkan sebuah ekosistem data dan peluang pasar yang begitu besar.

Mengawali Konsep Big Data dengan Pendataan
Di era digital semuanya akan terhubung secara real time melalui internet, Termasuk di dalamnya data koperasi dan UMKM. Semua data akan terangkum di dalamnya dan bisa dengan cepat diproses. Data digital bukanlah lembaran yang hanya berupa tumpukan kertas di dinas-dinas dan hanya orang tertentu yang bisa mengaksesnya. Modernisasi dalam hal membangun database yang mampu terkoneksi. Harga sebuah data begitu mahal dan kemampuan membuat sistem menguasai data artinya menguasai suatu ekosistem secara luas dan majemuk.
Untuk mendata secara keseluruhan koperasi dan UMKM begitu sulit, masih banyak koperasi yang tak punya izin atau UMKM yang tak pernah mengurus segala urusan di kantor desa terdekat. Pihak yang tahu usahanya berdiri hanyalah segelintir orang di lingkaran tersebut. Alhasil koperasi dan UMKM tidak terdata dan tak terlihat. Jangankan berkembang, dilirik saja sulitnya minta ampun.

Itulah yang saya alami selama ini, menjadi pendamping koperasi dan UMKM di daerah asal saya yaitu Aceh Barat. Data tidak bisa didapatkan begitu saja dengan mudah, butuh proses lapangan yang melelahkan dan waktu lama. Big Data mungkin adalah solusi karena proses yang mudah dan akurat dalam memonitor mengenai koperasi dan UKM.
Bertemu dengan banyak koperasi dan UKM, berbagai kepribadian orang harus ditemui sekaligus memecahkan masalah mereka. Data offline yang selama ini jadi pedoman sering tak sesuai dengan faktanya. Alhasil total jumlah Koperaso dan UKM tidak dapat dipastikan dengan sepenuhnya.

Otomatis setiap ada pelatihan atau pemanggilan peserta koperasi harus menghubungi via telepon. Tak hanya itu saja, sangat sulit mengetahui siapa saja pengurus, lokasi koperasi yang tepat hingga neraca keuangan yang mereka miliki.

Tahapan paling awal dalam membangun Big Data, dibutuhkan kolaborasi dan koordinasi. Untuk melakukan satu persatu dijamin memakan waktu lama dan dana yang sangat besar. Sebagai contoh di daerah saya, Aceh Barat, Ada sebanyak 312 koperasi aktif yang tersebar 13 kecamatan di Aceh Barat. Cakupan luas wilayah yang membentang hingga 2.900 km persegi.

Masih banyak koperasi lainnya yang tidak terdata secara langsung atau memenuhi persyaratan koperasi aktif. Belum termasuk lagi dengan UMKM yang jumlah diperkirakan ada 6.000 UMKM, meskipun yang baru terdata hanya 2.636 UMKM.
Kolaborasi dan koordinasi yang dibutuhkan adalah bagaimana dimulai dari daerah atau wilayah tersebut. Setiap daerah memiliki pendamping desa sebagai garda awal dalam pendataan, di situlah proses pendataan UMKM dilakukan. Mulai dari jenis usaha, lokasi usaha, pemilik usaha, omzet hingga jumlah pekerja.

Data yang didapatkan tersebut didapatkan dari proses wawancara atau mengisi kuesioner. Kumpulan data tersebut dikumpulkan secara offline sebelum nantinya dipindahkan secara online. Ini sangat diharapkan karena konsep online yang fleksibel dan transparan untuk siapa saja.

Mendamping Koperasi dan UKM melakukan Loncatan ke Arah Digital
Saat pertama sekali mendengarkan kata koperasi, langsung terbesit di kalangan awam koperasi hanyalah lembaga yang hanya mengawasi simpan pinjam, lembaga yang rawan dengan penipuan berkedok koperasi. Bahkan dianggap sebagai lembaga kelas dua jauh di bawah perbankan dalam urusan keuangan.  Sistemnya pun dianggap sudah ketinggalan zaman dan tak cocok di era digital.

Nyatanya koperasi bukan sebatas simpan pinjam semata, ada banyak jenis usaha yang dikembangkan seperti koperasi produsen, konsumen, dan serba usaha. Bahkan kini koperasi sudah banyak menerapkan konsep seperti aplikasi dan layanan khusus bak startup.  Sekaligus memberantas lintah darat berkedok koperasi yang sangat marak saat ini.
Dibutuhkan reformasi besar mengubah stigma tersebut dan koperasi makin searah dengan industri 4.0. Sekaligus menghilangkan bahwa koperasi sama bagus konsepnya seperti startup. Bahkan pemerintah sudah membangun Palapa Ring yang menjangkau internet hingga pelosok, sebagai bukti telah siapnya menyambut Revolusi Industri 4.0. Internet yang lancar otomatis mendukung proses transfer data dengan cepat. Serta konsep Big Data terhadap koperasi dan UMKM bisa dijalankan dengan optimal.

Mengapa Big Data Sangat Diperlukan pada Koperasi dan UMKM?
Saat ini ada sebanyak 26 juta anggota koperasi dan 67 juta UMKM yang tersebar di Indonesia. Adanya Big Data akan mengetahui secara menyeluruh aktivitas koperasi dan beragam produk yang UMKM tawarkan. Khusus bagi koperasi, sangat dibutuhkan data mulai dari alamat koperasi, susunan pengurus, hingga rekaman transaksi koperasi. Selama ini data tersebut sangat sulit didapatkan dan cenderung berubah-ubah.
Adanya Big Data seakan mampu menghubungkan real time dan transparan. Misalnya proses pembayaran dengan menggunakan Fintech atau aplikasi digital pada yang berbasis Blockchain pada koperasi. Sistem yang digunakan sangat aman, cepat, dan transparan. Sehingga pemodal akan tertarik menamankan investasi pada koperasi tanpa waswas karena konsep unik yang dibangun.

Konsepnya dimulai dari pembayaran berbasis Fintech, proses tanda tangan anggota tidak lagi menggunakan hitam di atas putih tapi konsep Blockchain mengedepan smart contract. Sehingga anggota koperasi yang meminjam tidak melanggar janji karena perjanjian akan tersimpan rapi di dalam Ledger Book. Tak berhenti di situ saja, peran Big Data seakan mampu memberikan sebuah keputusan cepat dan tepat.
Lalu terhadap UMKM, ada banyak data yang berguna. Mulai dari data dirinya, jenis produk, aset, omzet, hingga jumlah pekerja. Adanya Big Data seakan mampu membangun sebuah jaringan database yang mampu terintergasi ke dalam sistem pencatatan sipil Kementrian Dalam Negeri.

Khususnya akses pembiayaan dari pemerintah akan terdeteksi melalui NIK yang ada di e-KTP. Kerja sama tersebut beragam, salah satunya sebagai Lembaga keuangan dan perbankan yang mampu menjangkau pengguna hingga pelosok. Serta proses pembayarannya bisa dilakukan secara online.

Kemudian juga Big Data juga sangat bermanfaat dalam proses mengakurasi produk UKM mana yang layak didorong dengan cepat. Khususnya dalam proses pemasaran global melalui marketplace. Bahkan termasuk dalam proses akses permodalan dan pemasaran, yang selama ini jadi kendala utama UMKM di tanah air.

Bagaimana Penerapan Big Data terhadap Koperasi dan UMKM

Dalam penerapan Big Data,  fokus utama adalah device, network, dan application. Device artinya para pengguna sudah melek dan menggunakan ponsel pintar dalam mengakses segala aktivitas perkoperasian dan UKM. Network didukung dengan jaringan yang memadai hingga pelosok dan application  dihadirkan dalam mengakses aplikasi khusus milik koperasi dan UKM.
Salah satu caranya adalah dengan penggunaan Platform as a Service yang sangat layak digunakan pada Koperasi dan UMKM dalam memanfaatkan teknologi Big Data. Proses pengembangannya juga bersifat Public Cloud dengan layanan Cloud Computing yang tersedia untuk kalangan luas.

Memang di awal konsep ini sangat mahal karena harus merogoh kocek yang cukup dalam, tapi investasi ini bisa mengetahui data koperasi secara real time. Ada banyak keuntungan didapatkan adalah sangat mudah diintegrasikan dengan sistem lawas seperti Microsoft Office karena sering digunakan.
Informasinya real time, sistem pemeliharaannya mudah, memecahkan masalah dan tentunya akan menghasilkan sesuatu yang produktif. Ada sejumlah produk yang dihasilkan dalam Big Data dalam pengumpulan data koperasi dan UKM. Berikut sejumlah aktivitas yang akan dihasilkan mulai dari:

Volume (jumlah), saat ini jumlah data begitu besar karena mencakup wilayah yang luas. Saya mengambil contoh pelaksanaan dilakukan di daerah, katakan Aceh Barat selaku daerah dampingan saya. Data yang didapatkan meliputi 312 koperasi dan lebih dari 6.000 UMKM tersebar di 13 kecamatan yang ada di Aceh Barat.

Nantinya ada gudang penyimpanan yang menampung data dalam jumlah besar dari data tersebut. Bukan sebatas disimpan saja, sifat Big Data bukan hanya sebagai network storage tapi menyediakan solusi dalam mengolah dan menganalisis data dalam jumlah besar.

Melakukan hardware dan software dalam mendukung penampungan volume data. Menggunakan komputer super HPC (High Performance Computing) yang terkoneksi pada software Hadoop berbasis Linux. Kemudian proses pengawasan data dilakukan secara real time.
Sekilas mengenai konsep Hadoop, ia merupakan sebuah software berbasis open source yang bertugas untuk mengumpulkan dan menganalisis data. Ia makin bekerja optimal pada layanan open source berbasis Linux. Sedangkan pada Hardware menggunakan komputer HPC (High Performance Computing) adalah salah satu cara dalam mengolah data tersebut. Ia diolah dengan sangat cepat sehingga mampu menghasilkan beragam data yang diperlukan dari UKM dan koperasi, misalnya profil ketua koperasi, koperasi yang telah melakukan RAT.

Variety (Variasi), pada jumlah yang sangat besar tersebut, tersemat beragam data, segala aktivitas di dalam lingkup koperasi dan UKM tergolong di dalam data baru dan jumlahnya terus bertambah dari waktu ke waktu. Aktivitas mengirim data mulai dari data dokumen, foto, video, hingga suara terekam di dalam Big Data.

Velocity (kecepatan), Sebuah data sangat perlu diakses dengan cepat. Prosesnya berlangsung secara online dan tidak boleh ada keputusan yang telat karena bisa menghilangkan momentum. Data tersebut menjadi sebuah pedoman dalam penerapan setiap harinya, Setiap data tersebut akan real time dan proses kontrolnya dilakukan secara Internet of Things (IoT).
Veracity (kejujuran), Big Data sangat dibutuhkan dalam mengukur veracity sekaligus mengetahui data tersebut fakta atau hanya representasi saja. Kemudia harus ada manajemen yang baik dalam proses klarifikasi data yang terkumpul, melibatkan orang yang kompeten serta kolaborasi andal.

Terakhir adalah Value (nilai), tujuan akhir dari sebuah data adalah nilai yang ia hasilnya. Perannya sebagai hasil akhir dari sebuah pengolahan data yang optimal. Pada tahap ini segala proses sudah dilalui, dalam segi bisnis harus ada yang dicapai.

Misalnya saja bagaimana cara bisa menciptakan sebuah lini produk baru atau memperbarui lini produk sebelumnya. Selain itu Big Data akan memberikan gambaran keinginan masyarakat dan konsumen, pada titik inilah bisa dilihat keinginan pasar dan inovasi yang harus dilakukan.

Dampak Koperasi dan UKM yang beralih ke Big Data
Peran Big Data diharapkan akan terus berkembang di masa depan, dengan menghimpun pusat sentral ekonomi masyarakat. Harapan yang lahir setelah Big Data lahir dan diterapkan semakin banyak. Para UKM bisa mengetahui jangkau pasar yang diinginkan oleh pembeli. Mulai dari penentuan produk, desain, hingga mempromosikan produk secara digital.
Bahkan mengetahui sebagai mana tingkat kepuasan pelanggan dan anggota atas sistem koperasi dan UKM. Sehingga bisa merancang produk atau sistem yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Apa saja fitur yang disukai hingga pengalaman pengguna selama beralih ke arah digital.

Lalu Big Data mampu menjaga data keamanan pengguna dari gangguan siber. Selama ini koperasi dan UMKM belum menjadi target utama, tapi tidak untuk di masa depan. Data pelanggan dan anggota koperasi bisa jadi ancaman khususnya menggunakan aplikasi. 

Adanya Big data mampu mengimplementasikan software dalam perlindungan data informasi pengguna. Penerapan Koperasi dan UKM berbasis Big Data sangat baik dalam menjaga data pelanggan, proses transaksi uang, pengiriman barang hingga kebiasaan pelanggan dalam berbelanja. Kemudian di dalam koperasi bisa diketahui catatan pembayaran simpanan wajib dan simpanan pokok serta pengembang bisnis anggota.
Terakhir adalah kemampuan dalam membuka peluang baru, adanya Big Data akan membuka wawasan baru dalam proses analisis pasar dan konsumen. Data buka hanya berharga untuk para koperasi dan UKM saja, tapi ke semua pihak termasuk instansi pemerintah, swasta hingga investor di suatu daerah.

Big Data mampu menjawab inovasi bisnis perorangan dan organisasi secara menyeluruh, melatih para anggota koperasi akan manajemen Big Data, hingga membuat para UKM menyasar pasar e-commerce. Serta memudahkan waktu dan tenaga jadi lebih efisien dan cepat dengan teknologi.

Ide KADIN Memajukan Koperasi dan UKM di Era Digital
Selama ini Kadin terkenal dengan gebrakannya dalam menciptakan pengusaha baru dan organisasi. Pada rapat yang mereka laksanakan beberapa waktu lalu di Nusa Dua, Bali. Pada rapat yang berlangsung selama dua hari tersebut, KADIN menghasilkan 8 acuan utama dari RAPIMNAS KADIN 2019.
Ada sejumlah poin yang menarik saya selaku pendamping,  yaitu dalam hal pembinaan dan pendataan koperasi dan UKM di Indonesia. Ini selaras dengan ide yang saya angkat, karena proses pendataan yang cepat dan modern akan terintegrasi melalui Big Data. KADIN dianggap pihak yang bisa berkolaborasi antara pemerintah dan pengusaha dalam memajukan koperasi dan UKM di Indonesia.
Selama ini data koperasi dan UKM hanya ada melalui Kementrian Koperasi dan UKM. Data tersebut didapatkan di masing-masing provinsi, nyatanya data yang dikumpulkan tidak akurat dan valid. Tidak berhasil didapatkan data secara akurat dan hanya mengandalkan pelaporan pemilik usaha dan koperasi terkait. Selebihnya tidak ada yang tahu dan sering kali pihak pemerintah tertipu dengan koperasi tidak aktif atau UMKM bodong yang hanya ingin mendapatkan untung.

Ide KADIN dalam proses pendataan koperasi dan UKM harus didukung, apalagi bekerja sama dengan banyak pihak di dalamnya, Pihak seperti Kementrian Koperasi dan UKM dan dinas terkait, mereka pihak yang tahu secara jelas mengenai daerah. KADIN tinggal berkoordinasi dalam proses tersebut. Apalagi bila sudah ada Big Data, otomatis lebih mudah karena data sudah tersedia.
Proses pembinaan yang dilakukan pun semakin mudah, karena sudah mengetahui target mana yang KADIN ingin bina. Semua karena Big Data sudah tersedia dan sangat membantu proses pengelompokan koperasi dan UKM. KADIN memilih mana prioritasnya, misalnya di Aceh Barat Koperasi yang akan dibina dari sektor apa. Apakah sektor kelautan, perikanan, pertanian, dan perkebunan.

Target jadi tepat sasaran dan pastinya tidak harus meraba-raba koperasi yang perlu dibina. Selain itu dengan Big Data akan mempermudah apa yang dibutuhkan koperasi selama proses pembinaan, apakah dalam proses penguatan lembaga keuangan, organisasi, atau bantuan pengembangan usahanya.

Kemudian dalam permasalahan utama yang dihadapi oleh UMKM dalam mengembangkan usaha adalah tersangkut urusan modal. Usahanya seakan hanya jalan di tempat karena tidak bisa menambah produksi secara signifikan. KADIN pun punya ide dengan memberikan intensif dana yang bisa dimanfaatkan UMKM dalam menambah level usahanya.

Bekerja sama dengan Kementrian Koperasi dan UKM dalam intensif pengembangan modal usaha bagi koperasi dan UMKM. Serta berkoordinasi dalam skema pembiayaan yang tepat sasaran salah satunya dengan penerapan Big Data. Bila berjalan sesuai rencana, akan meningkat kualitas produksi dan inovasi yang mampu bersaing di pasar global.
Tak berhenti di situ saja, intensif ini akan melahirkan begitu banyak pengusaha baru. Otomatis UKM yang punya produk unggulan akan menambah jumlah ekspor produk yang mampu bersaing di pasar global. Ekonomi masyarakat akan terangkat, selama ini UMKM identik dengan masyarakat menengah ke bawah. Bayangkan saja di setiap UMKM memperkerjakan 2 orang saja, itu artinya ada banyak pekerja yang terbantu dengan konsep seperti ini.

Gebrakan yang dilakukan sangat diapresiasikan, selama ini koperasi dan UKM kurang diperhatikan secara menyeluruh. Namun kini mulai menjadi sentra unggulan dalam menciptakan masyarakat yang unggul. Di tengah banyaknya tantangan global, koperasi dan UKM sudah bertransformasi ke arah digital.

Konsep Big Data membuatnya lebih modern dan fleksibel, para anggota koperasi sudah sangat akrab dengan data real time koperasi. Pemilik usaha pun tak mau kalah dengan bertransformasi jadi pelaku usaha e-commerce atas produknya. Bila realisasi tersebut berhasil, Koperasi dan UMKM jadi produk unggulan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia Produktif.

Semoga postingan ini memberikan inspirasi dalam harapan digitalisasi koperasi dan UMKM di Indonesia. Mewujudkan target SDM Unggul, Indonesia Produktif. Akhir kata, Have a Nice Days,

Share:

1 comment:

  1. Ide yang bagus Bal. Namun, sebelum itu perlu ada sosialisi dan training kepada pelaku UMKM tentang pentingnya big data itu. Kemudiam, bantu untuk mengisi data dan mengelola akunya.

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer