Tuesday, March 17, 2020

Pustaka, Wadah Menumbuhkan Minat Membaca dan Menggali Pengetahuan


Menebarkan virus baca…
Bangsa yang besar pasti menghargai ilmu pengetahuan, menempatkan buku dengan penuh kemuliaan. Menjadikan bacaan sebagai bagian penting kehidupan, fondasi bagi melesatnya berbagai kemajuan.

Apalagi republik ini didirikan orang-orang yang gila membaca, tekun bergelut dengan segala ide dan kata-kata. Sudah seharusnya negara bersikap serius pada literasi, menyiapkan generasi yang mencintai argumentasi.

Jangan biarkan anak-anak tumbu dalam taklid buta, yang dididik hanya untuk tunduk begitu saja.Dengan budaya membaca di atas rata-rata, sebuah bangsa punya modal untuk menjadi istimewa.

Rakyatnya akan berwawasan luas dan terbuka, yang tak minder dalam menghadapi dunia. Sanggup bersaing dalam penemuan, produktif dalam penciptaan, bukan bangsa konsumen bak sapi perahan. Ini tantangan yang harus kita upayakan sepenuh hati, bersama turun tangan untuk gerakan literasi.
Mungkin itu merupakan kutipan dari Najwa Shihab, seorang jurnalis, duta baca dan pegiat literasi negeri ini. Ia sadar akan besarnya kemampuan membaca berbanding lurus dengan pengetahuan. Menebarkan virus-virus membaca khususnya para generasi muda, kemampuan literasi Indonesia masih sangatlah lemah.

Kemampuan membaca yang baik dan lahap akan memantik rasa percaya diri dalam menulis dan yakin pada diri sendiri bahwa menulis adalah sesuatu yang penting. Seorang penulis andal tak lahir dengan sendirinya, ia punya proses panjang yang dilalui termasuk memenuhi memorinya dengan bacaan berkualitas. Penulis yang baik adalah pembaca yang lahap serta modal investasinya dalam kehidupan.

Tak semua itu masih cukup sulit diwujudkan dalam waktu dekat, menghasilkan penulis yang lahap membaca masih tergolong sulit. Ada jurang besar yang menganga, lalu data dari Central Connecticut State University tahun 2016 didapatkan bahwa peringkat minat baca anak negeri terpuruk di posisi 60 dari 61 negara, hanya kalah tipis dari Botswana.
Bahkan data Perpustakaan Nasional di tahun 2017 menunjukkan bahwa frekuensi baca masyarakat Indonesia hanya tiga sampai empat kali setiap minggunya. Serta jumlah buku yang dibaca hanya lima hingga sembilan buku dalam setahun.

Efeknya cukup besar, ada begitu banyak literasi yang terabaikan dari kemampuan membaca yang rendah. Sangat mudah terpapar hoaks, ujaran kebencian hingga teori sesat pikir tanpa dicari kebenarannya. Terbukti dengan data dari World Atlas tahun lalu yang menempatkan Indonesia di posisi 107 dari 196 negara dengan tingkat literacy rate yakni sebesar 92,8%.

Berbicara mengenai jumlah pustaka dan infrastruktur, Indonesia tidaklah kalah dengan negara lainnya. Bahkan punya jumlah perpustakaan terbanyak di dunia setelah India yakni 164.610. Hanya saja minat baca dan jumlah kunjungan ke perpustakaan masih sangatlah kurang. Perpustakaan dinilai oleh anak milenial sebagai tempat yang tidak terlalu menarik, mereka lebih senang ke cafe atau kedai kopi dalam menghabiskan waktu dalam belajar.

Menghidupkan Pustaka sebagai Akses Literasi dan Edukasi
Menciptakan bangsa yang kuat dan berwawasan luas dimulai dari cara menyesuaikan buku bacaan dengan generasi saat ini. Ada begitu banyak buku yang ada di ruang baca atau perpustakaan yang sudah ketinggalan zaman. Bahkan buku yang tersedia pun relatif hanya berupa buku kurikulum dan buku yang sudah ketinggalan zaman.

Bagaimana bisa meningkatkan minat baca, jika saja konten buku yang tersedia tidak menarik dan dianggap menjemukan oleh milenial. Makin lengkap dengan suasana perpustakaan serta ruang baca yang tidak punya nilai lebih.
Apalagi saat ini pengunjung tak harus datang langsung ke sana karena pustaka kini punya konsep digital dalam pengaplikasiannya. Zaman semakin fleksibel termasuk dalam proses menyerap dan mendapatkan ilmu. Akses tanpa batas seperti internet menjadi daya tarik sebuah pustaka. Pengunjung bisa mengakses beragam buka yang ada di sana hingga mencari referensi lainnya di dunia maya.

Harus ada perubahan besar, bila tidak setiap ruang baca dan pustaka harus kehilangan pengunjungnya. Mereka yang datang mungkin hanyalah mencari tugas atau bahkan terjebak dengan tugas akhir. Pustaka harus membaca perubahan ini dalam memikat para milenial kembali sekaligus membangun literasi bangsa.

Membaca, membuka cakrawala dan koneksi dari dunia luar
Dunia kampus punya sesuatu yang berbeda dengan dunia kerja, mungkin saja menjadi dunia yang selama ini dicari oleh para lulusan kampus. Hanya saja jalannya terjal dan bahkan bertolak belakang dunia kampus. Alhasil ilmu yang didapatkan seakan tidak terpakai sepenuhnya.

Sebagai acuan di tahun 2018, salah satu lembaga pendidikan yang mengukur skor pendidikan sebuah negara yaitu PISA (Programme for International Student Assessment) di bawah OECD. Mereka melakukan proses perhitungan skor dari tiga item pada anak di bawah 15 tahun di sebuah negara yaitu kemampuan membaca, matematika, dan sains. Alhasil Indonesia hanya berada di peringkat 70 dari 78 negara yang disurvei oleh PISA.
Sesuatu yang tergolong buruk dan mengecewakan, ada sesuatu yang salah dari pendidikan di tanah air. Siswa lebih banyak diajarkan menghafal sebuah pelajaran dibandingkan dengan memahaminya. Alhasil di bidang industri, kemampuan yang dibutuhkan industri tidak link and match dengan kebutuhan. Salah satu penyebabnya karena terlalu teksbook dan tidak mau keluar dari zona nyaman.

Pengetahuan yang kita pelajari di dunia sekolah kebanyakan tidak terlalu terpakai di dunia kerja dan industri. Di sisi lain, perkembangan industri berubah sangat cepat dan berakibat banyak lulusan tidak terserap lapangan pekerjaan. Industri kesulitan mencari calon pekerja yang ia inginkan, bahkan harus ada pelatihan lanjutan agar pekerja bisa beradaptasi dengan dunia kerja.

Sebagai contoh, mungkin dahulu pekerjaan seperti programmer sangat langka, di era Revolusi Industri 4.0 Seakan pekerjaan tersebut sangat dibutuhkan, kebutuhannya baru ada di masa depan. Sedangkan di sekolah pelajaran seperti ini tidak ada, alhasil para lulusan harus belajar sendiri untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri.

Tak hanya dunia kerja saja, di dunia pendidikan tidak diajarkan berbagai kreativitas dan pengembangan ide di masa depan. Ada banyak yang dahulunya tidak ada namun kini ada, misalnya saja konten kreator. Ini mengharuskan banyak kreator terlambat mengembangkan bakatnya, sesuatu yang tidak begitu istimewa.

Lalu, untuk apa jaminan survei yang dilakukan PISA terhadap masa depan anak atas pendidikan yang ia dapatkan. Ketiga elemen yang diukur yaitu kemampuan membaca, matematika, dan sains. Skor PISA cukup berpengaruh terhadap para peserta didik, apakah nantinya masuk ke dunia kerja atau industri, bahkan berkontribusi lebih pada masyarakat. Ia pun dengan mudah beradaptasi dengan dunia digital yang begitu dinamis saat ini.
Pustaka menjadi koneksi ilmu generasi kita dalam menghadapi perubahan zaman yang begitu. Bagusnya pengelolaan pustaka berbanding lurus dengan pola pendidikan dan masa depan generasi. Ada banyak lahir orang-orang hebat dari pustaka, membuka cakrawala pengetahuan dan memberikan perubahan pada dunia.

Pesona Pustaka dalam Memikat Pengunjung
Mengembalikan minat membaca memang proses panjang dan sulit. Tapi arah ke sana memang membutuhkan proses panjang. Tak hanya dengan beragam buku menarik saja, anak muda butuh hiburan yang bisa dipadukan dengan edukasi. Ini membuat mereka tertarik kembali, mulai dari datang ke pustaka dan keranjingan membaca buku.

Stimulus yang diberikan adalah dengan memberikan warna baru dalam pustaka. Apalagi di pustaka bukan hanya sebatas membaca buku, ada hiburan, tempat berdiskusi hingga kegiatan kemahasiswaan. Pesona inilah yang mengangkat harkat martabat dunia literasi, bahkan menghilangkan awan kelabu yang selama ini bersemayam di langit pustaka.

Gebrakan tersebutlah yang dilakukan oleh Pustaka Unsyiah. Telah berdiri hampir setengah abad seakan kini transformasi ke arah digital dan modern berhasil dijalankan. Visi dan misinya bukan hanya sebagai pustaka terbaik di tanah Aceh saja tapi hingga ke level nasional sebagai  Jantong Hatee rakyat Aceh.
Proses itu mulai diterapkan secara penuh di bawah kepemimpinan  Bapak Dr. Taufiq Abdul Gani selaku Kepala Pustaka Unsyiah. Gebrakan yang dilakukan dengan memodernisasikan Pustaka bukan hanya sebagai lokasi meminjam dan membaca buku, namun bersifat multifungsi segala kegiatan kemahasiswaan.

Untuk meningkatkan kembali mutu pendidikan yakni dengan cara meningkatkan minat baca dan kunjungan mahasiswa serta dosen ke pustaka. Apalagi Unsyiah yang terkenal dengan publikasi terbaik tingkat nasional, akan terasa sia-sia bila tidak didukung dengan perbaikan di pelayanan pustaka. Cara yang dilakukan untuk menaikkan taraf Pustaka Unsyiah menjadi kompeten dan bersaing di level nasional.
Langkah awal dengan memodernisasi pustaka ke arah yang diminati oleh para milenial kembali. Keras keras dan dedikasi berbuah dengan ganjarannya akreditasi Nasional A dan sertifikasi ISO 9001:2008 mulai dari tahun 2013 dari Lembaga Perpustakaan Nasional RI. Ini bukti bahwa UPT. Perpustakaan Unsyiah telah bertransformasi sesuai zaman dan standar mutu tinggi.

Yuk Kenalan dengan Pustaka Unsyiah
Nah… setelah tahu sekilas mengenai perpustakaan Unsyiah, mari kita cari tahu sejarah panjangnya hingga kini berhasil jadi perpustakaan terbesar di Aceh. Ada jalan panjang yang harus dirintis untuk bisa mencapai tahap tersebut.
Mulai berdiri di tahun 1970. Awal mulanya masih menggunakan gedung Fakultas Ekonomi untuk sementara waktu. Barulah April tahun 1994 memiliki gedung sendiri sesuai dengan Keputusan Rektor No. 060 Tahun 1994 sekaligus menyatukan semua perpustakaan di lingkup Unsyiah dalam satu wadah UPT perpustakaan Unsyiah.

Lika-likunya tak berhenti di situ saja, Gempa bumi dan Tsunami yang sempat melanda Aceh di tahun 2004 jadi saksi Gedung Perpustakaan Unsyiah tetap berdiri kokoh. Walaupun menerjang kampus Jantong Hatee rakyat Aceh, sejumlah beberapa koleksinya berhasil selamat dari amukan bencana tersebut.
Sejak dulu pustaka Unsyiah cukup terkenal, ada begitu banyak koleksi buku yang tersimpan di dalamnya. Memiliki 3 lantai yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pengunjung ingin. Ada begitu banyak koleksi buku di Perpustakaan Unsyiah, menurut data dari Onesearch, sedikitnya ada sekitar 116.683 koleksi buku yang tersedia.
Jumlah totalnya ada 81.805 katalog pustaka, 22.973 berupa ETD dan sisanya sebanyak 11.905 berupa katalog dan jurnal dari sejumlah kampus di Unsyiah. Angka tersebut membuat Pustaka Unsyiah adalah pemilik koleksi pustaka terbanyak nomor 7 di Indonesia dan di peringkat ke 3 untuk level universitas.

Proses pencariannya pun mudah karena sudah adanya UILIS (Unsyiah Integrated Library Information System). Terintegrasi dengan OPAC (Online Public Acces Catalog), yaitu dengan adanya komputer pustaka yang terhubung dengan jaring tersebut.
Ini memudahkan para pengunjung mencari buku atau bacaan yang diinginkan hanya dengan pencarian kata kunci. Pengunjung dalam mengakses sejumlah pencarian buku, katalog, dan dokumen yang tersedia. Aksesnya OPAC bukan hanya melalui komputer di pustaka, tetapi juga dengan perangkat pribadi. Praktis dan keren pastinya, sesuai dengan Revolusi Industri 4.0.

Kini pun sudah tersedia aplikasi UILIS Mobile dalam mengetahui pencarian OPAC, historis peminjaman dan proses perpanjangan peminjaman. UILIS Mobile dapat menghemat waktu dan tenaga dari pengunjung pustaka karena cukup dengan memasukkan kata kunci yang diingin, pengunjung dengan mudah menemukan apa yang dicari. OPAC mampu terintegrasi secara langsung dengan segala macam mesin pencarian.
Selain itu, di pustaka Unsyiah terdapat komputer yang terhubung secara langsung ke UILIS. Ini memudahkan pengunjung yang tidak membawa gadget dalam mengakses dengan komputer yang tersedia. Cukup dengan memilih OPAC dan memasukkan kata kunci pencarian. Apa yang pengunjung butuhkan tersedia di sini.

Apa yang Istimewa Pustaka Unsyiah Tawarkan?
Sesuai dengan konsep yang diusung pustaka Unsyiah yaitu: More than Just a Library ternyata memberikan banyak perubahan pada pengunjung Pustaka Unsyiah. Seakan memberikan sebuah dimensi baru dalam revolusi pustaka.
Salah satunya adalah proses peminjaman buku lebih modern tanpa harus mengandalkan pihak pustaka karena telah ada mesin peminjaman otomatis bernama Self Loan Station. Sesuai dengan Revolusi Industri 4.0 yang mengandalkan teknologi.

Pengunjung yang memiliki kartu pustaka dapat dengan mudah meminjamkan buku dengan maksimal 3 buku. Waktu pengembalian buku berlangsung selama 14 hari dengan sekali masa perpanjang lanjutan. Sangat praktis dan tidak memerlukan waktu antre yang lama.
Tak hanya itu saja, ada banyak fasilitas kekinian yang ada di setiap sudut pustaka. Mulai dari cara mengembangkan jiwa kewirausahaan dan berbagai kerajinan khas mahasiswa. Tersedia gerai khusus yang menawarkan itu semua dengan nama Library Gift Shop (LGF).

Pada gerai LGF ada beragam kerajinan tangan khas mahasiswa mulai dari gantungan kunci, syal hingga pakaian. Karyawan yang bekerja di sana bertugas bergantian menjaga dan mengelola LGF secara mandiri. Bagi pengunjung yang jarang datang ke pustaka Unsyiah, pernak-pernik di LGF sangat cocok dibawa pulang sebagai cendera mata khas pustaka Unsyiah.

Bila dahulunya pustaka identik dengan suasana yang formal dan senyap, kini konsep ini coba diubah dengan sedemikian rupa untuk kenyamanan pengunjung. Pengunjung rela menghabiskan banyak waktu saat berada di sana. Waktu yang digunakan jadi lebih optimal, larut dalam lamunan buku yang seakan memupuk pikiran.

Pustaka pun tak seperti tempo dulu, ada banyak hiburan yang mengasah edukasi dan kreativitas mahasiswa. Selain menarik animo pengunjung serta kecintaan pergi ke pustaka. Mulai dari Kelas Literasi Informasi yang menghadirkan pemateri berbobot, Kegiatan Harmoni Kampus, dan Acara Relax and Easy.
Ada begitu banyak talenta dari mahasiswa yang muncul, seperti kemampuan bernyanyi, bermain music, membaca puisi hingga kemampuan drama. Pustaka Unsyiah seakan menampung bakat-bakat terpendam itu agar terus unjuk gigi.

Gaung yang paling sering dilaksanakan setiap tahunnya adalah Unsyiah Library Fiesta 2020. Ini menjadi ajang tahunan yang rutin dilaksanakan. Untuk tahun ini melibatkan sebanyak enam perlombaan, semuanya mengasah kemampuan peserta. Ada banyak bakat yang lahir dari kemampuan menulis, membaca puisi, memainkan alat musik, bernyanyi, public speaking hingga kemampuan berpikir cepat.
Satu hal yang tak boleh terlewatkan begitu saja adalah kontes pemilihan duta baca Unsyiah. Melahirkan pada duta baca yang mampu memberikan edukasi, koneksi, dan pesona dari sebuah buku hingga rasa cinta pada pustaka. Tak ada yang tahu, bisa saja mereka bisa menjadi The Next Najwa Shihab lainnya atau bahkan penulis terkemuka negeri ini berawal dari semangat berliterasi.
Konsep yang diadopsikan oleh Pustaka Unsyiah adalah dengan menawarkan sejumlah makanan ringan bagi pengunjung yang ingin mengganjal perut atau melegakan tenggorokan. Harganya juga relatif terjangkau yang ramah buat kantong mahasiswa. Konsepnya sangat milenial yang diberi nama Libri Café dan dikelola secara langsung oleh mahasiswa.

Mengenai jadwal berkunjung ke Pustaka Unsyiah, pengunjung tak perlu khawatir.  Menerapkan buka setiap harinya dan pada malam tertentu, sehingga memudahkan siapa saja mencari bahan dan lokasi belajar. Selain itu bisa mengganti milenial yang bisa ke café atau kedai kopi, menjadi lebih tertarik datang ke pustaka. Gimana, seru bukan?
Akhir kata, dengan sejumlah alasan mengapa Pustaka Unsyiah bukan sekedar pustaka biasa. Dengan konsep dan animo dari pengunjung yang terus meningkat, tak tertutup kemungkinan Pustaka Unsyiah jadi model role pustaka modern bukan hanya di Aceh saja tetap tingkat nasional. Bahkan mampu mengedukasi, memikat, dan menghubungkan segala lintas usia dalam melek literasi dalam balutan More Than Just a Library.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?