Monday, March 23, 2020

Menyelamatkan Dunia dari Wabah Melalui Internet

Seabad silam, wabah misterius menyerang dunia di tengah kekacauan perpolitikan dunia kala itu. Manusia seakan sedang memasuki era baru di abad 19 yaitu Revolusi Industri 2.0. Mereka para perkumpulan negara dari dunia barat mulai berani pamer kekuatan siapa yang paling kuat di dunia kala itu.

Setelah seabad sebelumnya Revolusi Industri 1.0 hadir dari mesin uap, manusia seakan mulai terampil dalam segala hal termasuk dalam berperang. Senapan mesin, Meriam, hingga tank jenis pertama sudah muncul, puncaknya pada perseteruan negara Eropa. Tak terbentuk hingga akhirnya perang dunia pertama pecah.

Propaganda dan adu kuat jadi jalan bahwa siapa yang terbaik kala itu, hampir semua negara barat saling menunjukkan kuasanya. Pertumpahan darah tak terbendung kala itu, semua negara Eropa saling berperang satu sama lain. Tapi tidak dengan kerajaan Spanyol, mereka tak ambil bagian dalam perseteruan tersebut.

Di tengah peperangan, virus misterius pun datang. Asal mulanya tidak jelas, ada yang mengatakan datangnya dari Amerika Serikat, Lalu ada pula yang mengatakan datangnya dari Swedia dan Rusia bahkan China dan Vietnam jadi awal mula alfa virus tersebut.

Nyatanya dampaknya sangat besar, ada 50 – 100 juta jiwa jadi korban Flu Spanyol dan menyebar ke seluruh dunia dalam waktu dua tahun. Angka kematian yang dihasilkan pun cukup besar dengan rasio hingga 20%. Malahan yang menjadi korban adalah manusia yang berusia produktif antara 20 – 40 tahun. Pandemi tersebut dianggap sebagai The Mother of All Pandemics yang tercatat dalam sejarah manusia. 
Kini seratus tahun kelam tersebut berlalu, manusia terus berkembang pesat jumlah bahkan ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Bila saat itu baru saja sampai di tahun Revolusi Industri 2.0, kini manusia mulai mengarah pada Society 5.0. Industri berkembang dengan cepat salah satunya karena sudah terkoneksi dengan internet, sedangkan dulu masih mengandalkan frekuensi radio.

Manusia lebih pintar dan teredukasi bahkan bisa mengetahui kejadian yang terjadi di belahan bumi lainnya pada menit itu. Segala kejadian bisa dinikmati melalui konten yang ada di internet, kehadiran media sharing dan sosial media menjadi sebuah pembeda.

Itu berbeda jauh dengan yang terjadi seabad silam, informasi hanya diketahui oleh para petinggi negara dan kerajaan. Negara Asia malahan masih banyak berada di bawah belenggu penjajahan bangsa barat. Kini bangsa Asia sudah setara dengan bangsa barat dan bahkan menjadi pusat ekonomi dunia dan persebaran jumlah penduduknya yang besar.
Flu Spanyol kala itu punya gejala yang serupa dengan COVID-19, tergolong dalam influenza tipe A dari H1N1. Serupa dengan flu biasa, penderita akan mengalami flu berat, batuk, bersin hingga sakit kepala. Dampak lanjutan berupa diare, menggigil, muntah-muntah hingga mimisan. Targetnya adalah menyerang parau-paru korban dan kemudian berubah menjadi pneumonia.

Wabah Tak Mengenai Zaman
Semakin berkembang dunia medis makin beragam penyakit yang tak pernah ada sebelumnya. Kehadiran virus baru yang mengalami modifikasi secara tak langsung jadi ancaman untuk umat manusia. Saya pun seakan mengembalikan memori setelah menonton salah satu TED Talk. Pemateri utama yang mengisi seminar kala itu adalah Co-Founder Microsoft, Bill Gates. 
Ia bercerita banyak mengenai bahaya wabah yang mengintai banyak umat manusia. Bahkan yang selama ini masyarakat dunia takuti adalah perang nuklir atau bahkan krisis global. Nyatanya virus misterius bisa mengancam, tanpa adanya vaksin akan ada 60 juta korban yang terjangkit di era modern. Ketakutan tersebut seakan menjadi De Javu, kini muncul virus yang sebelumnya belum ada. Sama-sama menyerang sistem pernapasan dan mengancam banyak manusia hingga menjadi pandemi global.

Semuanya mengacaukan berbagai bidang, hubungan panas USA dan Iran mendadak hilang, sengketa China dengan banyak negara lainnya di Laut China Selatan seakan tak digubris lagi. Setiap negara kita fokus dalam proses penghentian penyebaran virus dan himbauan masyarakatnya melakukan Social Distancing.

Cara ini tergolong efektif dalam proses pemutusan penyebaran virus COVID-19. Sesuatu yang belum diketahui atau bahkan populer seabad silam. Berbagai cara ini dinilai bisa menekan angka korban yang terjangkit jadi lebih luas. Hingga akhirnya vaksin berhasil diuji para korban.

Internet Mampu Menekan Jumlah Korban Sakit
Era modern membuat manusia lebih survive dalam perubahan zaman. Manusia seakan bisa mengurangi penyebaran wabah, bencana alam hingga perang. Berbagai penanganan, kebijakan hingga perencanaan mampu menekan korban jiwa jatuh lebih banyak.

Internet seakan melakukannya, lebih dari 4 miliar penduduk internet sudah terhubung olehnya. Akses tanpa batas seakan memberikan edukasi dan informasi yang terjadi di dunia untuk saat ini. Layanan TV, radio, dan koran sudah tergerus dengan media digital. Andil paling besar datang dari video sharing dan media sosial yang menyumbang trafik sangat besar. 
Inilah yang coba digalakkan untuk saat ini, memang selama ini para pengguna tidak menggunakan media tersebut secara benar. Mereka lebih tertarik untuk show off, menyebarkan hoaks hingga aksi kejahatan di dunia maya. Edukasi dimulai dari internet khususnya para influencer (Youtuber, Selebgramer, Blogger dan Podcaster) mereka mampu menarik simpati penikmatnya dalam mengurangi jatuhnya korban jiwa.

Selama ini yang menjadi fokus mengenai dunia kesehatan dan medis hanyalah para teknis medis dan pemerintah. Adanya penyebaran wabah membuat semua pihak bergerak termasuk para influencer. Berbagai tips, cara menanggulangi hingga proses bila benar-benar punya gejala tersebut. Masyarakat tinggal menghubungi kontak tersebut.

Internet seakan menghubungkan semuanya, bahkan mengetahui segala informasi dengan cepat. Hanya saja ada begitu banyak sisi kelam yang dimanfaatkan oleh mereka tak bertanggung jawab. Penyebar hoaks, para pembuat berita yang menggunakan ilmu cocoklogi hingga mengubar privasi pasien.

Seakan membuat semua orang menjadi begitu paranoid, informasi yang terlalu banyak seakan membuat sebuah informasi jadi ambigu. Kini tugas semua pihak memerangi informasi tak valid tersebut, menghilangkan paranoid dan kegelisahan masyarakat modern dari konten hoaks. Yuk sama-sama perangi!!

Bagaimana Internet Bisa Membantu Umat Manusia dari Wabah?
Jaringan fiber optik tertanam hingga ribuan meter di dalam laut, memancarkan sinar berkecepatan gamma yang mampu membawa jutaan dalam setiap detiknya. Berita up to date dengan mudah bisa kita dapatkan, informasi ini jadi acuan pemerintah, swasta hingga masyarakat. Apa tindakan yang harus dilakukan ke depan. 
Saat wabah mulai menyebar di China daratan, setiap negara sudah mulai-mulai mendapatkan informasi. Bagaimana jenis virus, dampak buat ekonomi, dan kestabilan sebuah negara. Semua daya tersebut didapatkan sebuah negara dan perusahaan di dunia melalui internet, mereka sudah mempersiapkan segala kemungkinan terburuk.

Bila tak ada internet, proses informasi dan penanggulangan akan berlangsung begitu lama. Bahkan istilah-istilah tertentu hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Itulah yang terjadi seabad silam, mereka yang selamat dari wabah Flu Spanyol adalah kalangan bangsawan dan pejabat negara kelas atas. Masyarakat akan teredukasi dan bisa menghindari dan memperkecil korban jiwa. Angka jutaan korban pun tak terulang lagi.

Internet Mampu Menghubungkan Manusia dengan Dunia Medis
Hampir seluruh negara di dunia telah mencapai Revolusi Industri 4.0, semuanya seakan bisa terhubung secara digital. Negara maju bahkan sudah memploklamirkan industri yang lebih modern salah satunya Jepang, konsep industri tersebut dikenal dengan Society 5.0.

Society 5.0 memberikan peran manusia sebagai kontrol utama di dalam teknologi. Bila dulunya pekerjaan dilakukan secara all by oneself, di Society 5.0 mengarah pada network assisted. Selain itu pekerjaan yang sifatnya terlalu umum seakan mulai tergantikan dengan teknologi yang lebih aman.  Semuanya terhubung dengan Internet of Things (IoT) yang mengontrol seluruh benda yang ada di sekitar kita. 
Society 5.0 memberikan peran manusia sebagai kontrol utama di dalam teknologi. Bila dulunya pekerjaan dilakukan secara all by oneself, di Society 5.0 mengarah pada network assisted. Selain itu pekerjaan yang sifatnya terlalu umum seakan mulai tergantikan dengan teknologi yang lebih aman.  Semuanya terhubung dengan Internet of Things (IoT) yang mengontrol seluruh benda yang ada di sekitar kita.

Ada beragam sektor mengalami disrupsi yang menyesuaikan konsep Society 5.0. Bidang tersebut dimulai dari transportasi, kesehatan, logistik, pertanian, konstruksi, keuangan, hingga ketenagakerjaan. Semuanya akan memecahkan masalah manusia, menyatukan perbedaan, bersifat desentralisasi, dan ramah lingkungan.

Bidang lainnya yang mengalami disrupsi adalah bidang kesehatan. Jepang terkenal dengan jumlah angka harapan hidup yang tinggi. Di satu sisi itu tanda sebuah negara makmur, hanya saja jumlah masyarakat tua rentan terserang berbagai penyakit pasti tidak sedikit. Masyarakat yang berusia lanjut punya mobilitas yang terbatas, sangat sulit bagi mereka pergi ke klinik atau rumah sakit untuk berobat. Belum lagi administrasi yang berbelit-belit membuat banyak orang urung ke sana. 
Kehadiran Society 5.0 membantu para orang tua bisa berobat dengan mudah dari jarak jauh melalui perangkat komputer pada dokter yang ia tuju. Dokter pun punya semua data biometrik berbentuk Big Data milik si pasiennya, mulai dari riwayat penyakit hingga data kemungkinan penyakit yang dimiliki si pasien. Sehingga ia bisa mengetahui keluhan penyakit si pasien dengan cepat. Proses analisa penyakit si pasien dilakukan dengan Deep Learning dan Machine Learning  untuk proses diagnosis lebih cepat dan tepat. 
Bila butuh penanganan lebih lanjut, barulah akan ada kendaraan autonom yang akan menjemput pasien secara mandiri hingga ke rumah sakit. Obat dari resep dokter akan dikirimkan menggunakan Drone setelah pasien tiba di rumah. Bagi pasien yang ingin berkonsultasi atau bahkan proses operasi akan melibatkan Virtual Reality. Cara ini dinilai lebih tepat dalam mendiagnosis bagian yang perlu dioperasi oleh dokter. Kemudian pasien tidak perlu kebingungan lagi saat menunggu resep yang akan diantarkan langsung ke rumah via Drone.
Bahkan dengan Society mampu mengetahui penderita yang terdeteksi pasien yang terpapar oleh virus. Kepada siapa saja kontak terakhir secara langsung, itu dilakukan dengan Internet of Things pada perangkat yang digunakan. Data tersebut menjadi acuan mana pasien terduga (suspect), ODP (Orang Dalam Pemantauan), dan PDP (Pasien Dalam Pantauan). 
Cara ini dinilai mampu melacak penyebaran virus dengan lebih cepat, tanpa harus menjangkau semua daerah secara luas. Tanpa harus melakukan lockdown secara menyeluruh yang berdampak pada ekonomi masyarakat. Lalu internet bisa memberikan informasi dan transparansi khususnya keberadaan virus. Masyarakat yang berada di dekat lokasi akan diinformasikan dan menjauhi lokasi penyebaran virus. Serta bisa dengan mudah dilakukan proses penyemprotan desinfektan.

Cara ini dinilai cukup efektif, mampu menekan jumlah korban dan bahkan bisa mengurangi penumpukan orang yang terinfeksi di rumah sakit. Peran internet sangat krusial, inilah yang membuat manusia modern belajar dari pengalaman pelik di masa lalu. Bahkan mempersiapkan diri di masa depan dengan ancaman serupa serta peduli bahkan kesehatan lebih berharga dan penting dari segalanya.

Semoga postingan ini memberikan inspirasi untuk kita semua, Stay Clean and Stay Healty Guys…

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?