Tuesday, March 10, 2020

Apa Jadinya Dunia 24 Jam Tanpa Internet?

Internet sudah jadi sebuah kebutuhan wajib manusia modern dan hampir semua benda di dunia sudah terkoneksi dengan internet berbasis IoT. Memasuki era generasi kelima dari internet, perannya makin bertambah besar dan kompleks. Sulit dibayangkan sehari saja tanpa internet.

Serangan besar datang secara mendadak dan menimpa internet, memadamkan dalam kurun waktu sangat lama yaitu 24 jam. Server internet di dunia padam dan jaringan kabel serat optic tak mampu mengirimkan data. Dalam sekejam kekacauan dimulai dan itu terjadi pagi hari di belahan bumi barat, tempat ¾ dunia tinggal.


Sudah pasti akan ada miliar aktivitas setiap menitnya yang terlewat. Mulai dari email, sosial media, instan messaging, hasil pencarian, hingga upload data. Apa saja gerangan yang harus dilakukan oleh penduduk dunia saat ini. 
Suasana terasa sangat hampa, masyarakat dunia yang sangat akrab dengan ponsel lebih banyak terdiam. Mereka hanya bisa terpana saat berita di TV menampilkan bahwa internet dunia mengalami gangguan paling berbahaya yang mengakibat ia shut down selama 24 jam.

Saya mencoba menganalogikan internet padam seharian. Bagaimana rasanya dan deritanya bagi manusia modern. Pagi itu hari seperti biasa, alarm berbentuk sebelum matahari terbit. Ada begitu banyak manusia di dunia yang berharap bangun dengan alarm. Pagi itu dengan mata yang masih sembab dan kabur, pandangan langsung tertuju pada ponsel.

Sinyal internet di ponsel Anda dan penduduk dunia lainnya tidak berfungsi sama sekali. Tak cukup itu saja, semua perangkat mengalami gangguan serupa. Pasti Anda bingung dan gusar karena masalah itu. Tak berapa lama kemudian menghidupkan paket data sembari melihat notifikasi. Anehnya tidak ada notifikasi dan parahnya sinyal internet tidak ada.

Mungkin pagi itu terasa kosong, sembari berkemas-kemas sembari pergi ke kantor. Mungkin pagi hari sembari melihat sosial media, mencari berita hingga menonton video terbaru di Youtube. Niat pagi itu ingin melihat grup chatting, membaca berita, hingga mengecek email harus diurungkan. Saat itulah Anda memilih cara lama yaitu menelepon dan mengirim pesan melalui SMS. Kembali jawaban yang ada dapatkan adalah jaringan sibuk. Sudahlah… lupakan saja dalam hati.
Anehnya saat membuka perangkat lainnya seperti tablet, hal serupa juga kamu temukan. Tidak ada internet dan hanya ada notifikasi gangguan sinyal yang begitu mengganggu. Itu pertama kalinya kamu merasa kesal. Mematikan ponsel atau tablet dan kemudian mencoba menghidupkan kembali. Ini pasti ada yang salah dengan perangkat yang saya punya. Tapi hasilnya juga tetap masih sama dan kamu memutuskan pagi itu tanpa melihat internet.

Sialnya, segala kegiatan pekerjaan yang kamu lakukan sangat erat dengan internet. Sudah cukup lama kamu berangkat kerja di pagi hari dengan menggunakan jasa aplikasi transportasi online. Sial mau dikata, mereka tidak ada yang bisa dihubungi karena aplikasinya terganggu.

Inilah yang memutuskan kembali menggunakan kendaraan konvensional, sudah pasti harganya akan berlipat ganda. Tidak ada potongan harga sedikit pun, kami pun bingung setengah mati karena tidak punya uang tunai yang memadai.
Biasanya kamu mengandalkan pembayaran barcode atau aplikasi berbayar lainnya. Untung saja uang yang kamu punya lumayan cukup untuk membayar pergi ke kantor tapi tidak cukup untuk pulang. Tapi tak apa, nanti saatnya pergi ke bank pikirnya.

Sesampai di kantor, suasana begitu lengang seperti biasanya. Bos dan karyawan lainnya pun tak kalah stres pagi itu, Semuanya pun saling berbicara satu sama lain dan obrolannya tetap sama: internet kalian bermasalah tidak?

Karena pekerjaan semuanya berhubungan internet, mau tak mau bos harus meliburkan pekerjaan untuk saat ini. Email klien tidak bisa dibalas satu pun dan bahkan segala transaksi mentok. Mungkin TV di ruangan kerja lokasi tujuan pekerja lainnya, melihat berita yang terjadi sehingga internet global terganggu.

Tak ada pilihan lain, pekerjaan kantor tidak ada yang bisa dilakukan. Hanya menonton TV atau membaca tumpukan koran dan majalah lama yang berdebu. Sembari menghilangkan kebosanan berharap internet segera menyala.

Mungkin yang hanya bisa dilakukan adalah dengan menelepon sebagai opsi, tapi apa daya interkoneksi telepon hari itu mengalami overload. Server yang ada di setiap negara mengalami kebakaran karena dalam waktu sekalian orang menelepon di seluruh dunia.

Dirasa sia-sia semata, Anda pun pulang ke rumah bersama karyawan lainnya. Bos sudah memberikan izin karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Sembari berharap ada internet membaik dan segera pulih.

Tapi Anda lupa bahwa biasanya bepergian dengan taksi online, cara memesannya pun tak bisa dilakukan. Mau tak mau, Anda harus mencari taksi atau ojek offline yang ada mangkal dekat dengan kantor. Celakanya Anda tidak punya lagi uang tunai, terlebih dahulu Anda berinisiatif menarik uang di bank terdekat.

Sesuatu yang di luar dugaan terjadi, ada begitu banyak orang mengantre di bank. Bahkan di ATM yang berada di tempat keramaian. Semuanya dibanjiri oleh orang yang panik akibat tak punya uang tunai. Pegawai bank pun kepayahan memasok uang kertas di ATM yang sudah dipenuhi antrean pelanggan.

Anda pun termasuk orang telat ke sana, mau tak mau harus menunggu lama. Karena menyerah menunggu lama, ide nekat terlintas dengan pulang berjalan kaki di tengah terik. Ini diambil karena Anda tidak punya uang tunai, uang yang ada di dalam saku tidaklah cukup. Mungkin hanya cukup untuk membeli air mineral dan cemilan. Sekalian olahraga, yupp…!

Setiba di rumah dengan keringat yang mengucur, semua orang sama halnya dengan Anda. Menanyakan internet yang terganggu, pertanyaan yang ditanyakan semua orang untuk hari itu. Diskusi mungkin jadi bumbu wajib hari ini, semua berharap hari yang buruk itu segera berlalu.

Kamu pun akhirnya pergi pamit, hari pun sudah menunjukkan waktu petang. Memang tak terasa, kini kamu mulai mandiri tanpa ponsel. Memasak makanan setelah lelah berjalan kaki hingga tiba ke kantor.

Setelah makan, kamu mulai melupakan hari terburuk tadi. Saat itulah TV yang mulai berdebu kembali didekati. Ibarat kembali ke hiburan dulu, semenjak gebrakan internet TV hanyalah sebuah pajangan di ruang tamu.

Namun kamu tidak menemukan siaran yang sesuai dengan selera, alhasil pandanganmu teralihkan dengan tumpukan koran di rak. Warnanya sudah kekuningan karena tak pernah dibuka. Kamu terlalu mengandalkan e-book di ponsel atau kindle sebagai bacaan. Barulah kali ini kamu terhibur.

Malam pun tiba, membaca terlalu banyak membuat kepalaku pusing. Kini aku ingin melihat langit. Selama ini kami masyarakat bumi seperti mengabaikan indahnya langit berhiaskan bintang. Kali ini niatan tersebut berhasil dicapai, alangkah indahnya gugusan bintang di langit.

Hingga akhirnya malam sudah larut, tak ada tanda-tanda internet hidup hari ini. Itulah terakhir kalinya kamu menatap ponsel dan pergi tidur lebih cepat dibandingkan biasanya. Selamat tidur semuanya, baru saja kamu memejamkan mata. Alarm berdering dengan kencangnya. Ia seakan merusak waktu tidur, berhenti dan coba aku matikan.

Saat tangan menggapainya, saat itulah aku sadar hari sudah pagi. Pengalaman buruk sehari yang dialami seharian hanya ilusi di dalam mimpi. Mencoba meraih ponsel yang ada di atas meja, saat itu aku tahu tanggal menunjukkan hari sebelumnya. Taka da notifikasi dan semuanya hanya mimpi buruk buat manusia modern.

Itulah analogi sederhana dari internet yang padam. bukan hanya masyarakat yang paling dirugikan saat internet. Ada banyak pihak yang paling merasakannya. Siapa sajakah mereka, berikut ulasannya:

Pasar uang dan saham, internet yang terganggu membuat segala aktivitas terganggu. Mulai dari transaksi, kredit, hingga aktivitas lainnya. Proses untuk mengakses data keuangan dan stok online terganggu, sehingga tidak mampu memprediksi pasar. Bahkan pasar saham yang sudah dibangun puluhan tahun bisa saja ambruk dalam seharian. 
Mau tak mau pihak perbankan harus meliburkan karyawannya, pastinya mereka senang karena pagi itu tidak masuk kerja. Untuk perusahaan teknologi yang melakukan proses pembayaran melalui internet jelas sangat terganggu. Segala penjualan mereka tersendat dan bahkan menimbulkan kepanikan global.

Bidang e-commerce, sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang bisnis e-commerce sangat merasakan hal ini karena semua proses penjualan terhambat. Sejumlah barang pesanan pelanggan harus lama tertahan tanpa bisa dilakukan proses pengiriman.
Sejumlah e-commerce dalam dan luar negeri harus menahan segala proses aktivitas mereka hingga internet kembali pulih. Sudah pasti akan terjadi penumpukan pemesanan dan bahkan transaksi yang tertentu. Mereka harus rugi besar dalam 24 jam saja, bagaimana lebih lama lagi? Pastinya banyak dari e-commerce yang harus gulung tikar dalam sekejap.

Bidang logistik dan informasi, Masyarakat modern sangat akrab dengan teknologi. Mulai dari pekerjaan, hiburan, informasi, dan bahkan jodoh datang dari itu semua. Bagaimana pusingnya para pekerja yang gagal mengirim email atau bahkan gagal mengirim pekerjaan mereka di tenggat waktu. 
Belum lagi hiburan dan informasi tentang segala yang terjadi hari itu sangat terbatas, hanya ada media cetak dan elektronik. Mereka yang sedang merajut cinta harus menahan rindunya selama 24 jam. Komunikasi yang sering harus berkurang jumlahnya dan rasa waswas serta rindu seakan menghampiri.

Bidang hiburan dan dunia kreator, para pekerja di balik layar seakan pusing setengah mati. Mereka tidak bisa mengupload karenanya, apakah itu berupa tulisan, gambar, hingga video. Platform yang menjadi wadah pun kehilangan trafik dalam sekejap, akses internet yang mati secara global membuat uang mereka menguap begitu saja.

Belum lagi para influencer, mereka seakan tidak bisa mengupload fotonya. Terjadi sebuah kekacauan besar. Platform dunia digital rontok dan bahkan kehilangan begitu banyak pengguna. Data akses yang dimiliki pun tidak bisa diakses dan berpengaruh pada proses analisisnya.

Bidang transportasi, gangguan internet sudah pasti membuat maskapai yang ada di dunia tidak diperbolehkan terbang. Trafik kontrol yang mengawasi pesawat sangat kewalahan dan bahkan mengharuskan pesawat tetap di bandara. Akan ada bencana besar yang terjadi bila terbang.
Akibatnya ada puluhan ribu penerbangan di seluruh dunia terhenti, terjadi penumpukan besar penumpang di bandara. Tak berangkatnya pesawat berdampak pula pada penumpukan barang logistik. Pengiriman barang terlambat dan bahkan tidak bisa dilakukan proses pelacakan barang via internet.

Di darat pun serupa, kendaraan yang mengandalkan GPS sulit menentukan rute perjalanan dan bahkan menjemput lokasi pelanggannya. Mereka tersasar dan bahkan mogok bekerja untuk hari itu saja. Pekerjaan mereka seakan sia-sia karena tak berhasil sampai ke lokasi si penumpang. Belum lagi kendaraan yang menggunakan autonom, otomatis sistem tak berfungsi sehingga rawan kecelakaan dan harus mengandalkan manusia sepenuhnya.

Bidang Medis, dunia medis saat ini sudah hampir seluruhnya terkomputasi dalam bentuk digital. Salah satunya adalah catatan kesehatan digital (Electronic Health Record) yang hanya bisa diakses dengan menggunakan internet. Tanpa data pasien yang akurat dari catatan kesehatan digital, dokter tidak bisa melakukan analisa tepat. Ini berdampak pada kelangsungan hidup pasien

Bahkan ada begitu banyak bidang lainnya yang kena, pihak provider pun jadi kambing hitam atas kegagalan tersebut. Bahkan muncul petisi meskipun kemudian para masyarakat dunia mencabutnya, mengingat ini kejadian luar biasa di luar kendali. 
Segala kekacauan yang terjadi dalam 24 jam berdampak besar bagi umat manusia. Keberadaan internet sangatlah sentral, jangan gangguan dalam seharian saja. Hitungan menit saja kekacauan kecil sudah dimulai.

Semoga tulisan ini memberikan wawasan ada tentang pentingnya internet dan peran besarnya di era modern. Have a Nice Guys.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer