Thursday, March 5, 2020

Deteksi Cepat COVID-19 Menggunakan AI

Penyebaran virus Coronavirus (Covid-19) yang cepat dan tanpa batas seakan begitu menakutkan. Sudah ada 73 negara dari 193 negara di bawah pengakuan PBB. Artinya ada sepertiga negara di dunia sudah terjangkit virus mematikan tersebut. Belum ada penawar yang optimal dan penyebarannya yang cepat seakan jumlah korban yang terjangkit bisa terus bertambah.

Salah satu update data korban yang terjangkit hingga tulisan ini ditulis ada lebih dari 95 ribu korban terjangkit Covid-19. Sebagian besar pasien berhasil pulih, meskipun media kurang menarik dalam membahas korban yang berhasil pulih dibandingkan dengan korban meninggal dunia.
Data terbaru korban Covid-19 di dunia
Korban terbanyak datang dari China daratan, Korea Selatan, Iran, dan Italia. Sedangkan negara lainnya sedang waswas menanti kejutan serupa terjadi. Berbagai cara dilakukan dengan melakukan tindakan pencegahan dengan memasangkan alat Thermal Scanner di sejumlah pintu masuk kedatangan internasional seperti bandara.

Fungsi dasarnya dalam mendeteksi tubuh penumpang yang masuk di sebuah kota atau negara. Perangkat akan merekam suhu tubuh dari objek yang melintas di alat tersebut. Keterangannya bisa dilihat bahwa manusia yang sehat akan terekam berwarna biru dan ungu. 
Proses Deteksi Melalui Thermal Scanner
Sedangkan yang punya gejala demam akan memberi sinyal warna kuning, oranye hingga merah. Petugas bandara akan memeriksa penumpang tersebut dan bila dianggap punya potensi besar akan dibawa ke RS yang khusus menangani Covid-19.
Baca juga: Bisakah AI Mendeteksi Virus Mematikan

Hanya saja, sejumlah negara kecolongan dan bahkan penyebarannya tak disangka oleh penderitanya. Gejala yang baru dirasakan setelah 14 hari atau bahkan korban yang tidak melapor ke RS membuat jumlah penderita bertambah. Bahkan sejumlah negara sudah dalam darurat Covid-19. Masyarakat di sejumlah negara pun mulai panik seperti dengan memborong pasokan dan masker dalam jumlah besar.

Sejumlah festival, pertemuan hingga pertandingan harus ditunda hingga waktu yang tak ditentukan mengingat bisa menambah jumlah korban terkontaminasi. Izin keramaian pun tidak berhasil dikeluarkan, sebuah kerugian besar termasuk dalam segi ekonomi. Apa pun itu kita harus mencegahnya bersama-sama.

Alibaba dan Inovasinya di Bidang Medis
Negara yang paling terpukul secara ekonomi adalah China, ekonomi mereka jeblok dalam dua bulan terakhir. Berbagai industri tutup dan bahkan dunia pariwisatanya pun harus kehilangan begitu banyak turis. Di tengah situasi genting tersebut, Alibaba mencoba memberikan terobosan khususnya pencegahan Covid-19 secara lebih masif lagi di masyarakat.

Sudah ada lebih dari tiga ribu jiwa melayang di China daratan. Penanganan ekstra saja tak cukup dalam menekan virus tersebut. Selama obat penawar belum ditemukan, sudah pasti ada banyak korban yang terinfeksi. Bila tidak sigap, akan banyak korban yang jatuh bukan hanya di China daratan tapi di seluruh dunia. 
Terobosan yang dilakukan adalah melalui anak perusahaannya yang bergerak di bidang riset, DAMO Academy. Merupakan singkatan dari Academy for Discover, Adventure, Momentum, and Outlook. Sejak berdiri pada tahun 2017, DAMO Academy punya dedikasi besar dalam penelitian dan riset teknologi untuk umat manusia. Ada banyak project yang dikerjakan di lintas bidang. Total ada lima bidang yang menjadi fokus utama dalam pengembangannya.

Alibaba yang selama ini hanya dikenal sebagai perusahaan E-Commerce terbesar di China dan dunia pun tak hanya berinovasi di bidang ekonomi. Mereka pun sudah getol melakukan riset dari bidang pendidikan, kesehatan hingga teknologi masa depan. Lahirnya DAMO Academy mampu membidangi para ilmuwan andal China dan dunia dalam memberikan solusi masa depan.
Sejumlah ilmuwan dunia yang terlibat di DAMO Academy
Alibaba dan Damo melakukan sebuah kolaborasi unik antara dunia teknologi dengan lintas ilmu lainnya. Dunia bisnis yang selama ini dekat dengan profit coba dipadukan dengan dunia teknologi yang membantu masyarakat. Lahirlah DAMO Academy yang mampu mengatasi tantangan teknis dan skenario bisnis Alibaba.

Bahkan Alibaba memberikan wadah para ilmuwan dalam menemukan inspirasi dan pengalaman di bidang industri. Selama ini ilmuwan kurang mendapatkan apresiasi dan Alibaba mencoba memberikan ruang yang lebih besar termasuk dalam pendanaannya.

Termasuk dengan adanya wabah Covid-19 yang begitu mengkhawatirkan. Sebelumnya saja sudah banyak negara yang bergabung dalam mencegahnya. Hal paling sederhana ialah dalam mendeteksi penderita dalam waktu cepat. Sebagai contoh di China ada 80 ribu pasien yang terjangkit di sejumlah kota di sana.

Proses analisis pun masih sangat lama karena menggunakan CT Scan, waktu yang dibutuhkan dari 10-20 menit saja untuk mendeteksi satu pasien. Sedangkan pasien yang datang RS terus bertambah, penanganan yang lama dari CT Scan seakan membuat banyak pasien terlantar.

Dokter dan medis di RS selama ini dilanda stres berkepanjangan karena begitu banyak pasien. Adanya AI bisa mengurangi stres para tenaga medis dan memudahkan diagnosis virus jadi cepat, aman, dan terkendali.

Inilah yang coba dilakukan oleh DAMO Academy dalam menciptakan alat khusus yang efisien dan cepat dalam mendeteksi korban. Makin cepat dideteksi, pasien bisa dengan cepat ditangani dan memperkecil peluang kematian.

DAMO Academy, Solusi Jitu Menciptakan AI Pendeteksi Virus

Teknologi saat ini dinilai mampu membantu umat manusia salah satunya melalui AI (Kecerdasan Buatan). DAMO Academy membidangi sejumlah divisi pengembangan yang mencakup sejumlah ilmuwan. Sebagai gambaran besar, DAMO Academy punya lima divisi mulai dari divisi Kecerdasan Mesin (Machine Intelligence), Komputasi Data, Robotika, Finansial Teknologi hingga X Laboratorium.

Untuk urusan pendeteksian Covid-19, divisi yang menangani adalah divisi Kecerdasan Mesin. Tinjauan penelitian yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan penelitian teoritis dan aplikatif pada sebuah masalah. Covi-19 selaku objek yang berbahaya coba dideteksi melalui pendekatan medis berbalut teknologi.

AI dianggap sangat membantu manusia dalam berbagai aspek termasuk virus. Ilmuwan China dan dunia di bawah naungan DAMO Academy pun memutar otak, mereka mencoba menemukan algoritma yang cepat dalam mendeteksi korban. Apalagi Covid-19 punya penyebaran yang sangat cepat antar manusia, Thermal Scanner di pintu kedatangan sebuah bandara atau pelabuhan hingga CT Scan di RS dianggap kurang optimal.

Hingga akhirnya lahirlah sebuah AI yang punya deteksi cepat, sebelumnya sudah diterapkan lebih dari lima ribu pasien di China daratan. Proses akurasi yang dihasilkan pun lebih akurat hingga 96% dibandingkan alat lainnya. Bahkan prosesnya pun cepat hanya 20 detik saja, lebih cepat 50 kali dibandingkan dengan CT Scan bahkan AI lainnya.
Proses CT Scan yang memakan waktu lama buat diagnosis
Saingan dari Alibaba adalah startup berbasis asuransi kesehatan asal China yaitu Ping An. Sebelumnya mereka lebih dulu menciptakan AI dalam mendeteksi pasien. Hanya saja, akurasinya hanya 90% saja, faktor pendanaan dan tidak banyaknya ilmuwan di dalam misi mereka membuat Ping An kalah bersaing dengan DAMO Academy karena punya sokongan dana tak terbatas oleh Alibaba Group.

Bagaimana Kerja AI dalam Deteksi Covid-19
Covid-19 memang tergolong virus baru dan tergolong unik dengan penyakit flu lainnya. Korban yang terserang akan punya gejala awal seperti hidung berair, sakit kepala, batuk nyeri tenggorokan, dan demam. Bila sudah parah, akan muncul gejala demam tinggi, batuk berdahak, sesak napas hingga nyeri dada.

Gejala tersebut mulai terasa mulai dari 2 hari hingga 14 hari setelah proses inkubasi virus. Ia menyerang sistem pernapasan korban hingga akhirnya korban jatuh sakit. Meskipun punya angka kematian korban yang kecil yakni 2-3% dibandingkan dengan SARS, H5N1, dan MERS di masa lalu, Akan tetapi untuk korban yang terjangkit sangat besar.
Dibutuhkan alat canggih yang bisa mendeteksi dengan cepat dan akurat. Belum lagi dengan mobilitas yang tinggi dari manusia modern akan berdampak pada penyebaran yang lebih cepat. Salah satunya dengan AI yang dikembangkan oleh DAMO Academy.

Konsep kerjanya cenderung sederhana dan sangat cepat, saya mencoba menjelaskan pada Anda bagaimana kerjanya dalam mendeteksi pasien. Hingga informasi yang saya baca, sudah ada ratusan RS khususnya di Provinsi Hubei dan Anhui (daerah terparah dari Covid-19) yang menggunakan AI tersebut.

Proses deteksi diawali dengan melihat secara ciri fisik korban yang terdeteksi tersebut. Ia akan melalui proses uji Asam Nukleat untuk diagnosis apakah positif atau negatif Covid-19. Kemudian Algoritma akan membaca dan mengambil begitu banyak data visual korban. Total ada lebih dari 300 gambar yang menguatkan apakah korban punya gejala tersebut. 
Proses deteksi pasien melalui super komputer
Hebatnya lagi, itu hanya dilakukan selama 20 detik dan punya akurasi hingga 96%. Pasien pun bisa dinilai dari level ringan, sedang hingga berat. Setiap pasien akan dirawat sesuai dengan tingkat penyakit yang diderita. Misalnya saja korban dengan level berat akan berada di dalam ruang isolasi dengan penanganan ekstra.

Satu lagi yang cukup membantu dari AI yang DAMO kembangkan tersebut. Ia mampu mendeteksi pasien yang hanya terkenal flu biasa dengan Covid-19. Sehingga menghilangkan kekhawatiran pasien akan penyakit yang diderita.
Proses diagnosis menggunakan AI buatan DAMO
Nah… bagi pasien pun juga bisa mencegah diri dari serang virus tersebut di mana pun ia berada. Sudah ada 73 negara yang mengumumkan punya pasien positif Covid-19. Mulai dari rajin mencuci tangan, menggunakan masker saat bepergian, menjaga daya tahan tubuh dengan istirahat, makanan bergizi serta olahraga hingga mengurangi bepergian ke luar negeri. 
Mencegah lebih baik dari mengobati dan apa yang sudah Alibaba dan DAMO lakukan merupakan cara pencegahan virus. Sebelum penangkalnya belum ditemukan, menjadi diri sendiri dan keluarga jadi hal terpenting. Akhir kata, adanya AI bisa memudahkan manusia termasuk di dunia medis sekalipun.

Semoga postingan ini memberikan manfaat serta edukasi, Have a Nice Day Guys.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer