Saturday, May 23, 2020

Menariknya Memotret ala Virtual Photoshoot

Dunia fotografi terguncang berat saat pandemi datang menghantui dunia. Ada begitu banyak para fotografer dan model yang harus menganggur sembari duduk di rumah. Pembatasan gerak dan interaksi sesama manusia membuat aktivitas yang berhubungan dengan orang banyak dihentikan hingga kondisi kembali normal.

Para fotografer sudah pasti terpukul berat, ada banyak klien yang membatalkan proses penjepretan yang sudah dijadwalkan jauh-jauh hari. Apa mau dikata, itu semua agar menekan angka penyebaran yang sudah cukup mengkhawatirkan. Secara ekonomi, pendapatan fotografer menurun drastis meskipun biasanya ada begitu banyak, klien pun juga harus gigit jari. Mau tak mau model atau klien harus memotret sendiri bahkan menggunakan foto sisa kemarin yang masih tersedia.
Sedangkan foto yang sifatnya moment seperti pernikahan, wisuda, hingga foto acara semuanya harus ditiadakan. Bahkan banyak yang harus melaksanakan secara virtual atau bahkan dengan proses ketat. Jadi nasib para fotografer berada di ujung tanduk khususnya harus mengandalkan uang simpanan. Hanya saja untuk normal kembali membutuhkan waktu. Para fotografer harus berpikir keras dan berinovasi menghadapi suatu yang new normal.

Nasib Pekerja Swasta dan Cara Mengakali Diri
Bukan hanya fotografer saja, ada begitu banyak pekerjaan yang harus kehilangan omzet khususnya yang bekerja di sentra swasta. Banyak perusahaan yang merumahkan pekerjanya karena minimnya omzet sedangkan para freelance harus kehilangan begitu banyak pelanggan yang ketakutan akibat pandemi.
Sebut saja fotografer yang harus kehilangan sesi photoshoot di luar kota khususnya tempat-tempat eksotik yang selama ini jadi lokasi pre-wedding. Bahkan hanya melayani foto dari rumah, itu pun dengan izin dan persyaratan rumit. Itu pun di sejumlah lokasi yang diberi kelonggaran, sedangkan yang tidak ada kelonggaran harus siap gigit jari.

Tak hanya itu saja, industri produsen fotografi terpukul berat. Gear seperti kamera, lensa, aksesoris sangat terdampak karena minimnya permintaan. Para fotografer menunda segala aktivitasnya, buruknya lagi pengembangan gear melambat karena ada banyak pekerja yang dirumahkan.

Aktivitas traveling juga menyumbang begitu banyak penjualan akan kamera, saat sejumlah negara dan  sejumlah lokasi wisata ditutup ini sebuah pukulan berat. Toko-toko kamera harus mengalami penurunan pemasukan dan bahkan menunda memproduksi produk baru.
Tapi manusia punya sejumlah cara dalam mengakali itu semua, salah satunya menghasilkan karya dari rumah. Apalagi model berharga yang bisa dimanfaatkan adalah internet dan fitur video call atau video konferensi. Sifatnya yang kini fleksibel bahkan yang dulunya harus bekerja di lapangan dan bertemu dengan klien.

Eksperimen akhirnya lahir apalagi dunia berbau kreatif seperti fotografi sudah pasti mengharuskan banyak inovasi. Aplikasi video call konferensi nyatanya bisa disulap yang semula hanya digunakan sebagai media rapat atau pertemuan grup. Kemudian menjadi alat yang berguna dalam mengarahkan klien yang ingin diajak foto. Jarak bukan masalah karena kini Zoom, Facetime, WhatsApp video hingg Skype jadi solusi.
Konsepnya pun jadi berubah, selama ini pemandangan alam atau spot yang menarik jadi latar belakang foto. Tapi kini tak masalah rumah, pelanggan cukup mencari objek terbaik di rumahnya. Bisa juga ditata ulang agar terlihat menarik.

Fotografer pun bisa belajar ilmu baru sembari di rumah, selama ini sangat jarang upgrade kemampuan. Pandemi yang sedang menyerang dunia bisa jadi alasan menambah ilmu baru. Mulai dari belajar desain, proses editing yang lebih smooth hingga belajar proses videografi dengan angle baru. Kemampuan fotografi kini sepaket dengan videografi jadi wajib upgrade knowledge.

Sejarah Panjang Fotografi
Manusia telah lama mengenal dunia fotografi khususnya mengabdikan moment penting sebagai bukti sejarah. Tepatnya sejak abad kelima sudah ditemukan kamera yang disebut dengan obscura yang mengandalkan tangkapan cahaya.

Di abad 18, perkembangan kamera begitu pesat hingga akhirnya Louis Daguerre mampu menghasilkan gambar manusia pertama di dalamnya. Serta James Clerk Maxwell di tahun 1861 berhasil menghasilkan kamera berwarna pertama.

Setelah itu inovasi kamera makin berkembang pesatnya dengan kemampuan yang terus membaik setiap tahunnya. Mulai dari kamera Kodax Eastman dengan konsep Roll Film, Singel Lens Reflex (SLR), kamera Polaroid, hingga era mirroless. Bahkan kini kamera ponsel tak kalah bagusnya dalam menangkap hasil objek sebagai alternatif menggunakan fotografer.
Artinya siapa saja bisa mengambil gambar yang diinginkan kapan saja, hanya saja kebutuhan akan gambar yang baik dengan resolusi bagus datangnya dari para fotografer. Peran mereka cukup diperlukan, apalagi kekuatan gambar sangat kuat khususnya dari moment sakral, tangkapan objek hingga foto promosi di sosial media.

Saat ini lahir model baru dalam menangkap itu semua, yaitu Virtual Photoshoot. Bermodal kamera sangat fotografer dan pelanggan, meskipun terpisah jarak dari rumah masing-masing. Kini aplikasi video call konferensi mampu menyambungkan keduanya jadi satu ikatan batin. Tinggal bagaimana fotografer mengambil angle terbaik untuk hasil memuaskan.

Kenalan Jauh Mengenai Konsep Virtual Photoshoot
Siapa sih yang memperkenalkan konsep ini pertama kali?

Secara pertama kali kemunculan Covid-19, Italia jadi negara yang cukup berdampak besar. Ada banyak korban jiwa yang harus berjatuhan, ditambah lagi dengan minimnya tenaga medis di sana. Alhasil pemerintah sana menerapkan lockdown total tanpa terkecuali.

Bidang yang paling berdampak di Italia adalah pariwisata, selama ini Italia sangat terkenal sebagai lokasi wisata dan tentu saja ada begitu banyak model karena perawakan wajah masyarakatnya. Alhasil saat lockdown dilakukan, ada banyak para fotografer dan model harus duduk di rumah selama berbulan-bulan.
Semua tak kehabisan akal, setiap musibah pasti manusia selalu berpikir out of the box dalam bertahan dan berkarya. Termasuk apa yang dilakukan oleh begitu banyak fotografer kini, konsep yang ditawarkan adalah Virtual Photoshoot dengan hasil jepretan tak kalah bagus. Semua tergantung bagaimana kualitas dari aplikasi konferensi yang digunakan, supaya mengurangi blur.

Inilah yang menginspirasi salah satu fotografer Italia yaitu Alessio Albi mencoba mengajak para model untuk mencoba gaya baru dalam berfoto ala virtual. Paling penting adalah komunikasi dan tentu saja pemilihan tempat dan beragam aplikasi video call digunakan secara optimal. 
Satu sisi, prosesi pemotretan jadi lebih singkat dan menghemat waktu khususnya biaya perjalanan dan waktu tempuh. Bahkan bisa mengambil banyak orderan dalam satu hari sesuai dengan kesepakatan. Pastinya ini jadi lahan bisnis baru para fotografer yang sebelumnya sudah patah hati bisnisnya terhalang pandemi.

Perbedaannya pun tidak terlalu signifikan, hanya saja yang diperlukan adalah menyiapkan konsep yang diinginkan oleh pelanggan. Bisa tempat atau properti yang diinginkan, bahkan para fotografer menerima saran lokasi dan tangkapan cahaya supaya hasilnya jadi lebih bagus.

Sisi lainnya malahan sang model bisa memilih sendiri gaya yang ia suka, ibaratnya swafoto tapi ada orang lain yang memfotonya dari jarak jauh. Nah... hal yang paling diperhatikan adalah pantulan cahaya dari perangkat yang digunakan. Paling umumnya adalah kamera ponsel, harus ada percobaan seperti membersihkan lensa terlebih dahulu atau tangkapan cahaya yang mengganggu proses penjepretan.
Satu lagi yang cukup krusial adalah internet, bila saja saat proses pemotretan internet ngadat. Nantinya hasil yang didapatkan akan terlihat buram. Bila semua tak jadi kendala, hasilnya akan siap. Tinggal nantinya bagaimana para fotografer melakukan proses editingnya. ini selaras dengan perjanjian dengan klien.

Alhasil, konsep ini mampu menarik sejumlah model dunia, bahkan majalah dunia yang selama ini gencar mendapatkan gambar para model. Kepincut dengan apa yang ditawarkan ini, bahkan menjadi sebuah role baru dalam proses fotografi alternatif.

Nah... bagi perempuan sendiri swafoto seperti sudah jadi hal wajib yang sulit dilepaskan. Virtual Photoshoot jadi pelipur lara yang selama ini jadi objek buat difoto. Kerinduan itu terjawab dari inovasi dan kreasi yang dilakukan oleh para fotografer, apalagi stok foto sudah banyak menipis. Virtual Photoshoot akhirnya datang...

Jadi jangan heran di sosial media ada begitu banyak hasil jepretan yang diunggah menggunakan konsep Virtual Photoshoot. Hanya saja untuk foto pernikahan atau moment sakral seperti masih sedikit, ada banyak yang menunda dulu atau mengundang fotografer tertentu untuk datang meskipun dengan protokol kesehatan ketat.

Peluang Besar Bisnis Virtual Photoshoot
Suatu menjadi tren baru, nyatanya ini mampu menarik sejumlah minat para kumpulan fotografer ternama untuk bergabung dalam sebuah model bisnis. Di Indonesia sendiri ada salah satu startup atau online marketplace yang mencoba peruntungan ini dalam menggaet para konsumen.

Uniknya lagi dalam kumpulan para fotografer adalah para artis yang cukup familiar dan punya kemampuan fotografi kelas atas. Siapa sih yang tak kenal seperti Gading Marten, Dion Wiyoko, Tommy Siahaan, atau Ana Octarina. Mereka tergabung dalam startup berbasis fotografi bernama Frame a Trip. 
Tak hanya itu saja, ada banyak pemberi dana yang datang dari kalangan artis dan para fotografer. Sebut saja nama yang tak asing dari Dian Sastrowardoyo, Arief Subardi, Hermawan Sutanto Michael Tampi, dan Damon Hakim. Apalagi startup ini sudah cukup lama berdiri sejak tahun 2017, bisa dibilang menjajal dunia startup sekaligus membantu sejumlah pihak dari fotografer dan artis dalam mengasah kemampuannya.
Konsepnya kini mengikuti tren Virtual Photoshoot yang sebelumnya face-to-face photoshoot. Ada kisaran biaya yang harus dikeluarkan klien dan tentu saja waktu yang harus dibayarkan klien. Apalagi kini sifatnya virtual, sudah pasti lebih menekan harga tanpa biaya perjalanan. Startup ini sendiri dikelola langsung oleh Patricia Rose yang juga punya koneksi kuat antara artis dan fotografer. Elemen yang dianggap sulit dipisahkan apalagi di era sosial media seperti saat ini.

Proses pemesannya pun gampang, tinggal melakukan proses pemesanan pada Website resmi milik Frame a Trip. Nantinya akan ada personal asisten yang akan menghubung klien untuk bisa mendapatkan proses briefing yang jelas sesuai dengan permintaan klien. Enaknya adalah saat sesi foto bisa bincang-bincang dengan fotografer, apalagi selama ini jadi artis idola Anda. Hasil bagus didapat dan tentu saja pengalaman ngobrol langsung secara virtual.
Konsep ini dianggap punya prospek besar di masa depan, bisa saja makna fotografi akan berubah dan akrab secara virtual. Makin bagusnya kualitas dari video call dan lebih fleksibel dan irit waktu buat fotografer. Ini dianggap jadi startup potensial.

Apalagi bila ada pendanaan yang datang, ada banyak partner yang ingin bekerja sama bahkan menghimpun beragam fotografer dan artis mencari pemasukan tambahan. Selama ini banyak yang terhalang, Frame a Trip dianggap sebagai media freelance fotografi virtual tepat. Bisa saja jadi startup unik lainnya yang menambah ramai startup tanah air.

Nah... setiap bencana apa pun itu jangan selalu dianggap sebagai petaka tetapi peluang baru. Apalagi dunia yang kini dinamis, berpikir kritis dan inovatif dianggap cara cerdas menanggapinya. Bukan hanya menggerutu, karena itu tidak hanya memecahkan masalah tapi menambah masalah baru buat jiwa dan raga.

Akhir kata, semoga tulisan ini menginspirasi dan Have a Nice Days...

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer