Thursday, May 7, 2020

Telekonferensi, Konsep Rapat yang Akan Jadi Tren

Selaku makhluk sosial, manusia sangat butuh interaksi. Setiap harinya manusia menganggap interaksi dengan manusia lainnya dalam menjalankan hidup. Model interaksi yang dijalankan pun beragam, mulai dari interaksi sekadar bercakap-cakap hingga perjanjian besar yang melibatkan kepala negara. Semuanya ada porsinya masing-masing, tapi pandemi membuyarkan semuanya.

Ini semua di luar dugaan semua pihak, bisa dikatakan tahun 2020 terjadi anomali tak biasa. Mau tak mau manusia harus beradaptasi dalam aktivitas The New Normal tersebut. Manusia mencoba berpikir solusi terbaik agar tetap bisa berkomunikasi dengan manusia lainnya. Teknologi adalah nyawa terakhir yang membantu manusia dalam solusi komunikasi modern.


Pandemi memberikan sesuatu yang baru dalam berkomunikasi, membuat manusia jadi lebih fleksibel. Salah satunya adanya video call, teknologi yang sudah dikembangkan sebelum PD II pecah. Mengalami pembaruan secara terus-menerus setiap dekadenya hingga era laptop di 2000-an dan ponsel pintar mendominasi di era 2010-an.

Aplikasi seperti Skype, Facetime, Cisco Webex, dan Microsoft Teams lahir terlebih dahulu meramaikan fitur video call conference. Kini Zoom yang paling eksis, berkat kemudahan fitur ditawarkan dan kombinasi pandemi. Zoom seakan merasakan durian runtuh tersebut, harga saham dan pengguna naik drastis. Ini selaras dengan Work From Home semenjak pandemi mendera dan bahkan akan terus berlanjut di masa depan.
Ini seakan membentuk sebuah pola baru dalam berinteraksi. Manusia yang sebelumnya ingin ribet dalam hal pertemuan sederhana hingga pertemuan besar kantor. Tubuh harus merasakan lelahnya terjebak di jalan raya, hal terburuk adalah saat rapat tanpa kesimpulan jelas setelah panjang lebar. Semakin berlarut-larut yang berlangsung lagi esok atau pekan depan. Kini telekonferensi jadi sebuah juru selamat.

Apalagi pertemuan jarak jauh yang memakan biaya besar dan waktu tempuh lama. Kini video call begitu populer, bukan hanya sebatas pelepas rindu dua orang sejoli yang terpisah jauh tapi rapat sebuah perusahaan multinasional. Memang pandemi mematikan sejumlah sektor yang mendukung mobilitas manusia sebelum harus #dirumahaja.

Apa sih Telekonferensi? Yuk Cari Tahu!!
Bagi yang belum tahu telekonferensi itu terkait dengan pertemuan dua orang dan bahkan lebih dengan menggunakan jaringan telepon dan koneksi internet. Tujuan utamanya adalah rapat dalam sebuah direksi, organisasi, hingga perusahaan besar.

Alat komunikasi terus berkembang dan kini ada banyak perusahaan yang mengembangkan konsep aplikasi berbasis telekonferensi. Menyediakan berbagai keperluan mulai dari audio, video, hingga perekaman beresolusi tinggi.  Jumlahnya pun kini sudah tak terbatas dalam jumlah besar sehingga siapa saja bisa menjadi anggota rapat. Mendukung segala jenis konferensi seperti audio, video hingga web konferensi.
Pandemi mengubah cara pandang banyak manusia dalam hal interaksi sosial dan budaya. Tanda inilah yang harus manusia lakukan dalam menekan angka penyebaran virus. Memang sulit tapi itulah salah satu cara yang bisa dilakukan hingga kondisi aman.

Memang manusia tak pernah kehilangan ide dalam mengatasi suatu masalah, di tengah terbatasnya pertemuan tatap muka tersebut. Lahirlah ide menyatukan manusia yang ada di rumah masing-masing melalui perangkat teknologi mereka dan internet. Makin mudah karena ada banyak aplikasi telekonferensi yang sebelumnya kurang familiar bagi banyak orang. Namun kini menjadi keharusan untuk diinstal untuk kebutuhan kerja dan bahkan pertemuan keluarga.

Pandemi dan sektor yang terpukul keras setelahnya
Bila menilik sejumlah sektor yang cukup terpukul khususnya dengan minimnya pergerakan manusia. Nama seperti sektor transportasi, perhotelan, dan cafe harus menelan pil pahit atau semua hal itu. Selama ini rapat identik dengan bepergian ke sana kemari, akan tetapi pandemi mengubah kebiasaan manusia jadi lebih banyak memulai sesuatu dari rumah. Tak perlu lagi keluar rumah dan bahkan ada begitu banyak fitur yang bisa digunakan untuk memudahkan rapat. Telekonferensi hadir menyelamatkan semuanya dari pandemi.
Akan tetapi buruknya adalah media transportasi dari kendaraan hingga pesawat mulai kehilangan penumpang. Manusia berpikir bahwa tanpa harus menghabiskan waktu dan tenaga duduk di dalam sebuah kendaraan dan maskapai. Kini semua bisa dilaksanakan secara digital, memang semua itu tetap tanpa cela tapi jadi tren baru yang bahkan jadi terus melekat di masa depan.

Bagaimana halnya biaya transportasi, penginapan hingga menyewa gedung untuk orang-orang tertentu bisa bertemu. Nyatanya rapat hanya berlangsung selama 30 menit saja bahkan kadang tanpa sebuah keputusan yang bulat. Pandemi seakan mengubah cara manusia dalam bertemu dan bahkan menghemat banyak biaya tak penting terpakai percuma. Bahkan bisa lebih bijak dialokasi ke sektor penting seperti kesehatan dan pertumbuhan ekonomi.

Berhemat Para Pejabat Negara
Selama ini pejabat daerah cukup banyak menghabiskan perjalanan dinas dan menjadi tradisi dalam menghabiskan uang sebuah instansi. Biaya yang negara keluarkan pun tak sedikit bahkan jadi sektor terbesar. Cukup saja bermodalkan dengan SPPD (Surat Perintah Perjalanan Dinas) atau bahkan kunjungan kerja, para pejabat dinas sudah bepergian ke luar kota. Biaya yang dikeluarkan tidaklah sedikit dan cukup banyak menguras posko anggaran sebuah dinas.
Hadirnya pandemi dan beberapa daerah melakukan proses PSBB itu artinya perjalanan dinas ditiadakan. Anggaran negara pun banyak yang dialihkan ke posko penanganan bencana COVID-19. Itu artinya untuk sementara waktu tidak ada yang namanya perjalanan dinas. Negara sedang sulit dan ekonomi sedang jatuh, agar sistem pemerintahan tetap berjalan adalah dengan efisiensi.

Semuanya dilakukan secara digital termasuk dalam hal rapat, tidak harus pergi keluar kota. Mau tak mau harus adaptasi dan pastinya ini berlangsung secara berkelanjutan. Posko dari SPPD yang selama ini jadi pundi-pundi pemasukan, setelah pandemi bisa digantikan dengan telekonferensi. Orang dinas yang suka pelesiran harus mengurungkan niatnya, karena telekonferensi jadi solusi jitu.

Menyambut Era Baru dalam Komunikasi
Pandemi seakan mengubah perilaku masyarakat dalam bersosialisasi termasuk dalam mengadakan pertemuan. Bila sebelumnya setiap pertemuan mengharuskan berpakaian rapi, datang ke lokasi hingga mengikuti protokol pertemuan serba rumit.
Kini hanya bermodal telekonferensi jarak jauh yang bisa diakses dari perangkat ponsel atau laptop. Bisa saja tanpa pandemi ada banyak yang acuh dengan platform berbasis telekonferensi. Namun kini semua pihak harus belajar dalam menggunakannya.

Telekonferensi menjadi cara baru dalam menekan kontak fisik dan menyatukan jarak. Semua sendi yang sifatnya formal dan nonformal mencoba menerapkan itu semua. Ada keuntungan yang diberikan khususnya dalam pemanfaatan teknologi konferensi selama ini. Ada jurang yang begitu besar dan bahkan kurang diperhatikan, telekonferensi selama ini seperti dikesampingkan hingga pandemi tiba.

Sebagai gambaran dasar adalah kemampuan perekaman dari webcam yang ada di laptop dan desktop. Selama hampir 10 tahun terakhir resolusinya tidak pernah naik dan mentok di 720p. Alasan pabrikan karena sangat jarang digunakan hingga pandemi datang, kualitas gambar kini coba ditingkat khususnya desktop dan laptop keluaran terbaru.

Itu belum lagi sejumlah aplikasi penyedia telekonferensi yang kebanjiran pengguna dalam beberapa bulan terakhir. Zoom dan Microsoft Team mungkin adalah dua aplikasi yang paling untung banyak, kemampuan bisa memuat banyak pengguna hingga user friendly.
Sebagai contoh adalah Zoom, ada hampir 300 juta pengguna harian yang mana sebelum pandemi datang, hanya ada 10 juta pengguna harian. Ini ibarat loncatan besar buat Zoom, harga saham mereka meroket dan mendapatkan keuntungan bersih hanya dalam waktu singkat.
Untuk saat ini sudah ada lebih 30 aplikasi telekonferensi yang ada saat ini dan terus bertambah karena belum tahu pandemi kapan berakhir. Pastinya mampu mendukung berapa perangkat OS hingga kualitas terbaik. Artinya ada begitu banyak yang bersaing dengan fitur yang ditawarkan. Larangan physical distancing jadi sebuah acuan bahwa video call jadi obat penawaran rindu, dari level komunitas, organisasi, hingga perusahaan dengan pemasukan besar.

Memang masih banyak kekurangan yang tak mungkin tergantikan. Bahkan dianggap hanya sekedar hiburan semata. Karena WFH memberikan jurang ketidakseriusan dan bahkan tanpa batas kerja. Inilah yang membuat para pekerja yang kecewa. Bahkan sifat manusia yang gampang jenuh menjadi polemik karena #dirumahaja.

Telekonferensi bukanlah tanpa cela, tatap mata dan sentuhan tidak bisa digantikan sepenuhnya. Ada begitu banyak kekurangan yang harus dihadapi selama proses berlangsung. Mulai dari proses pengaturan yang rumit seperti audio dan kualitas, peserta yang masih gagap dalam memulai telekonferensi, hingga kendala peserta yang terganggu sinyalnya. Tidak semua punya koneksi yang lancar, membuat telekonferensi terganggu. Semua persoalan tersebut jadi bumbu kala telekonferensi berlangsung.

Kehidupan Baru Setelah Pandemi
Tak ada yang sama setelah pandemi, sebagian besar manusia dirundung rasa ketakutan cukup besar saat bertemu orang lain. Anggapan buruk melekat, mulai dari penularan virus khususnya saat kontak di lokasi yang penuh dengan kerumunan.
Caranya dengan menjaga jarak di setiap berjumpa dengan orang lain dan bahkan untuk sekaliber rapat lebih nyaman dilakukan secara daring. Bahkan di grup sosial media Anda bisa ditemukan link berupa kelas daring hingga rapat daring sesuai pemateri dan waktu. Bahkan pekerja kantoran saja merasakan namanya bekerja layaknya seorang pekerja lepas bekerja. Ini akan jadi model baru yang mengandalkan jarak.

WFH bahkan lebih sering terjadi dan pergi ke kantor hanya urusan mendesak yang tak bisa dilakukan secara digital. Dunia digital khususnya telekonferensi jadi salah satu cara baru dalam memulai hidup baru. Sebuah keniscayaan dalam menggunakan smartphone ataupun laptop.

Jika sebelumnya hanya sebatas penunjang seperti lamaran pekerjaan atau seminar Worldwide, kini pertemuan tingkat dengan saja sudah menggunakan telekonferensi. Satu sisi bahwa virus membuat manusia bahkan telekonferensi lebih efektif dan hemat biaya. Buat yang masih gaptek, segera belajar karena itu sudah menjadi gaya hidup wajib.

Telekonferensi sudah hadir jauh-jauh hari, kini pandemi seakan memberikan bawa video call lebih dari sekedar dua sejoli atau teman lama yang terpisah jarak. Ia menawarkan lebih dari hal informal hingga batas formal kedua kepala negara dan perusahaan global.
Pandemi membuat manusia akan lebih praktis di semua lini, karena dari rumah semua bisa terhubung dengan manusia lain di belahan dunia lainnya. Kita berharap pandemi segera berakhir, tapi bukan berarti telekonferensi diabaikan namun menjadi opsi terbaik dalam menjaga diri dan membuat manusia lebih betah di rumah.

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi buat Anda semua, Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer