Monday, June 22, 2020

Expert Generalist, Pengubah Arah Inovasi dan Revolusi Dunia

Menjadi salah seorang pelopor dan inovator tidak lahir dalam waktu semalam. Semuanya butuh waktu dan fokus, modal utama yang dimiliki adalah pengalaman dan pengetahuan. Dasar itulah yang melahirkan para expert generalist yang ingin perubahan.
Bila tak mau melakukan hal yang baru, sangat sulit jadi seseorang yang kreatif dan inovatif.

Prinsip itulah yang dipegang teguh para expert generalist, orang-orang yang tak bisa dalam memandang dunia. Siap mengubah dunia jadi lebih efisien menurut mereka. Modalnya yang sederhana, hanya ide dan tentu saja rasa ingin tahu begitu besar.

Para expert generalist dapat pengetahuan dan pengalamannya dalam melihat masalah. Menerjemahkan ide dari kreativitas yang dimiliki. Saat banyak orang lain kesulitan, kemampuan dan ide mereka begitu berharga. Bahkan bisa merevolusi sebuah bidang sekalipun, kecil tapi bermakna besar.

Yuk Kenalan sama Expert Generalist
Menjadi Expert Generalist bisa dianggap sebagai orang yang spesial, kemampuannya dalam menggabungkan banyak ilmu dalam satu tujuan. Memang menjadi spesialis terasa begitu spesial, hanya saja satu ilmu saja.

Dunia berubah dengan begitu cepatnya, dan saat ini ilmu pengetahuan saja tidak cukup. Dunia membutuhkan orang yang andal dalam banyak hal dalam memecahkan permasalahan yang begitu kompleks. 
Berpikir out of the box dan tentu saja tahu segala hal, yeah... mereka adalah para expert generalist. Bila dulu punya banyak ilmu atau kemampuan yang umum sering kali dicap sebagai serabutan. Anggapan itu ditepis dengan banyaknya expert generalist dalam mengubah arah dunia.

Bahkan bisa dianggap expert generalist mampu menghubungkan berbagai titik menjadi sebuah pola. Bermodal pengetahuan, pengalaman, dan koneksi seakan mampu berbuat banyak pada bidang yang sedang digeluti. 
Cara melihat dunianya pun berbeda dan tidaklah pragmatis, dikarenakan kaya akan ide dan terobosan baru. Insting inilah yang membuat expert generalist jadi orang berpengaruh di berbagai bidang.

Siapa sih yang tak kenal dengan Elon Musk, mungkin saja dia adalah salah satu expert generalist yang mampu mengubah cara dunia berpikir. Ilmunya di bangku sekolah, insting berbisnis, dan pengetahuan luas membuatnya sukses besar.
 
Bukan pada satu atau dua perusahaan saja, tapi ada 15 perusahaan yang empat di antaranya ia langsung bawahi. Bisa dibayangkan bagaimana sibuknya Elon Musk setiap hari dalam berpikir dan mencurahkan tenaga dari setiap perusahaannya tersebut.

Jadi Seorang Spesialist atau Expert Generalist?
Pertanyaan lain muncul, yaitu mengapa orang dulu banyak yang Expert Generalist?

Kemampuan belajar dan mau tahu adalah kuncinya. Inilah modal berharga dalam menambah ilmu, apalagi saat itu ilmu pengetahuan berjalan sangat lambat. Serta belum ada pakem ilmu seperti sekarang dan mengharuskan semua orang belajar banyak ilmu.
Kini dunia telah berbeda, ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang dengan pesat. Proses belajar tak hanya mengandalkan ruang kelas saja dan status sosial lagi. Bahkan dari internet orang bisa belajar lebih banyak pengetahuan yang ia mau.

Alhasil lahir begitu banyak spesialis, mereka ada yang diasah oleh kemampuan akademisi yang kompleks dan rumit. Ada juga yang lahir berkat bakat yang diasah sejak kecil hingga menjadi seorang ahli profesional.
Kini dunia sebaliknya, kekurangan para expert di banyak bidang. Selain karena ilmu makin kompleks dan rumit. Tentu saja, itu perjuangan sulit belajar sejak dini. Bahkan mengorbankan waktu untuk bermain, istirahat, dan keluarga.

Dunia membutuhkan banyak expert generalist. Ada sebuah kelebihan yang dimiliki oleh expert generalist adalah menggabungkan banyak ilmu secara mendalam sekaligus merevolusi pemahaman akan suatu bidang. Kemampuannya memberi cara baru dalam berpikir dan menanggapi sebuah masalah.
Dunia membutuhkan orang-orang yang berpikir out of the box dan expert generalist tergolong orang yang unik dari beragam bakat dan kemampuannya. Seorang spesialis hanya bisa diandalkan pada satu bidang saja, sedangkan expert generalist jadi solusi banyak hal.

Modal Berharga Jadi Expert Generalist
Menjadi orang yang punya pengetahuan dan pengalaman di berbagai bidang jelas tidak datang dengan sendirinya. Butuh tekad kuat yang harus dipupuk sejak usia dini, proses belajar dan membangun prinsip ilmu penting jadi alasan seorang expert generalist lahir.

Sebagai contoh dasar dari expert generalist ialah Elon Musk, kebiasaan yang ia bangun sejak adalah rajin membaca buku. Kebiasaan fanatik ini otomatis mengasah otak, makin banyak dari beragam buku yang dibawa pun berpengaruh besar dengan pola pikirnya di masa depan.

Sebagai catatan, Elon membaca berbagai buku fiksi tentang masa depan saat masa kecil seperti  The Lord of The Rings, The Hitchhikers Guide to the Galaxy, The Foundation, dan The Moon is A Harsh Mistress.
Lalu bidang pengembangan roket dan astronomi seperti An American Life, Structures: Or Wht Things Don’t Fall Down, dan Ignition: An Informal History of Liquid Rocket Propellant. Sehingga Elon punya banyak ilmu dalam mengembangkan Tesla dan SpaceX.

Mengenai perkembangan AI (kecerdasan buatan), Elon rutin membaca buku Superintelligence: Path, Dangers and Stategies, Our Final Invention, dan Life 3.0. Apalagi perkembangan bisnis di masa depan sangat erat bersinggungan dengan AI dan manusia.

Otomatis dengan begitu membuat ia tahu segalanya dan jadi modalnya di masa depan dalam membangun model bisnisnya yang erat sekali dengan masa depan. Bahkan belajar banyak di dalamnya, jadi jangan sia-siakan membaca.
Saya ingat dengan sebuah cerita, pikiran itu ibarat sebuah saringan. Semakin banyak ia digunakan dan dicuci dengan air (pengetahuan). Maka ia akan semakin tajam dan terasah khususnya memecahkan masalah dan sumber ide kita.

Para expert generalist pun punya pola pikir lainnya yang dikenal dengan First Principle. Pola berpikir ini mengandalkan sekali kemampuan berpikir secara dasar dalam memecahkan sebuah masalah.
Bisa dikatakan first principle sebagai salah satu to the point dalam mencari masalah dalam sebuah topik dan kemudian memecahkannya.

Hal pertama kali yang dilakukan Elon Musk saat awal pengembangan Paypal, ini menganggap ada sistem pembayaran yang lebih cepat dalam mengirimkan uang. Alhasil Paypal sukses besar hingga akhirnya diakuisisi oleh e-Bay.

Kemudian saat pengembangan mobil listrik, selama ini masalah utamanya ada pada baterai yang punya daya jelajah yang pendek. Alhasil di bawah kendali perusahaannya Tesla, Elon pun mengembangkan mobil listrik dengan daya jelajah jauh.
Tak berhenti di situ saja, ia mengembangkan berbagai energi ramah daya yang mampu menunjang dalam pengisian daya. Dari lahirnya GigaFactory, Solar City, dan bahkan mendirikan charging station di tempat umum.
Alhasil kini mobil listrik jadi tren baru yang mampu membuat banyak orang beralih dari mobil konvensional yang boros dan tidak ramah lingkungan. Termasuk juga di dalamnya adalah menjadi futuristik tanpa biaya ganti oli, kerusakan mesin dan sebagainya.

Cukup saja dengan biaya perawatan ringan dan tentu saja update software berkala. Ini sebenarnya mobil atau gadget sih? Yups... ini mobil dan Elon berhasil membawanya ke arah masa depan.

Terakhir dari seorang expert generalist adalah kemampuan dalam transfer of learning. Kemampuan ini berupa memindahkan sebuah ilmu yang didapatkan dari cabang ilmu lainnya dalam memecahkan masalah di ilmu lainnya.

Sebagai contoh setelah Elon Musk berhasil memecahkan masalah mobil listrik dengan tenaga listrik. Energi lainnya nyata bisa dikembangkan bahkan ramah daya. Alhasil lahirlah GigaFactory dan Solar City yang mengandalkan pembangkit listrik tenaga surya dan energi surya rumahan.
Bahkan transfer of learning sangat baik dalam menekan biaya, misalnya saja Anda dulunya mengenyam pendidikan di jurusan manajemen. Tak disangka dalam perjalanan karier Anda menjadi CEO perusahaan teknologi.

Ilmu yang didapatkan di bangku perkuliahan bisa digunakan untuk menekan biaya khusus biaya produksi dan bahkan menaikkan keuntungan perusahaan. Jadi jangan pernah anggap remeh ilmu yang pernah Anda dapatkan, bisa saja kala genting sangat berharga.

Itu juga yang dilakukan Elon Musk dalam mengembangkan SpaceX, selama ini roket hanya bisa digunakan sekali dan ini membuat biaya peluncuran roket sangat mahal. Hanya negara yang bisa lakukan (read: NASA).
Kini pihak swasta bila melakukannya, peluncuran Crew Dragon ke Stasiun ISS pada akhir Bulan lalu. Ini jadi bukti di masa depan perjalanan ruang angkasa jadi murah dan bisa dilakukan oleh siapa saja.

Prinsip Dasar Jadi Expert Generalist
Harus dicatat juga, memang dengan membaca, first principle, dan transfer of learning saja tak cukup. Ada prinsip dasar yang harus dilakukan seorang expert generalist. Salah satunya ia berada di lingkungan yang tepat dan mendapatkan dukungan penuh sekitar.
Bila tidak, bakat dan pengetahuannya akan terasa sia-sia. Bila itu semua sudah tersedia, seorang expert generalist bisa dengan cepat beradaptasi terhadap masalah yang ia hadapi. Mengumpulkan data, menganalisis risiko, dan tentu saja memprediksi masa depan.

Contoh sederhananya seseorang yang punya kemampuan membaca perubahan kebiasaan masyarakat saat ada bencana seperti saat ini. Pandemi membuat setiap manusia saling menjaga jarak satu sama lain khususnya di transportasi umum dan aktivitas sosial.

Mereka para expert generalist mungkin bisa melakukan terobosan cepat sebelum orang lain memikirkannya. Misalnya saja hal paling kecil membuka toko sepeda, atau bahkan paling besar mengembangkan aplikasi virtual conference dalam menghubungkan banyak orang.

Saat orang lainnya harus rugi besar, mereka para expert generalist menganggap ini semua sebagai kesempatan yang tak datang kedua kalinya. Adaptasi atas perubahan yang terus-menerus mengharuskan kita banyak belajar dan salah langkah.

Pastinya itu mengharuskan terus berinovasi tanpa henti. Terlalu merasa nyaman dan cepat puas bukanlah dasar seorang expert generalist. Berinovasi jadi alasannya terus bertahan, setiap waktu selalu saja adap pesaing yang menunggu kita tergelincir.
Itulah yang dilakukan oleh Elon Musk, ia sadar usahanya punya banyak pesaing. Mereka terus belajar dan bahkan menghadirkan inovasi baru. Bila ia beranggapan yang pertama mengembangkan, saat itulah pesaing yang terus berinovasi akan merebut hati pelanggannya.

Terakhir dan sifatnya diplomatis adalah kemampuan komunikasi dan relasi. Menjelaskan sebuah ilmu baru pada orang banyak bukanlah hal yang mudah. Mereka semua butuh bukti atas yang akan dikerjakan di masa depan. Kemampuan diplomasi dan komunikasi yang baik jadi alasan mereka percaya.

Untuk sebuah perusahaan, proses pendanaan membutuhkan banyak investor. Belum lagi para teknisi yang bahkan datang dari berbagai lintas ilmu. Kepercayaan besar ditambah dengan relasi yang baik buat semua pihak percaya. Investor jelas tidak menitipkan uang berjumlah besar pada orang yang salah.
Kontribusi lintas ilmu dan dukungan investor pasti berujung manis. Bisa dibilang mampu merevolusi industri hingga skala besar. Wajar bila para expert generalist sangat dibutuhkan, menyatukan beragam titik menjadi sebuah gambar visual menakjubkan.

Peluang Menjadi Expert Generalist
Semua orang punya kesempatan yang sama mengubah dunia. Salah satunya dari bakat dan pengetahuan terpendam. Bahkan selama ini kita sering menyepelekan ilmu yang pernah kita dapatkan di bangku sekolah. Nyatanya ilmu itu bisa berguna di masa depan.

Memang menjadi expert generalist sangat sulit, minimal kita punya kemampuan serba bisa. Apakah itu datang dari bangku pendidikan atau pengalaman bekerja. Secara tak sadar, semua orang akan membutuhkan Anda. Walaupun masih skala kecil, minimal itu jadi modal berharga dalam merevolusi dunia.
Toh... para expert generalist dulunya memulai dari hal kecil dan berkat pengalamannya. Ia bisa dipercayakan oleh banyak orang karena kemampuan kecil. Menghubungkan satu titik demi titik, hingga akhirnya menjadi sebuah visual menarik.

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi kita untuk terus belajar. Akhir kata, Have a Nice Days...

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer