Friday, November 19, 2021

BioFuel, Cara Alternatif Kembangkan Sumber Energi Nasional

Tahun 2008 secara mengejutkan Indonesia keluar dari Organization of the Petroleum Exporting Countries atau OPEC. Kala itu langkah yang diambil sangat mengejutkan karena Indonesia sudah menjadi negara pengimpor minyak dunia sejak tahun 1962.

 

Lambat laun tanah nusantara yang kaya minyak mendadak berkurang jumlah dan bahkan harus mengimpor minyak dalam pemenuhan kebutuhan nasional. Kini lebih dari sedekade lamanya, pasokan minyak nasional sudah berubah, berbagai energi alternatif dicoba salah satunya pengembangan bahan bakar nabati (Biofuel).

 

Pemilihan biofuel sebagai bahan bakar alternatif bukan tanpa alasan. Ketersediaan di alam nusantara yang subur jadi bukti nyata, salah satu bahan bakunya adalah Crude Palm Oil (CPO. Lalu juga ada sebanyak 40 alternatif bahan baku lainnya yang bisa diberdayakan. Itu artinya Indonesia siap melakukan dalam energi ramah lingkungan kini dan di masa depan.

 

Indonesia dan Ketergantungan akan Energi Fosil

Saat ini Indonesia kini masih sangat bergantung energi fosil sebagai energi utama. Kebutuhan yang masih besar ditambah dengan sulitnya proses transisi membuat kita cukup banyak mengandalkan energi fosil dalam pemenuhan energi. Sedangkan pada energi alternatif masih sangat kecil porsinya dan butuh upaya besar menggenjotnya dari pihak pemerintah dan swasta.

 

Ketergantungan terhadap energi dari bahan bakar fosil akan menjadi ancaman bagi kita sendiri, antara lain: semakin menipisnya sumber-sumber minyak bumi jika tidak ditemukan sumber minyak yang baru, meningkatnya buangan karbon yang dihasilkan dari penggunaan energi fosil tersebut dapat memicu efek rumah kaca.

 

Sebagai catatan, konsumsi BBM di Indonesia terus meningkat seiring  berjalannya waktu. Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, konsumsi BBM mencapai 75 milyar liter pada tahun 2019. Angka yang tinggi tersebut cukup besar dari moda transportasi yang digunakan oleh masyarakat. mulai dari kendaraan bermotor, truk dengan mesin diesel, hingga pesawat yang menggunakan mesin jet.

 

Ketergantungan besar itu hadir salah satunya dari minyak bumi. Sebagai negara mantan anggota OPEC, jelas untuk beralih sangat sulit. Sebagai catatan, saat ini jumlah persediaan minyak mentah Indonesia hanya 9 milyar barel dengan laju 500 juta barel/tahun. Bila tak ada upaya berarti, minyak bumi Indonesia hanya akan habis dalam 18 tahun ke depan.

 

Sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Alasan kuat karena negara kita tak hanya melimpah energi fosil namun juga energi nabati hingga terbarukan.

 

Proses butuh waktu dan riset panjang, namun dapat dibarengi dengan BBN ramah lingkungan pada mesin konvensional serta teknologi hibrida pada kendaraan listrik. Tahapan ini bisa terus dikembangkan hingga kendaraan listrik bisa digunakan sepenuhnya. Pada akhirnya, pengurangan emisi karbon menjadi tolok ukur perkembangan teknologi.

 

Yuk Kenalan dengan Bahan Bakar Nabati

Bagi yang belum mengenal Bahan Bakar Nabati (BBN), energi ini sangat berguna sebagai energi alternatif dalam proses menekan bahan bakar fosil. Bahan bakunya pun mudah ditemukan di alam terutama sekali di Indonesia yang terkenal dengan surganya penghasil BBN.

Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa di antaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

 

Bahkan kini sudah ada energi baru dari tumbuhan yaitu bioalga bisa menjadi bahan bakar alternatif sebagai pengganti diesel dan bahan bakar pesawat.  Secara matematis produktivitasnya mencapai lebih dari 20 kali produktivitas minyak sawit dan 80 kali minyak jarak.

 

Potensi mikroalga masih lebih besar. Pada 1 hektar ladang minyak bumi, rata-rata hanya bisa disedot 0,83 barel minyak per hari, sampai kemudian habis dan tak berproduksi lagi. Sedangkan pada luas yang sama, budidaya mikroalga bisa menghasilkan 2 barel minyak tiap harinya.

 

Lalu ada juga Bioethanol sebagai pengganti bensin, dapat diproduksi dari tumbuh-tumbuhan seperti tebu, singkong, ubi, dan jagung. Terakhir ada biodiesel yang berasal dari minyak tanaman seperti kelapa sawit, buah jarak, dan kelapa sangat dibudidayakan.

 

Dalam prosesnya sendiri, ada tiga tahapan yang harus dilalui sehingga menjadikan BBN bisa digunakan sesuai dengan kebutuhan. Misalnya saja Bioetanol dari fermentasi pati (gandum, jagung, kentang) dan Biodiesel dari bahan (kedelai, bunga matahari, kelapa sawit, minyak goreng bekas, dan hewan lemak.).

 

Pada tahapan kedua, biodiesel yang dihasilkan dari teknologi konvensional tetapi berdasarkan tanaman pati, minyak, singkong, Bioethanol, biobutanol, syndiesel berbahan lignoselulosa. Lalu yang terakhir dari mikroalga Bioetanol dari mikroalga dan rumput laut Hidrogen dari mikroalga hijau dan mikroba.

Semua energi tersebut jadi pengganti yang cukup sepadan terlebih sangat mudah dibudidayakan. Akan tetapi kendala yang utama adalah bagaimana membangun rantai produksi energi tersebut mulai dari petani sebagai pelaku utama dalam penyediaan bahan baku sampai ke distribusi energi yang dihasilkan. Ketersediaan dan keberlanjutannya jangan sampai mengganggu produksi pangan.

 

Ide Pemerintah dalam Menciptakan Energi Biofuel

Gagasan akan Bahan Bakar Nabati (BBN) nyatanya sudah dipikirkan pemerintah sejak tahun 2004 hingga akhirnya di tahun 2006 lahir sejumlah kebijakan terkait industri biofuel, biodiesel hingga bioethanol. Keluarnya Indonesia dari OPEC 2 tahun setelahnya nyatanya sudah dipersiapkan cara akan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.

 

Itu semua dimulai dengan membuat gagasan dan payung hukum sebagai landasan utama industri Bahan Bakar Nabati. Sampai saat ini, payung hukum yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk industri biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden serta  Peraturan Perundang-undangan lainnya.

 

Mulai dari Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijaksanaan Energi Nasional, Instruksi Presiden No.1/2006 tentang Pengadaan dan Penggunaan Biofuel sebagai Energi Alternatif  hingga Dektrit Presiden No. 10/2006 tentang Pembentukan tim nasional untuk Pengembangan Biofuel.

 

Lalu di tahun berikutnya tepatnya tahun 2008 saat Indonesia baru keluar dari keanggotaan OPEC. Pemerintah sedang konsen dalam merancang Roadmap BBN yang bisa digunakan di masa depan. Melalui rancangan tersebutlah kemudian lahir berbagai macam jenis biofuel yang digunakan kini.

Tepatnya di tahun 2015 lahir sejumlah BBN yaitu tipe B20 dan B30 yang digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil.  Pertama sekali adalah B20 yang mewajibkan pencampuran 20% Biodiesel dengan 80% bahan bakar minyak jenis Solar. Serta B30 yang mewajibkan pencampuran 30% Biodiesel dengan 70% bahan bakar minyak jenis Solar, yang menghasilkan produk Biosolar B30.

 

Ada sebanyak 4 sektor yang dikedepankan dalam pengalihan energi ke biofuel, mulai dari sektor masyarakat, sektor transportasi non-PSO, sektor pembangkit listrik, hingga sektor industri besar. Penggunaan di 4 sektor ini sangat membantu menekan penggunaan bahan bakar fosil tahunan. 

Hingga akhirnya lahir istilah baru yaitu B100, berupa Biodiesel untuk aplikasi mesin/motor diesel berupa ester metil asam lemak yang terbuat dari minyak nabati a melalui proses trans esterifikasi. Selain Biodiesel, Pemerintah juga telah mengatur BBN jenis lainnya yakni Bioetanol yang dikenal dengan istilah E100 dan Minyak Nabati Murni (O100).

 

Mengenai cara pemakaiannya, Biodiesel dan Bioetanol akan dicampurkan dengan bahan bakar fosil pada persentase tertentu. Dalam hal ini, untuk Biodiesel dicampurkan dengan Solar, sedangkan Bioetanol dicampurkan dengan Bensin.

 

Saat ini Pemerintah juga aktif mendorong pengembangan BBN bio hidrokarbon yang karakteristiknya sama atau bahkan lebih baik daripada senyawa hidrokarbon berbasis fosil. Bio hidrokarbon yang ramah lingkungan langsung digunakan sebagai substitusi BBM fosil tanpa perlu penyesuaian mesin kendaraan.

 

Lahirnya program ini nyatanya sangat membantu proses Mandatori BBN. Mulai dari memenuhi komitmen Pemerintah untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29% dari BAU pada 2030, peningkatan ketahanan dan kemandirian energi, Stabilisasi harga CPO dunia, peningkatan nilai tambah melalui hilirisasi industri kelapa sawit, pemenuhan target 23% kontribusi EBT dalam total energi mix pada 2025, hingga mengurangi konsumsi dan impor BBM.

 

Buat yang belum tahu, pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksanakan selama 25 tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fase pengembangan biodiesel.

 

Fase pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum sebesar 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak kastor dan kelapa sawit.

 

Fasa kedua pada rentang tahun 2011-2015, merupakan kelanjutan dengan digunakan tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun mulai berskala komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 - 100.000 ton per tahun. Produksi tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5 juta kilo liter.

 

Pada fase ketiga dari rentang tahun 2016 – 2025, teknologi yang ada diharapkan telah mumpuni dalam menghasilkan produk unggulan. Hasil yang dicapai diharapkan dapat memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo liter.

 

Mengenal CPO sebagai Biofuel Pilihan

Harga sawit sempat anjlok akibat berbagai kampanye dan penolakan dari Uni Eropa. Ini jelas banyak dari petani yang dirugikan, belum lagi kampanye tentang sawit yang erat dengan pembalakan dan kebakaran hutan. Jelas ini sangat merugikan mengingat Indonesia penghasil sawit terbesar di dunia.

 

Kelapa sawit juga dapat dijadikan  sebagai salah satu alternatif energi terbarukan dari biofuel karena tanaman ini dapat menghasilkan biodiesel yang dapat dijadikan sebagai biomassa.  Apalagi Indonesia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, otomatis bisa menjadi bahan campuran kendaraan kita.

 

Memang ada banyak kendala yang harus diterapkan terutama pada proses transisi energi. Misalnya saja pada kendaraan bisa menerima perubahan ini dan tak berdampak pada kerusakan komponen mesin kendaraan. Ini harus dipikirkan pemerintah karena ada begitu banyak kendaraan, industri hingga perangkat lainnya yang digunakan publik kini dalam pencampuran bahan bakar.

 

Teknologi biofuel masih memiliki beberapa tantangan yang masih harus diselesaikan. Misalnya saja pada proses esterifikasi dalam minyak nabati akan meninggalkan gugus oksigen yang dapat mengganggu proses pembakaran yang dihasilkan kurang stabil dan efisien. Saat ini sedang dikembangkan berbagai macam katalis untuk menghasilkan biofuel yang memiliki efisiensi setara dengan bahan bakar fosil.

 

Bidang yang serius salah satunya di Industri otomotif ataupun aviasi (penerbangan) telah bekerja sama untuk dapat membuat standar mesin yang mampu menggunakan biodiesel secara maksimal sehingga energinya dapat dimanfaatkan tanpa adanya emisi gas buang yang berlebih. Ini jadi standar baku mutu di masa depan.

 

Bagaimana Cara Menjaga Hutan Sawit dan Petani

Kelapa sawit juga dapat dijadikan  sebagai salah satu alternatif energi terbarukan dari biofuel karena tanaman ini dapat menghasilkan biodiesel yang dapat dijadikan sebagai biomassa. Peluang besar ini bisa dimanfaatkan dengan sangat baik sekaligus bisa menyejahterakan petani sawit.

 

Salah satu caranya adalah dengan memantau rantai pasokan TBS dari Petani ke Pabrik pengolahan kelapa sawit.  Makin pendek dan jelas, otomatis makin besar kesejahteraan petani sawit dalam hal ini, serta petani bisa diuntungkan dalam hal ini. Serta jangan ada tengkulak yang berdampak pada pendapatan petani terhadap sawit sebelum nantinya diolah.

Setelah itu, sampailah pada tahapan proses pengolahan dari kelapa sawit sebagai biodiesel. Lalu ada pertanyaan yang timbul, mengapa kelapa sawit yang dipilih dibandingkan bahan bakar nabati lainnya yang tersedia di alam. Jawabannya karena luasnya lahan sawit, ditambah lagi dengan potensi pengalihan sawit dalam B20 dan B30.

 

Setelah pemilihan rantai tersebut, dilakukan juga 4 poin penting yang harus dijaga dalam proses pengolahan biodiesel, kesejahteraan petani, mengurangi deforestasi hutan, dan tentu saja menekan buangan karbon ke atmosfer. Pada 4 komponen tersebut jelas sangat membantu dalam pengembangan BBN dan transisi energi serta memikirkan aspek lainnya.

Bukan  hanya itu saja, CPO yang dihasilkan dari sawit umumnya banyak dikonsumsi masyarakat menjadi minyak goreng. Sebagai catatan saja ada lebih dari 3 juta Kilo Liter minyak sisa (jelantah) yang dihasilkan dari industri rumah tangga hingga usaha besar. Kebanyakan dari minyak tersebut dibuang ke lingkungan yang berdampak dalam kualitas tanah dan perairan.

 

Minyak jelantah ini dikelola dengan baik dapat memenuhi 32% kebutuhan biodiesel nasional. Memiliki peluang untuk dipasarkan baik ke di dalam dan keluar negeri serta hemat biaya produksi 35 % dibandingkan dengan biodisesel dari CPO (crude palm oil) serta mengurangi 91,7% emisi karbon.

Proses pengolahan lanjutan nyatanya bisa dijadikan sebagai biodiesel yang kebanyakan diekspor. Baru ada sekitar 20% saja yang diolah menjadi biodiesel dan pemanfaatan energi lainnya. Jelas jumlah ini sangat sedikit, adanya program biofuel berbahan minyak jelantah nyata cukup membantu. Serta jumlah tersedia tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

 

Terkait dengan siklus pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel diawali dengan proses pemurnian kemudian disaring kemudian dicampur dengan arang aktif lalu dinetralkan. Setelahnya dilakukan transferivikasi yang menghasilkan biodiesel kasar dan dimurnikan untuk menghasilkan biodiesel yang bisa digunakan buat kendaraan bermotor.

Potensi besar yang dihasilkan dari CPO dan minyak jelantah sangat besar, apalagi dalam proses pemenuhan energi berbahan nabati. Upaya Indonesia mengembangkannya selama 15 tahun terakhir tidaklah sia-sia, pengembangan energi bio berbuah manis dengan lahirnya sejumlah produk unggulan berbahan nabati berupa B20, B30 dan B100.

 

Kini tinggal bagaimana memanfaatkan bahan bakar nabati lainnya yang bisa dikelola oleh petani tanpa harus merusak hutan. Serta lokasi tersebut bisa dijadikan percontohan akan sumber energi nabati yang ramah lingkungan. Sembari pengembangan energi lainnya yang terus digenjot pemerintah di masa depan.

 

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi kita terkait bahan bakar nabati. Bagaimana, sudah isi bahan bakar nabati hari ini? Akhir kata Have a Nice Days.

 

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer