Friday, February 4, 2022

Cloud Computing, Bekerja Bermodal Internet dan Cloud

 

Bekerja terhubung secara online kini menjadi role model baru. Kebiasaan mengerjakan tanpa harus bertemu dan tentunya bisa dikerjakan di mana saja asalkan terhubung ke internet. Cara ini makin terdepan saat pandemi terjadi dan membuat banyak orang harus memulai pekerjaannya dari rumah.

 

Bisa dibilang inilah waktunya cloud computing bisa menunjukkan tajinya dalam mencari market baru di dunia cloud. Selama ini sistem kerja mengandalkan hardware sebagai basis utama dianggap cukup lama hingga akhirnya internet dianggap sudah cukup cepat dalam proses data.

 

Secara tak langsung ini bisa membuat jadi lebih efisien, bisa terhubung di mana saja dan tentu saja bisa menekan biaya hardware yang naik tak karuan. Memang untuk saat ini kebutuhan hardware yang tinggi membuat harganya melambung tinggi. Sehingga opsi berbasis cloud layak dipilih mengingat jaring internet makin ngebut.

 

Bahkan kini menjadi role model baru dalam proses penyimpan data yang lebih aman dan cepat diakses. Berbanding lurus dengan biaya maintance hardware yang harus diupdate dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan cloud hanya dengan berlangganan pada provider yang tersedia.

 

Kebutuhan internet makin hari makin besar, manusia malah makin rakus akan bandwidth. Itu wajar mengingat hampir semua sendi kehidupan sudah terkoneksi dengan internet. Tak hanya kouta yang cukup boros, namun jumlah penyimpanan yang makin bertambah besar dan banyak.

 

Salah satunya kini dengan kehadiran 5G, dampak yang ditimbulkan dari 5G begitu luas dan akan merevolusi beragam perangkat terutama dalam penyimpanan data. Bukan hanya menghubungkan 6 hingga 7 miliar orang saja. Namun menghubungkan dengan puluhan miliar benda di sekitar manusia.

 

Bila dulunya orang awam skeptis dan menganggap bahwa: Untuk apa internet cepat, paling hanya digunakan untuk browsing dan streaming semata. Sekarang seakan terjawab semua termasuk akan kebutuhan penyimpanan dan pengolahan data secara cepat.

 

Sejarah Panjang Cloud Computing

Cloud computing nyatanya sudah lama hadir dan itu lahir dari proses computing resources yang digunakan secara global saat awal era internet di tahun 60-an. Hingga akhirnya lahir Intergalactic Computer Network dan menjadi bagian dari pengembangan Advanced Research Projects Agency Network (ARPANET) di tahun 1969.

 

Perjalanan Cloud Computing sebenarnya tumbuh dan berkembang bersama internet dan web. Terlihat bahwa pendorong utama teknologi komputasi ialah adanya revolusi internet. Saat era 90 tiba, ada banyak perusahaan telekomunikasi mulai menawarkan VPN layanan jaringan pribadi dengan kualitas lebih baik, tapi biaya lebih rendah.

 

Untuk menyeimbangkan penggunaan server, mereka menggunakan bandwidth jaringan, lalu menggunakan simbol awan sebagai petunjuk titik demarkasi antara provider dan pengguna. Pada dasarnya, Komputasi Awan memperluas batas untuk menutup server serta infrastruktur jaringan.

 

Memang saat itu hingga kini era desktop komputer masih cukup populer karena kemampuan internet yang masih sangat lambat dalam aksesnya. Hingga akhirnya lahir  Application Service Provider (ASP) yang menawarkan akses program aplikasi tertentu melalui web. Faktor pendorong kemajuan konsep ini adalah munculnya berbagai layanan hosting dan bahasa pemrograman berbasis web.

 

Sampai akhirnya muncul terobosan baru bernama Cloud Computing yang tak bergantung pada sistem operasi tertentu. Hanya perlu mengakses internet dan menuju alamat situs untuk menjalankan program yang dibutuhkan. Apalagi internet makin dirasa ngebut sehingga lebih mudah dalam proses aksesnya.

 

Sehingga yang kini lahir banyak layanan dalam bentuk Software as a Service (SaaS). Sekalian dengan lahir aplikasi bernama Customer Relationship Management (CRM) yang beroperasi dengan internet di akhir tahun 90-an. Bisa dibilang keduanya saling berkaitan satu sama lain.

Di era 2000-an awal, gebrakan besar di bidang Cloud Computing paling kentara datang dari Amazon Web Services melalui teknologi Elastic Compute Cloud (EC2). Tak berapa lama kemudian disusul oleh pesaingnya mulai dari Google App Engine, dan IBM Blue Cloud Initiative.

 

Di era kini, perkembangan cloud computing makin mencolok dan tentunya menjadi gaya baru dalam proses penyimpanan aman dan cepat. Bebas dari bencana alam, update software berjangka hingga bisa diakses kapan saja untuk yang bekerja remote.

 

Penyedia layanan memberikan banyak kemudahan yang tak dimiliki oleh hardware. Bermodalkan internet, kini akses data bisa diakses tanpa harus banyak membuat duit dalam mengupdate hardware tahunan.

 Baca juga: Data Lake, Penyimpanan Data yang Begitu Berharga

Ada dua perbedaan antara sistem layanan cloud dan on-premise dalam penyediaan internet. on-premise adalah adopsi teknologi yang di mana mulai dari pengadaan infrastruktur hingga software dilakukan sepenuhnya oleh perusahaan itu sendiri.

 

Sedangkan on-cloud mengadopsikan internet sebagai pusat pengelolaan data dan aplikasi. Nah dalam hal ini perusahaan penyedia memiliki akses akun setiap perusahaan. Serta seluruh infrastruktur disediakan oleh cloud provider dan segala masalah yang dihadapi.

 

Yuk Kenalan Cloud Computing Lebih Jauh

Buat yang masih bingung dan penasaran, Cloud Computing berjalan secara mandiri dengan mengandalkan cloud dan server pusat. Menggunakan konsep On demand  service delivery tanpa harus menunggu lama. Serta proses perbaikan dalam pihak penyedia layanan.

Memberikan layanan on-demand untuk menyewa kekuatan komputasi, basis-data, penyimpanan, aplikasi, dan sumber daya TI lainnya yang diakses melalui internet dengan harga pay-as-you-go. Konsep yang menarik sehingga lebih hemat dan fleksibel dalam segala hal.

 

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana konsep kerja dari cloud computing?

Konsep yang diterapkan dari cloud computing berasal dari dua konsep berbeda yaitu front-end dan back-end. Perbedaannya pada front-end berupa aplikasi yang dilihat oleh pengguna pada aplikasi. Lalu Back-end merupakan cloud yang terdiri dari komputer, server, dan sistem penyimpanan.

Pada sistem server yang digunakan ada banyak yang dikelola secara langsung pada sistem. Mulai dari jumlah trafik hingga keinginan klien yang cenderung berbeda-beda. Apalagi ada banyak tipe lainnya mulai dari Cloud Services dan Model Cloud Deployment.

 

Lalu pusat server memastikan semua berjalan dengan lancar sesuai dengan protokol yang dijalankan. Pusat server memiliki backup dengan menyalin data supaya data tersebut bisa diamankan dan kendala lainnya.

 

Tak hanya itu saja, ada sejumlah layanan pilihan yang ada pada cloud computing yang digunakan. Mulai dari Software as a Service (SaaS), Platfom As A Service (PaaS), dan Infrastructure as a Service (IaaS). Setiapnya punya keunikan dan kelebihan pada layanan yang berikan.

Pertama dari Software as a Service (SaaS), ini layanan cloud yang langsung bisa digunakan oleh pengguna tanpa butuh mekanisme rumit. Contoh nyatanya seperti: Google Workspace, Dropbox, dan Office 365 buatan dari Microsoft.

 

Kedua dari Platfom as a Service (PaaS), merupakan layanan cloud yang menyediakan tempat bagi pengembang aplikasi untuk bisa memasang aplikasinya dengan mudah tanpa harus mengelola server. Contoh dari layanan PaaS yaitu salah satunya Cloud Application Platform

 

Infrastructure as a Service (IaaS), menyediakan layanan cloud sampai ke level server. Server di sini biasanya dalam bentuk virtual. Melalui akses ke server pengguna memiliki keleluasaan untuk melakukan instalasi aplikasi dan tools yang dibutuhkan.

 

Perbedaan Mendasar Layanan Penyedia Cloud dan On-Premise

Ada sejumlah perbandingan yang dirasakan oleh pengguna dari perbedaan dari on-premise dan on cloud dalam penggunanya. Ini jadi pertimbangan dan juga perbandingan yang bisa digunakan oleh klien dalam mengetahui keinginannya cocok ke arah mana. Bahkan bisa mencoba keduanya, cekidot.

 

Urusan biaya, Pada on-premise, perusahaan harus siap mengeluarkan biaya yang besar di awal karena bentuknya yang bersifat capex. Sedangkan on-cloud, perusahaan bisa melakukan pemutusan sewaktu-waktu dengan penyedia layanan.

 

Urusan Keamanan, Sebagian perusahaan yang menerapkan on-premise, sering kali merasa data yang mereka miliki tersimpan dengan baik dan aman di data center di perusahaan. sedangkan on-cloud, dikarenakan cloud provider memiliki skala global yang terkoneksi secara internet di mana pun.

 

Urusan penjaminan data. Perusahaan harus meneguhkan keyakinan apakah setiap data yang dimiliki akan ditaruh di on-premise atau on-cloud. Hal ini penting diperhatikan agar setiap data yang akan dialokasikan antara kedua lokasi itu tidak bermasalah dengan aturan.

 

Urusan privasi data, Nah mengenai data tentunya sudah disimpan perusahaan harus menjamin keamanan kepemilikan data itu. Berkaca dari kejadian, suatu negara bisa meminta data untuk ditempatkan di wilayah kedaulatan negara itu.

 

Urusan stabilitas. Dalam hal ini, on-prem sebenarnya dapat dibuat secara stabil namun dengan risiko biaya yang dikeluarkan besar. Sedangkan on-cloud, saat ini sudah banyak cloud provider yang membuat sistem yang sangat stabil dan perusahaan cukup membayar biaya berlangganan.

 

Urusan kompatibilitas. on-premise punya kontrol penuh terutama dalam kompatibilitas antar aplikasi dan sistem. Di on-cloud pun rata-rata kini mereka sudah menawarkan konsep yang juga terbuka, di mana semua itu bisa saling kompatibilitas.

 

Sisi Unggul Berkembangnya Cloud Computing

Ada banyak sisi menarik andai saja cloud computing yang bisa diulik terutama pengembangan yang terus menarik dicoba oleh beragam klien. Jika digunakan dengan benar pada data di cloud dapat sangat menguntungkan semua lini bisnis.

Berikut sejumlah potensi besar dari cloud computing yang sangat berguna dalam pemilihan dan penyimpanan data klien mengingat bisnis cloud sangatlah pesat. Cekidot:

 

Akses ngebut, Pada layanan cloud memberi keuntungan dari akses cepat. Setelah dalam menu cloud, data langsung bisa dilihat dan digunakan. Seluruh sistem dapat berfungsi penuh dalam hitungan detik saja. Tak ada istilah lelet dalam mencari data usaha atau perusahaan Anda.

 

Hemat biaya, Komputasi awan mungkin menggunakan, memelihara, dan memutakhirkan secara aplikatif. Sudah pasti lebih murah terutama perusahaan tidak harus mengeluarkan banyak uang dalam memperbaru perangkat.

 

Penggunaan sistem cloud secara signifikan menurunkan biaya TI perusahaan yang makin lama makin membengkak. Biaya yang bertambah terutama dari update hardware, sedangkan cloud bisa menekan ini. Hanya saja jumlah kapasitas cloud harus diketahui sesuai dengan kebutuhan klien.

 

Pengguna tak lagi pusing dalam memikirkan biaya mendesak seperti, Sewa gedung, biaya listrik, proses maitenance AC, Fire Mitigation System, baiaya Personil SysOps, SecOps,NOC, dan sebagainya. Termasuk potensi bencana alam seperti banjir yang bisa merusak perangkat hardware.

 

Penyimpanan tak terbatas, Menyimpan informasi di cloud memberi Anda kapasitas penyimpanan yang hampir tak terbatas. Anda tidak perlu lagi khawatir kehabisan ruang penyimpanan atau meningkatkan ketersediaan ruang penyimpanan Anda.

 

Anda hanya butuh tahu kapasitas yang dibutuhkan dari penyimpanan. Ini membuat data yang disimpan jadi optimal sepenuhnya tersimpan. Tanpa harus membeli layanan cloud dan on-premise sekaligus, jelas tidak efisien

 

Pencadangan dan pemulihan praktis, cloud, relatif lebih mudah daripada menyimpan di penyimpanan yang sama di perangkat fisik. Selain itu, sebagian besar penyedia layanan cloud biasanya cukup kompeten untuk menangani pemulihan informasi. Oleh karena itu, ini membuat seluruh proses pencadangan dan pemulihan lebih sederhana daripada metode penyimpanan data tradisional lainnya.

 

Terintegrasi pada software, penggunaan cloud punya kemudahan dalam proses integrasi pada software secara otomatis. Pengguna tidak perlu melakukan upaya untuk menyesuaikan karena sudah terhubung secara langsung.

 

Hanya dibutuhkan sedikit proses pelatihan dan pembiasaan bagi pengguna. Ini membuat para pengguna lebih paham akan tool yang digunakan. Serta konsepnya tidak jauh beda dengan on-premise yang sebelumnya sudah umum digunakan.

 

Tidak hanya itu, cloud computing memungkinkan Anda untuk menyesuaikan opsi Anda dengan sangat mudah. Oleh karena itu, Anda dapat memberikan layanan dan aplikasi perangkat lunak yang menurut Anda paling sesuai dengan perusahaan Anda.

 

Akses informasi nan mudah, Nah setelah terdaftar pada layanan cloud. Segala fitur yang nyaman, memungkinkan Anda bergerak melampaui masalah zona waktu dan lokasi geografis. Asalkan ada internet, pekerjaan kantoran bisa dikerjakan di mana saja sehingga membuat lebih fleksibel dalam mengeksekusi pekerjaan.

 

Kelemahan yang Bisa Mendera Cloud Computing

Meskipun sedang berkembang pesat, namun tetap saja cloud computing punya cela. Sebagai layanan baru dan tentunya dekat dengan teknologi dalam penerapannya.

 

Kelemahan ini jadi alasan membuat klien masih belum berani beralih ke layanan cloud. Berikut sejumlah potensi yang bisa mengancam dari cloud computing. Cekidot:

 

Permasalahan teknis, Meskipun data di cloud dapat diakses kapan saja dan di mana saja, ada kalanya sistem ini dapat mengalami kendala yang sangat mengganggu terutama urusan teknis. Pengguna harus selalu waspada akan rentannya gangguan internet, listrik, hingga masalah teknis lainnya.

 

Bahkan penyedia layanan cloud terbaik mengalami masalah seperti ini, meskipun mempertahankan standar pemeliharaan yang tinggi. Selain itu, Anda harus masuk ke server setiap saat. Anda akan selalu terjebak dalam masalah jaringan dan konektivitas.

 

Keamanan pada layanan cloud,  Tak hanya itu saja, sebelum mengadopsi teknologi ini, Anda harus tahu bahwa Anda akan memberikan semua informasi sensitif perusahaan kepada penyedia layanan cloud pihak ketiga. Masalah keamanan sangat rentan dan harus mempercayakan pada layanan cloud yang tepat.

 

Bila tidak, data perusahaan bisa saja dijual secara bebas atau dimanfaatkan pada pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab pada data tersebut. Bisa saja lawan bisnis hingga bahkan jatuh ke situs gelap yang membeli data mahal perusahaan Anda dengan harga sangat murah.

 

Rawan akan serangan peretas. Menyimpan informasi di cloud dapat membuat perusahaan anda rentan terhadap serangan dan ancaman peretasan eksternal. Seperti yang Anda ketahui, tidak ada satu pun di internet yang sepenuhnya aman dan karenanya, selalu ada kemungkinan menyembunyikan data sensitif.

 

Hanya saja, layanan yang baik sudah pasti dibekali dengan para teknis andal yang siap menangkal itu semua. Aksi peretas pun bisa dicegah dengan cara mengelabuhi para peretas sehingga data klien tetap aman dari serangan.

 

Benarkan Cloud Computing adalah Masa Depan Komputasi Dunia ?

Bila dalam waktu dekat dirasa belum, banyak pertimbangan yang menjadi alasan para orang beralih ke layanan cloud. Namun untuk jangka waktu lama ditambah dengan makin dikenalnya layanan tersebut di masyarakat.

 

Untuk membuat para level dari perorangan, UKM, hingga perusahaan besar, butuh waktu panjang. Misalnya saja dengan adanya penyedia layanan, perangkat, dukungan internet hingga tentu saja tren. Ini ditambah dengan promosi yang gencar atau bisa dibilang dengan jemput bola dalam mencari klien.

 

Bisa dibilang reputasi sebuah perusahaan cloud computing dipengaruhi besar oleh kepercayaan para klien. Saat ini, layanan komputasi didominasi oleh AWS, AZURE, dan Google Cloud Platform. Nama besar yang sebelumnya sudah lama berkecimpung di dunia jasa internet.

Nama besar tersebut data sekalian ke tanah air dan melihat luasnya potensi data di Indonesia yang dibutuhkan kini dan di masa depan. Hanya saja tetap ada berita baik dan berita buruk yang mendera saat perusahaan penyedia layanan cloud sudah berkantor di tanah air.

 

Saat ini sudah banyak layanan lokal yang cukup menarik. Hadirnya pemain besar jelas saja menjadi ancaman nyata. Namun ini juga menjadi motivasi dalam meningkatkan kualitas layanan dan tentu saja promosi.

 

Para pemilik layanan cloud lokal umumnya menargetkan sejumlah pemilik usaha kecil seperti UKM dalam mencari pasarnya. Ini karena biaya kecil dan tentu saja tidak kompleks seperti yang dibutuhkan perusahaan besar.

 

Bisa dibilang jadi gerbang baru, apalagi kini banyak yang bekerja dari rumah (WFH). Lonjakan penggunaan data saat pandemi jelas meningkat termasuk buat perusahaan kecil yang sejak awal berminat terjun jauh ke dunia digital.

 

Itu juga didukung dengan lahirnya banyak website dari UKM yang mereka rasa berjualan online menarik sekaligus jadi wadah membangun personal branding. Serta jalan pertama untuk mencicipi cloud yang jauh lebih fleksibel dalam mengelola data.

 

Kini layanan internet dianggap berkembang pesat dan bisa saja jadi kiblat baru dalam teknologi cloud. Selama ini dianggap kurang menarik, saat masyarakat lebih tertarik dengan perkembangan Metaverse dibandingkan dengan cloud yang bisa memajukan usaha secara digital.

 

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi untuk kita semua terkait dengan cloud computing, akhir kata: Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer