Thursday, April 21, 2022

Keanekaragaman Hayati dan Ketahanan Pangan Negeri

Dalam dua dekade terakhir, jumlah satwa liar yang ada di Indonesia turun drastis. Pembalakan liar dan pembukaan lahan secara serampangan berdampak besar pada menyusutnya keanekaragaman hayati di sejumlah tempat. Itu terjadi terus menerus dan berdampak pada kepunahan.

 

Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan iklim yang sangat ekstrem. Berbagai penyebab jadi alasan mengapa iklim terus naik. Jumlah karbon dan emisi gas rumah kaca meningkat dari tahun ke tahun. Di era modern, banyak berbagai industri yang membuang emisinya ke alam. Akibat yang terjadi adalah mengancam sendi kehidupan yang vital dan terancam oleh adanya perubahan iklim ini adalah keanekaragaman hayati (biodiversitas) dan ekosistem.

 

Pengaruh perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati spesies flora dan fauna. Beragam spesies terpengaruh dari perubahan tersebut. Lalu ada juga perubahan fenologi misalnya saja migrasi burung terjadi lebih awal dan menyebabkan proses reproduksi terganggu karena telur tidak dapat dibuahi. Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan penyakit, sehingga akan terjadi wabah penyakit.

 

Ada sejumlah faktor lainnya berupa perubahan interaksi antar spesies, ini membuat ekosistem tidak berfungsi secara ideal dan membuat beberapa spesies terancam punah. Serta yang terakhir adalah terjadi laju kepunahan, perubahan ini akan menimbulkan tekanan yang cukup besar pada semua ekosistem, sehingga membuatnya semakin penting untuk mempertahankan keragaman alam sebagai alat untuk beradaptasi.

 

Indonesia dan Keragaman Hayati yang dimiliki

Sejak dulu Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki keanekaragaman hayati. Namun dalam beberapa dekade terakhir populasi spesies endemi terancam punah. Menurut data yang dimiliki Badan Pusat Statistika tahun 2017, jenis satwa yang terancam punah yaitu harimau Sumatera, gajah Sumatera, badak, banteng, owa, orang utan, bekantan, komodo, jalak bali, maleo, babi rusa, anoa, elang, tersitus, dan monyet hitam Sulawesi.

Sebagai catatan bahwa, Indonesia jadi negara No. 1 untuk jumlah mamalia (515 spesies) dan palma (400 spesies), No. 3 untuk reptil (600+ spesies), No. 4 untuk burung (1519 spesies) dan No. 5 untuk amfibi (270 spesies).  Itu bisa saja bertambah karena masih ada sejumlah spesies yang terdata secara keseluruhan.

 

Rata-rata jumlah dari masing-masing spesies tersebut di bawah 2000 ribu ekor. Hanya komodo yang tercatat masih ada 5.954 ekor pada tahun 2017. Apabila tidak di lindungi, maka satwa tersebut bisa terancam punah sepenuhnya pada tahun yang akan datang.

 

Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Keunikannya adalah di samping memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia mempunyai areal tipe Indomalaya yang luas, juga tipe Oriental, Australia, dan peralihannya. Selain itu di  Indonesia terdapat banyak hewan dan tumbuhan langka, serta hewan dan tumbuhan endemik.

 

Tingginya keanekaragaman hayati di Indonesia ini terlihat dari berbagai macam ekosistem yang ada di Indonesia, seperti: ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis, ekosistem air tawar, ekosistem air laut, ekosistem sabana, dan lain-lain. Masing-masing ekosistem ini memiliki keanekaragaman hayati tersendiri.

 

Hutan di Indonesia merupakan bioma hutan hujan tropis atau hutan basah, dicirikan dengan kanopi yang rapat dan banyak tumbuhan liana (tumbuhan yang memanjat), seperti rotan. Tumbuhan khas Indonesia seperti durian, Mangga, dan Sukun di Indonesia tersebar di Sumatra, Kalimantan, Jawa dan Sulawesi.

 

Di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa terdapat tumbuhan endemik Rafflesia. Tumbuhan ini tumbuh di akar atau batang tumbuhan pemanjat sejenis anggur liar, yaitu Tetrastigma. Bagaimana dengan wilayah Indonesia bagian timur? Apakah jenis tumbuhannya sama? Indonesia bagian timur, tipe hutannya agak berbeda. Mulai dari Sulawesi sampai Irian Jaya (Papua) terdapat hutan non-Dipterocarpaceae.

 

Hutan ini memiliki pohon-pohon sedang, di antaranya  beringin, dan matoa. Pohon matoa merupakan tumbuhan endemik di Irian. Selanjutnya fauna di Indonesia. Hewan-hewan di Indonesia memiliki tipe Oriental (Kawasan Barat Indonesia) dan Australia (Kawasan Timur Indonesia) serta peralihan.

 

Hewan-hewan di bagian Barat Indonesia (Oriental) yang meliputi Sumatera, Jawa, dan Kalimantan, memiliki ciri-ciri sebagai berikut. Pertama ada spesies mamalia yang berukuran besar, misalnya gajah, banteng, harimau, badak. Mamalia berkantung jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.

 

Lalu ada berbagai macam kera, misalnya: bekantan, tarsius, orang utan. Terakhir ada  hewan endemik, seperti: badak bercula satu, binturong, monyet, tarsius, dan kukang. Lalu pada jenis burung serupa juga misalnya saja jalak bali, elang Jawa, murai mengkilat, elang putih. Di Papua memiliki hewan mamalia berkantung, misalnya: kanguru, kuskus, dan burung Cenderawasih. Di Nusa Tenggara, terutama di pulau Komodo, terdapat reptil terbesar yaitu Komodo.

 

Bentang alam Indonesia mengikuti Garis Wallacea, Garis Weber dan Garis Lydekker. Adanya perbedaan ini membuat keanekaragaman hayati menjadi sangat tinggi. Inilah yang membuat Indonesia Bersama Brazil dan Zaire punya keanekaragaman hayati yang sangat besar.

 

Keanekaragaman Hayati, Sumber Pemenuhan Pangan

Saat ini di sebagai wilayah Indonesia sedang mengalami paceklik dan gagal panen. Membuat masyarakat kesulitan dalam memenuhi pangan serta air bersih. Sumber daya hayati sering diartikan sebagai modal untuk menghasilkan produk dan jasa saja. Padahal keanekaragaman hayati mestinya harus merujuk pada aspek keseluruhan dari sistem penopang kehidupan yaitu mencakup aspek sosial,  ekonomi dan lingkungan.

 

Untuk bisa memenuhi kebutuhan tersebut, tak jarang pemerintah menerapkan konsep impor bahan baku pangan. Cukup miris memang, negara yang dulu terkenal dengan swasembada sejumlah bahan pangan kini harus mengimpor sejumlah kebutuhan penting seperti kedelai, jagung, gandum, bawang putih. Tidak luput berbagai komoditas buah dan sayur-mayur.

Masalah pangan akan tetap merupakan salah satu tantangan utama pembangunan mengingat jumlah penduduk yang belum sepenuhnya terkendali. Penganekaragaman pangan yang diusahakan sejak lama sampai sekarang belum terwujud, sedangkan sumber pangan yang beraneka ragam diperlukan untuk ketahanan nasional di Indonesia.

 

Namun pada kenyataannya berupa kepulauan dan yang kondisi untuk pertaniannya berbeda-beda. Keanekaragaman hayati yang dimiliki bangsa Indonesia ini sebenarnya merupakan “emas hijau” yang dapat dimanfaatkan sebagai alternatif untuk keluar dari kondisi krisis multi dimensi. Namun sayangnya kita terlantarkan dan bahkan melupakannya.

 

Nyatanya tentang kenyataan terkini keanekaragaman hayati di Indonesia dari hasil alam, tambang dan hasil lainnya. Faktor kurangnya pengetahuan dan ditambah lagi dengan terjadinya perubahan iklim yang berdampak pada penurunan hasil produksi.

Ancaman kepunahan berbagai spesies keanekaragaman hayati, kerusakan dan penurunan kualitas kawasan (lingkungan) serta reduksi sumber daya alam hayati yang terus terjadi harus segera ditangani secara serius. Bila tidak akan merupakan kerugian yang sangat besar bagi kita dengan hilangnya keanekaragaman hayati sebagai sumber daya alam dengan nilai ekologi maupun nilai ekonomi serta nilai-nilai lainnya.

 

Dalam hal sumberdaya hayati pangan, Indonesia tercatat sebagai kawasan yang menjadi salah satu pusat persebaran tumbuhan ekonomi dunia. Indonesia bersama Indo-China merupakan kawasan yang banyak ditemukan kerabat jenis-jenis liar yang berpotensi ekonomi. misalnya jenis kelapa, sagu, pisang, durian, rambutan, kecipir, temu lawak, dan bahkan padi memperlihatkan kisaran keanekaragaman yang besar.

 

Berikut ini adalah jenis-jenis yang telah banyak dikenali masyarakat yang memiliki potensi dan keanekaragamannya terdapat di Indonesia. Variasi kultivar yang dimiliki setiap jenis merupakan sumber plasma nutfah yang tidak ternilai harganya untuk kepentingan pengembangan sumber daya pangan lokal untuk pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang pertanian.

 

Aneka Ubi- ubian, ada sebanyak 300 varietas talas budidaya yang dibedakan berdasarkan ukuran, bentuk, warna daun, batang, umbi, dan bunga. Di antara ubi-ubian yang relatif populer adalah ubi jalar. Jenis ini walaupun bukan asli Indonesia, tetapi sudah membudaya dan menjadi makanan pokok bagi sebagian kelompok etnis di Indonesia.

 

Aneka Buah-buahan, Indonesia memang kaya dengan berbagai jenis buah-buahan, seperti salak, mangga, manggis, durian, rambutan, kepel, belimbing. Durian misalnya, dari 27 jenis durian yang ada di Sumatra, Kalimantan dan Malaysia, 19 jenis di antaranya ditemukan di Kalimantan, dan baru 6 jenis saja yang diketahui berpotensi sebagai buah meja. Tanaman buah asli Indonesia lainnya adalah duku, lansat dan kokosan.

 

Menjaga Keanekaragaman Tumbuhan, Menjaga Ketahanan Pangan

Kehilangan keanekaragaman hayati sangat erat kaitannya dengan kerusakan lingkungan. Ketidakseimbangan ekosistem menghasilkan bencana dimana-mana.  Konversi hutan dan tataguna lahan yang tidak dikelola dengan baik akan membuat menurunnya produktivitas pertanian dan pangan makin merosot.

Jika kondisi demikian tetap belum ada solusinya, maka Indonesia akan tetap menjadi pengimpor bahan pokok, terutama beras dan terigu terbesar. Ironis sekali dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang dimilikinya logikanya Indonesia akan terbebas dari persoalan pangan.

 

Sejauh ini, mendorong ketahanan pangan dengan mendiversifikasi sumber pangan yang berbasis keanekaragaman hayati lokal belum menunjukkan kemajuan berarti. Di saat ingin lepas dari ketergantungan dengan beras, kita berisiko tersandera pada sumber pangan impor, yaitu gandum.

Menyeragamkan sumber pangan membuat kita tidak hanya abai terhadap kekayaan keanekaragaman hayati sebagai potensi sumber pangan, tetapi juga lalai dalam memanfaatkan kekayaan keragaman bentang alam Indonesia. Hal ini dapat mendorong terjadinya pengalihan fungsi lahan atau deforestasi, yang sebetulnya mungkin tidak perlu.

 

Artinya menjaga pangan tanpa harus merusak hutan, selain itu banyak tumbuhan pangan yang bisa diberdayakan. Tentunya akan ada keberagaman dalam konsumsi pangan dan menjaga ketahanan pangan meskipun dalam kondisi sulit seperti pada pandemi dulu.

Semoga tulisan memberikan inspirasi untuk kita semua terkait dengan keanekaragaman hayati dan ketahanan pangan. Akhir kata salam #EcoBloggerSquad


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer