Wednesday, October 26, 2022

Transisi Energi dalam Melawan Krisis Energi

Awan mendung menyelimuti, beberapa hari terakhir cuaca dilanda hujan deras. Pengalaman ini jelas tak mengenakkan, karena iklim yang berubah membuat aktivitas penelitian tugas akhir saya terhambat. Penelitian yang berhubungan biota laut tersebut seakan terhalang akibat cuaca buruk, tak tanggung-tanggung. BMKG memberikan notice selama seminggu cuaca buruk akan mendera Aceh.

 

Perubahan iklim berdampak besar dalam perubahan cuaca yang kini tak menentu. Angin dan perubahan cuaca ekstrem berdampak besar pada aktivitas di luar rumah. Pengaruh ini makin menjadi-jadi karena sejumlah wilayah terdampak dari banjir, tanah longsor, abrasi pantai hingga puting beliung.

 

Perubahan iklim secara tak langsung berasal dari aktivitas manusia yang meningkat buangan Gas Rumah Kaca. Gas buang itu berupa polusi udara yang menyelimuti bumi, terakumulasi dalam waktu lama dan jumlahnya terus meningkat. Sedangkan atmosfer punya batas toleran pada hal tersebut, hingga akhirnya panen bencana saat hujan yang mendatangkan berkah atau kemarau yang kaya sinar matahari mendatangkan petaka.

 

Masalah Perubahan Iklim, Masalah Bersama

Menjaga iklim bumi bukan hanya berdasarkan satu perusahaan atau satu negara saja. Sifatnya sudah global, semua akan berdampak bila tak ada tindak lanjut. Perubahan iklim erat kaitannya dalam proses pengolahan energi yang serampangan. Hasil buangan karbon tersebut terlepas ke alam dan kemudian terakumulasi di atmosfer.

Harus ada tindakan nyata dalam melawan perubahan iklim, dari perorangan dan perusahaan bisa dimulai dari menghemat energi yang digunakan setiap harinya hingga dapat mengurangi terjadinya pemanasan global dan terhindar terjadinya dampak buruk bagi umum. Penggunaan pribadi erat dalam pembatasan energi yang bisa dikonversikan ke kendaraan umum.

 

Regulasi juga harus dibuat terutama buat pembangunan manufaktur yang meningkatkan GRK. Selain itu ada aksi besar seperti aksi menanam pohon di sekitar kita agar dapat mengurangi emisi yang telah banyak memberikan kontribusinya kepada perubahan iklim. Itu searah dengan  tindakan pembersihan dari barang yang tidak dipakai, bersihkan sampah yang ada pada tempatnya.

 

Semuanya makin kuat gaungnya dengan beraksi dan mengampanyekan aksi melalui sosial media. Ini jadi media yang tepat dalam membagikan sejumlah aksi. Bahkan dampaknya besar, ada banyak yang terinspirasi kita dalam menjaga alam. Bisa juga dalam wadah komunitas, karena lebih luas cakupannya.

 

Mengapa Kita Perlu Melakukan Transisi Energi?

Peningkatan penggunaan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil, penggunaan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama pembangkit listrik dan pembabatan hutan untuk produksi sumber energi menyebabkan timbulnya efek gas rumah kaca (efek GRK) yang menyelimuti atmosfer bumi.

Transisi energi perlu segera diakselerasi mengingat perubahan iklim telah menjadi isu global. Sejak meratifikasi Persetujuan Paris tahun 2015, Indonesia mulai menyusun dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) sebagai pernyataan resmi penurunan emisi untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Dokumen NDC tersebut menetapkan target pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Indonesia, yakni sebesar 29% tanpa syarat (dengan usaha sendiri) dan 41% bersyarat (dengan dukungan internasional yang memadai) pada tahun 2030.

 

transisi energi ditujukan untuk mengurangi emisi CO2 (dekarbonisasi) guna menanggulangi perubahan iklim dan dampak yang ditimbulkannya. Investasi hijau dapat mendukung pertumbuhan hijau yang merupakan paradigma baru pertumbuhan ekonomi dan menggabungkan teknologi baru, produk keuangan dan industri yang mempertimbangkan lingkungan, efisiensi energi, dan pengurangan emisi.

 Baca Juga: Menakar Potensi Energi Terbarukan di Ujung Sumatra

Transisi energi adalah hal nyata yang harus dilakukan segera mungkin, bila terlambat kita akan merasakan dampak perubahan iklim yang makin nyata. Ada proses yang sudah dilakukan dalam proses transisi energi. Paling terasa adalah dengan adanya bahan bakar seperti biodiesel dan kendaraan listrik. Secara tak langsung memangkas bahan bakar fosil yang digunakan.

 

Meskipun tak sepenuhnya bersih, cara ini sedikit banyak memberikan opsi pada bahan bakar yang lebih banyak dan bervariasi. Kendala jelas ada terutama dalam monopoli sawit (dalam biodiesel) dan Nikel berserta Kobalt (pada industri mobil listrik).

 

Tantangan Besar dalam Proses Transisi Energi

Proses transisi energi bukan sesuatu yang mudah, negara seperti Indonesia masih sangat mengandalkan energi fosil. Pemenuhan energi kadang masih terhalang karena sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi. Mulai dari Research and Development yang belum begitu memadai, alhasil adalah Sektor industri komponen energi terbarukan belum tumbuh di Indonesia sehingga masih tergantung dengan komponen luar negeri.


Akibatnya harga barang menjadi mahal, dibandingkan transisi energi, pemenuhan energi jauh lebih penting. Apalagi sumber energi terbarukan letaknya berada di daerah pedalaman (pelosok). Ini menambah biaya yang harus dikeluarkan dalam proses studi hingga pengembangan ke tahap akhir.

 

Apa yang Bisa Kita Lakukan ?

Sejumlah cara yang bisa digunakan adalah dengan terlibat dalam pengumpulan limbah rumah tangga untuk bahan baku energi non fosil (biodiesel dan biogas). Mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan menghemat penggunaan listrik. Terakhir tentunya giat dalam mengampanyekan penggunaan produk energi terbarukan.

 

Transisi Energi dan Potensi Pengembangan Energi Terbarukan

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM, 2022) disebutkan bahwa total kapasitas pembangkit yang sudah terpasang mencapai 278,9 TWh pada 2019. Jika kita mencoba untuk mengetahui komposisinya, tercatat bahwa 174,5 TWh di antaranya, atau setara dengan 62% distribusi energi nasional, merupakan energi dari bahan batu bara. 

Lalu bagaimana dengan EBT?

Jumlah EBT saat ini masih sekitar 11,5%. Nilai ini jelas sangat rendah karena ada sejumlah porsi yang dibagikan. Mulai dari panas bumi 8,7%; bio energi 5,8%; air 6,7%; angin 0,3%; dan matahari 0,03%. Angka tersebut setara dengan 7.490,8 MW. Padahal dengan mengetahui bahwa potensi EBT di Indonesia dapat mencapai total 417,8 GW, dapat dikatakan bahwa kapasitas EBT yang sudah terpasang baru mencapai 1,8%. 

Di satu sisi, trend investasi EBT saat ini belum optimal. Jika melihat capaian investasi transisi energi melalui EBT dan konservasi energi di Indonesia tahun 2022 baru mencapai USD0,58 miliar atau 14% dari target sebesar USD3,98 miliar.

Indonesia memiliki potensi EBT yang melimpah terutama solar, diikuti oleh hidro, bioenergi, angin, panas bumi, dan lautan, dengan total potensi 648,3 GW, termasuk potensi uranium untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Hingga saat ini, baru 2% dari total potensi yang telah dimanfaatkan.

Jumlah ini akan bisa bertambah dengan peningkatan proses transisi yang memakan waktu. Terutama dalam penyesuaian dan pengembangan pembangkit listrik dari energi terbarukan.  

 

Melawan Selimut Polusi di Langit

Semua polusi membawa dampak yang kurang baik, terutama untuk kesehatan. Polusi udara, misalnya, selain dapat memicu masalah kesehatan paru-paru juga dapat meningkatkan risiko glaukoma yang dapat berakibat kebutaan.

 

Kontribusi besar selimut polusi datang dari aktivitas buangan pabrik dan kebakaran hutan. Di daerah perkotaan, kontribusi buangan pabrik sangatlah besar sedangkan di pelosok hutan, mereka jadi sasaran kebakaran dan perluasan lahan.

 

Melawan selimut polusi bisa Indonesia adopsikan dari negara tetangga yaitu Singapura. Mereka cukup lihai alam proses pengelolaan polusi dan buangan limbah akhir. Seperti pada sistem  pengelolaan tempat pembuangan akhir, pemerintah Singapura telah sukses dalam menggunakan teknologi incinerator yang merupakan teknologi dengan suhu tinggi untuk mengolah limbah padat menjadi bentuk energi panas yang kemudian dapat dimanfaatkan sebagai energi listrik. Selain itu, incinerator juga dapat mengurangi massa benda sebanyak 75%-90%, sehingga tidak membutuhkan terlalu banyak ruang untuk menyimpan sampah.

Selanjutnya adalah dengan pembangunan zona ramah polusi, zona yang disediakan untuk para perokok dibuat dalam bentuk yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan di sekitarnya. Misalnya zona merokok  yang memang sengaja dibangun di tengah-tengah kepadatan serta ketinggian gedung dengan aliran angin yang dapat membawa pergi polusi, sehingga polusi udara di daerah tersebut dapat diminimalisir. Selain itu, para perokok yang melakukan pelanggaran juga akan diberikan denda, sehingga mereka akan mempertimbangkan kembali untuk merokok sembarangan di ruang publik.

 

Terakhir adalah dengan penerapan standar bahan bakar pada kendaraan, berupa bahan bakar minyak dan diesel dengan standar Euro VI sejak tahun 2017, naik satu tingkat dari standar Euro IV untuk kendaraan bensin dan Euro V untuk kendaraan diesel. Pemerintah berharap dengan diterapkannya standar emisi pada bahan bakar, tingkat polutan seperti ambien hidrokarbon, karbon monoksida, nitrogen oksida, serta partikel-partikel lain hasil kendaraan dapat berkurang.

 

Upaya-upaya yang dilakukan ini tentunya sebagian masih sulit diterapkan di Indonesia. Salah satu cara adalah dengan proses sosialisasi pada masyarakat. Terbaru adalah dengan regulias bahan bakar yang di bawah oktan 90 dilarang digunakan mulai 1 Januari 2023. Cara ini dilakukan dalam menekan polusi udara, dalam 2 bulan terakhir bisa menekan emisi gas buang kendaraan selain dari emisi lainnya.

 

Belajar Banyak tentang Transisi Energi Bersama Ecoblogger Squad.

Pada tanggal 20 Oktober 2022 lalu, Ecoblogger kembali melakukan event besar dalam hal ini isu yang diangkat adalah proses transisi energi. Isu yang sebelumnya pernah diangkat namun masih kurang tajam. Isu ini dianggap sangat relevan setelah kenaikan BBM.

 

Masyarakat dipaksa harus menyesuaikan bahan bakar baru dan tentunya kenaikan harga minyak dunia. Meskipun begitu, menariknya adalah berbagai cara dalam melakukan transisi energi. Paling kentara adalah dengan hadirnya sejumlah pembangkit tenaga listrik energi terbarukan. Jumlah terus bertambah dan koutanya bisa menggantikan pembangkit listrik tenaga fosil yang jadi tulang punggung energi nasional.

 

Selain itu juga, ada banyak cara dalam kita menekankan dampak dari GRK. Seperti dengan menghemat energi, menggunakan transportasi publik hingga mengampanyekan transisi energi di hari sumpah pemuda. Semangat juang dari anak muda punya peran besar dalam transisi energi dan cara menekan perubahan iklim.

 

Sesi pun ditutup dengan foto bersama member Ecoblogger dan menjadi acara terakhir yang dilaksanakan tahun ini. Tak terasa, aksi menulis lingkungan bisa menjadi penopang dalam menjaga bumi tetap asri.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer