Sunday, August 23, 2026

Jelajah Gunung dan Laut, Insto untuk Mata Nyaman

Dalam setahun terakhir saya punya hobi baru yang selama ini terpendam yakni menjelajahi alam. Memang itu cita-cita, dulu di masa kuliah memang sering dan sudah jadi rutinitas. Tetapi semenjak hampir sepuluh tahun bekerja rasanya menjelajah alam terasa begitu eksotik. Jadi kami punya target dalam dua kali sebulan bisa pergi ke sejumlah tempat hidden gem yang selama ini tidak terjamah. Lokasinya tak perlu jauh tetapi memberikan nuansa dan cerita baru di dalamnya.

Namun, ada satu masalah: semakin ke sini, banyak teman yang sudah tidak bisa ikut lagi. Rata-rata mereka sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Hari libur lebih sering dipakai untuk berkumpul bersama keluarga atau sekadar istirahat total di rumah. Bagi mereka, rasanya tidak masuk akal harus capek-capek mencari lokasi hidden gem, menghabiskan waktu berjam-jam di perjalanan, sementara besoknya sudah harus kembali bekerja. Waktu istirahat itu sekarang mahal, begitu kira-kira alasan beberapa teman yang akhirnya berhasil kami ajak ikut.

Tapi saya tidak kehabisan akal. Kalau teman-teman lama sudah mulai sulit diajak karena kesibukan pekerjaan dan keluarga, cara lain tentu dengan mencari teman baru yang punya waktu dan ketertarikan yang sama. Ternyata orang-orang yang punya hobi menjelajah alam juga cukup banyak, hanya saja sebelumnya kami belum saling kenal.

Akhirnya, kami membuat grup WhatsApp khusus untuk orang-orang yang punya preferensi yang sama, terutama yang memang senang mencari tempat baru, mendaki, camping, atau sekadar menikmati alam di akhir pekan. Dari grup kecil itu, perlahan mulai muncul banyak rencana perjalanan. Ada yang menawarkan lokasi, ada yang mencari rute, ada yang mengajak ke tempat yang belum pernah didatangi, sampai akhirnya setiap akhir pekan selalu ada saja obrolan, Minggu ini kita ke mana?

Bagi saya, ini justru jadi cara baru untuk tetap bisa menjalankan hobi tanpa harus bergantung pada teman-teman lama. Ternyata mencari teman perjalanan tidak harus selalu dimulai dari orang yang sudah kita kenal. Kadang cukup menemukan orang-orang dengan kegemaran yang sama, lalu dari satu perjalanan lahir perjalanan-perjalanan berikutnya.

Lokasi buat liburannya tidak perlu jauh-jauh. Kalau bisa berangkat Sabtu atau Minggu pagi, lalu sore harinya sudah kembali ke rumah masing-masing, itu sudah cukup. Maklum, kami juga punya pekerjaan dan kesibukan masing-masing, jadi tidak mungkin setiap perjalanan harus menghabiskan waktu berhari-hari. 

Untungnya, saya tinggal di Banda Aceh yang dikelilingi banyak tempat menarik. Tidak perlu pergi terlalu jauh untuk menemukan hidden gem. Ada saja lokasi baru yang bisa dijelajahi, mulai dari kawasan pegunungan, pantai, air terjun, sampai tempat-tempat yang mungkin selama ini hanya dilewati begitu saja tanpa pernah benar-benar kita datangi.

Beberapa hari sebelumnya, kami sudah mulai melist teman-teman yang ingin ikut melalui grup WhatsApp. Setelah jumlah peserta diketahui, kami menentukan titik kumpul sebelum akhirnya berangkat bersama menuju lokasi. Dengan begitu, kami bisa berangkat barengan dan, sebisa mungkin, sampai di lokasi tujuan juga barengan. Di titik kumpul inilah kami biasanya sekaligus mengecek kembali kesiapan masing-masing, terutama bekal dan perlengkapan yang perlu dibawa. Maklum, perjalanan ke lokasi kadang cukup jauh, jadi memastikan semuanya sudah siap sejak awal membuat perjalanan terasa lebih nyaman dan tidak ada yang kelupaan di tengah jalan.

Setiap Lokasi dan Berbagai Tantangan

Setiap hidden gem punya tantangannya masing-masing. Beberapa lokasi bahkan tidak terlacak dengan jelas di peta. Untuk menemukannya, kami biasanya mengandalkan berbagai sumber, mulai dari video perjalanan, bertanya kepada warga setempat, hingga menggunakan peta offline. Pengalaman sebelumnya mengajarkan kami untuk tidak hanya mengandalkan satu cara. Kami pernah tersesat, kehabisan bensin, hingga mengalami kendaraan bocor di tengah perjalanan. Karena itu, kami biasanya mencatat titik terakhir yang masih mudah dikenali sebagai patokan jika sewaktu-waktu terjadi masalah.

Lokasi hiking di Sumatra, khususnya Aceh, juga memiliki tantangan tersendiri. Banyak hidden gem belum dilengkapi petunjuk jalan atau informasi yang memadai. Informasi yang tersedia sering kali hanya berasal dari orang yang pernah datang sebelumnya. Jalan setapak pun bisa tertutup semak atau hampir tidak terlihat karena jarang dilewati. Kondisi seperti inilah yang membuat perjalanan lebih menantang sekaligus memberikan cerita tersendiri setiap kali kami berhasil menemukan lokasi tujuan.

Dari pengalaman tersebut, kami mulai memahami pentingnya persiapan, terutama soal logistik. Apalagi saya dan sejumlah teman punya rencana menjelajahi gunung dengan tingkat tantangan lebih tinggi, seperti Rinjani, Kerinci, hingga Leuser. Perjalanan-perjalanan kecil menjadi kesempatan untuk belajar mempersiapkan diri sebelum menghadapi medan yang lebih berat.

Kami mulai memperhitungkan kebutuhan air, lokasi sumber air, persediaan makanan, hingga perlengkapan P3K. Hal-hal yang terlihat sederhana justru bisa menjadi sangat penting ketika perjalanan membawa kami jauh dari permukiman.

Persiapan Fisik yang Tak Bisa Dianggap Sepele

Tahun 2015 menjadi pengalaman pertama saya mencoba hiking. Bisa dibilang cukup terlambat, karena sejak masa kuliah sebenarnya saya sudah cukup akrab dengan kegiatan luar ruangan. Kala itu, saya diajak seorang senior menuju Lhok Mata Ie, salah satu lokasi di pinggiran Banda Aceh. Untuk mencapai hidden beach di sana, kami harus berjalan sekitar satu jam.

Namun, baru sekitar 15 menit berjalan, tubuh saya sudah menyerah. Napas mulai tidak beraturan, badan terasa lemas, sampai akhirnya saya muntah-muntah. Kalau dipikir sekarang, penyebabnya cukup jelas. Malam sebelumnya saya begadang, sementara pagi harinya makan cukup berat sebelum hiking. Persiapan fisik nyaris tidak ada, tetapi saya sudah berani mengambil jalur yang cukup menguras tenaga.

Rasanya malu sekali. Setelah kejadian itu, saya bahkan cukup lama tidak diajak naik gunung lagi. Mungkin teman-teman sudah kapok melihat kondisi saya waktu itu.

Sepuluh tahun kemudian, keinginan untuk kembali menjelajah alam muncul lagi. Kali ini saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Saya mulai mempersiapkan fisik dengan lebih serius, salah satunya dengan rutin pergi ke gym. Saya berpikir, kalau otot kaki sudah kuat dan tubuh terbiasa berolahraga, hiking tentu akan terasa lebih mudah.

Ternyata saya salah, hiking dan gym memang sama-sama membutuhkan kekuatan otot, tetapi tuntutannya berbeda. Di gym, gerakan dan beban bisa dikontrol. Sementara di jalur pendakian, tubuh harus beradaptasi dengan medan yang terus berubah: tanjakan, batu, akar pohon, tanah licin, hingga jalur sempit.

Saya mulai menyadari bahwa kuat mengangkat beban belum tentu kuat mendaki. Hiking juga membutuhkan teknik dan kemampuan mengatur tenaga. Langkah saat menanjak harus dijaga tetap pendek dan stabil, sementara saat menurun tubuh perlu mampu mengendalikan beban agar kaki tidak cepat lelah.

Yang tidak kalah penting adalah mengatur ritme. Tidak perlu terburu-buru hanya karena melihat teman berjalan lebih cepat. Setiap orang punya kemampuan fisik yang berbeda. Kalau terlalu banyak menghabiskan tenaga di awal, perjalanan yang masih panjang bisa terasa jauh lebih berat.

Dari beberapa kali hiking, saya akhirnya memahami bahwa persiapan bukan sekadar membuat kaki kuat dan stamina panjang. Tubuh perlu dibiasakan dengan aktivitas yang mendekati kondisi di lapangan. Jogging, naik turun tangga, latihan kekuatan kaki, dan kardio membantu, tetapi pengalaman membaca medan dan mengenali batas kemampuan tubuh juga sama pentingnya.

Sebab di alam, kita tidak bisa mengatur jalur sesuai kemampuan tubuh. Justru tubuh kitalah yang harus belajar beradaptasi dengan jalur.

Dan semakin sering menjelajah, saya semakin sadar bahwa bukan hanya kaki yang perlu dipersiapkan. Ada bagian tubuh lain yang juga bekerja keras sepanjang perjalanan, tetapi selama ini justru sering saya lupakan adalah Mata.

Lokasi Hidden Gem yang Pernah Kami Jelajahi

Perjalanan menjelajah alam awalnya kami mulai dari tempat-tempat yang relatif dekat. Tidak perlu langsung mencari lokasi yang jauh atau membutuhkan waktu berhari-hari. Ada yang bisa ditempuh dengan hiking kurang dari satu jam, tetapi ada juga yang membutuhkan perjalanan lebih panjang. Dari perjalanan-perjalanan kecil itulah, daftar lokasi yang kami datangi perlahan terus bertambah.

Kami pernah menikmati laut dari ketinggian di Lhok Mata Ie dan Pantai Lange, menyusuri hamparan ilalang di Lhok Keutapang, hingga melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian Goh Leumo. Ada pula Cot Goh dan Savana Siron dengan lanskap padang sabana yang berbeda. Sementara di Gunung Gle Bae, suasananya berubah total. Hutan lumut yang hijau dan lembap memberikan kesan seperti memasuki dunia lain. Setiap tempat punya karakter dan cerita sendiri, sehingga satu perjalanan hampir selalu membuat kami penasaran mencari lokasi berikutnya.

Semakin sering menjelajah, kami juga mulai memahami bahwa setiap lokasi membutuhkan persiapan yang berbeda. Ada tempat yang bisa langsung dicapai dengan kendaraan, tetapi ada pula yang mengharuskan kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Waktu berkunjung juga perlu diperhitungkan. Untuk air terjun, misalnya, kami perlu melihat kondisi debit air. Sementara untuk jalur pegunungan, cuaca dan kondisi jalur menjadi pertimbangan utama. Jalur yang mudah dilewati saat kemarau bisa berubah licin dan berlumpur ketika musim hujan.

Sebelum berangkat kami biasanya mengecek cuaca, mencari informasi dari orang yang pernah datang, dan menyesuaikan waktu perjalanan dengan kondisi lokasi. Jumlah peserta juga kami pertimbangkan. Biasanya kami berangkat setidaknya bertiga agar bisa saling membantu jika terjadi sesuatu, dengan jumlah maksimal sekitar sepuluh orang agar koordinasi tetap mudah.

Dari perjalanan-perjalanan sederhana itu, kami belajar bahwa menjelajah hidden gem bukan sekadar menentukan tujuan lalu berangkat. Ada medan, cuaca, waktu, dan kondisi perjalanan yang perlu diperhitungkan. Dan justru dari perjalanan seperti inilah saya semakin menyadari bahwa banyak hal kecil yang perlu dipersiapkan sebelum benar-benar berangkat.

Pengalaman yang Tak Terlupakan Saat Menjelajah Alam

Menjelajah alam Sumatra seperti membuka halaman demi halaman buku besar tentang biodiversitas. Semakin jauh masuk ke hutan, semakin banyak pula kehidupan yang bisa ditemukan. Di balik suara angin dan dedaunan, satwa liar sesekali muncul, seolah mengingatkan bahwa kita sebenarnya sedang bertamu di rumah mereka.

Dalam beberapa perjalanan, kami pernah berjumpa dengan ular, melewati jalan yang dipenuhi kalajengking, hingga melihat sekumpulan monyet yang sedang berebut wilayah. Namun, pengalaman yang paling berkesan justru ketika kami melihat gajah dari kejauhan. Ukurannya yang besar ternyata tidak membuatnya terlihat menakutkan. Ia justru tampak tenang dan pemalu, hanya memperhatikan kami dari jarak tertentu sebelum kembali melanjutkan aktivitasnya. Momen seperti itu membuat saya semakin sadar bahwa alam memiliki kehidupan yang jauh lebih beragam dari yang kita lihat sehari-hari.

Ada pula pengalaman kecil yang sampai sekarang masih saya ingat dengan jelas. Seekor kupu-kupu terbang tidak jauh dari rombongan kami, seolah mengikuti perjalanan dari satu titik ke titik lainnya. Sampai akhirnya kami menemukan sumber air. Entah kebetulan atau memang bagian dari perilaku alaminya, momen itu terasa seperti sambutan kecil dari alam. Di tengah perjalanan yang melelahkan, menemukan sumber air tentu menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Namun, semakin sering menjelajah, saya juga semakin sering melihat sisi lain yang memprihatinkan. Masih ada orang yang menikmati keindahan alam tetapi meninggalkan sampah begitu saja. Botol plastik, bungkus makanan, tisu, dan berbagai kemasan kadang ditemukan di jalur yang sebelumnya masih bersih.

Bagi saya, istilah hidden gem bukan berarti tempat yang boleh dieksploitasi sesuka hati. Ketika sebuah lokasi mulai dikenal banyak orang, tanggung jawab untuk menjaganya seharusnya ikut meningkat. Jangan sampai keindahan yang kita cari justru hilang karena kehadiran kita sendiri.

Setiap kali menjelajah, saya berusaha menerapkan prinsip sederhana: apa yang dibawa masuk, sebisa mungkin dibawa kembali keluar. Menikmati alam seharusnya tidak berhenti pada mengambil foto yang bagus, tetapi juga memastikan orang lain masih bisa menikmati tempat yang sama tanpa kondisi yang lebih buruk dari ketika kita datang.

Bagi saya, semakin jauh menjelajah alam, semakin terasa pula kedekatan dengan Sang Pencipta. Di tengah rutinitas sehari-hari, kesibukan sering membuat kita lupa berhenti sejenak dan mengingat-Nya. Namun, ketika berada jauh di tengah hutan, di atas bukit, atau di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, perasaan itu bisa berubah.

Melihat luasnya laut dari ketinggian, rapatnya hutan, suara satwa liar, atau hamparan pegunungan yang tidak berujung membuat saya sadar bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada diri sendiri.

Menjelajah alam akhirnya bukan hanya perjalanan untuk mencari tempat baru. Ada perjalanan lain yang berlangsung di dalam diri: belajar menghargai kehidupan, menjaga lingkungan, sekaligus kembali mengingat kepada siapa semua keindahan itu bermuara.

Mungkin itu pula alasan saya selalu ingin kembali menjelajah. Bukan hanya untuk menemukan hidden gem berikutnya, tetapi juga untuk menemukan kembali diri sendiri di tengah alam yang masih begitu luas.

Alam Mempertemukan Saya dengan Orang Baru dan Orang Tercinta

Pada awal menjelajah, saya lebih sering ikut open trip. Cara ini memang praktis karena kebutuhan perjalanan biasanya sudah diatur oleh penyelenggara. Namun, lama-kelamaan saya merasa kurang leluasa karena jadwal dan rute sudah ditentukan, sementara biayanya juga cenderung lebih mahal dibandingkan perjalanan bersama teman sendiri.

Dari situ muncul pikiran sederhana: kenapa tidak mengajak teman-teman yang sudah dikenal saja? Selain lebih fleksibel, biaya transportasi, konsumsi, dan kebutuhan perjalanan juga bisa dibagi bersama. Dengan begitu, teman-teman yang sebelumnya terkendala biaya tetap punya kesempatan untuk ikut menjelajah.

Menariknya, perjalanan alam ternyata tidak hanya membuat kami menemukan tempat baru, tetapi juga mempertemukan saya dengan orang-orang baru. Saya memiliki teman dari berbagai generasi, dan perbedaan usia ternyata bukan penghalang untuk menikmati hobi yang sama.

Salah satunya adalah Tgk Faisal. Saya sering melihat beliau berolahraga di gym dan punya kebiasaan hampir setiap hari naik turun tangga. Dari obrolan kecil, saya mengetahui bahwa beliau sebenarnya ingin menjelajah alam, tetapi tidak punya teman untuk diajak.

Akhirnya saya tawarkan untuk ikut bersama kami.

Perjalanan pertama yang kami pilih justru cukup berat. Saya sempat khawatir beliau akan kewalahan, tetapi ternyata perkiraan saya salah. Beliau terlihat santai sepanjang perjalanan dan tidak banyak mengeluh.

Belakangan saya baru sadar bahwa kebiasaan naik tangga di gym ternyata sangat membantu. Ketika yang lain mulai terengah-engah menghadapi tanjakan, medan tersebut mungkin tidak terlalu asing baginya. Dari situ saya belajar bahwa setiap orang punya cara masing-masing dalam mempersiapkan diri. Latihan yang terlihat sederhana bisa menjadi modal besar ketika dibawa ke medan sebenarnya.

Perjalanan seperti ini akhirnya membuat lingkaran pertemanan saya semakin luas. Ada teman lama yang kembali aktif, ada teman baru yang baru pertama ikut, bahkan ada orang yang sebelumnya hanya sebatas kenal di tempat olahraga kemudian menjadi teman seperjalanan. Kadang, hubungan yang awalnya hanya sebatas saling menyapa bisa berkembang menjadi pertemanan setelah sama-sama melewati perjalanan yang melelahkan.

Dan bukan hanya teman yang bisa diajak menjelajah. Orang tercinta pun bisa menjadi teman perjalanan yang menarik.

Perjalanan panjang memberi kita waktu untuk berbicara lebih banyak, mulai dari cerita masa kecil, pekerjaan, rencana masa depan, hingga hal-hal yang mungkin selama ini tidak sempat dibicarakan. Di sisi lain, perjalanan juga memperlihatkan karakter seseorang ketika menghadapi lelah, lapar, perubahan rencana, atau situasi yang tidak sesuai harapan.

Bagi saya, di situlah menariknya menjelajah alam bersama orang lain. Kita bukan hanya menikmati indahnya tempat yang dituju, tetapi juga mengenal lebih dekat orang yang berjalan bersama kita.

Alam bukan hanya mempertemukan kita dengan tempat-tempat baru. Alam juga memperluas pertemanan, mempererat hubungan lama, dan memberi kesempatan untuk mengenal orang tercinta dengan cara yang berbeda. Setelah satu perjalanan selesai, yang tersisa bukan hanya foto pemandangan di galeri, bahkan nama-nama baru, cerita yang bisa ditertawakan bersama, dan hubungan yang menjadi lebih dekat karena pernah sama-sama berjalan jauh menjelajah alam.

Ketika Debu dan Air Laut Mengganggu Perjalanan

Jalur menuju gunung, terutama saat musim kemarau, biasanya kering dan berdebu. Saya ingat satu perjalanan menuju jalur pendakian yang cukup jauh dari basecamp. Medannya berupa jalan tanah terbuka, sehingga debu mudah beterbangan setiap kali kendaraan atau rombongan lewat.

Belum sampai setengah perjalanan, mata saya mulai terasa gatal dan berair. Awalnya saya mengira hanya kelilipan biasa yang akan hilang sendiri. Namun, bukannya membaik, rasa perih justru semakin terasa setiap kali berkedip.

Saat itu saya baru sadar bahwa tidak satu pun anggota rombongan membawa obat tetes mata. Isi P3K sebenarnya cukup lengkap, mulai dari plester, obat luka, obat pereda nyeri, hingga perlengkapan untuk cedera ringan. Namun, untuk mata, tidak ada satu pun yang terpikir untuk membawanya. Akhirnya saya hanya bisa membilas mata dengan air minum yang tersedia.

Beberapa waktu kemudian, kejadian serupa kembali saya alami, kali ini di laut. Setelah berenang, mata saya terasa perih, merah, dan terus berair. Bahkan ketika perjalanan berlanjut ke sore hari, kondisi tersebut membuat saya harus melewatkan rencana menyusuri bukit untuk melihat matahari terbenam.

Melalui dua pengalaman itu saya mulai menyadari sesuatu. Selama packing, saya selalu sibuk memikirkan kaki, stamina, air, logistik, dan perlengkapan P3K. Ketika ke pantai, perhatian saya lebih banyak tertuju pada perlengkapan berenang dan perlindungan dari matahari.

Ternyata ada satu bagian tubuh yang sama-sama bekerja keras sepanjang perjalanan, tetapi justru sering saya lupakan: mata.

Selama hiking kita akan menghadapi debu, angin, sinar matahari, dan air laut bisa membuat mata terasa tidak nyaman. Ketika itu terjadi, menikmati pemandangan, membaca jalur, hingga menjalankan rencana perjalanan pun bisa ikut terganggu.

Sejak saat itu, saya mulai memasukkan obat tetes mata ke dalam daftar perlengkapan pribadi. Saya kemudian membawa Insto, termasuk Insto Dry Eyes terutama ketika perjalanan dilakukan dalam kondisi berdebu, berangin, atau membuat mata terasa kering setelah lama berada di luar ruangan.

Bagi saya, pengalaman di gunung dan pantai mengubah cara mempersiapkan perjalanan. Saya tidak lagi hanya bertanya, Apakah kaki saya kuat? atau Apakah logistik sudah cukup?, tetapi juga mulai bertanya:  Apakah mata saya sudah dipersiapkan?

Sebab perjalanan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari bisa terganggu hanya karena satu hal kecil yang sebelumnya tidak kita pikirkan. Dan bagi saya, mata adalah salah satunya.

Setelah beberapa kali mengalami mata perih di tengah perjalanan, saya mulai menyadari bahwa P3K yang selama ini saya anggap lengkap ternyata masih memiliki satu kekurangan. Bukan berarti setiap perjalanan pasti membuat mata bermasalah. Namun, pengalaman mengajarkan saya bahwa lebih baik membawa barang kecil yang mungkin tidak terpakai daripada membutuhkannya ketika sedang jauh dari rumah.

Obat tetes mata kini selalu masuk dalam daftar perlengkapan pribadi saya. Insto menjadi salah satu barang kecil yang tidak lagi saya lupakan saat menjelajah.

Insto, Bekal Kecil untuk Jelajah Alam

Sejak pengalaman mata perih akibat debu pendakian dan air laut, obat tetes mata kini selalu masuk daftar wajib di tas P3K. tetesin Insto Dry Eyes menjadi salah satu yang selalu kubawa karena praktis dan mudah digunakan saat mata terasa kering atau tidak nyaman akibat debu, angin, dan sinar matahari.

Ukurannya kecil sehingga mudah diselipkan di tas dan bisa digunakan kapan saja tanpa harus menunggu sampai kembali ke kota. Kini, obat tetes mata selalu masuk checklist packing-ku, bersama perlengkapan penting lainnya. Buatku, #InstoDryEyes membantu menjaga mata tetap nyaman dan mendukung target #BebasMataKering sepanjang perjalanan.

Sampai sekarang, setiap kali membuka galeri foto perjalanan ke gunung, laut, danau, hingga padang sabana, aku selalu ingat detail-detail kecil yang menyertainya: mata yang perih di tengah jalur berdebu, mata merah setelah berenang di laut, sampai kepanikan kecil karena kelilipan di tengah perjalanan.

Penutup, Hal yang Manis dari Setiap Petualangan

Dari semua itu, aku belajar bahwa menjelajah alam bukan hanya soal kaki yang kuat, fisik yang siap, atau perlengkapan yang lengkap. Ada hal-hal kecil yang sering dianggap sepele, tetapi bisa menentukan kenyamanan sepanjang perjalanan. Salah satunya adalah menjaga mata.

Sebab perjalanan sejauh apa pun akan terasa berbeda ketika kita bisa menikmatinya dengan nyaman. Pemandangan dari puncak, suara ombak di pantai, atau luasnya sabana akan menjadi kenangan yang jauh lebih indah ketika tidak harus diingat bersama rasa perih dan mata yang terus digosok.

Karena pada akhirnya, kita melakukan perjalanan bukan sekadar untuk sampai ke tempat tujuan, tetapi untuk mengumpulkan cerita yang suatu hari nanti layak diceritakan ulang. Cerita tentang gunung yang berhasil didaki, laut yang berhasil dijelajahi, dan mungkin juga cerita lucu tentang mata yang pernah kelilipan debu atau perih terkena air laut.

Jadi, kalau ada satu hal yang sekarang selalu kupastikan sebelum berangkat, bukan cuma sepatu, jaket, atau logistik. Aku juga memastikan ada perlengkapan kecil untuk menjaga mata tetap nyaman sepanjang perjalanan.

Karena petualangan yang paling berkesan adalah petualangan yang bisa kita nikmati sepenuhnya dengan mata yang tetap sehat, nyaman, dan bebas dari rasa perih. #MataSePeLeJanganSepelein.

Sebab cerita perjalanan memang layak diceritakan ulang. Tapi akan jauh lebih indah kalau yang kita ceritakan adalah petualangannya, bukan keluhan matanya.

Semoga tulisan saya menginspirasi, akhir kata Have a Nice Days.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer