Minggu, 15 November 2015

Membaca, Kenapa Malasnya?

membaca, kenapa malasnya?

Kali ini saya sedikit membahas mengapa masyarakat kita sangat malas dalam membaca menurut sudut pandang saya. Padahal membaca ibarat jendela awal mengetahui dunia. Akibatnya banyak penulis dalam negeri malas ikut berkreasi, terlebih sedikitnya minat kalangan masyarakat dalam membaca.
Rendahnya minat membaca masyarakat kita termasuk yang paling parah di dunia. Menurut survei yang dilakukan badan PBB yaitu UNESCO pada tahun 2011, mengejutkannya adalah minat baca masyarakat Indonesia adalah terendah nomor sekian kalah dari negara tertinggal di Afrika seperti Botswana. Di ASEAN pun peringkat Indonesia pun juga buruk, berdasarkan asumsi hanya ada satu orang yang mau membaca buku dari 1000 penduduk.

Efeknya terasa semakin kentara dengan rendahnya buku yang dibaca serta sedikitnya anak-anak yang suka membaca. Mereka lebih suka bermain game, menonton TV, berselancar di dunia maya dibandingkan membolak-balikkan halaman buku.

Apalagi berita dari televisi dengan mentah-mentah langsung diterima secara langsung oleh masyarakat kita. Maka semakin gampang termakan isu yang tidak benar tanpa menge-check terlihat dahulu keabsahannya berita. Akibatnya, sangat mudah terprovokasi.

Itu semakin berlanjut dengan perkembangan media yang lebih mengutamakan visual sejak dini. Untuk apa harus capek-capek membaca apalagi sudah ada dalam bentuk tontonan visual. Selain itu bukan prioritas utama saat memiliki uang lebih, masyarakat lebih memilih membelanjakan uang pada keperluan lain yang ia anggap saat perlu.

Buku prioritas yang ke sekian dan sekian banyak prioritas lainnya dan buku terlalu tebal terkesan tak punya waktu cukup buat menyelesaikannya jadi alasan yang logis. Itu pun berbanding dengan harga, semakin tebalnya buku maka itu sama halnya dengan harganya yang semakin mahal. Mau beli buku tetapi harus menahan kebutuhan lainnya seperti makan atau jalan-jalan. Hanya yang sangat hobi mau mempertaruhkan hal tersebut.

Menjadi dilema saat mau bikin badan perlu nutrisi atau kepala penuh imajinasi, sebuah pilihan saat salah satu harus memilih. Apalagi anak muda sangat mudah tergoda dengan berbagai kebutuhan konsumtif sehingga itulah kebutuhan membeli buku terkesampingkan. Miris bukan!!.

Hal lain yang buat masyarakat sedikit membaca buku pasti banyak buku-buku ternama yang sekarang ngetrend difilmkan. Karena minat visual masyarakat yang setiap hari menatapi kotak ajaib (televisi), itulah kenapa menonton jadi alternatif terbaik.

Selain itu menonton tak perlu menguras energi, itu urusan produser film agar penonton dengan syahdunya menikmati buku yang difilmkan. Tak perlu pusing mengimajinasikan cerita, atau sudah lupa karena belum sempat menamatkan karena kesibukan. Cukup ditonton, begitulah anggapan umumnya.

Sekarang buku yang terbit tak berapa lama langsung difilmkan di layar lebar dan juga sinema elektronik (sinetron).Walaupun sebenarnya menonton kita hanya melihat alur cerita dan karakter tak sedalam buku. Walaupun melalui film imajinasi tak meluber karena sudah digambarkan secara mutlak berbeda dengan buku yang membuat imajinasi antara pembaca satu dengan yang lain berbeda.

Kemudian timbul lagi kalangan yang punya banyak bermacam jenis buku tetapi tak punya waktu membaca adalah sesuatu yang wajar. Hal itu saya rasa juga pada korban, paling banyak hanya membaca judul berita atau headline tanpa mencerna secara baik.

Permasalahan timbul saat judul yang ditampilkan sedikit kontroversial, semua ikut terpancing dan emosi. Padahal terkandung makna dan pesan yang tersampaikan. Berkomentar dan mengkritik sebelum mencerna dengan habis serta tuntas, alhasil komentar miring yang datang.

Saya pun memperhatikan bagaimana watak sesuatu orang dan bangsa berdasarkan minat baca dan melek akan pengetahuan. Bangsa atau orang yang punya pengetahuan akan menyikapi masalah dan juga judul pemberitaan dengan secara bijak. Mencari cara terbaik dan informasi penunjang sebelum mengkritik.

Namun bila minat baca dan sangat gampang menyerap segala informasi secara mentah tanpa menilik ulang. Efeknya gampang sekali tertipu dan terprovokasi akan keadaan.

Bagaimana cara membangun minat membaca?
Saya rasa membaca bukan hanya sebagai hobi pribadi perorangan tetapi harus jadi hobi khalayak ramai pula. Pengadaan buku gratis, pustaka keliling dan harga buku murah belum menjamin masyarakat mau membaca. Saya menilai membaca sebuah pembiasaan dari dini, sangat sulit menyuruh orang membaca bila tak ada pembisaan saat masih kecil.

Membaca itu memberatkan apalagi bacaan yang dibaca punya bahasa yang sangat berat seperti diktat di perpustakaan. Hanya orang-orang yang terjebak untuk bisa menyelesaikan tugas kuliahnya harus rela membacanya.

Beberapa menit membaca, migran menghampiri dan 30 menit dibaca asam lambung naik dan 30 menit kemudian kantuk datang. Begitu beratnya karena bahasanya sangat sulit dicerna. Bukan maksud saya tidak menyukai buku-buku ilmiah berat, namun saya menyukai berbagai bacaan yang punya makna dan penyampaian masing-masing.

Buku-buku diktat sering dihindari selain bahasanya berat dan juga sulit diimplementasikan secara langsung. Butuh alat khusus dan pemahaman mendalam agar bisa diwujudkan. Berbeda dengan tips atau artikel sederhana yang gampang dicerna.

Itulah kenapa di pencarian Google, artikel yang mudah dicerna berada di halaman pertama pencarian Google dan pengunjungnya sangat banyak. Manusia ingin mudah mencerna segala informasi baru tetapi dalam kemasan yang mudah dan ringkas. Itulah mengapa artikel ringan lebih laku bak kacang rebus di musim hujan dibandingkan buku tebal di perpustakaan yang telah menguning.

Cara terbaik agar minat baca masyarakat naik adalah dengan buku yang mengandalkan tulisan dan keterangan visual. Kombinasi antara keduanya sangat bagus agar minat baca meningkat, terlalu banyak gambar tidak baik dalam kemampuan referensi olah kata kelak serta otak malas berpikir keras dan keseluruhan kata akan cepat bosan.

Melalui sosial media kini, banyak yang mengembangkan minat baca masyarakat yang telah disingkat dan mudah dicerna. Nah.. itu salah satu cara menstimulasikan niat membaca, karena membaca dan rasa ingin tahu sifatnya candu. Bila ada cara yang tepat, maka akan muncul minat dengan sendiri.

Selain itu, terutama untuk anak-anak harus adanya target menamatkan buku bacaan dalam setiap semester. Ini tujuannya untuk menambah wawasan dan sebagai syarat kelulusan. Bukan membebani dengan PR yang menumpuk, karena PR yang banyak alhasil mereka menganggap membaca buku jadi hal yang menyeramkan. Membaca buku berarti sedang disuruh menyelesaikan PR.

Itulah kenapa membaca jadi sesuatu yang dihindarkan, padahal membaca adalah gudang ilmu. Saya rasa selain pembiasaan, mulailah menyuruh membaca bacaan yang disukai. Apalagi telah kehabisan bahan bacaan, maka kelak akan mulai muncul rasa penasaran dengan buku lintas genre lainnya. Ini cara terbaik membangun minat baca yang sempat tak mekar di usia dini.

Harus diingat, pribadi yang cerdas dan berwawasan luas sangat diperhitungkan untuk kemajuan bangsa serta dalam menyikapi berbagai jenis permasalahan sekitar yang ada. Tidak asal menerima tak mengoreksi terlebih dahulu. Pastinya itu didapat melalui menelusuri melalui bacaan yang punya referensi akurat bukan yang paling cepat.

Semoga memberikan inspirasi dan ayo sama-sama hilangkan kebiasaan malas membaca agar waktu lebih bermakna.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Punya hobi membaca, mengobsevasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat musik EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis