Sabtu, 23 April 2016

Stop Mental Block!

 Stop mental block
Ahhh... ngapain kuliah tinggi-tinggi dan mahal? nanti nganggur juga enakan kuliah di kampung terus dapat kerja. 
Kaum perempuan untuk apa sekolah tinggi-tinggi nanti juga jadi IRT. 
Ngapain sekolahin anak di bidang agama, nanti juga ngga tau kerja di mana bagus ambil jurusan yang gampang dapat kerja. 
Kamu mau ngajar buat anak-anak Sekolah Dasar, itu buang-buang waktu dan umur enak kerja di perusahaan besar. 
Kamu pun paras yang menjual, jadi model saja dibandingkan harus jadi wartawan.
Setiap hari hidup kita disuguhi oleh begitu banyak kata-kata mental block dari orang lain yang menganggap segala bentuk pencapaian serta yang kita lakukan selalu saja salah dan ngga tepat di mata mereka.

Bisikan dan ucapan itu membuat diri kita sedikit bergumam: layakkah aku seperti ini? Apa aku harus memilih jalan lain atau mengikuti jalan ninjaku? *Ngga Nyambung*

Kata-kata mental block yang orang lain ucapankan, sudah jauh-jauh hari sebelumnya dipertimbangkan matang-matang oleh otak kita. Secara garis besar, otak kita terbagi dua bagian besar yang saling berbeda yakni otak kanan dan otak kiri. 

Otak kanan punya fungsi dalam menghasilkan pikiran-pikiran kreatif nan imajinatif dan otak kiri punya konsep berbeda yaitu menghasilkan hal-hal berbau logika, argumen dan matematis.

Saat otak kanan secara spontan punya pikiran imajinatif, kemudian otak kiri merespon balik apakah ini layak dipertimbangkan obsesi khayalan semata. Setelah proses lebih lanjut, barulah ide yang digagas dilimpahkan ke hati. 

Makanya kata hati mengalahkan kekuatan logika otak kiri, bila hati klik langsung diberi impuls seluruh anggota badan supaya segera dieksekusi. Pada titik ini kamu telah mampu melewati mental block di dalam diri kamu sendiri.

Dulu saat di pondok pesantren penulis juga pernah dapat wejangan dari pengajar di sana, beliau berkata bahwa tubuh kita ini ibarat sebuah kesatuan kerajaan utuh yang punya berbagai ahli dengan tugas masing-masing. 

Otak sebagai raja dan ratu yang saling bersama-sama menjaga marwah kerajaan agar tetap terpandang, hati bertugas sebagai perdana menteri yang memutuskan segala macam kebijakan yang raja dan ratu pikiran apakah bermanfaat atau bermadharat buat kemajuan kerajaan.

Mereka saling berdiskusi bersama baik pikiran (otak) dan hati secara hangat dan diplomatis.  Lalu bagian tubuh lain seperti kaki dan tangan adalah anggota tentara serta rakyat yang siap menerima segala yang pemimpin mereka berikan. 

Mereka tidak bisa melawan dan menolak karena mereka hanyalah suruhan yang siap setia selamanya, karena segala yang pemimpin mereka putuskan adalah hal terbaik untuk bangsanya.

Apa contoh mental block?
Kasus pertama yakni Bace adalah anak kurang mampu dan setelah kepergian ayahnya. Bace pun adalah tulang punggung keluarga untuk menghidup adik-adiknya. Di hati kecilnya Bace dia ingin sekali bisa sekali melanjutkan kuliahnya di kampus Harvard  di jantung Kota Boston. 

Dia sadar diri bahwa ke sana harus butuh kerja keras bersaing dengan mahasiswa seluruh dunia dan biayanya cukup mahal, sedangkan untuk menghidupi adik-adiknya dia harus kerja serabutan dan dia belum ada persiapan sedikit pun untuk bisa kuliah, hanya sebatas pergolakan di pikirannya. Hal dialami oleh si Bace adalah mental block serta dilema yang buat hidupnya terikat.

Kasus kedua Si Rojo adalah anak siswa termalas di kelasnya, setiap kali pak guru matematika mengajar dia selalu cabut kelas atau alasan sakit. Bila tak ada teman cabut, Rojo lebih baik tidur di kelas. 

Bukan karena Rojo membenci pak guru matematika yang mengajar tetapi saat melihat angka matematika langsung Rojo lemas kayak toge bakwan dan saat disuruh ke depan menyelesaikan soal tubuh Rojo kaku nyaris beku tak tahu harus menulis apa.

Di akhir semester nilai matematika Rojo selalu saja berwarna merah, namun Rojo punya cita-cita jadi akuntan handal namun benci matematika. Berarti Rojo bukan mengalami masalah mental block tapi mentalnya goblok. Punya mimpi tapi ngga mau melewati hal yang sulit untuk menggapai impiannya.

Apakah dampak menuruti ajakan mental block?
Kadang sih hidup kita terlalu banyak dipengaruhi oleh segala macam ucapan orang lain yang menganggap segala yang kita lakukan akan berakhir pesimistis. Ada teman penulis yang sekarang sedang melanjutkan studi ke timur tengah belajar ilmu agama, banyak orang yang pesimistis dan berpengaruh sedikit pada mentalnya.
Ngapain studi ke timur tengah jauh-jauh, nanti susah jadi PNS. Paling ngga jadi ustad ngajar anak-anak pesantren. 
Memang yang kuliah di jurusan jempolan di dalam negeri semuanya kerja? Malah yang nganggur lebih banyak berseliweran buat jalanan macet.
Kadang rezeki itu bisa datang dari hal yang ngga kita duga yang telah Allah berikan merata di bumi dan langit. Saat itulah pikiran kita bergejolak dengan namanya mental block mencari zona nyaman dan mendengarkan kata-kata pesimistis.
Menurut hemat penulis mereka telah gagal dulunya sehingga menyuruh yang orang lain lakukan kini dianggap beresiko hingga kembali gagal seperti dia dulu pernah mencoba. Saat kita berhenti sebelum mencoba berarti kamu berhenti lebih dulu sebelum menjadi orang sukses. 
Baca juga: Energi Negatif Menular
Ulama dan ilmuwan dulu juga bergejolak dengan hal yang sama yakni mental block. Para ulama dari Timur Tengah yang ingin pergi ke nusantara juga mengalami hal yang sangat berat.

Mereka berpikir bagaimana ke negeri yang jauh harus naik kapal berbulan-bulan melawan ombak yang ganas, meninggalkan sanak-keluarga, kekurangan persediaan makan dan sesampai di tanah air mungkin bisa ditolak oleh masyarakat sekitar. Bila para ulama takluk oleh kata-kata mental block mungkin kini kita masih menganut paham animisme. Sungguh besar perjuangan ulama dulu.

Ilmuwan juga mengalami hal yang sama, hidup berpikir begitu lama dengan teori yang membayangi pikiran mereka berlarut-larut lamanya hingga banyak yang menganggap itu ide gila, ngga masuk akal dan yang ilmuwan lakukan hanya buang-buang waktu saja. 

Saat eksperimennya berhasil langsung deh para pengkritik gigit jari dan menyesal atas segala kritik yang dilancarkan kepada para ilmuwan. Hingga kini kita mendapattkan begitu banyak manfaat yang dilakukan oleh ilmuwan terdahulu.

Hidup ini terlalu naif bila kita menuruti atau kalah oleh mental block. Kita punya begitu banyak sumber daya yang diberikan oleh Allah baik pikiran, tubuh yang memadai serta semangat. Lalu harus kalah oleh kata-kata:
Aku ngga bisa, Aku ngga mengerti, Aku orang kurang mampu dan datang dari kampung, Aku ngga percaya, Mana mungkin dia mau sama aku, dan semua itu mustahil bisa terwujud
Kata-kata kampret itu terekam dalam pikiran kita dan membuat kita kalah duluan oleh diri sendiri bukan kalah dari orang lain.
Terlalu mendengarkan kata-kata mental block membuat segala yang sudah kamu rancang hanya jadi wacana semata, tapi kita butuh hal yang lebih dari wacana yakni realita
Bila sudah melewati mental block, apa yang harus kita persiapkan?
Setelah melewati mental block banyak sekali godaan lain yang menghadang yang membuat kita merevisi apa yang kita idam-idamkan sebelumnya. Misalnya dulu niat banget beli Laptop Gamer AlienWare buat gaming namun setelah sekian abad lamanya menabung. 

Di tengah jalan muncul godaan begitu kuat buat beli laptop keluaran Tiongkok yang harga separuh dari laptop yang kamu idam-idamkan. Setelah kamu beli kamu malah kecewa dengan performanya dan ingin laptop game Alienware lagi kamu harus nunggu lama lagi. Andai sedikit saja mau bersabar.

Kasus kedua yakni kamu pengen banget melanjutkan studi ke benua Eropa, dengan persiapan persiapan bahasa selama sekian windu lamanya akhirnya syarat untuk bisa kuliah ke luar negeri mampu tercapai, walaupun di negara berkembang yang syarat bahasa Inggris tidak terlalu ditekankan. 

Kamu sudah cukup lama menunggu teman sebaya kamu sudah banyak yang berangkat, mau ngga mau kamu mengaburkan mimpi utama kepada mimpi selingan yang ngga tahunya saat kuliah di negara tersebut. Andai aku sedikit bersabar mungkin hasilnya lain. Karena yang merasakan diri kita bukan orang lain.
Mental block ngga cuma saat kamu sudah di tengah jalan, kemudian mundur atau mencari impian lain yang lebih rendah dan cepat dibandingkan impian awal kamu. Karena kamu kurang sabaran
Siapa saja yang sering mengalami mental block?
Semua orang pernah mengalami mental block, semakin banyak impian yang kamu inginkan semakin banyak pula kemungkinan pergolakan mental block terjadi. Sebenarnya hidup berada di “zona nyaman” cenderung sangat minim mengalami kendala mental block, mereka selalu menjauhi segala sesuatu yang mereka rasa sulit dan banyak tantangan yang menghasilkan mental block nantinya.

Profesi yang sering mengalami mental block adalah profesi yang penuh tantangan, deadline dan banyak tekanan. Di jamin mental block sudah jadi makanan sehari-hari yang harus dihadapi. Salah satu profesi yakni jadi seorang penulis, setiap mau nulis pikiran langsung buntu dan bingung mau mulai dari mana. Hal seperti itu lebih dikenal dengan istilah writer block.

Bagaimana cara menghidupkan cita-citamu?
Semua kita punya cita-cita dari kecil akan tetapi sejak menginjak dewasa banyak yang bergumam: Aah.. ngga mungkin, sudahlah!!! Jalanin saja yang ada dan mampu dicapai.
Selalu ingat mimpimu akan terwujud asalkan berusaha lebih, dan jangan lupa catatlah segala mimpimu di secarik kertas. Untuk apa? Biar saat kamu merasa buntu dan ingin menyerang dengan segala tantangan yang ada. 

Kamu sadar di waktu itu (read: saat membaca secarik kertas berupa mimpi), tanpa disadari membuat kamu kembali kuat untuk bangkit meraihnya selagi mampu. Bila mimpi kamu bisa tercapai, sungguh nikmat dan jadi lucutan diri untuk bisa menggapai mimpi lain yang masih tertunda.

Jangan sampai kamu menua kemudian hanya tinggal di rumah menghabiskan masa pensiun tanpa ada tenaga sambil menatap di jendela melihat manusia-manusia muda lainnya tanpa pernah mewujudkan mimpi yang di masa muda gagal tercapai. 

Selagi muda ngga ada salahnya untuk mencoba sebelum masa tua datang, kamu bisa pamerkan dan ceritakan pengalaman kepada anak cucu bahwa dulu kakek/nenek berhasil mewujudkan apa yang pernah diimpikan. Sungguh indah, oleh karena itu stop mental block!!!

Semoga memberi inspirasi dan pencerahan, bye.
Share:

6 komentar:

  1. saya ga mau seperti si rojo mas..
    bermental go blok..
    hahahaha...

    ulasan yang keren dan detail..
    saya suka artikelnya..

    jadi semangat lagi buat nulis ini..
    yeaaa...

    BalasHapus
  2. Iya mas, kita punya banyak mimpi tapi kalah dengan namanya mental block & mental go blok..
    Ayo semangat nulis mas, ntar gantian saya baca serta komentari.. hehe

    BalasHapus
  3. Pasti akan ada yg berkomentar sinis thdp apapun yg kita lakukan.akhirnya kita gak akan pernah lakukan apa2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. ibarat pepatah ayah, anak dan keledainya. Segala sesuatu hal yang mereka lakukan selalu saja salah di mata orang lain. Ada baiknya percaya pada diri sendiri bahwa yang kita lakukan benar

      Hapus
  4. The power of mouth. Terlalu bahaya untuk mimpi ganas pemuda. Tapi kadang menjadi malapetaka apabila keluar dari mulut orang tua. Yakin apapun mimpi itu, tetap on the track. Yakni jalan Allah Yang Maha Melihat usaha kita.
    Ulasan yang baik brother.

    mfauzannur.blogpsot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak impian kita yang mati sebelum berkembang menjadi benih kenyataan salah satunya faktor orang tua tak mengizinkan. Cara terbaik hanya meyakinkan sepenuh segala sesuatu kamu impian itu baik dan tidak keluar jalur.

      Hapus

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Jadi Jutawan Cuma Modal Nulis