Sunday, December 18, 2016

Media, Rela Viral dari Pemberitaan Negatif Orang lain

Beberapa hari yang lalu ada berita yang menggegarkan jagat Blogger. Salah seorang Blogger beauty ternama tanah air meninggal dunia. Tak berapa lama kemudian muncul berita tak mengenakkan beredar di media massa dan langsung viral. Judul yang diangkat sangat tak berperikemanusiaan dan bernada negatif.
Cara media massa ingin beritanya ramai dibaca dan viral, apalagi pengaruh judul pada tulisan punya indikator pengaruh kuat yang membuat pembaca penasaran. Begitu banyak tertarik membaca dari judul dan ada pula yang terprovokasi karenanya.

Akibatnya media massa yang rela membuat judul yang buat korban atau orang dekat yang terliput media merasa terpojok. Sanak dan keluarga merasa terusik dengan pemberitaan miring dan itu semua bertujuan agar viral dan jadi konsumsi publik. 
“Seandainya judulnya datar-datar saja, “ngga ada gregetnya” siapa yang baca. Tak apa mengirim pemberitaan negatif, yang penting beritanya banyak yang baca”

Pengalaman ini mengingatkan saya pada cerita lama saat salah seorang dosen di kampus saya mengalami musibah. Saat beliau meninggal, begitu banyak pemberitaan miring dan seakan memojokkan. Pemberitaan media yang umumnya negatif berhasil dipercayakan oleh banyak orang dan  dengan cepat menyebar luas.

Padahal berita tersebut bohong dan mengada-ngada, saat diklarifikasi berita sudah tersebar luas dan banyak percaya yang pertama sekali didengar. Keluarga dan orang terdekat merasa dirugikan, sedangkan korban namanya tercemar oleh media massa.

Ada pula video dan sejumlah foto korban yang lalu disebarkan ke sosial media, Saya merasa tak enak dan ini sudah level keterlaluan, Bagaimana kalau kejadian atau pemberitaan itu terjadi pada sanak keluarga dan teman anda?

Akses mudah mendapat sejumlah informasi kini, acap kali menimbulkan sejumlah pemberitaan negatif. Efek dari opini negatif berkembang di kalangan masyarakat menjadi viral dan tertanam di dalam pikiran mereka. Lebih parah lagi bila langsung dipercaya, sesuatu yang viral bukan berarti paling benar. Bisa saja hoax yang direkayasa dikemas sedemikian rupa dan menjadi menarik.

Secara tidak langsung manusia lebih cepat merespons nada-nada negatif walaupun masih sebatas dugaan. Saya pribadi termasuk sering menyaksikan dan membaca berita yang disajikan terkesan berlebihan. Salah satunya mengenai berita kriminal yang sangat banyak mengangkat kasus korban pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, pem-PHP-an, dan kejahatan lainnya.

Sudah pasti judul yang dibacakan oleh pembawa acara tak jauh-jauh dari kata-kata tegas dan intonasi tinggi, misalnya: “Tewas Mengenaskan” “Tewas Dibacok” dan Tewas Gantung Diri.

Walaupun penyebab orang yang menjadi korban masih belum jelas, tetapi selalu ada intonasi, tanda seru dari kata-kata tersebut seakan tertanam bagi yang mendengar atau membaca. 
Baca juga: Energi Negatif Gampang Menular Lho!

Cara itulah yang sedikit banyak dipakai media untuk menaikkan berita yang mereka angkat. Secara tidak langsung berita yang baik-baik saja respons masyarakat seakan kurang. Salah satu mendapatkan viral salah satunya dari musibah orang lain dan judul yang kontroversi.

Cara yang sering dipakai dalam alur penyebar berita viral hoax negatif seperti ini:
Mengangkat berita dari musibah orang lain > berita jadi sensasional > masyarakat percaya > Jadi viral > Si pembuat atau media pembuat berita mendapat keuntungan

Awal mulanya adalah ada berita musibah yang terjadi pada orang lain. Segala hal dikaitkan, misalnya dari depresi, bunuh diri dan sebagainya. Media terasa yang haus berita pun mengangkat kasus tersebut. Untuk bisa viral, caranya melalui judul yang menarik lagi sensasional, walaupun belum benar dan masih dugaan awal.

Sudah pasti banyak yang terpengaruh dan penasaran, dalam hitungan beberapa saat berita tersebut jadi viral. Hasilnya media tersebut mendapatkan banyak trafik dan share dari pembaca walaupun dari itu datangnya berita musibah orang lain. 
Ah... bodo amat!!! Yang penting viral

Untuk itu kita selaku netizen dan pengakses internet bisa menghalau berita tersebut jadi viral dan merugikan korban. Pihak-pihak tersebut merasakan hal yang setimpal akibat pemberitaan hasil blow-up dengan alur seperti ini: 
Mengangkat berita dari musibah orang lain > tak jadi berita sensasional > masyarakat skeptis > masyarakat dan korban mengadukan ke pihak berwajib > media diproses hukum.

Saat awal mulanya berita diangkat terutama mengenai menyangkut musibah orang lain, masyarakat sudah cerdas menyikapi. Alhasil berita tersebut tidak viral di media akibat masyarakat berpikir skeptis pada hal tersebut. Malahan masyarakat selaku netizen malah balik melaporkan ke pihak berwajib sebagai bentuk simpati kepada korban, karena beritanya seakan di blow-up. Akhirnya media atau penyebar secara individu diproses hukum. Atau media tersebut diboikot oleh para pembacanya sebagai bentuk protes. Cara biar mereka kapok!!

Nah, untuk bisa terhindar dari berita yang merugikan pihak-pihak tertentu. Berikut ini cara yang bisa digunakan tak gampang termakan berita hoax musibah yang menimpa orang lain, lalu menjadi viral. Inilah beberapa caranya:

Pertama, tanyakan kepada orang terdekat atau yang kenal langsung dengan korban. Apa yang disampaikan oleh orang terdekat sering beda dengan pemberitaan media. Mereka lebih tahu kronologi kejadian dan bukan menyebar dan viral secara asal-asalan.

Jadikanlah orang terdekat dan pihak berwajib yang memproses kasus sebagai acuan, bukan berita simpang-siur media.

Kedua, lihat media apa yang menyebarkan, umumnya banyak media abal-abal atau yang sudah lama punya reputasi buruk dalam mengangkat berita sensasional yang sudah diblow-up sedemikian. Track record jadi alasan pembaca harus berpikir dua kali mempercayai media tersebut.

Alih-alih hanya membaca satu media massa, sebaiknya cari dari sejumlah media sebagai perbandingan. Bila tak puas juga, sejumlah Blogger kadang juga sebagai pembeda dan pemberi opini. Apalagi pendapat mereka yang jujur dan tidak mencari keuntungan.

Ketiga, secara broadcasted (berita berantai), cara ini termasuk mudah misalnya melalui sosial media atau sosial messanger. Berantai dan kemudian viral. Cara seperti ini sering digunakan karena lebih mudah berkembang apalagi masih ada istilah ngehe seperti: 
Sebarkan, jangan berhenti di kamu!!

Berita yang heboh sensasional dan menjadi viral akibat musibah yang menimpa orang lain seakan setengah-setengah. Pembuat berita sengaja membuat berita tidak utuh dan menjadi judul berita lainnya. Ada pula yang memakai strategi beberapa halaman, tujuannya adalah trafik media online tersebut meningkat.

Bila barangkali mau viral, maka viral-lah cara positif dan sewajarnya, bukan mencari sensasi. Lebih baik menulis yang positif dan tak viral memang karena informasinya unik. Bukan mencari sensasi yang berakibat merugikan orang lain.
So... semoga bermanfaat dan memberi pencerahan dan Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer