Thursday, February 16, 2017

Acara-Acara TV yang Terlalu Membosankan


Bingung cara membunuh rasa bosan apalagi kouta mendadak habis, saya pun memilih menonton TV untuk mencari tayangan yang bisa membunuh rasa bosan. Well... setelah sekian lama menghabiskan waktu buat memencet remote televisi hingga jempol sakit. Akhirnya tak ada acara TV yang menarik. Apa boleh buat, terpaksa harus menonton sejumlah acara yang random.

Setelah diperhatikan sekian lama menonton, saya mengambil kesimpulan hasil dari menonton TV lokal. Mungkin banyak yang sepakat bahwa kualitas tontonan TV lokal sudah sangat menurun. Sejumlah acara random menghiasi televisi lokal, berbeda dengan televisi berbayar. Andai sanggup bayar, cukup pilihan acara sesuai keinginan dan dijamin pas sesuai pilihan.
Saat ini acara televisi lokal selain mutunya menurun dan  melambat, segmennya mulai tergerus sebagai yang paling terdepan dalam memberikan informasi. Itu terlihat semenjak internet dan sosial media berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir.

Nah... bisa dilihat dari riset tersebut, pangsa pasar televisi hanya 36%, artinya hanya sepertiga yang masih memperhatikan TV. Bukan tidak mungkin televisi hanya sebagai barang elektronik pajangan di rumah kita. Hanya waktu yang bisa menjawab.  
Ini yang terjadi selama satu menit di sosial media.
Di dukung kemajuan smartphone dalam memudahkan segala hal dan terkoneksi secara langsung dengan internet, membuat penggunanya bisa mengakses sesuai keinginannya. Selain irit waktu, pengguna smartphone atau laptop lebih mudah dibandingkan televisi yang tidak bisa di bawa ke mana-mana.

Mengakses segala berita secara online jadi lebih gampang melalui gawai seperti smartphone dan laptop. Bermodal kouta internet, anda bisa menonton atau tahu berita yang dimau tanpa harus menunggu lama iklan atau menonton acara yang tak anda suka terlebih dahulu.

Faktor lain khususnya acara di TV lokal begitu monoton hingga mereka kalah bersaing. Sejumlah tayangan menarik mengharuskan pemilik banyak pindah ke televisi berbayar. Hasilnya televisi lokal hanya menyisakan acara yang kurang menarik dan bermutu.

Saya pribadi menganalogikan dalam bentuk daerah akan jumlah menonton TV. Daerah itu terbagi tiga yaitu A, B dan C sesuai dengan menghabiskan waktu di depan televisi.

Pertama adalah daerah A, ialah daerah yang mulai meninggalkan waktu menonton televisi, menggantinya dengan sosial media sebagai sumber informasi. Daerah tersebut umumnya daerah urban perkotaan yang memiliki akses internet cepat. Masyarakat hanya ingin mengakses informasi tanpa harus menonton televisi cukup dari gawai pribadi mereka.

Masyarakat di daerah A hanya memilih apa yang mereka tonton dan tidak, bukan sebagai sebuah skala prioritas. Misalnya pertandingan sepak bola atau acara lain seperti sulit diabaikan seperti Headline News, selebihnya cukup diakses melalui gawai masing-masing.

Kedua ialah daerah B, segmen daerah yang berada di tengah-tengah antara televisi dan internet lumayan berimbang. Masyarakat masih menganggap peran televisi bisa tergantikan namun tidak menyeluruh dan sebahagian masyarakat sudah menjajaki internet serta aktif di sosial media.

Daerah kota kecil menganut konsep ini, karena masih begitu terbatas sehingga mereka menggabungkan keduanya. Kalangan anak muda di daerah tersebut mulai melirik internet sebagai akses informasi sedangkan kaum tua yang masih mendewakan televisi.

Terakhir ialah daerah C, pada daerah ini masih menganggap televisi sumber informasi segalanya. Apa saja yang ditonton langsung mudah ditelan mentah-mentah, mulai dai bangun tidur hingga tidur lagi. Tak heran anak-anak kecil dan ibu-ibu mendewakan semua idola yang mereka tonton di layar kaca setiap hari.

Bukan hal aneh saat anak-anak di daerah tersebut hafal percakapan sinetron yang tonton semalam, atau gaya tokoh idamannya untuk ditiru di sekolah. Sejumlah jargon iklan yang berseliweran yang diputarkan saat jeda, secara tak langsung itu membekas di otak khususnya anak-anak.

Untuk koneksi internet,  jangan diharap banyak. Kadang hilang, namun tak tahu kapan muncul lagi. Berbagai program pemerintah seperti internet masuk desa seakan membuat masyarakat yang di daerah C mulai melirik tontonan selain di TV di masa akan datang. Andai pihak televisi lokal khususnya harus tidak berbenah, bisa saja televisi harus kehilangan pelanggan mereka.

Memang bukan berarti acara di televisi buruk semua atau yang ada di internet semuanya bagus. Itu lebih bagaimana konsep yang dirancang, bukan hanya mementingkan rating dan hiburan semata. Namun menanamkan nilai-nilai edukasi di dalamnya setiap acara.

Berikut ini sejumlah acara random di TV lokal yang bikin kalian yang menonton terasa begitu eneg dan membosankan saat melihatnya, penasaran? Cekidot:

Acara gosip murahan, sudah dari dahulu gosip khususnya masalah artis punya porsi jam tayang besar. Mulai dari siklus si artis jatuh cinta, pacaran-putus, back street, nikah, dan cerai selalu menghiasi sejumlah infotaiment. Di waktu siang menjelang sore, hampir semua TV lokal memutarkan infotaiment.
Di balut sedemikian rupa menjadi tontonan yang menarik. Segmen yang dicari adalah ibu-ibu sehingga mereka lupa masak buat suami, asyik terpaku menonton acara perceraian sang artis. Well.. bukan hal aneh saat kita lebih hafal permasalahan artis terbaru.

Acara kriminal, umumnya berita kriminal seperti kasus korban pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, dan kejahatan lainnya. Dibalut kata-kata paranoid, tegas dan intonasi tinggi yang dibacakan oleh pembawa acara. Misalnya: “Tewas Mengenaskan” “Tewas Dibacok” dan Tewas Gantung Diri.

Jelas-jelas kata tersebut membuat pendengar dan penonton merekamnya, apalagi acara kriminal sering tayang di siang hari. Walaupun penyebab orang yang menjadi korban masih belum jelas, tetapi selalu ada intonasi, tanda seru dari kata-kata tersebut seakan tertanam bagi yang setiap hari menonton.

Sinetron tak tamat-tamat, sejumlah stasiun televisi ada tayangan yang tidak tamat-tamat. Mula-mulanya alur ceritanya jelas dan terarah. Namun sering berjalannya waktu, cerita mulai ngawur dan meluber ke mana-mana. Penulis skenario seakan tidak mempersiapkan alur cerita matang atau tidak, lebih kepada bagaimana penonton tetap bisa menonton sinetron setiap harinya.

Alur cerita yang umum dari sinetron Indonesia pasti pemain utamanya mati dan kemudian hidup kembali atau konflik muncul dan hilang lagi. Scene yang paling sering adalah suara hati pemainnya sampai kedengaran oleh penonton di rumah, zoom setiap wajah pemain dan ditutup dengan slow motion bersambung.

Karena ratingnya tinggi (bisa jadi penonton di rumah tak ada tontonan lain) sinetron tersebut tetap tayang. Malah seakan kejar tayang, pengambilan gambar yang buruk dan teks yang itu-itu saja buat tayangan TV lokal semakin tak berkualitas.

Reality show settingan, Acara reality show kini menjadi konsep yang paling banyak ditawarkan di televisi saatnya. Mulai dari aktivitas artis sehari-hari, pencarian bakat hingga masalah problematika percintaan anak muda.

Misalnya masalah percintaan anak muda dibahas dan dipertontonkan ke publik. Jelas-jelas hanya pasangan yang nyeleneh lagi aneh mau masalah pribadi mereka dibongkar ke hadapan publik. Namun karena setting-an dan dibayar mahal, itu bukan masalah.

Selain gampang karena live, jadi tim kreatif tak perlu repot-repot harus mengedit-edit. Dampaknya banyak yang lolos sensor seperti perkataan mereka yang jadi target acara reality show tersebut.

Mereka yang paling kasihan adalah penonton yang kurang tahu, bagaimana perasaannya saat acara yang bisa ditonton seru ternyata setting-an atau rekayasa semata. Kejadian itu yang mengada-ada secara tidak langsung dapat mencuci otak, terutama anak kecil yang gampang banget percaya. Pasti secara tak langsung ia akan kecewa di masa depan.

Ini mengingatkan saya mengenai kepercayaan akan gulat penuh trik bernama Smack Down. Lawan dipukul dan ia mengeluarkan jurus Smack. Hasilnya musuhnya yang sudah dipukul babak belur bisa bangkit dan mengalahkan jagoan. Jelas-jelas hanya setting-an saat saya beranjak dewasa. Di dunia nyata cukup sekali pukulan, lawan bisa langsung tumbang atau bahkan mati.

Lawakan basi, rayuan gombal pada acara lawakan atau opera di TV terlihat begitu sangat dipaksakan. Penonton di panggung yang terlebih dahulu sudah dibayar untuk tertawa agar lawakan pemain opera tersebut terdengar lucu.

Tak jarang sering menggunakan fisik lawan mainnya sebagai barang ejekan, penonton yang ada di panggung juga sudah dibayar mulai dari tertawa, tepuk tangan hingga aksi teatrikal lainnya. Mereka lebih dahulu dipandu oleh penanggung jawab acara sesuai arahan. Lumayan masuk TV dan dibayar ujar penonton bayaran.

Berita yang memprovokasi, akhir-akhir ini pemberitaan politik sedang panas-panasnya. Semua yang menonton berita akan dengan mudah tersulut, media yang bertujuan memberikan informasi malah bertindak provokatif dengan memojokkan pihak yang berseberangan dengannya.

Media bukan lagi sebagai pemberi informasi terbaik tetapi lebih pemberi rating yang tinggi dari berita negatif yang mendadak viral. Keuntungan pihak stasiun atau media didapatkan, sedangkan masyarakat yang dengan mudah akan bermusuhan dan menimbulkan sejumlah kebencian.

Saran saya pribadi, sebaiknya anda hindari acara televisi yang memprovokasi dibandingkan bisa membuat hati panas. Bukan berarti harus mempercayai hanya di sosial media saja, namun semua sumber apakah informasi yang berkembang benar dan bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi banyak yang memanfaatkan untuk keuntungan suatu kelompok.

Maksud tulisan buat mendiskreditkan salah satu pihak TV, namun sejumlah acara TV lokal mutunya semakin menurun harus ada pembenahan ke arah yang lebih baik. Pihak TV harus mau belajar akan kebutuhan masyarakat dengan menciptakan acara yang lebih bermutu dan bernilai edukasi. Agar tak mau pangsa pasar mereka semakin tergerus dengan perangkat lain yang lebih memudahkan di masa depan.

Semoga memberi pencerahan dan ayo berpikir jernih, guys.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer