Minggu, 24 Juni 2018

Kecerdasan Buatan dan Sepak Terjangnya dalam Menulis


Tahun 2016 publik Jepang sontak terkejut, salah satu karya novel hasil buatan kecerdasan buatan (AI) bisa masuk ke dalam nominasi anugerah sastra terbaik. Banyak yang tidak percaya bagaimana sebuah AI berbasis komputer berhasil membuat novel. Genre yang dipilih oleh AI tersebut adalah cerita fiksi ilmiah, sangat sesuai dengan latar belakangnya. 


Di Jepang ada sebuah penganugerahan karya sastra terbaik bernama Nikkei Hoshi Shinichi Literacy Award. Nama tersebut sendiri diambil dari salah seorang novelis ternama Nikkei Hoshi Shinichi Jepang yang banyak menghasilkan banyak karya di bidang fiksi ilmiah. Pada proses penilaian naskah di tahun tersebut, melibatkan 1.450 karya dan 11 di antaranya dibuat dengan program kecerdasan komputer berbasis AI. 

Saat proses seleksi tahap awal, mengejutkannya ada salah satu novel yang dibuat oleh AI berhasil masuk nominasi. Meskipun harus tersingkir di tahap seleksi berikutnya. Novel tersebut berjudul The Day a Computer Writes a Novel. Ilham tersebut datang dari seorang Profesor di Future University Hakodate bernama Hitoshi Mitsubara mencoba mengembangkan novel ilmiah karya dengan menggunakan AI-nya. 

Memang setiap tahunnya Nikkei Hoshi Shinichi Literacy Award menerima karya terbaik yang bukan dihasilkan oleh manusia (termasuk di dalamnya hasil dari kemampuan AI). Si Profesor hanya bertugas menentukan judul, alur cerita, jenis kelamin tokoh, dan kosa kata yang harus digunakan. Kemudian tugas mandiri dilakukan oleh komputer, secara otomatis AI yang menyelesaikan cerita sesuai seleranya. Pastinya ia tidak ada typo dan bahkan tidak memerlukan proses editing karya.



Sesuatu yang mengejutkan untuk semua AI berhasil menyingkirkan sejumlah karya yang dibuat oleh manusia. Novel  tersebut mendapat pujian dari salah seorang penulis novel fiksi ilmiah bernama Satoshi Hase. Bahasa yang digunakan begitu baik dan mudah dicerna termasuk alur cerita yang disajikan. Walaupun pada penggambaran karakter tidak terlalu jelas dan kuat sehingga gagal memenangi Nikkei Hoshi Shinichi Literacy Award. Tetap saja itu sebuah prestasi sendiri AI yang terus berkembang di masa depan.

Kecerdasan buatan dan perannya di masa depan
Bukan sesuatu yang baru di era industri jilid 4.0 akan banyak pekerjaan yang digantikan oleh AI. Manusia pun harus mencari cara untuk tidak tergerus eksistensinya sebagai makhluk paling tinggi di rantai kehidupan. Salah satunya caranya dengan mengembangkan kreativitas unik dan spesifik, misalnya menjadi konten kreator atau bahkan posisi lainnya yang tidak bisa disaingi oleh AI.

Tetapi kecerdasan berhasil meniru apa yang dilakukan oleh manusia melalui proses belajar yang kontinu. Bencana dan malapetaka tersebut sudah di wanti-wanti sejak takluknya Garry Kasparov, seorang grand master catur oleh AI bernama Deep Blue dua dekade silam. Kini hampir semua bidang mulia dipelajari oleh AI tanpa terkecuali menulis novel atau karya tulis lainnya.



Banyak yang beranggapan bahwa AI akan menggantikan eksistensi manusia. Namun nyatanya tidak, malahan ia membantu manusia lebih produktif atau bahkan memudahkan kerja sehari-hari. AI bisa jadi solusi perubahan zaman yang serba cepat dan tepat.

Dalam menulis novel atau karya lainnya, yang paling lama adalah proses riset atau pengumpulan data. Adanya AI seakan membuat penulis bisa berkolaborasi dengan bahan yang ia inginkan. Ia tak akan kesulitan harus mencari banyak referensi yang memakan waktu karena semua sudah serba cepat.

Pada guru besar atau penulis dengan mudah tahu bahan apa yang harus ia masukkan di dalam karyanya. Cukup dengan menentukan ide, alur, dan bahan pelengkap. Semua jadi serba gampang. Tinggal AI yang mengolahnya jadi sedemikian rupa sesuai keinginannya. Manusia hanya bertugas mengedit hasil karya yang sudah dibuat oleh AI.

Sebagai contoh saat ini, misalnya saja aplikasi dengan konsep penerjemahan pada mesin pencari modern kini. Si manusia hanya membenarkan maksud yang ingin ia sampaikan sehingga bisa menghemat waktu menerjemahkan teks yang begitu tebal. Pastinya tugas manusia memperindah tulisan tersebut adalah tugas yang tak tergantikan oleh siapa pun dan hanya manusia yang mampu melakukannya.

Tak hanya itu saja, di dunia kepenulisan akan menghemat biaya. Sebuah novel yang dihasilkan dari proses riset kadang memakan waktu yang sangat lama. Belum lagi harus menyewa tim riset atau membaca buku yang berbeda jauh dengan penulis. Memang akan menambah pengetahuan si penulis, tetapi membuat ia tidak produktif dalam sebuah karya.

Selain itu tim riset sering keliru atau bahkan butuh koneksi yang besar untuk bisa mendapatkan data-data yang ia inginkan sebelum dituangkan pada sebuah buku. Adanya AI akan membuat proses jadi lebih cepat, ia akan mencarikan bahan yang diinginkan dan bahkan melakukan riset(melalui pencarian internet) akan data yang dibutuhkan. 

Saya juga mengibaratkan seperti mesin pengolahan yang mampu meramu sedemikian rupa. Si penulis ibarat koki yang menjaga kualitas makanan yang ingin ia sajikan kepada pelanggannya. Sehingga mereka bisa menikmati makanan yang super enak berkat bantuan pihak-pihak di belakang layar. Dan dia adalah AI....

Bagaimana pendapat Anda, AI jadi sebuah ancaman bagi para konten kreator atau malah jadi mempermudah proses kerja yang memakan waktu dan tenaga jadi sesuatu yang singkat dan mudah?

Silakan komentarnya dan semoga menginspirasi Anda semua.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email