Thursday, April 4, 2019

Kelezatan Cita Rasa Mie Aceh Di Pantai Barat Aceh

Pantai barat memang terkenal dengan keelokan pantai dan hamparan luas hutannya. Bukan hanya itu saja, salah satu yang paling identik dengan Aceh Barat yaitu daerah estuaria nan luas. Sangat mudah ditemukan beragam spesies estuaria seperti kepiting hidup di sana. Kadar garam yang rendah jadi lokasi mereka berkumpul selain dibalik teduh rimbunnya pepohonan nipah.

Masyarakat pun menjadikan sebagai mata pencaharian utama selain dari bercocok tanam di area persawahan. Ada dua pilihan berpeluh keringat di laut atau di air payau. Kepiting yang hidup di rawa punya kandungan protein tinggi, sangat lezat buat disantap dan dijadikan menu makanan. Jangan heran harganya sangat terjangkau karena begitu mudah menemukannya.

Daerah Aceh Barat punya karakter kuat seperti itu, ada banyak aliran sungai yang mengalir hingga bermuara ke lautan. Percampuran itu jadi fenomena yang jarang dilihat di daerah lainnya. Sekaligus membangun kembali Aceh Barat setelah bencana gempa dan tsunami 15 tahun silam.

Waktu berlalu dengan cepat, kini jalan transportasi di pantai barat sudah terhubung kembali. Geliat ekonomi masyarakat pun kembali hidup. Pantai yang dulunya sempat mati suri, kini menjadi sentra ekonomi menjanjikan. Masyarakat seakan mulai melupakan traumanya dan menganggap kembali lautan sebagai sumber pencaharian masyarakat. Ekosistem yang rusak pun kembali dengan caranya sendiri (suksesi). 
Salah satu daya tarik yang datang adalah Pantai Kuala Bubon, keindahan pasir yang putih dengan desiran angin pohon cemara sangat menggoda. Ada jembatan laying yang menambah indah daerah tersebut dan umumnya masyarakat di sana menggantungkan hasilnya dengan melaut. Kemudian ada infrastruktur baru berupa Pelabuhan Kuala Bubon sebagai denyut ekonomi masyarakat.

Selain hasil laut, hasil dari tambak juga punya nilai yang sangat menggoda khususnya kepiting. Bagaimana lezatnya bila dipadukan dengan makanan yang tepat, salah satunya Mie Aceh. Paduannya dengan mie kuning kiloan atau mie instan dengan racikan rempah-rempah khas Mie Aceh sangat menggoda siapa saja yang mencicipinya.

Salah satunya adalah warung kedai Mie Aceh yang ada di dekat Jembatan Kuala Bubon. Berada di jalan lintas Meulaboh – Banda Aceh. Menawarkan pemandangan yang menarik yaitu pemandangan rawa khas estuaria. Menu andalannya Mie Aceh dengan paduan kepiting segar yang menggoda, memang ada pilihan lainnya seperti mie daging, dan mie udang. Namun kepiting begitu menggoda karena dengan mudah ditemukan di sini. 
Antrean pengunjung yang datang dari Meulaboh dan sekitarnya adalah pelanggan paling banyak datang ke sana. Menu mie kepiting jadi sebuah pilihan karena cita rasanya serta rasa manis yang dihasilkan. Proses membuatnya tidak jauh beda dengan mie goreng umumnya. Pengunjung bisa memilih mie kuning yang berukuran besar atau mie instan.

Kemudian ia dimasukkan bersama di dalam kuali besar, dicampurkan dengan beragam bumbu khas. Salah satunya ada cita rasa rempah-rempah yang sangat kuat di dalamnya. Kemudian ada campuran beragam seperti racikan seperti bawang, tomat, sawi, hingga daun kol. Satu padu dan rasa di dalam mienya. Mie aceh yang paling saya sukai adalah yang memiliki banyak kue, karena bumbu khas rempah-rempah begitu kue. Seakan lidah tak pernah berhenti bergoyang karena kelezatannya.

Proses memasak kepiting pun tidak kalah menarik, awalnya pengunjung bisa memilih kepiting mana yang akan dieksekusi. Ia dibersihkan dengan sedemikian rupa sebelum nantinya dimasukkan ke dalam mie yang sedang dimasak. Kuatnya bumbu khas Mie Aceh seakan begitu menarik perhatian, termasuk gurihnya bau mie yang sedang dimasak. 
Kami datang sudah jelang siang hari, kondisi yang tidak ideal karena ada banyak pelanggan serupa menunggu pesannya. Perut yang belum terisi sejak siang hari ,mulai bersuara keroncongan. Sampai akhirnya menu itu datang, Mie Aceh khas udang dari pantai barat.

Hari itu saya datang bersama para petugas provinsi dalam kunjungan daerah terhadap sentra koperasi dan UMKM. Sebelumnya sejak pagi kami sudah berjalan-jalan ke daerah memantau, mewawancarai berbagai koperasi dan UMKM yang ada di Aceh Barat.

Perjalanan sejak pagi pun sangat melelahkan, hingga akhirnya rasa lapar karena matahari mulai mengarah ke barat. Tanda petak mulai datang, terlintas di dalam kepala lokasi makanan khas aceh yang menggugah selera. Satu nama terucap adalah kedai Mie Aceh yang ada di Jembatan Kuala Bubon sebagai jawabannya.

Satu porsi mie yang datang seakan memenuhi piring, seakan porsi besar yang mampu membalas keroncongan perut sejak tadi. Untuk urusan Mie Aceh, saya tidak suka yang terlalu pedas. Penjualnya pun seakan menyetarakan rasa dengan semua lidah. Mungkin hanya ada sedikit rasa pedas dari campuran rempah-rempah di dalamnya. 
Makan mie kepiting memang butuh keterampilan, bagi saya yang jarang makan kepiting sedikit kesulitan. Di setiap cangkangnya ada isi yang penuh dengan daging kaya protein. Akhirnya sepiring Mie Aceh berhasil berpindah ke dalam perut. Mungkin nanti malam saya tidak perlu makan malam lagi, satu porsi saja sudah sangat mengenyangkan.

Lokasi kedai mienya pun sangat menarik, ada pemandangan tambak udang dan kepiting di tengah rimbunan pohon nipah. Seakan ada sesuatu yang spesial di pantai barat, ada banyak peluang ekonomi berbasis wisata yang sedang dibangun di sana. 
Mungkin nama kopi khas Aceh Barat, Kupi Khop sudah melegenda sejak masa Teuku Umar. Kini ada banyak kuliner lainnya yang ditawarkan, salah satunya adalah Mie Aceh dengan taburan kepiting di atasnya. Akan ada banyak UKM kuliner yang terus menjamur di pantai barat nantinya.

Untuk urusan harga cukup terjangkau, hanya di banderol dengan harga Rp30.000. Harga yang puas dan mengenyangkan. Satu hal lagi adalah penuh dengan protein, tidak salah saya datang ke sana. Apalagi saat ke sana saya membawa rombongan dari Ibukota Provinsi. 
Semilir angin dari pepohonan nipah dan sepiring mie kepiting sudah mampu menjawab rasa penasaran mereka. Tugas pendampingan yang berlangsung seharian dan melelahkan berhasil dilupakan. Semua karena sepiring Mie Aceh dan segudang kenikmatannya. Siapa saja akan sulit menolaknya.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email