Friday, March 15, 2019

Bagaimana Wujud dan Penerapan Society 5.0?

Pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss melahirkan kejutan besar buat negeri matahari terbit. Itu disampaikan melalui Perdana Menterinya, Shinzo Abe. Bahwa Jepang akan melakukan disrupsi besar di dunia teknologi dan sisi humanisme.

Konsep itu dikenal dengan Society 5.0 yang mengedepankan dalam mengintegrasikan dunia maya dengan ruang fisik. Peran manusia di dalamnya sebagai pusat kontrol (human-centered) dan menghapus kesenjangan antar setiap manusia.
Ada banyak alasan Jepang menerapkan Society 5.0, jumlah penduduk mengalami penyusutan dalam beberapa dekade terakhir. Ada lebih dari 5 juta penduduk Jepang atau setara 26% yang berusia lebih dari 65 tahun, jelas saja akan berpengaruh pada sejumlah pekerjaan. Pemerintah Jepang memutar otak menghadapi itu semua, dengan sumber daya manusia yang sedikit Jepang tetap jadi cahaya Asia.

Mengapa jumlah penduduk Jepang menyusut drastis?
Pada beberapa dekade terakhir, ada banyak perubahan yang berpengaruh pada tatanan sosial Jepang. Penyusutan jumlah penduduk jadi salah satu masalah sosial yang datang. Salah satunya enggannya masyarakat Jepang menikah dan membina rumah tangga. Biaya hidup yang mahal dan komitmen setelah membina biduk rumah tangga menjadi satu dari sekian banyak alasan.
Belum lagi budaya Hikikomori, budaya menghabiskan waktu di dalam kamar dan anti sosial. Berdampak pada obesitas dan kematian dini. Serta budaya Hatabaraki Bachi (Workaholic) yang berakibat jam kerja berlebih. Bukan pemandangan aneh saat melihat warga Jepang tidur waktu bekerja atau di tempat umum.

Ada banyak faktor lainnya seperti bencana alam hingga tingkat kebahagiaan yang berpengaruh pada populasi masyarakat Jepang. Segudang masalah tersebut  membulatkan tekad pemerintah dan masyarakat Jepang menerapkan Society 5.0 sekaligus memaksimalkan potensi setiap masyarakatnya.

Jalan Panjang Revolusi Industri
Jalan panjang tersebut nyatanya di awali dengan Revin tahap 1.0, dimulai dari awal abad 18 saat penemuan mesin uap oleh James Watt. Sebelumnya konsep tersebut sudah ada di sebelum Masehi oleh ilmuwan bernama Hero. Namun di abad 18 jadi masa bahwa mesin mulai dipercaya dalam sendi kehidupan manusia.
Bermula dari Thomas Savery yang mengembangkannya dan dilanjutkan oleh Thomas Newcoman dalam desain mesin uap. Sampai akhirnya James Watt berhasil mematenkan kinerja mesin uap yang mengubah industri manusia ke arah lebih modern.
Mesin tersebut seakan menggantikan sejumlah peralatan manual yang berpatokan pada tenaga manusia dan hewan. Proses produksi meningkat tajam dan menguntungkan industri yang mengandalkan mesin. Setiap disrupsi nyatanya menghasilkan banyak dilema, ada banyak orang yang harus kehilangan pekerjaan saat itu. Mau tak mau harus mengikuti perubahan zaman yang sangat dinamis.

Lebih seabad lamanya, di awal abad 19 terjadi Revin 2.0 yang ditandai pemanfaatan dan pengayaan energi. Negara di Eropa dan Amerika berdampak besar dalam pemanfaatan energi dalam meningkatkan ekonomi. Tanda itu semakin kental saat perang dunia pertama meletus, bak sebuah pamer superioritas siapa yang paling kuat dan mutakhir memanfaatkan energi.
Ilmu seperti Albert Einstein dan Nikola Tesla sangat masyhur kala itu, ilmu mereka dalam penerapan energi seperti listrik begitu membantu hajat hidup orang banyak. Kemudian lagi kehadiran Henry Ford dalam menghasilkan kendaraan saat energi mulai dimanfaatkan dengan optimal. Masa awal inilah yang menjadi era awal manusia mulai banyak terpengaruh dengan mesin dan energi.

Lebih dari 5 dekade berlalu, seakan munculkan Revin 3.0. Semua diawali dalam penemuan komputer yang dikembangkan Alan Turing di awal tahun 40-an. Peran penting komputer mulai terasa setelah perang dunia II berakhir, yang awal mulanya hanya digunakan dalam dunia militer.
Komputer mulai Go Pubic dan menjadi industri menjanjikan, di awali oleh dua anak muda yang revolusioner dalam membangun dunia komputer. Steve Jobs bersama Steve Wozniak dengan perusahaan Apple dan Bill Gates dan Paul Allen dengan perusahaan Microsoft di akhir tahun 70-an. Mereka membuat inovasi dunia perangkat keras dan perangkat lunak yang mampu memudahkan pekerjaan manusia hingga saat ini.

Gebrakan di dunia komputer seakan berbanding lurus dengan makin berkembang dengan koneksi jaringan yang baik.  Di awali generasi awal 1G dengan kecepatan (2 Kbps) di tahun 1970 , 2G di tahun 1980 dengan kecepatan rata-rata (14,4 – 64 Kbps), kemudian 3G di tahun 1990 dengan kecepatan hingga 2Mbps. Kebutuhan internet berbanding lurus karena saat itu 4G lahir  di era 2000-an dengan kecepatan 200 Mbps. Sekarang sudah mulai memasuki era 5G yang kecepatannya ditaksir berkisar lebih dari 10 Gbps/detik.

Di era Revin 4.0, kehadiran mesin pencari seperti Google jadi awal langkah sebelum makin ditebarkan sayapnya saat gebrakan Facebook sebagai platform berbasis sosial media. Saat itulah dunia digital semakin terbuka dan akses informasi seakan tanpa sekat lagi.
Image result for revolution industry 4.0
Gebrakan di dunia gawai pun tak berhenti di situ, mungkin Apple jadi pendobrak di awal mula ponsel dengan teknologi layar sentuh. Seakan makin menunjang aktivitas dalam genggam tangan, mungkin kini ada beragam perkembangan yang sulit dibayangkan sebelumnya. Bisa saja Augmented Reality, Virtual Reality, hingga Hologram Reality.
Sadar akan energi terbarukan semakin diperlukan dalam hajat hidup masyarakat modern, Elon Musk lahir dengan segudang inovasi tak masuk akalnya. Mulai dari mobil listrik Tesla, GigaFactory hingga membangun kloni di Mars. Sejurus dengan pikiran Elon, ada juga Jeff Bezos selaku bos e-commerce terbesar di dunia.

Ia baru saja dinobatkan sebagai orang kaya sejagat karena bisnisnya dan menggabungkan teknologi. Peran Machine Learning dan AI sangat kental di dalam Amazon, sehingga layak perusahaannya menjadi salah satu penggerak Revin  4.0. 

Industri 4.0 dan disrupsi besar yang dilakukan

Ada banyak komponen yang bahwa sebuah bangsa dan perusahaan menerapkan Revin 4.0. Setidaknya ada 10 komponen yang mengalami disrupsi besar-besar dibandingkan era sebelumnya. Saya pun menganalogi beberapa contoh saja untuk saat ini, mungkin dulunya kita sangat mengandalkan penyimpanan dalam menyimpan data.

Disrupsi besar itu terjadi saat penyimpanan awan (cloud), segala data bisa disimpan secara real-time dan bisa diakses di mana saja bermodal internet. Tidak perlu lagi harus membawa flash disk atau hardisk yang gampang hilang atau rusak.

Pernah mendengar 3D Printing?
Proses mencetak yang serba 3D, berbeda jauh dengan cetak 2D di era sebelumnya. Manufaktur pun seakan melakukan disrupsi besar ini khususnya dalam menekan bisa yang dikeluarkan. Saat mencetak sebuah produk dengan tingkat ketelitian tinggi, pasti dibutuhkan proses yang teliti. Bahan yang tidak terpakai secara efisien sering jadi limbah yang tak terpakai.
Image result for 3d printing
Lalu ada peran Internet of Things (IoT) yang jadi kolaborasi manusia dengan benda di sekitarnya dengan teknologi. Mungkin dulu kita akan panik setelah sampai ke kantor ternyata lupa mematikan keran air, adanya IoT serta konsep Smart Home pengguna bisa mematikan keran air atau bahkan lampu yang tak terpakai dari jarak jauh. Termasuk mengontrol penggunaan energi serta pemanfaatan IoT di segala lini bidang.

Ada banyak teknologi yang diterapkan para revin, sudah pasti banyak yang mengalami disrupsi pada perubahan itu. Setiap era Revin mengalami hal serupa, dimulai dari lahirnya buruh tani yang harus pekerjaannya tergantikan. Di era Revin 1.0 jadi awal mula peran manusia tergantikan dengan teknologi, manusia yang tak siapa harus jadi korban keganasan tersebut dan hidup terlantar.

Loncat ke era Revin 2.0 ada banyak disrupsi, saya pernah membaca di Kota Mode Paris para pekerja yang harus kehilangan mata pekerjaannya. Saat itu para anak muda paruh baya memanfaatkan waktu luangnya untuk menyalakan dan mematikan lampu di setiap sudut kota. Fire lamp nama pekerjaan itu, setiap lampu yang berhasil dimatikan akan diimbali 1 Franc.
Bayangkan bila ada ratusan lampu yang berhasil dinyalakan jelang malam hari atau dimatikan pada pagi hari, anak-anak muda tersebut bisa kaya dari pekerjaan tersebut. Pengembangan listrik serta lahirnya inovasi lampu LED seakan menggerus pekerjaan ini, anak muda yang berada di zona nyaman tadi harus kehilangan pekerjaan sambilan mereka.

Lalu saat era telepon sudah berkembang pesat sebagai penanda Revin 3.0, ada banyak orang di belakang yang menyambungkan percakapan Anda dengan lawan bicara. Pekerjaan itu bernama Switching agent, hanya saja cara ini rentan kebocoran percakapan dari pihak Switching. Banyaknya jumlah pengguna telepon seakan pengembang membuat Mobile Switching Center (MSC) yang otomatis membaca lokasi orang yang di telepon melalui kode pemancar.

Di era Revin 4.0 akan ada banyak pekerjaan yang mengalami disrupsi, mulai dari teler bank, penjaga pintu tol, sopir hingga pekerjaan yang menyesalkan buat pemilik kendaraan (tukang parkir). Pekerjaan mereka akan terdisrupsi dengan adanya smart parking yang lebih aman dan aksi kurang bertanggung jawab tukang parkir.

Sudah ada tiga disrupsi yang terjadi sebelumnya, kini ada banyak disrupsi di Revin 4.0. Saat itu terjadi, pihak yang bekerja di sentra itu bukan melakukan penolakan dan bertahan dengan egonya. Melihat perubahan pasar dan keluar dari zona nyaman adalah cara terbaik.

Jepang dan gebrakan Society 5.0
Sebelum Shinzo Abe berbicara di forum Internasional dunia, nyatanya Jepang sudah mempersiapkan konsep Society 5.0 jauh-jauh hari. Saat negara lain masih mengadopsi Society 4.0 atau bahkan Society 3.0 pada sejumlah lini.
Image result for society 5.0 japan
Ada sebuah pertanyaan yang mengemuka, apa bedanya revolusi industri dengan society?
Baiklah… revin era lahir saat manusia yang ingin sebuah perubahan. Salah satu perubahannya saat pertama sekali tenaga manusia dan hewan tergantikan oleh mesin uap. Sedangkan society sejak manusia pertama sekali memulai peradaban di atas bumi.

Awal mulanya manusia mengadopsi Society 1.0 yang mengandalkan berburu untuk bisa bertahan hidup. Peralatan berburu seperti tombak jadi andalan yang manusia gunakan kala itu. Hanya saja berburu tidak selalu berhasil dan musiman, manusia mulai berpikir ada cara lain dalam bertahan hidup dan bercocok tanam adalah pilihannya.
Saat era 2.0 manusia mulai belajar cara menggarap tanah, menanam makanan. Sebagai makanan pokok hingga punya persediaan makanan dalam jangka waktu lama andai paceklik melanda. Peralatan pertanian seperti cangkul serta peralatan masak seperti tembikar jadi kerajinan manusia kala itu.
Era selanjutnya hadir saat Revin 1.0 dimulai, saat itu manusia memasuki era Society 3.0. mesin punya peran besar dan kemudian industri berkembang dengan pesat. Manusia mengandalkan beragam energi berhasil ditambang dalam membangun peradaban. Era ini berjalan sangat panjang sekaligus mengubah manusia ke arah industri secara majemuk.
Kemudian kehadiran internet dan dunia digital di akhir 90-an secara mengglobal seakan mengubah kebiasaan manusia. Mengubah semua hal jadi secara digital dalam segala aspek. Pada era Society 4.0 sangat mengandalkan aplikasi dan perangkat lunak dalam penyelesaian masalah. Informasi yang dulunya sangat sulit didapatkan, kini di era digital bisa diakses dengan mudah serta tanpa batas.
Terakhir adalah era yang sedang dikembang oleh Jepang yang Society 5.0. perkembangan internet bukan sebatas media informasi tetapi segala aspek hidup di dalamnya. Bila dulunya manusia masih dalam peralihan, Society 5.0 memberikan peran manusia sebagai kontrol utama di dalam teknologi.

Bila dulunya pekerjaan dilakukan secara all by oneself tapi di Society 5.0 mengarah pada network assisted. Selain itu pekerjaan yang sifatnya terlalu umum seakan mulai tergantikan dengan teknologi yang lebih aman. Jepang melakukan di banyak hal, salah satunya dengan penggunaan autonom car yang menggunakan IoT. Cara kerjanya akan membaca semua objek dengan puluhan sensor yang terpasang di dalam kendaraan tersebut.
Kecelakaan di jalan mungkin jadi sebabnya, pengemudi yang terjebak macet akan punya kondisi perasaan yang buruk. Belum lagi aksi ugal-ugalan yang bisa mengancam banyak orang. Penerapan autonom car jadi opsi, jumlah pekerja seperti sopir pun mulai tergantikan.

Selain itu pengemudi atau penumpang bisa menentukan rutenya sendiri. Mereka tak perlu fokus pada jalan karena kendaraan akan mengarahkan ke lokasi yang dituju. Konsep autonom car juga saling berinteraksi antar kendaraan lainnya, sehingga mengurangi kecelakaan di jalan raya.
Related image
Angkat listrik khas Jepang
Bukan hanya itu saja, kendaraan pada Society 5.0 akan lebih ramah lingkungan. Salah satu contoh yang sedang dikembangkan oleh pabrikan lokal yaitu Nissan. Di luar negeri ada banyak kendaraan yang sudah menggunakan bahan bakar listrik ramah. Mungkin kita tak asing dengan nama Tesla, Faraday Future hingga Lucid Air. Gebrakan Society 5.0 yang ramah lingkungan dan minim polusi suara.
Bidang lainnya yang mengalami disrupsi adalah bidang kesehatan. Jepang terkenal dengan jumlah angka harapan hidup yang tinggi. Di satu sisi itu tanda sebuah negara makmur, hanya saja jumlah masyarakat tua rentan terserang penyakit pasti tidak sedikit. Hal yang paling menyulitkan bagi mereka saat harus pergi ke klinik atau RS saat berobat.
Orang tua sangat rentan dan gampang capek, belum lagi operasional yang berbelit-belit membuat banyak orang urung ke sana. Society 5.0 pun membuat orang tua bisa berubah dengan mudah dari jarak jauh kepada dokter yang ia tuju. Dokter pun punya sudah memiliki data biometrik si pasien, sehingga ia bisa mengetahui keluhan penyakit si pasien. Proses analisa penyakit si pasien dilakukan dengan Deep Learning, alhasil proses diagnosis lebih cepat dan tepat.
Orang tua tadi tak kesulitan lagi dengan adanya diagnosis tadi. Ia pun tak kebingungan saat ke RS karena mendapatkan resep. Bila butuh penanganan lebih lanjut, barulah akan ada autonom car yang akan menjemput pasien secara mandiri hingga ke RS. Obat dari resep dokter akan dikirimkan via drone setelah pasien tiba di rumah. Praktis dan mudah sekaligus bisa menambah usia harapan hidup masyarakat Jepang lebih panjang.
Proses konsultasi dan operasi jadi lebih maju dengan melibatkan banyak teknologi. Mulai dari penerapan virtual reality termasuk sebelum operasi, sehingga mampu mengetahui penyakit dan proses penanganan pasien. Dokter bisa lebih akurat dalam berbagai studi kasus seperti waktu proses operasi. Sehingga waktu operasi jadi lebih cepat dan tepat sasaran.
Pada bidang pertanian pun demikian, Jepang pun tidak punya banyak anak muda yang menggarap lahan pertanian. Sedangkan orang tua sudah terlalu uzur dalam mengoperasikan traktor dan berpeluh keringat di dalam terik matahari.

Jepang pun mencetus konsep smart agriculture, mengolah lahan pertanian tak harus berpeluh keringat karena sudah terkoneksi dengan gadget. Sejumlah peralatan seperti traktor akan membajak sawah sendiri sesuai alur yang ia inginkan. Pekerjaan ini bisa dilakukan secara jarak jauh, termasuk memantau perubahan cuaca hingga hama pengganggu di lahan milik kita.
Hasilnya tetap optimal dan bisa dilakukan di mana saja, dengan menerapkan konsep IoT di dalam sejumlah perangkat ya ada. Sehingga traktor akan bergerak sesuai dengan alur yang telah ditentukan, tak perlu lagi dilakukan secara manual karena sudah terintegrasi secara penuh dengan IoT. Siapa saja bisa melakukannya tanpa harus tahu bagaimana traktor tersebut bekerja.
Konsep smart home akan sangat populer, segala benda teknologi yang ada di dalam rumah akan terintegrasikan dengan IoT. Mulai dari lampu, pendingin ruangan hingga peralatan dapur akan bekerja secara pintar. Salah satunya dengan menggunakan perintah suara atau dari gadget pribadi. Konsep smart home akan banyak diadopsikan di Jepang saat ini.

Peran manusia pun di bidang pengantar logistik semakin minim dan tergantikan dengan jasa drone. Mungkin kita tak asing dengan kurir pengantar surat hingga kiriman makanan di depan rumah. Ia akan mengetuk pintu rumah dan memberikan pesanan Anda. Hanya saja sistem ini sering terkendala misalnya saja macet, kurang mengetahui alamat hingga pesanan yang salah orang.
Image result for drone logistics japan
Drone akan menggantikan peran ini, ia akan mengetahui rumah pengirim dan akan memberikan sinyal saat datang ke rumah. Memastikan penggunanya keluar rumah dan mengambil pesanan. Drone akan melakukan scan terhadap, wajah bahwa barang yang dikirim sesuai dengan pemiliknya.

Penggunaan drone tidak semuanya menggantikan manusia, misalnya saja pemesan tinggal di dalam apartemen yang tak punya akses keluar. Akan ada kurir yang datang mengantarkan hingga di depan kediaman Anda. Drone akan mendarat pada lokasi terdekat dari lokasi pemesan. Hanya saja konsep ini sedang dimatangkan, seperti saat hujan terjadi drone tetap bisa terbang hingga faktor lainnya.

Berbicara mengenai dunia konstruksi, pasti erat dengan keselamatan pekerjanya. Ada banyak risiko yang bisa terjadi dan mengancam nyawa pekerja. Pembangunan gedung dan jembatan salah satunya, risiko bangunan runtuh atau terjatuh dari tempat tinggi. Nyawa pekerja akan menyisakan tangisan anak dan istri di rumah.
Salah satunya adalah penerapan IoT dalam kontrol bangunan, pekerja tidak perlu lagi turun ke lapangan yang punya risiko tinggi. Saat pembangunan pun akan banyak robot yang bekerja untuk beberapa pekerjaan dinilai cukup riskan. Petugas hanya akan datang ke lokasi yang mengalami gangguan berdasarkan info dari IoT. Bahkan proses perbaikan melibatkan robot dengan kontrol menggunakan Virtual Reality.

Kemudian juga ada banyak pekerjaan tak manusia yang mau tak mau harus manusia jalani. Saya mencontohkan seperti para pembersih kaca gedung tinggi, tim SAR di lokasi bencana, hingga para pembersih gorong-gorong.
Pekerjaan model tersebut sangat rentan dan nyawa jadi taruhan kapan pun andai saja lengah. Adanya teknologi seakan membuat peran manusia tergantikan, sekaligus menghargai peran mulia manusia sebagai khalifah sebagai pusat kontrol.

Ada bidang lainnya yang diterapkan pada society 5.0 dalam proses pembayaran. Tidak lagi memerlukan lagi uang kertas karena sudah ada cloud accounting. Proses pembayaran pun sudah cukup jamak kita dengar seperti penerapan Fintech (finansial teknologi).
Sebelumnya proses transfer butuh waktu yang lama, harus ke bank dan antre cukup lama. Paling cepat adalah transfer dengan jumlah terbatas dengan potong yang besar. Namun kini Fintech mampu melakukan transaksi antar benua dalam hitungan detik, potongannya pun sangat kecil dan efisien. Penerapan ini mengusung konsep peer to peer yang cepat dan transparan sesuai dengan tujuan Society 5.0

Benarkah teknologi mengancam eksistensi manusia?
Beberapa tahun yang lalu salah satu program kecerdasan buatan membuat gempar dunia literasi Jepang. Ia berhasil masuk dalam nominasi Nikkei Hoshi Shinichi Literacy Award dengan judul novel: The Day a Computer Writes a Novel.  Nama tersebut sendiri diambil dari salah seorang novelis ternama Nikkei Hoshi Shinichi Jepang yang banyak menghasilkan banyak karya di bidang fiksi ilmiah.
Pada proses penilaian naskah di tahun tersebut, melibatkan 1.450 karya dan 11 di antaranya dibuat dengan program kecerdasan komputer berbasis AI.  Genre yang dipilih oleh AI tersebut adalah cerita fiksi ilmiah, sangat sesuai dengan latar belakangnya. 

Kegaduhan ini ternyata dilakukan oleh seorang Profesor di Future University Hakodate bernama Hitoshi Mitsubara mencoba mengembangkan novel ilmiah karya dengan menggunakan AI-nya. Meskipun gagal menang, tapi itu sangat mengejutkan dunia literasi. Menurut juri karena karakter yang ditanamkan kurang kuat.

Apakah itu mengancam para penulis dan penggiat literasi?
Jawabannya tidak, malahan lebih memudahkan dan meningkatkan kreativitas si penulis. Apalagi konsep yang diterapkan pada AI komputer milik Hitoshi Mitsubara adalah berbasis Machine Learning dan Deep Learning. Sehingga ia akan mencarikan bahan yang kita mau dan meringkasnya dalam waktu singkat.

Singkat cerita manusia punya kontrol lebih di era Society 5.0, ia bak seorang kepala koki di sebuah restoran. Tugasnya adalah memasak menu terbaik yang sudah dipesan pelanggan, urusan belakang layar itu urusan kaki tangannya. Mereka yang membeli bahan, peralatan dapur hingga mengatur suhu kompor di suhu optimal. Tugas si koki adalah menghasilkan cita rasa masakan yang pas di lidah dan memanjakan pelanggan di depan.
Manusia sebagai koki kepala di sebuah restoran
Seperti itulah tugas penulis dan peneliti di era Society 5.0, ia tidak perlu harus melakukan riset panjang dan mahal yang menghabiskan banyak waktu. Tugasnya hanya fokus menulis, bahan yang ia inginkan sudah dicarikan dan dipelajari oleh anak buah AI yaitu Machine Learning dan Deep Learning.

Biaya bisa dipangkas dan jumlah karya yang dihasilkan jadi lebih banyak. Di era ini tidak ada alasan lagi bermalas-malasan dalam berkarya. Pastinya kita tak mau menjadi seorang koki yang mengecewakan pelanggannya.

Bagi mereka yang punya kemampuan terbatas sering menganggap teknologi yang datang bak sebuah ancaman. Ia siap bersaing dengan teknologi dan sudah pasti hasilnya kalah telak. Misalnya saja robot bisa bekerja lebih lama dari manusia, minim kesalahan, dan jauh dari drama.
Tak ada tuntutan kenaikan gaji hingga mogok kerja yang berdampak pada perusahaan tersebut. Akan tetapi anggap saja teknologi yang datang bukan sebagai pesaing tetapi sebagai kolaborasi dalam menghasilkan pekerjaan yang lebih efisien.

Bisakah Indonesia menerapkan 5.0?
Jepang sudah mulai melakukan Society 5.0 di dalam masyarakatnya, bagaimana dengan Indonesia. Apakah bisa melakukan hal serupa atau bahkan masih butuh waktu yang sangat lama lagi?

Problem yang dihadapi setiap negara jelas berbeda, dengan bonus demografi penduduk bak sebuah berkah buat jumlah anak muda di Indonesia. Hanya saja ini jadi boomerang andai tidak dimanfaatkan dengan sedemikian mungkin.

Jepang melakukan Society 5.0 salah satu faktor karena masalah jumlah penduduk usia produktif yang terus menipis. Dengan jumlah masyarakat yang sedikit sekarang dan di masa depan, Jepang ingin mengontrolnya secara pribadi melalui teknologi yang mereka terapkan.

Sedangkan Indonesia sebaliknya, jumlah penduduk yang besar seakan masih banyak celah manusia dibandingkan teknologi dalam mengisinya. Tapi tak tertutup kemungkinan masyarakat Indonesia melakukan hal seperti itu.

Para anak muda yang kreatif dengan segudang kemampuannya itu bisa berkolaborasi dengan teknologi dalam sistem Society 5.0. Bahkan peran Society 5.0 di Indonesia akan memberi dampak ke semua kalangan dalam bekerja efisien dengan hasil maksimal.

Saat ini Indonesia sedang fokus pada pembangunan berbagai akses salah satunya akses internet 5G yang mendukung Society 5.0 di masa depan. Peran ini juga akan membuat IoT lebih optimal hingga menjangkau hingga pelosok.

Salah satunya adalah pembangunan Program Palapa Ring dan diharapkan selesai pada pertengahan tahun 2020. Segala sudah dipersiapkan dengan sangat matang, mulai dari hardware dan software yang menunjang semua aktivitas digital.

Masyarakat di tanah air bisa merasakan dampak yang dihasilkan dari pembangunan jaringan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) dan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO). Membentang dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Untuk area Indonesia Timur, total panjangnya mencapai 4.450 KM, terdiri atas 3.850 KM kabel bawah laut dan 600 KM berupa landing point yang ada pada 15 titik pada 21 kota/kabupaten.
Image result for palapa ring
Pembangunan SKKL dan SKSO
Program lainnya adalah memperkenalkan peran teknologi yang menunjang lapisan masyarakat. Apalagi besarnya peran internet yang sudah lebih menjangkau 50% pengguna aktif. Dengan begitu akan mudah ditemukan kolaborasinya untuk memasuki jenjang Society 5.0.

Toh kita sekarang sadar bahwa teknologi seakan memberikan dimensi baru dalam hidup. Manusia bisa menikmati hidup secara optimal dan efisien. Jepang kini memulai langkah baru itu dan tak tertutup kemungkinan sejumlah negara lain yang punya masalah serupa menirunya.
Teknologi sebagai kolaborasi bukan sebuah kompetisi
Dari situ saya ingin berkata bahwa, jangan takut perubahan dan disrupsi sebagai sebuah ancaman. Tapi anggaplah segala perubahan dan disrupsi sebagai kesempatan untuk berkolaborasi di dalamnya.

Semoga tulisan ini bermanfaat dan memberikan pencerahan, Have a Nice Day Guys.

Share:

1 comment:

  1. benar benar membuat lupa daratan ya gan hehehe

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer