Saturday, March 23, 2019

Perjalanan Malam Hari, Pilihan Favorit Saat Naik Bus

Rute Sumatra dari dulu terkenal dengan medan yang menantang dan punya trek panjang nan berliku. Pemandangan alam dan hutan hujan khas Sumatra jadi sebuah hal yang menantang buat siapa saja. Kemudian setiap kota yang dilalui punya segudang pengalaman yang tidak terlupakan.

Perjalanan darat jadi alternatif yang paling saya gunakan, hanya saja lokasi rumah saya masih jauh dari angkutan bus. Hanya sesekali saja merasakan pengalaman naik bus, itu pun saat pergi ke Medan. Sensasi dan suspensi getaran terasa jadi sangat minim.

Tikungan yang kadang sering sekali membuat pusing dan mual, kini tak pernah terasa sedikit pun. Naik bus pun ada segudang pengalaman, melihat rasa elok pemandangan di luar. Bus pun tak ragu memacu adrenalin penumpang. 

Apalagi saat ini ongkos transportasi udara sangat menguras kantong, pilihan terbaik dan menantang datang dari naik Bus. Semuanya bisa terlihat meskipun badan pegal akibat lama di dalam bus, semua itu terbayar saat melewati setiap daerah.  Perjalanan naik bus paling sering saya rasakan saat malam hari, di balik suasana sejuk dan sunyinya malam. Dibalik selimut dengan terpaan AC yang dingin, bus melesat cepat dalam lelah hingga ufuk pagi tiba.

Perjalanan darat jadi perjalanan favorit yang biasa saya tempuh, waktu yang nyaman memang di malam hari. Sembari tidur lelap di dalam kabin bus, ia melaju cepat melewati jalanan dan baru terbangun saat tiba. Saya sendiri sering sekali memanfaatkan waktu libur dengan berlibur ke luar kota, bak pelepas rasa penat bekerja. Waktu libur jadi pelampiasan yang tepat, lokasi yang paling sering saya pilih ada panorama alam khas hutan. 

Salah satu pengalaman menarik saya itu adalah tahun lalu, berkeliling ke sebuah desa terpencil yang ada di pelosok Aceh dan perbatasan Sumatra Utara. Desa itu pun berada di dalam barisan pegunungan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). yang harum namanya. Akses yang ditempuh hanya ada dua pilihan, perjalanan udara dengan pesawat berbadan kecil yang harus booking jauh-jauh hari. Serta satu lagi dengan menggunakan kendaraan darat.

Dulunya harus hanya bisa dilalui oleh kendaraan berbadan kecil seperti kendaraan pribadi dan minibus, kini sudah bisa dengan bus berukuran besar. Dulunya tidak ada jalan lintas tengah, perjalanan mampu menghemat waktu hingga 3 jam dibandingkan rute sebelumnya. Sudah pasti tidak harus kram kaki dan pinggang pegal akibat terlalu lama duduk di dalam mobil. Kursi yang kurang empuk serta tempat sandaran kaki yang terbatas buat kaki kram dan pinggang harus kaki.

Perjalanan darat menyusuri jalur tengah daratan Aceh menempuh waktu 15 jam. Sepanjang jalan disuguhi dengan berbagai aneka hutan hujan tropis yang begitu rapat, pegunungan yang luas membentang dan jalan yang begitu berkelok-kelok.

Berangkat di pagi buta dan barulah tengah malam hari barulah kami tiba di lokasi. Udara yang menusuk mulai terasa dan hutan belantara yang menutupi pemandangan. Sesekali terlihat rumah penduduk yang di pinggiran sungai.

Kini sudah ada banyak bus, rasa mual dan pusing tidak dirasakan lagi karena suspensi yang baik serta pengemudi yang terampil dalam membawa mobilnya. Ia sadar keamanan dan kenyamanan penumpang jadi nomor satu dibandingkan harus ugal-ugalan dengan tujuan bisa sampai ke tujuan tepat waktu.

Mengapa saya selalu memilih naik bus?
Bus sebuah pilihan yang memanjakan mata, saat naik pesawat hanya ada hamparan awan yang terlihat saat di angkasa atau perjalanan laut yang penuh guncangan siap membuat perut mual. Perjalanan darat memberikan sebuah pengalaman saat melewati kota tersebut dan masyarakatnya. Ini yang tidak bisa dirasakan dari moda transportasi lainnya.

Meskipun waktu tempuh lebih lama, naik bus selalu spesial karena saya menyukai dunia otomotif dan spesifikasi kendaraan tersebut. Bagaimana saat bus tersebut melibas jalanan bergelombang, jalan berliku hingga jalanan lurus, kualitas mesin jadi patokan. Serasa tenaga yang besar tersebut nendang sekali saat diajak berpacu.

Salah satu bus terbaik yang ada di Sumatra adalah Yoanda Prima yang berasal dari Palembang, Sumatra Selatan. Bus pemain lama yang sudah eksis di akhir tahun 80-an ini punya rute cukup panjang di Pulau Sumatra. Siap memberikan pelayanan terbaik kepada penumpangnya baik dari pilihan kelas Non-AC dan AC sesuai tipe bus yang dipilih.

Yoanda Prima sendiri menggunakan bus buatan Jerman, Mercedes-Benz yang dibagi pada dua kelas berbeda yaitu Non-AC dan AC. Pada Bus yang tidak menggunakan AC menggunakan susunan 2 – 3 kursi. Sedangkan pada bus ber-AC menggunakan format 2 – 2 kursi dengan dilengkapi peralatan seperti bantal dan selimut, termasuk ruang khusus merokok.
 
Satu lagi yang paling penting di dalam bus adalah punya toilet yang bersih, karena setiap perjalanan jauh akan sedikit tempat perhentian, tujuannya untuk mempersingkat waktu tempuh. Adanya toilet membuat penumpang nyaman, tidak perlu lagi harus menahan panggilan alam yang sulit ditolak itu. Dengan segala yang ditawarkan tadi, Yoanda Prima pun sangat memperhatikan kebersihan toilet kepada penumpangnya.
 
Sebagai ganjaran atas dedikasinya terhadap pelayanan pada penumpang selama bertahun-tahun di bidang transportasi. Terkenal dengan standar keselamatan, fasilitas, layanan, dan kenyamanan, Yoanda Prima mendapatkan penghargaan Wahana Adhigana 2017 untuk kategori bus kelas ekonomi antar kota dan antar provinsi dari Kementerian Perhubungan.

Yoanda Prima menawarkan rute antar kota dan di sejumlah provinsi yang di Sumatra. Bisnis transportasi darat adalah pilihan murah dan selalu ada, seakan mampu melepaskan rindu anak rantau di perantauannya atau yang ingin menemui sanak keluarga, dan keperluan bisnis lainnya.

Ada banyak kota yang disinggahi oleh Yoanda Prima pada kota-kota di Sumatra. Mulai dari Padang, Bukit Tinggi, Solok, Payakumbuh, Muara Bungo, Muara Tebu, dan Kiliran Jao. Rute yang paling ramai adalah Palembang – Padang atau sebaliknya.

Bisnis transportasi bak sebuah bisnis menggiurkan yang terus tumbuh sesuai dengan waktu. Perusahaan pun memperluas layanan bukan hanya sebatas mengangkut penumpang dari kota atau antar provinsi. Kini Yoanda Prima melirik bus yang melayani lokasi wisata, angkutan karyawan, dan penyewaan bus, Selain itu operator bus memperluas cabangnya pada transportasi barang yang menyediakan truk-truk logging.

Salah satunya penyewaan paling semarak saat event internasional yang banyak berlangsung di Palembang. Di mulai pertama sekali ajang PON, Islamic Solidarity Game, Kejuaraan AFF Cup  hingga Asian Games tahun lalu. Armada yang dimiliki Yoanda Prima dianggap layak dalam membawa tamu undangan dan atlet terbaik berlaga di arenanya.

Urusan armada pun sangat diperhatikan dengan sangat baik dan detail khususnya buat kenyamanan pelanggan. Kepercayaan pelanggan pasti mahal harganya, salah satunya adalah menjamin dengan pengemudi yang kompeten selama perjalanan. Apalagi kepercayaan pelanggan sangat mahal harganya.

Warna dari tampilan bus Yoanda Prima adalah kuning keemasan dengan strip putih dan warna merah terang dengan strip putih. Pemilihan warna punya arti mendalam dalam sebuah usaha, salah satunya karena warna emas adalah ciri khas warna Provinsi Sumatra Selatan yang terkenal dengan Kerajaan Sriwijaya. Menandakan kesuksesan, prestasi, dan kemenangan yang diraih dulu dan sekarang melalui armada angkutan daratnya Yoanda Prima. 
Pilihan warna yang memanjakan mata penumpang
Kemudian warna merah dari bus yang menandakan rasa berani, penuh energi dan memacu adrenalin. Itu terbukti dengan pangsa bisnis dari Yoanda Prima yang telah melebarkan sayapnya ke bisnis lainnya di transportasi darat.

Bagaimana cara mendapatkan tiket Yoanda Prima?
Saat ini cara mendapatkan tiket sangat gampang, tidak harus lagi datang ke terminal yang membutuhkan waktu lama dan berbelit-belit. 

Kini kita hanya cukup mempersiapkan perjalanan darat yang pastinya jauh. Dari kelengkapan saat ke tujuan hingga kesiapan fisik saat di dalam bus. Pastikan jangan lupa berdoa, karena setiap perjalanan yang ditempuh akan dijaga.

Kini tinggal menjejak kaki di dalam bus dan kemudian bersandar di dalam kursi bus yang empuk. Semua itu mungkin terasa nikmat atas yang ditawarkan oleh Yoanda Prima, melupakan sejenak pekerjaan dan pergi liburan. Menikmati perjalanan dan hutan hujan khas Sumatra yang penuh pesona.

Semoga cerita ini menginspirasi kita semua dan kisah naik bus memang tak terlupakan, selalu diingat dalam memori panjang. Akhir kata, Have a Nice Day Guys dan selamat berakhir pekan.

Share:

3 comments:

  1. Bapak Saya sekitar 10 tahun bolak-balik Jawa-Sumatra dengan naik bus. Setiap kali mudik, belio selalu antusias cerita pengalaman ya selama di perjalanan. Kalo tidak salah sih dulu 3 hari 3 malam. Seruuu dengar ceritanya, apalagi mengalami sendiri :)

    ReplyDelete
  2. Busnya enak bangeeet. Pemandangan yang ijo royo-royo bikin mata seger. Duh kapan bisa liburan ke Aceh :")

    ReplyDelete
  3. Kalau ke Sumatera aku tahunya bus Lorena. Baru denger nih nama Yoanda. Insyaallah kapan-kapan coba deh

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer