Tuesday, August 6, 2019

Apakah Masih Zaman Baca Koran?

Pagi itu hampir 10 tahun jadi hari yang sibuk, itu karena semalam ada laga sepak bola akbar mempertemukan klub unggulan. Semua tidak bisa menonton karena tim tersebut bermain terlalu larut malam. Belum lagi hidup di asrama, pengalaman yang saya apalagi yang bermain tersebut adalah klub kebanggaan saya.

Akses TV hanya bisa dinikmati di pos penjagaan atau ruang guru, sesekali melihat informasi berjalan yang ada di berita. Itu pun kalau beruntung. Semua anak asrama hanya mengandalkan informasi dari luar yang berasal dari koran. Ia sudah terpampang di mading berbingkai kaca yang sudah dikunci rapi oleh petugas penjaganya.


Inisiatif ingin cepat dapat informasi tersebut, mau tak mau harus rela pergi ke pos jaga. Sambil bergantian antre membaca bolak-balik koran yang sudah terpencar ke mana arahnya. Halaman depan mulai terlihat kumal, kadang ada rasa kecewa saat melihat bagian halaman belakang yang hilang entah ke mana rimbanya. Bisa saja dia sudah dibawa guru Pembina ke dalam ruangan, sial hari ini ketinggalan berita ketus di dalam jiwa.

Saat itu koran masih sangat melekat ke semua orang, lemparan koran pagi di halaman rumah atau abang loper koran di persimpangan jalan sembari menampilkan halaman muka koran ke pengendara. Membolak-balik lembaran koran sembari segelas kopi begitu syahdu, ciri khas yang tergambar. Kini nyaris tak tersisa, sadar bahkan koran bukan sebuah informasi vital saat ini. Semua bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan dengan cepat dari sosial media atau website yang khusus mengulas topik yang kita sukai.

Di era modern terjadi fleksibilitas, bukan hanya di koran, tapi pada radio atau bahkan TV. Semua itu produk lama yang kena disrupsi. Sifatnya yang tidak up to date serta pembaca yang ketinggalan informasi andai tidak sempat membaca berita hari tersebut. Sifatnya off demand service seakan tidak bisa baca di mana saja serta tak praktis.

Belum lagi bacaannya yang terlalu dan sulit dicerna. Sangat minim gambar dan membuat pembaca tidak pernah tamat membacanya. Hanya para tetua yang tertarik dengan koran saat ini, jumlah kadang makin sulit ditemukan bahkan di kedai kopi. Melihat halaman pertama dan kemudian meninggalkan begitu saja. Bagi generasi sekarang, koran sudah mulai padam tergerus digital news. 
Sudah pasti ada banyak pihak yang menjadi korban, para penulis kolomnus kenamaan koran yang punya nama besar seakan harus dirumahkan, mereka tidak bisa berbuat banyak lagi. Usianya yang beranjak menua sembari menunggu masa pensiun, sama halnya dengan koran yang mulai terdisrupsi.

Saya masih ingat saat ada rubik khusus pertanyaan pembaca, balasannya butuh beberapa minggu. Saat dulu informasi yang datang hanya dari para pandit. Wikipedia masih sebuah nama yang masih sangat awam. Nantinya akan dijawab oleh pemilih redaksi beberapa minggu kemudian di sebuah rubik tanya jawab.

Saya pun berlangganan berbagai jenis majalah olahraga dan ponsel kala itu, ada kesenangan tersendiri saat melihat pose pemain idola menjadi poster edisi minggu ini. Hasrat melihat dan membaca koran, meskipun si pemilik mulai gerah dan memberi kode untuk membelinya.

Mungkin dahulu ada yang banyak berlangganan koran, salah satunya saya yang berlangganan pada salah satu tabloid olahraga. Beritanya begitu nendang dengan banyak rubik dan ulasan yang kekinian. Akan tetapi makin ke sini ulasannya makin ketinggalan tanpa perubahan yang berarti.

Kemunculan digital news yang lebih cepat dan lebih mudah diakses seakan membuat saya berpaling. Tidak perlu lagi berlangganan koran yang sudah memenuhi kamar. Mengabaikan informasi fisik yang memakan tempat dan ruang ke informasi digital.
Saat itulah saya tidak lagi mengandalkan berita olahraga yang punya ulasan sangat ketinggalan zaman. Konten yang harus mengikuti cara lama, beralih ke cara tak bisa. Di digital news saya seakan bisa melihat ulasannya lebih detail dengan infografik dan statistik yang sulit ditemui di media cetak.

Belum lagi ulasan yang up to date bahkan saat pertandingan berlangsung, tanpa perlu harus menunggu koran yang esok harinya tayang. Bahkan ulasan taktikal kenamaan yang dahulunya hasil terjemahan tak utuh dan separuh-paruh dengan mudah bisa ditemukan. Nikmat mana yang tidak bisa didustakan oleh digital news.
 Image result for kindle
Bukan hanya itu saja, saya pun mulai beralih ke berbagai hal digital, termasuk di dalam membaca buku. Bila dahulunya masih mengandalkan buku cetak dengan harga mahal, kini beralih ke kindle yang praktis. Meskipun awalnya butuh biaya besar untuk investasi, namun seiring dengan berjalannya waktu biaya itu akan lebih murah saat membeli e-book. Harganya bisa kurang dari separuh dibandingkan harga buku fisik, sekaligus kita bisa mengurangi jumlah penggunaan kertas dan membangun konsep go-green. 
Baca juga: E-Reader, Sensasi Baca Buku dengan Cara Berbeda

Koran, TV, dan Radio, para korban disrupsi digital
Media seperti Koran, TV, dan Radio mungkin saja menyelamatkan sekaligus membunuh bosan. Namun kini masih mereka sudah ada di masa senja. Tergerus karena disrupsi karena lahirnya berbagai layanan baru dengan inovasi baru.  Semuanya berawal dari disrupsi dan persoalan lainnya, mulai dari mutu yang menurun hingga tidak fleksibel. Sesuatu yang sangat sulit buat era digital saat ini,

Hadirnya media digital yang fleksibel dan bisa diakses di mana saja seakan jadi pesaing serius. Itu terlihat jelas seperti acara televisi lokal selain mutunya menurun dan  melambat, segmennya mulai tergerus sebagai yang paling terdepan dalam memberikan informasi. Itu terlihat semenjak internet dan sosial media berkembang sangat pesat beberapa tahun terakhir. Beda dengan koran yang terus melambat dan seakan tidak ada inovasi.

Kini pangsa pasar televisi hanya menyisakan 36% saja, artinya hanya sepertiga yang masih memperhatikan TV. Bukan tidak mungkin televisi hanya sebagai barang elektronik pajangan di rumah kita. Hanya waktu yang bisa menjawab bahwa TV jadi barang antik salah satu ruangan rumah.

Radio mengalami hal serupa, dia seakan terlalu banyak iklan dan playlist musik. Acara dengan mengundang pemateri khusus jumlahnya terbatas, sedikit silap  karena pindah ke siaran sebelah. Siap-siap saja kehilangan topik. Seakan on demand service adalah jawabannya, segudang channel yang berbasis digital khas Podcast mampu menggantikan Radio yang seakan ia sudah layak di museum. 
Di dukung kemajuan smartphone dalam memudahkan segala hal dan terkoneksi secara langsung dengan internet, membuat penggunanya bisa mengakses sesuai keinginannya. Selain irit waktu, pengguna smartphone atau laptop lebih mudah dibandingkan televisi yang tidak bisa di bawa ke mana-mana.

Mengakses segala berita secara online jadi lebih gampang melalui gawai seperti smartphone dan laptop. Bermodal kouta internet, Anda bisa menonton atau tahu berita yang dimau tanpa harus menunggu lama iklan atau menonton acara yang tak disuka terlebih dahulu.

Faktor lain khususnya acara di TV lokal begitu monoton hingga mereka kalah bersaing. Sejumlah tayangan menarik mengharuskan pemilik banyak pindah ke televisi berbayar. Hasilnya televisi lokal hanya menyisakan acara yang kurang menarik dan bermutu. Saya pribadi menganalogikan dalam bentuk daerah akan jumlah menonton TV. Daerah itu terbagi tiga yaitu A, B dan C sesuai dengan menghabiskan waktu di depan televisi.

Pertama adalah daerah A, ialah daerah yang mulai meninggalkan waktu menonton televisi, menggantinya dengan sosial media sebagai sumber informasi. Daerah tersebut umumnya daerah urban perkotaan yang memiliki akses internet cepat. Masyarakat hanya ingin mengakses informasi tanpa harus menonton televisi cukup dari gawai pribadi mereka.

Masyarakat di daerah A hanya memilih apa yang mereka tonton dan tidak, bukan sebagai sebuah skala prioritas. Misalnya pertandingan sepak bola atau acara lain seperti sulit diabaikan seperti Headline News, selebihnya cukup diakses melalui gawai masing-masing.

Kedua ialah daerah B, segmen daerah yang berada di tengah-tengah antara televisi dan internet lumayan berimbang. Masyarakat masih menganggap peran televisi bisa tergantikan namun tidak menyeluruh dan sebahagian masyarakat sudah menjajaki internet serta aktif di sosial media.

Daerah kota kecil menganut konsep ini, karena masih begitu terbatas sehingga mereka menggabungkan keduanya. Kalangan anak muda di daerah tersebut mulai melirik internet sebagai akses informasi sedangkan kaum tua yang masih mendewakan televisi.

Ketiga ialah daerah C, pada daerah ini masih menganggap televisi sumber informasi segalanya. Apa saja yang ditonton langsung mudah ditelan mentah-mentah, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Tak heran anak-anak kecil dan ibu-ibu mendewakan semua idola yang mereka tonton di layar kaca setiap hari.

Bukan hal aneh saat anak-anak di daerah tersebut hafal percakapan sinetron yang tonton semalam, atau gaya tokoh idamannya untuk ditiru di sekolah. Sejumlah jargon iklan yang berseliweran yang diputarkan saat jeda, secara tak langsung itu membekas di otak khususnya anak-anak.

Urusan koneksi internet jangan pernah diharap banyak. Kadang hilang, namun tak tahu kapan muncul lagi. Berbagai program pemerintah seperti internet masuk desa seakan membuat masyarakat yang di daerah C mulai melirik tontonan selain di TV di masa akan datang. Andai pihak televisi lokal khususnya harus tidak berbenah, bisa saja televisi harus kehilangan pelanggan setia mereka.

Memang bukan berarti acara di televisi buruk semua atau yang ada di internet semuanya bagus. Itu lebih bagaimana konsep yang dirancang, bukan hanya mementingkan rating dan hiburan semata. Namun menanamkan nilai-nilai edukasi di dalamnya setiap acara.
Sama halnya dengan koran, penikmat koran memang maki n menipis oleh anak muda, mereka yang terlahir di generasi milenial dan generasi Z sudah menganggap koran buat sebuah opsi terbaik dalam bacaan. Bacaan yang memenuhi lini masa di sosial media atau web andalan mereka menjadi jawaban rasa dahaga mereka. Dengan bahasa yang lebih dipahami dan ngena jadi alasan mereka mengabaikan media sebelumnya yang hanya di baca bapak di kursi depan teras.

Media cetak yang tersisih oleh para milenial
Meskipun saat ini ada beragam cara mencerna informasi, Mungkin dahulu media hanya tiga macam, koran berupa media tulis, radio media audio, dan TV sebagai media visual. Di era digital kita bisa mendapatkan satu paket dalam sebuah postingan.

Kayak akan informasi jurnalisme di dalamnya, punya kemampuan visual yang membius hingga video dengan resolusi yang baik. Semuanya dikemas jadi satu sesuai link informasi yang ingin dicerna. Sesuatu yang mungkin dulunya mustahil dilakukan ketiga media terdahulu.

Harus diingat bahwa informasi dan literasi bukan hanya sebatas tulisan saja, kemampuan media digital bisa melihat pangsa anak muda yang suka dengan visual dan gabungan kata yang ngena buat mereka. Siap-siap saja media seperti itu akan kebanjiran trafik setiap harinya.
Image result for good content
Strategi yang harus diterapkan
Mungkin saat ini sering ada stigma yang datang misalnya saja, mendapatkan informasi hanya dari koran saja atau dari media tulisan. Nyata kini semua informasi yang didapatkan asalkan dipahami dengan jelas dan sampai ke pengunjung itu artinya si pembuat konten berhasil. 

Hanya saja kelemahan media online adalah beritanya yang kadang mengejar kata up to date. Kadang harus membuat pembaca simpang-siur. Bisa saja apa yang ditulis kembali diralat hingga akhirnya menjadi kepingan utuh. Masyarakat digital pun dipenuhi ketergesa-gesaan informasi yang belum menjadi sebuah berita utuh. Jangan heran ada banyak berita hoaks atau bohong yang menyebar atas dasar ketergesa-gesaan.

Semua itu berdasarkan pada kode etik jurnalistik yang dipegang teguh. Sebuah media cetak mengulas sebuah berita dengan sangat detail dan terperinci. Kualitas sebuah tulisan harus melalui proses ketat orang-orang yang sudah makan asam garam dalam jurnalistik. Mulai dari wartawan, penulis, editor, pimpinan hingga direksi. Sebelum akhirnya terbit dan dibaca oleh pembaca setianya.

Kecepatan jadi kunci keberhasilan media online, masyarakat pun merasa tergesa-gesa terhadap suatu topik tanpa mencernanya dengan jelas. Akibatnya sering terjadi miskonsepsi atau salah kaprah, selain itu ada banyak informasi yang dicerna dalam waktu singkat. Mau tak mau kemampuan membaca skinning atau melihat sekilas cara cepat mendapatkan berita. Kemampuan daya cerna jelas berkurang dibandingkan dengan membaca koran.

Para milenial memperlakukan koran seperti anak tiri, mereka paling rela dibiarkan atau mengabaikan koran. Bagi mereka itu sungguh tidak praktis dan beritanya terlalu berat. Mungkin berita koran mungkin hanya terpakai saat pengumuman kelulusan yang mungkin saat ini mengandalkan koran. Selebihnya acuh pada itu semua.

Pihak percetakan pun mulai banyak beralih dan bahkan sudah sepenuhnya tutup buku di percetakan koran. Mengembara ke dunia digital yang jelas jauh berbeda. Tapi saya pribadi malah menganggap media cetak yang turun ke pangsa digital seakan kehilangan jati dirinya. Dari awalnya menulis dengan bahasa yang teratur dan mengikuti kaidah jurnalistik, kini mengejar pundi-pundi adsense dari judul clickbait.

Ini seakan membuat para anak muda punya media tersendiri menjadi andalannya. Ia pun sekarang bisa memilih beragam informasi khusus yang benar mereka butuh. Beda jauh dengan era sebelumnya yang masih mengandalkan keragaman informasi. Pengguna harus mencari rubik berita yang sesuai dengan bidangnya. Saling berbagi halaman buat membaca, sedangkan berita yang tidak menarik siapa peduli itu semua.

Hingga akhirnya berbagai pemain baru muncul, sangat hijau di dunia jurnalistik tapi mampu menjual dibandingkan dengan para pemain lamanya yang kenyang asam garam. Konsep yang ditawarkan khas anak muda dan mudah dicerna.

Infografis yang baik dan gambar yang berhubungan seakan memberikan warna baru. Bukan hanya bermodalkan judul bombastis saja, tapi gambar yang mendukung serta faktor lainnya mampu mengalihkan para milenial kembali melirik nama tenar koran yang kini hanya pemain baru di internet.

Kelemahan dan stigma yang melekat dari media digital
Tidak bisa dipungkiri bahwa media digital dianggap setengah bercanda. Berbagai stigma melekat olehnya seperti kekurangan seperti sumber daya listrik, namun kini banyak perangkat yang punya daya tahan seharian. Tidak perlu kesulitan terhadap daya yang habis saat diakses atau tidak ada colokan. Akses internet jadi salah satu hal yang mendasar dalam mendapatkan informasi, akan tetapi bisa diakali dengan membaca secara offline atau diunduh kemudian dibaca.
 Image result for digital news
Permasalahan lainnya yang sering datang ada rusaknya memori penyimpanan yang bertugas menyimpan data. Tapi tak perlu takut karena penyimpanan sudah sangat beragam, salah satunya dengan cara cloud. Faktor lainnya media digital sering dianggap dapat mengganggu kesehatan mata karena pancarannya.

Inovasi dilakukan seperti yang dilakukan oleh Kindle dengan layar e-ink yang tidak memantulkan cahaya, karena katoda yang ia gunakan. Serta pada perangkat teknologi kini sudah ada fitur bluelight filter yang melindungi mata saat membaca di dalam gelap.

Permasalahan lain yang skeptis mengenai media digital adalah kemampuan fokus terhadap gangguan dan notice mengganggu. Semua itu bisa dihilangkan atau menggunakan perangkat khusus bebas gangguan notice dengan Kindle, membaca jadi fokus tanpa sedikit pun distorsi.

Terakhir adalah segala sesuatu yang ada di internet sangat tidak lengkap, hanya sebagian atau bagian kecil yang dipilah-pilah menjadi halaman. Nyatanya tidak, banyak penulis atau website yang memberikan tulisan yang sama lengkapnya. Bahkan sejumlah website memberikan akses berlangganan untuk pembaca premium dalam tulisan yang ia buat.

Blogger tidak mau kalah, gebrakan pada media tidak membuat ia gentar, dengan gaya Bahasa dan informasi yang ia berikan seakan mampu menarik pembaca setiap. Ini membuat media cetak yang tidak persiapan matang di dunia digital harus ketar-ketir.

Apakah media pilihan generasi masa kini?
Saat ini informasi bisa datang di masa saja, era digital melahirkan sejumlah platform yang mampu menjawab rasa penasaran, menghubungkan persahabatan, eksistensi hingga ilmu pengetahuan. TV, koran, dan radio seakan tidak memilikinya secara utuh. Kesannya yang jadul sudah sering dijauhi oleh para milenial dan generasi Z. 
Sebagai gambaran, saat ini 28,8% generasi Z yang ada di tanah air, mereka adalah generasi yang lahir setelah generasi milenial. Mereka tumbuh dan berkembang dan memanfaatkan media pilihan mereka dalam mendapatkan informasi. Akses mereka dapatkan bukan lahir dari media seperti koran, TV, dan radio tetapi dari sosial media yang mereka punya. Para masa mereka, media tadi seakan sedang menunggu hari senjanya.

Mereka tidak kenal lagi artis yang sering berseliweran di TV, penyiar radio terkenal di kotanya hingga penulis kenamaan di kotanya. Di kepala mereka yang tergambar hanya para Youtuber, Podcaster, Blogger hingga Instagramer andal. Mereka selalu menghadirkan konten segar setiap pagi hari menyalakan ponsel. Tinggal memilih melahapnya sekarang atau selepas pulang sekolah atau kuliah.
Image result for influencer
Peran para influencer di era saat ini lebih besar pengaruhnya
Rasa ingin tahunya sudah bisa diarahkan sesuai dengan aplikasi yang mereka sukai. Misalnya saja segala info yang hangat bisa dilihat pada trending Twitter, berita dari Line. Kemudian yang tergila-gila mengenai komik sudah ada Mind blow, menyukai tontonan sudah ada Netflix hingga situs bertanya segala hal yang ada di Quora.
Baca juga: Quora, Aplikasi Penjawab Segala Rasa Penasaran

Alasan utama mereka memilih menginstal atau berselancar di platform tersebut karena sifatnya yang praktis. Mengonsumsi konten tidak harus repot-repot datang ke tempat penjualan koran, duduk di depan TV sampai memencet dan memukul punggung remote. Atau mengatur frekuensi radio yang kadang tidak sesuai dengan kesukaannya.

Semua itu karena fleksibilitas yang ditawarkan, itulah yang melahirkan beragam platform. Artinya setiap segmen dipegang penuh oleh sebuah platform yang fokus. Sehingga pengguna tinggal datang ke platform tersebut dan menikmati konten, tanpa harus mencari segmen atau informasi yang tidak ia perlukan.

Serta pastinya mereka makin protektif dalam menyaring informasi. Jumlah para generasi Z yang termakan informasi hoaks lebih kecil dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Mereka yang tidak mengonsumsi sebuah informasi dari satu info saja.

Berita yang clickbait dan serba tanggung sangat diabaikan oleh mereka, ibarat gelembung angin di dalam bungkus ciki. Kemampuan mengolah informasi datang dari banyak sumber, ibarat mengumpulkan kepingan puzzle yang akhirnya jadi sebuah gambar. Rasa lega ada di pikiran mereka, setelah rasa penasaran terjawab.

So… apa pun medianya, tidak ada yang salah. Tapi semua bagaimana pasar melihat perubahan dan disrupsi besar tersebut. Andai saja telat dan salah langkah, siap-siap saja pemain baru datang dan menghipnotis generasi saat itu sebagai pengunjung setianya.

Semoga saja postingan ini menginspirasi, dan have a nice days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email