Tuesday, March 31, 2020

Membangun Ekowisata Kelas Dunia dari Rimba Papua

Papua bak Mutiara Hitam yang setiap kehadiran yang selalu ditunggu, datangnya menyingsing dari timur. Ibu pertiwi begitu bangga padanya saat  menatapnya. Pesona alam, masyarakat, dan adatnya membuat Indonesia memberikan corak berbeda. Potensi besar ini terbentang luas dari lautan, hutan belantara hingga gugur pegunungan yang membuat tanah Papua ibarat tanah surga. Kekayaan alamnya tiada tandingannya membuat siapa saja ingin ke sana.

Potensi besar tersimpan dari rimbunnya hutan hujan tropis di Papua dan masyarakat di dalamnya. Caranya dengan mengubah menjadi daerah potensi ekowisata lestari. Yakni kegiatan alam yang mampu bertanggung jawab penuh pada proses penjagaan alam dan lingkungan tetap lestari. Serta mampu meningkat kesejahteraan masyarakat setempat tanpa mengubah alam tersebut.

Melestarikan kekayaan dari tanah Papua salah satunya melalui pariwisata lestari bernama ekowisata. Sekedar informasi, Papua memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi bukan hanya di Indonesia tapi di dunia. Total ada lebih 20.000 jenis spesies tanaman, 602 spesies burung, 223 reptil, dan 125 mamalia.

Tak hanya itu saja, ekowisata mampu menggali potensi masyarakat setempat seperti budaya dan mata pencaharian. Nantinya mampu menjadi penunjang dalam pendapatan masyarakat yang berkesinambungan. Pengunjung nanti bisa merasakan sensasi satu tempat dengan pengalaman, mulai dari tracking, birdwatching, penelitian, menikmati alam hingga adat istiadat masyarakat Papua.

Mempromosikan daerah melalui dunia pariwisata jadi magnet besar pemerintah, hanya saja masih sangat sedikit dalam pengembangan wisata lestari. Papua punya potensi itu semua, saat begitu banyak hutan di tanah ibu pertiwi sudah beralih fungsi. Hutan Papua harus tetap terjaga dengan berbagai biodiversitas flora dan fauna di dalamnya.

Mengedukasi Pentingnya Ekowisata Membangun Ekonomi Masyarakat
Selama ini masyarakat Papua digambarkan dengan masyarakat yang tertinggal dibandingkan dengan suku lainnya di tanah air. Mereka masih sering dianaktirikan dan bahkan kekayaan alamnya sering dilucuti para asing, masyarakat pun tidak mendapatkan peningkatan kualitas pendidikan, ekonomi hingga kesejahteraan.

Kini masyarakat Papua pun bangkit, mencari cara mengelola alamnya sendiri secara mandiri dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Setiap lokasi ikonik Papua punya nilai jual yang begitu besar dan kini mereka mencoba mengelolanya sebagai devisa masyarakat sekitar.
Prinsip ekowisata diusung karena punya segudang manfaat mulai dari konservasi, pemberdayaan ekonomi lokal, kearifan lokal, dan tentu sama ramah lingkungan. Masyarakat Papua ingin mengadopsikan konsep bisnis yang bersahabat dengan alam dan sifatnya berkelanjutan. Ekowisata dinilai cocok, sekaligus tidak perlu modal besar dalam pengembangannya tapi berdampak besar secara terus menerus.

Dibutuhkan orang-orang yang paham akan cara mengelola konsep ekowisata tanpa mengenyampingkan peran suku setempat. Ini bisa menghindari konflik, makin banyak masyarakat Papua yang terlibat dalam pengembangannya. Mereka akan lebih tahu dan mandiri dalam mengembangkan ekowisata.

Potensi ekowisata yang Potensial dikembangkan
Hutan hujan tropis di pedalaman Papua sangat ideal dalam proses persiapan ekowisata. Ada begitu banyak tempat yang bisa direkomendasikan dan setiap lokasi punya keunikan masing-masing. Berikut sejumlah potensi yang bisa dikembangkan di rimba Papua.

Wisata pemandangan alam, Pemandangan yang memanjakan mata yaitu saat datang ke Cagar Alam Pegunungan Arfak di sebelah timur dari Kota Manokwari, Papua Barat. Punya luas membentang yaitu 68.325 hektar. Di dalam kawasan terdapat 110 spesies mamalia dengan 44 spesies yang sudah tercatat, 320 spesies aves yang di antaranya endemik khas cagar alam yaitu Cendrawasih Arfak (Astrapia nigra), Parotia Barat (Parotia sefilata), dan Namdur Polos (Amblyornis inornatus).

Cagar alam tersebut memiliki berbagai objek yang mengagumkan. Anda bisa melihat hutan yang masih murni terbentang sangat luas. Untuk jalur pendakian membutuhkan waktu yang paling panjang dibandingkan lokasi pendakian lainnya yang ada di Indonesia. Tentu saja dua danau kembar nan jernih yang terpisah tak jauh yaitu Danau Anggi Gida dan Danau Anggi Giji.
Pemandangan yang menakjubkan tersebut seakan seperti berada di luar negeri, hamparan padang rumput dan perbukitan hijau. Berada di atas 2.000 Mdpl seakan melihat hijaunya tanah Papua dari ketinggian, menawarkan wisata petualangan alam tanpa batas. Seakan jadi perjalanan dan pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Wisata Birdwatching, Papua memang jawaranya dalam mengamati berbagai spesies burung khususnya cenderawasih. Ada enam jenis cenderawasih yang dapat dinikmati oleh para wisatawan. Bila dihitung dengan aneka burung lainnya, ada 84 spesies burung dari 31 famili yang bermukim di hutan Papua.

Kehadiran ekowisata juga mengubah stigma yang dulunya memburu dengan menggunakan senapan angin. Berubah haluan menggunakan kamera dalam memburunya. Mengamati setiap gerak-geriknya di atas dahan pepohonan untuk hasil jepretan terbaik.
Suara kicauan burung pun begitu memesona, bahkan pengunjung yang baru pertama kali mendengar pasti terkejut. Suara cenderawasih beda dengan burung umumnya, justru suaranya seperti monyet yang menggema. Kepakkan sayapnya, warna dari bulunya dan indahnya mahkotanya membuat siapa saja terhanyut dalam birdwatching.

Wisata Pengembangan Penelitian, Hutan Papua jadi lokasi yang sangat ideal dalam observasi berbagai flora dan fauna endemik di dalamnya. Begitu banyak peneliti dari berbagai dunia yang datang ke Papua hanya itu untuk melakukan riset dan penelitian biota di dalamnya. Seperti berada di laboratorium alam karena ada  flora dan fauna endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.
Selain itu wisata penelitian juga berperan serta melakukan konservasi terhadap hutan. Ada banyak kerusakan alam yang ditimbulkan berdampak pada hilangnya sejumlah flora dan fauna. Alasan tersebutlah yang menguatkan untuk dilakukan proses pendataan hutan yang beralih fungsi, pencemaran air dan kerusakan lainnya jadi pertimbangan.

Mengenal Ragam Budaya Masyarakat Papua, Tanah Papua sejak dulu terkenal dengan beragam suku, bahasa, dan budaya. Total ada 466 suku yang mendiami Papua dan Papua Barat, keunikan inilah yang membuat para wisatawan ingin melihat secara langsung budaya mereka secara dekat.
Salah satunya adalah Suku Arfak yang ada di Papua Barat, mereka punya cara unik seperti budaya masak di dalam kulit kayu. Menghasilkan beragam kuliner yang menggugah selera bagi siapa yang ingin mencicipinya. Serta ada juga tarian ular dalam menyambut wisatawan. Terakhir adalah bentuk rumah kaki seribu yang mereka sebut IgKojei, apalagi suku Arfak sangat mendukung pariwisata dan pengembangan ekowisata.

Mempersiapkan Lokasi Ekowisata Terbaik
Saat ini sudah ada sekitar 19 suku di Papua yang siap mendedikasi lahannya hingga 98.000 hektar untuk dijadikan sebagai hutan lindung dan ekowisata. Salah satu ekowisata yang menarik dan jadi simbol masyarakat Papua adalah Burung Cendrawasih, burung endemik yang menjadi simbol sakral masyarakat Papua sejak dulu.
Gambar via GNFI
Pemerintah daerah pun sudah memberikan surat edaran khususnya melindungi Burung Cendrawasih dari perburuan liar. Adanya ekowisata mampu mencegah hal itu terjadi dan anak cucu kita tidak bisa melihat lagi cenderawasih hingga di dahan pepohonan kelak.

Ada lima tempat yang dicanangkan khusus sebagai desa pengamatan cenderawasih secara langsung yaitu Kampung Rhepang Muaif dan Kampung Tablasupa yang terletak di Kabupaten Jayapura. Kemudian Kampung Sawendui, Kampung Barawai dan kampung Pom yang terletak di Kabupaten Kepulauan Yapen.

Lokasi Ekowisata Nan Menarik Wisatawan
Sebelumnya sudah ada Kabupaten lainnya yang terlebih dahulu memulai mengembangkan konsep tersebut. Ada sejumlah birdwatching yang begitu strategis salah satunya Kabupaten Tambrauw. Punya sangat luas lahan yang bisa dimanfaatkan pengembangan lokasi ekowisata membentang dari 216 kampung di 29 distrik. Paling terkenal adalah distrik Miyah dan Sausapor sebagai lokasi birdwatching.
Lalu ada juga ekowisata pengamatan burung Bukit Isio (Isio Hill’s Bird Watching) di Rhepang Muaif Unurum Guay, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Papua. Bukit Isio mendapatkan kriteria Daerah Penting Burung (DPB) khususnya burung endemik dan terancam punah di Papua. Beberapa jenis cenderawasih seperti Paradisea apoda (cendrawasih besar), Paradisea minor (cendrawasih kecil), Cicinnurus regius (cenderawasih raja), Seleucidis melanoleucus (cendrawasih mati kawat).

Terakhir tentu saja Kampung Malagufuk, Distrik Makbon, Kabupaten Sorong. Punya potensi serupa dalam pengembangan ekowisata khususnya birdwatching cenderawasih. Ada sejumlah jenis yaitu Cendrawasih Kuning Kecil (Lesser bird-of-paradise), Magnificent Riflebird (Ptiloris magnificus), Golden Myna (Mino anais), Rufous Bellied Kookaburra (Dacelo gaudichaud), Moustached Treeswift (Hemiprocne mystacea), dan Papuan hornbill (Rhyticeros plicatus).

Sejumlah lokasi tadi bisa menjadi lokasi strategis lainnya dalam pengembangan ekowisata. Tanah Papua yang terbentang luas seakan menjadi lokasi pengembangan hutan produktif dan bernilai wisata tinggi. Kehadiran birdwatching seakan memberikan kesempatan masyarakat mengenal beragam jenis burung. Dulunya kita hanya bisa melihat di buku atau tayangan video, kini ia terbang melintasi kita sembari mengepakkan sayapnya.
Ide pengembangan ekowisata pun sesuai dengan yang dikembangkan oleh Yayasan Ekosistem Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation). Mereka begitu getol dan mendukung penuh dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di tanah air. Papua jadi salah satu fokusnya khususnya dalam mengajarkan masyarakat setempat dalam pengembangan hutan yang produktif tanpa mengalihfungsikannya.

Alhasil cita-cita tersebut berhasil terwujud dengan sejumlah Desa binaan, sebut saja Ekowisata Arfak dan terbaru adalah Ekowisata Malagufuk. Masyarakat mulai sadar bahwa dengan mengelola alam bisa sejalan langsung dengan manfaat yang didapat tanpa merusaknya. Potensi wisata birdwatching, cagar alam hingga pengenalan budaya mampu menyedot wisatawan lokal hingga mancanegara.
Kini masyarakat Papua bisa kembali tersenyum dan bangga bahwa kami bisa mengelola bumi kami sendiri secara mandiri. Semoga tulisan ini menginspirasi dan Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?

ASUS ROG Phone 3

//Sidebar 320x320