Friday, April 3, 2020

Perburuan Ciptakan Teknologi Penangkal COVID-19

Mendengarkan dunia medis memanglah tak semenarik dan sefantastis membahas dunia teknologi, politik atau bahkan ekonomi. Ada jurang yang begitu besar sehingga dunia kesehatan tidak terlalu diperhatikan, sampai pada saat kritis barulah semua sadar bahwa kesehatan itu sangat berharga.

Segala yang kita punya dari harta, kekuasaan hingga pengaruh tak ada apa-apanya saat terbaring di RS. Saat ini pun dunia sedang mengalami krisis kesehatan, pandemi seakan tidak mengenal sebuah wilayah. Virus menjangkiti manusia dengan cepat, mengancam banyak umat manusia tanpa melihat ras mana pun.

Saat itulah dunia panik dan linglung, pertama kali di era modern ada pandemi besar. Sejarah mencatat sejak pertama kali peradaban manusia di muka bumi, sudah begitu banyak wabah penyakit yang menyerang. Umumnya tidak berhasil ditanggulangi, malahan berujung jadi petak besar yang mengancam manusia.

Sejak dulu di pikiran manusia selalu terpatri ancaman nyata adalah sesuatu yang terlihat jelas. Salah satunya peperangan, manusia selalu mempersiapkan ini dengan sangat baik bahkan sejak dulu. Berperang melawan terlihat membuat banyak negara paranoid ingin menjadi lebih dan bahkan bisa berkuasa.
Tapi tidak dengan penyakit bahkan untuk sekelas zaman modern sekalipun. Anggaran yang disediakan pun relatif jomplang. Saya membandingkan anggaran kementerian pertahanan Indonesia untuk tahun 2020 mencapai 127,4 T, sedangkan Kementerian Kesehatan hanyalah 57,4 T dari total 2528,8 T total anggaran APBN tahun ini.

Di negara lain hal serupa juga terjadi, negara seperti China dan USA menggelontorkan uang begitu besar dalam memperkuat alutsistanya. China di tahun lalu saja menghabiskan dana US$ 273 Miliar hanya untuk memperkuat armada. Sedangkan USA lebih gila dengan dana pertahanan hingga US$ 718 Miliar, angka yang cukup fantastis sampai 60% APBN USA. Sedangkan biaya kesehatan dan kesejahteraan hanya sebesar US$ 90 Miliar saja, begitu timpang bukan.
Setiap negara besar seakan siap bila saja ada kemelut yang berujung perang. Kepada siapa bersekutu, pasokan senjata, logistik hingga strategi yang digunakan. Hanya saja tidak dengan wabah yang berujung pandemi mematikan, merenggut jutaan manusia secara perlahan-lahan. Itulah yang Bill Gates ucapkan di TED Talk dan bahkan berbagai forum lainnya.

Itulah yang terjadi saat ini, apa yang ditakutkan oleh Bill Gates seakan menjadi sebuah kenyataan. Pandemi jadi perang sesungguhnya, dunia tidak siap bahkan sekelas negara maju dengan teknologi medis terbaik pun kelabakan. Jumlah kesakitan dalam jumlah banyak tak sebanding ICU di setiap negara. Dampaknya banyak korban jiwa harus merenggang nyawa akibat COVID-19.
Mengapa Biaya dan Riset Kesehatan Minim?
Sejak dulu hampir sebagian besar negara di dunia berlomba menciptakan atau bahkan membeli alutsista canggih untuk memperkuat pertahanan negara. Hanya saja banyak negara yang tak terbesit melakukan hal sebaliknya yaitu memperkuat sistem pelayanan kesehatan dan deteksi dini terhadap wabah.

Saat pandemi datang, barulah ada tindakan seperti menambah biaya kementerian kesehatan, memperbaiki ICU, menambah jumlah dokter serta rumah sakit hingga kebijakan tanggap darurat. Masyarakat pun serupa, pemahaman akan kesehatan masih sangat kurang, ada yang tidak tahu penyebaran virus dan bahkan proses pencegahan sehingga banyak yang menyepelekan.
Kemudian faktor lainnya karena sebuah penyakit berbahaya sulit diprediksi datangnya. Inilah yang menjadikannya bukanlah sebuah prioritas. Sikap manusia yang punya rasa takut akan sesuatu tak terlihat seperti virus dibandingkan luncuran misil jarak jauh.

Virus SARS sudah ada sejak lama ditemukan dan telah banyak sumber di jurnal internasional, meskipun kemudian bermutasi menjadi  COVID-19. Artinya ilmuwan sudah memprediksi sebelum akhirnya menyerang manusia. Ada begitu banyak waktu yang bisa dipersiapkan bahkan untuk membuat vaksin. Tapi apa daya karena pendanaan dari promotor yang terbatas.

Itulah yang terjadi saat ini, misalnya saja Indonesia melalui konsorsium lembaga riset kesehatan. Di dalamnya terdiri dari kementerian kesehatan dan riset serta ilmuwan dari berbagai lembaga riset, saling bahu-membahu menciptakan vaksin ampuh.

Perkiraan dananya pun cukup besar hingga mencapai 1 Triliun, mencakup tahapan pengujian pra klinis terhadap hewan lalu manusia yang bersedia. Setelah itu diberikan ke industri farmasi untuk diformulasikan hingga bisa digunakan khalayak ramai.

Bahkan hanya pendanaan, Indonesia masih minim para peneliti yang cukup kredit di bidang kesehatan dan obat-obatan. Itu bisa terus berkembang bila pemerintah cukup perhatian, ada begitu banyak sumber daya alam Indonesia yang bisa jadi bahan riset dan inovasi.

Apalagi sesuai dengan ide jangka panjang mewujudkan Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) hingga 2045. Pandemi COVID-19 jadi langkah maju dalam proses menciptakan vaksin buatan anak negeri sekaligus memperhatikan dunia kesehatan dan obat-obat.

Bersiap Menghadapi Ancaman Pandemi
Ledakan jumlah korban seakan membuat setiap negara mempersiapkan diri. Pandemi dampaknya sangat luas bukan hanya aspek kesehatan saja. Ada sejumlah efek domino lainnya yang bisa terjadi bila berlarut-larut. Mulai dari depresi dan resesi ekonomi, terganggunya distribusi logistik hingga kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Bertindak cepat bisa menekan jumlah korban jiwa dan bahkan menekan penyebarannya. Lahirnya berbagai solusi seperti physical distancing, crowded mass, mobality mass, hingga lockdown. Semua itu yang bisa pemerintah lakukan sembari vaksin berhasil ditemukan dan mereda di sebuah negara.

Semua pihak dilibatkan, proses pembuatan vaksin kini dilakukan di sejumlah laboratorium teruji di dunia. Ada banyak negara yang ikut serta seperti Jerman, Inggris, Prancis, Brazil, USA, Israel, hingga China. Berlomba dengan waktu hingga bisa diuji terhadap manusia, karena kini sudah memasuki tahapan pra klinis dan diharapkan segera berlanjut ke uji klinis.
Proses panjang membuat sebuah vaksin
Memang proses membuat vaksin tergolong sulit, tapi di kondisi yang begitu pelik para ilmuwan seakan berburu dengan waktu. Standar sebuah vaksin bisa ditemukan dan bisa digunakan membutuhkan waktu hingga 5 tahun. Tapi pada kondisi seperti ini dan banyak ilmuwan yang terlibat di dalamnya, waktu selama 18 bulan tergolong ideal.

Tinggal bagaimana pemerintah, swasta, dan masyarakat menekan laju penyebaran dengan berbagai mekanisme terbaik. Masyarakat melakukan physical distancing, pemerintah dan swasta membuat terobosan yang baik di semua bidang, apakah itu kesehatan dan ekonomi.

Peran Perusahaan Teknologi China Menghadang Pandemi
Mungkin di era modern perusahaan berbasis teknologi jadi perusahaan tersohor. Menghasilkan produk mutakhir, punya segudang ilmuwan dan tim pengembangan terbaik, menyimpan begitu banyak data pengguna, hingga dana tak terbatas.

Dampak pandemi COVID-19 seakan berpengaruh terhadap produksi produk mereka. Bila terus tinggal diam, perusahaan akan merugi akibat daya beli masyarakat menjadi rendah. Belum lagi ras waswas karena pegawai hingga pekerja pabrik tidak bisa memulai aktivitas seperti bisa.

Inilah yang membuat mereka berinovasi membantu menghadang pandemi. Segala sumber daya dan teknologi bisa diimplementasikan buat mencegah virus. Bahkan bisa menjadi lahan basah yang bisa dimanfaatkan buat menarik pelanggan. Saat banyak perusahaan lainnya yang menganggap fase ini adalah kerugian besar bagi mereka.

Perusahaan besar dari negara terdampak paling besar kontribusinya, dana R&D teknologi yang mereka punya bisa dialihkan dalam pengembangan teknologi berbasis kesehatan. Salah satu yang cukup cekatan adalah raksasa Alibaba dengan meluncurkan sejumlah terobosan. Mulai dari membuat riset khusus di bidang kesehatan yaitu DAMO Academy. Total ada lima bidang yang menjadi fokus utama dalam pengembangannya.
Alibaba dan Damo melakukan sebuah kolaborasi unik antara dunia teknologi dengan lintas ilmu lainnya. Dunia bisnis yang selama ini dekat dengan profit coba dipadukan dengan dunia teknologi yang membantu masyarakat. Lahirlah DAMO Academy yang mampu mengatasi tantangan teknis dan skenario bisnis Alibaba.

Bahkan Alibaba memberikan wadah para ilmuwan dalam menemukan inspirasi dan pengalaman di bidang industri teknologi. Selama ini ilmuwan kurang mendapatkan apresiasi dan Alibaba mencoba memberikan ruang yang lebih besar termasuk dalam pendanaan hingga penghidupan yang layak. Alhasil ada begitu banyak ilmuwan lintas bangsa yang bergabung dalam DAMO Academy.

Termasuk dengan adanya wabah Covid-19 yang begitu mengkhawatirkan. Sebelumnya saja sudah banyak negara yang bergabung dalam mencegahnya. Hal paling sederhana ialah dalam mendeteksi penderita dalam waktu cepat. Sebagai contoh di China ada 82 ribu pasien yang terjangkit di sejumlah kota di sana. Kini jumlah terus menurun dan hanya menyisakan 2 ribu pasien saja.
Tak hanya itu saja, ada juga sub-aplikasi Alibaba yang bergerak di bidang dompet digital, Alipay meluncurkan terobosan besar dengan namanya Alipay Health Code. Ia mampu mendeteksi pengguna yang terjangkit COVID-19 khususnya menggunakan aplikasi Alipay. Melalui tiga keterangan warna yaitu merah (positif dan wajib karantina), kuning (sebaiknya di rumah saja), dan hijau (bebas gerak).

Caranya cukup dengan mengisi data diri pengguna, lalu aplikasi akan mengumpulkan data real time pengguna seperti terkait perjalanan dan interaksi dengan pengguna lainnya khususnya yang positif COVID-19. Pemerintah dan pihak medis dengan mudah bisa melacak pengguna yang berpotensi terjangkit tanpa harus melakukan lockdown semua kota di China. Hanya di Provinsi Hubei saja peraturan tersebut berlaku, sehingga ekonomi China tidak terganggu secara keseluruhan.
Alipay Health Code juga dipasang di sejumlah lokasi umum seperti transportasi dan sarana publik. Bila pengguna punya keterangan warna kuning atau merah akan ditolak aksesnya sehingga tidak membahayakan pengguna lainnya. Ini cukup berguna dan sukses dalam menekan jumlah COVID-19 di negara China.

Tak hanya Alibaba saja, sejumlah perusahaan teknologi China lainnya tak mau ketinggalan berkontribusi besar. Sebut saja ada Baidu dan Tencent yang menawarkan platform konsultasi dokter online yang bersifat Telemedicine. Pengguna bisa berkonsultasi mengenai kendala penyakit dan pihak Baidu dan Tencent sudah menyediakan dokter khusus tanpa harus ke RS. Bahkan pengiriman obat dilakukan dengan menggunakan jasa Drone agar minim kontak bekerja sama dengan JD.com dalam pengantar logistik tersebut.
Lalu ada Huawei yang terkenal sebagai pembuat jaringan telekomunikasi dan bahkan smartphone terbaik di dunia. Berkat pengalaman mereka di bidang jaringan termasuk kini mengembangkan OS sendiri tanpa layanan Google. Berhasil membuat cloud khusus dalam memahami susunan genetik virus COVID-19. Pasien bagaimana yang rentan serta kebiasaan apa yang berpotensi terpapar virus tersebut.

Terakhir adalah Gojek buatan China yaitu DiDi Chuxing, mereka memudahkan proses pengantaran makanan, barang serta akses lainnya bagi pengguna tanpa harus keluar rumah. Serta mempersiapkan layanan cloud gratis khususnya dalam penelitian virus. Apalagi DiDi Chuxing punya layanan dan jangkauan luas pengguna di negeri tirai bambu tersebut.

Perusahaan Teknologi Dunia tak Mau Kalah Pamor
Pandemi sudah pasti menjadi polemik di seluruh dunia, ada begitu banyak dampak yang dirasakan. Inilah yang membuat perusahaan teknologi dunia bekerja sama. Di mulai dari daratan Asia yaitu Jepang dengan FujiFilm, terkenal sejak dulu di bisnis kamera bukan berarti mengabaikan isu kesehatan. Apalagi Jepang negara di luar China pertama yang terjangkit COVID-19.

Melalui divisi pengembangannya yaitu FujiFilm Toyama Chemical terkenal dengan riset kesehatan. Salah satunya dengan meluncurkan obat penawar yaitu Avigan. Obat ini telah berhasil melewati uji klinis khususnya pada pasien COVID-19 berdampak besar di Wuhan dan Shenzhen. Memang cukup efektif untuk pasien gejala sedang dan ringan termasuk mencegah virus berkembang biak.
Ada juga startup asal Jepang yang melakukan proses pemberian informasi mengenai COVID-19 dengan menggunakan AI ChatBot. Tujuannya mengurangi kontak antar manusia khususnya yang baru saja tiba di Jepang. Para pelancong bisa mengetahui informasi mengenai Jepang serta lokasi yang rawan dengan penyebaran COVID-19.

Singapura tak mau ketinggalan, menurut saya negara ini cukup protektif terhadap COVID-19. Pengalaman akan SARS di tahun 2003 membuat Singapura belajar banyak, termasuk layanan RS terbaik. Bahkan proses pengiriman kebutuhan medis dilakukan dengan menggunakan transportasi udara dari startup negara mereka AntWork.
Meloncat jauh ke negara adikuasa Amerika yang terkenal dengan gudang perusahaan teknologi. Selama ini Google, Facebook, Microsoft, dan Amazon sangat bersaing di dunia dagang, tapi saat virus COVID-19 menjadi pandemi di Amerika, membuat mereka bersatu dalam membuat terobosan.

Misalnya saja Google dengan mengembangkan divisi khusus Verily khususnya situs web pengujian virus COVID-19. Ada 1.700 insinyur yang terlibat dalam proyek tersebut dan nantinya ada pengujian COVID-19 dan mengarahkan pasien ke lokasi terdekat. Pengguna nanti bisa mengambil hasil tes pada web pengujian dari Verily tersebut.

Facebook juga tak mau ketinggalan dengan meluncurkan fitur bantuan komunitas sehingga pengguna bisa menawarkan bantuan pada tetangga. Seperti mengambil barang belanjaan, meminta mengerjakan sesuatu, penggalangan dana hingga kegiatan sukarelawan. 
Microsoft melakukan hal berbeda yaitu dengan membantu para peneliti dalam proses akses pada cloud mereka yakni Microsoft Azure. Tujuannya adalah memudahkan proses kolaborasi para ilmu dan penelitian seperti penanganan dan monitoring pasien, proses perkembangan vaksin hingga akses mudah data dengan Microsoft.

Terakhir tentu saja Amazon, mulai dari menyumbangkan dana dalam jumlah besar, merekrut banyak pekerja hingga 100 ribu karyawan baru serta menggunakan pengiriman hingga di depan pintu rumah. Artinya mampu mengurangi interaksi dengan penerima barang termasuk pengoperasian Drone dan Zeppelin dalam pengiriman udara.  Bahkan menggratiskan layanan Amazon Prime kepada pengguna setianya. 
Menghadapi pandemi dan krisis saat ini akan terasa ringan bila semua pihak saling bahu-membahu. Koneksi ini mampu membantu pihak yang paling kuat mengalami cobaan seperti yaitu pasien, tenaga medis dan peneliti. Pihak lainnya saling bekerja sama dan membuat terobosan agar pandemi segera berakhir. Memulai hidup normal seperti semula.

Semoga postingan ini memberikan inspirasi, Stay at Home and Have a Nice Days.

Share:

1 comment:

  1. Tapi memang untuk hadapi penyakit kecil-kecil anggaran negara. WHO aja udah bilang Covid-19 buka betapa buruknya sistem kesehatan dunia.

    Beda dengan swasta yang jor-joran untuk dana riset.

    Tapi yaa itu... negara gak bisa kasih budget banyak untuk riset, soalnya banyak bagian lain yang butuh dana juga. Beda dengan swasta yang mereka pikirannya gak percabang, cuma urusin riset doang.

    Kalau penelitian bagusnya kasih ke swasta aja. pemerintah bagusan banyakin dana untuk kesejerahtaan masyarakatnya. Tks

    ReplyDelete

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer