Monday, April 6, 2020

Big Data, Stimulan Terbaik Mengontrol Pandemi

Ancaman pandemi menjadi ancaman nyata di banyak negara. Bagaimana tidak, dalam waktu singkat jumlah kesakitan yang disebabkan oleh COVID-19 naik drastis. Negara yang punya sistem medis yang cukup bagus dan tenaga medis berlimpah saja kewalahan. Bagaimana dengan negara yang tidak siap sama sekali, sudah pasti petaka datang.

Berbagai kebijakan harus diambil oleh pemerintah, mulai dari anjuran mencuci dan menggunakan masker saat keluar rumah. Meliburkan anak sekolah, melakukan Pyhsical Distancing, penangguhan penerbangan luar negeri hingga penerapan Lockdown di sejumlah kota hingga satu negara. Cara pencegahan yang cukup ampuh menekan penyebaran lebih luas lagi hingga vaksin bisa ditemukan.

Ada sejumlah negara yang berhasil dan dinilai sukses menekan jumlah warganya yang tertular. Ini menjadi contoh buat negara lainnya mencobanya. Siapa yang tidak ingin rakyatnya atau merenggang nyawa akibat pandemi. Dibutuhkan kerja keras bahkan koordinasi dari akar rumput (masyarakat) hingga top level (pemimpin) dalam memecahkan hal kompleks tersebut.
Negara yang sukses berhasil melakukan hal tersebut dengan sangat baik, mereka sadar bila berlarut-larut akan berdampak pada ekonomi. China sebagai negara yang pertama kali berdampak wabah langsung bergerak cepat. Salah satunya dengan meluncurkan aplikasi bernama Alipay Health Code.

Aplikasi mampu mendeteksi pengguna yang terjangkit COVID-19 melalui tiga keterangan warna yaitu merah (positif dan wajib karantina), kuning (sebaiknya di rumah saja), dan hijau (bebas gerak). Caranya cukup dengan mengisi data diri pengguna, lalu aplikasi akan mengumpulkan data real time pengguna seperti terkait perjalanan dan interaksi dengan pengguna lainnya khususnya yang positif COVID-19.
Pemerintah dan pihak medis dengan mudah bisa melacak pengguna yang berpotensi terjangkit tanpa harus melakukan lockdown semua kota di China. Alipay Health Code juga dipasang di sejumlah lokasi umum seperti transportasi dan sarana publik. Bila pengguna punya keterangan warna kuning atau merah akan ditolak aksesnya sehingga tidak membahayakan pengguna lainnya.

Konsep kerja dari Alipay Health Pay menggunakan Big Data yang terkoneksi langsung pada sistem Alibaba dan pemerintah China. Data ini berguna dalam mengabarkan pada masyarakat lainnya dan media mengenai konfirmasi pasien positif di sana.

Bukan hanya Alipay Health Pay saja, ada aplikasi lainnya yang digunakan lebih luas dalam mengatasi COVID-19 yaitu Jian Kang Bao (sehat itu harta karun). Aplikasi yang terkoneksi langsung pada pusat data kesehatan di China. Proses mendaftarnya pun sangat mudah hanya bermodal KTP atau KK setiap pengguna. Langsung tersambung pada sistem Big Data yang ada di Jian Kang Bao.
E-KTP di sana berperan sangat besar, menjadi sebuah standar baku dalam segala akses vital seperti akses terhadap transportasi umum dan fasilitas publik. Bahkan proses pembayaran seperti registrasi, bayar parkir, tiket kereta, bayar listrik, dan tol hanya menggunakan kartu ajaib tersebut. Semuanya pun terekam jelas dari biodata, nomor kontak, alamat rumah, email, dan sampai sosial media.

Satu sisi sangat menakutkan karena pemerintah punya akses penuh terhadap setiap orang di negara. Tapi buat kondisi pelik COVID-19, Big Data cukup manjur dalam merekam setiap pergerakan aktivitas setiap orang. Makin sempurna lagi segala pergerakan massa terkontrol dari CCTV sehingga bisa mengetahui lokasi jelajah setiap orang selama di negaranya.

Pengguna yang melanggar atau bahkan punya potensi besar positif COVID-19 akan terdata khususnya setelah kontak langsung dengan penderita sebelumnya. Data tersebut terekam dari laser suhu yang terpasang pada kamera pengawas CCTV di lokasi publik. Makanya bila sudah ada tanda-tanda dengan gejala ringan, lebih baik berdiam diri di dalam rumah.
Aplikasi Big Data sudah pasti berjalan dengan konsep AI (kecerdasan buatan), data yang terkumpul dari setiap pengguna akan diolah dalam waktu singkat hingga didapatkan hasil. Aplikasi Jian Kang Bao akan memberitahu Anda bila hasilnya positif. Tinggal kemudian Anda memeriksakan tingkat gejala pada RS terdekat. Apakah perlu dirawat atau cukup di rumah saja hingga menunggu 14 hari setelahnya.

Keberhasilan Negara Lainnya Menangkal COVID-19
Menurut saya, setelah kemunculan COVID-19 selama 3 bulan terakhir ada sejumlah selain daratan China yang berhasil. Bahkan bisa dikatakan negara awal yang terjangkit langsung saat negara lain belum memiliki kasus. Sebut saja Korea Selatan yang ada 10 ribu warganya positif COVID-19, mereka tak panik dan punya solusi mengatasi hal tersebut yaitu dengan modal Big Data.

Selama ini Korea Selatan terkenal dengan perkembangan teknologi yang berhasil diaplikasi di sejumlah bidang termasuk koneksi Big Data pada lembaga kesehatan. Mereka pun tak memilih jalur lockdown karena sadar bahwa penderita tak sebanyak jumlah total penduduk mereka. Melakukan lockdown artinya menganggap semua penduduk adalah ODP (Orang Dalam Pantauan).
Modal Big Data yang mereka terapkan cukup sederhana, koneksi Samsung dan Apple nyatanya memberikan banyak akses pengguna. Proses yang dilakukan adalah dengan pelacakan (tracking), peringatan dini (early warning), metodologi pengamatan intensif serta analisis Big Data. Hasilnya keluar cepat dan bisa mengetahui titik warga positif. Supaya menjauh dari lokasi tersebut agar tidak terpapar COVID-19.

Satu hal yang cukup saya angkat topi adalah sifat transparan dalam memberitahu warganya melalui ponsel mereka. Di dekat lokasi mereka ada warga positif dan jalan mana yang harus dihindari supaya warga tak terpapar. Lalu siapa saja dan daerah mana saja yang ia lalui dikirimkan pada semua orang di sekitarnya. Ini mampu membuat persebaran putus selain hanya physical distancing saja.

Lalu Big Data tak hanya memiliki data informasi warga negaranya saja tapi warga negara asing yang sedang melancong. Nantinya bila sudah terlihat gejala, mereka dipandu serta terintegrasi ke akses penting seperti RS, bank, operator seluler hingga tempat penjualan logistik.
Big Data pastinya terhubung dengan IoT pada perangkat pengguna. RS dan layanan ambulans akan langsung ke pergi lokasi tersebut. Bahkan data pengguna bisa diketahui langsung misalnya saja ia menggunakan smartwatch atau aplikasi  heart tracker. Jadi bisa diketahui proses penanganan awal setiba di RS. Big Data mampu mengetahui riwayat penyakit pasien melalui EHR (Electronic History Records).

Proses lainnya yang tergolong cepat adalah pengujian tes hasil COVID-19 dengan konsep Drive-Through Test. Pengguna cukup di dalam mobil di area laboratorium pengujian seluler. Akan dan ada petugas khusus yang menguji pengguna dengan metode Swab Test, bukan Rapid Test (hasilnya kurang akurat).
Hasilnya pun akan keluar beberapa menit kemudian, lalu cara ini dinilai aman karena tidak ada kontak antara satu orang dengan yang lain bahkan bisa menambah pengguna yang sebelumnya positif. Terakhir adalah penerapan AI dalam distribusi masker dan perangkat pencegahan lainnya. Ini menghindari penimbunan masker atau APD oleh pihak tak bertanggung jawab. Tentunya itu berlaku juga dalam pengaturan sembako.

Singapura dan Taiwan melakukan hal serupa tapi lebih terperinci, pengalaman pelik Wabah SARS tahun 2003 membuat mereka tak mau jatuh ke jurang yang sama oleh COVID-19. Kedua negara ini memadukan kecekatan pemerintah, tes massal merata, transparansi hingga penerapan teknologi. Hasilnya terlihat dengan kecilnya jumlah korban dan bahkan angka kematian nyaris menyentuh angka nihil.

Singapura misalnya saja punya 150 RS pemerintah dan swasta yang tersebar di seluruh negeri. Mereka pun menyiapkan ICU khusus terhadap pneunomia. Saat kondisi darurat seperti sekarang, semuanya diambil alih oleh pemerintah khususnya kontrol penuh pasien.
Lalu ada Big Data seluruh warganya dan bahkan pendatang saat ke sana akan ada informasi lengkap, tujuan kunjungan yang dipetakan melalui catatan imigrasi dan rekaman CCTV. Siapa bertemu siapa, di mana hingga kontak apa saja yang dilakukan dengan tujuan memutus mata rantai COVID-19.

Ada tim khusus, kalo di Indonesia seperti BIN yang menghimpun riwayat kesehatan dan jejak pasien. Menghubungi kerabat agar bisa dilakukan tes positif atau tidak terjangkit COVID-19. Supaya dilakukan proses karantina.

Orang yang diisolasi akan dikirimkan SMS dan menyuruh mengaktifkan lokasinya agar bisa diketahui apakah ia mencoba keluar selama masa karantina. Bila terbukti, denda dan hukuman kurungan siap mengintai. Nah... data tersebut bisa diakses oleh siapa saja yang dikelola langsung pemerintah.
Taiwan pun jauh lebih ketat  mengenai orang yang masuk ke negaranya. Misalnya data imigrasi si pelancong khususnya riwayat bepergian sebelum sampai ke negaranya. Lalu riwayat penyakit hingga tentu saja kontak yang ia lakukan sejak dalam pesawat sampai menginjakkan kaki ke negara mereka. Alhasil Taiwan dan Singapura berhasil bermodalkan pengalaman, koordinasi dan tentu saja Big Data.

Big Data Hanya dipunyai Negara Maju dan Makmur
Sebenarnya penanganan sebuah bencana tak terduga bukan hanya bersumber dari sumber dana tapi juga koordinasi. Saya mencontohkan negara yang mungkin secara ekonomi di bawah Indonesia, yaitu Vietnam. Negara yang secara ekonomi di bawah Indonesia ini tergolong sukses, hanya ada 241 kasus sejak pertama kali muncul pada 27 Januari 2020.

Tak ada penambahan, malahan pasien sudah pada sembuh dan nihil kematian. Apa yang mereka lakukan sedangkan pemerintah low budget dan tak punya koneksi Big Data. Pertama adalah menutup akses penerbangan dari dalam dan luar negeri, makin kecil mobilitas itu berarti memperkecil penyebaran. Kedua penerapan physical distancing dan meliburkan sekolah sehingga aktivitas di luar rumah bisa berkurang.
Lalu ada juga penerapan protokol kesehatan khususnya mengontrol pasien yang positif COVID-19. Serta pelarangan impor dan ekspor satwa liar yang bisa berdampak pada persebaran virus. Hasilnya cukup berhasil seperti Vietnam. Bermodal hal tersebut, penyebaran bisa dikontrol dan pada 20 April Vietnam sudah bebas COVID-19. Melihat hal tersebut pastinya Indonesia bisa mencoba cara tersebut, lebih baik terlambat dibanding tidak sama sekali.

Big Data Lebih Ampuh dari Lockdown
Kasus COVID-19 bagi banyak negara ibarat sebuah ujian besar, sesuatu yang tak terduga hingga mengancam nyawa dan ekonomi sebuah negara. Beragam cara dilakukan pemerintah antara memilih ekonomi yang rontok atau bahkan banyak nyawa masyarakat melayang.

Bila saja memilih konsep lockdown, sudah pasti ada begitu banyak orang yang merasakan dampaknya secara langsung. Mereka yang bekerja harian harus kehilangan pekerjaan dan bahkan berdampak pada PHK karena beban perusahaan yang minim keuntungan.

Bila tidak hanya mengandalkan pysical distancing saja, jumlahnya memang ada tapi akan berdampak waktu penyebaran virus lebih lama dari 100 hari setelah kemunculannya di sebuah negara. Korban jiwa dan beban ekonomi yang jenuh akan tergerus dalam waktu lama bahkan resesi besar akan terjadi setelahnya.
Solusi ketiga pastinya Big Data, inilah yang mampu dipilih dan mampu menekan jumlah korban dan lebih tepat sasaran. Indonesia memang belum sepenuhnya siap dengan konsep Big Data, ada sebuah gap yang cukup besar akan teknologi khususnya di kota dengan di desa. Apalagi ada begitu banyak orang yang rela pulang kampung dari Jakarta, sudah pasti berdampak pada penyebaran COVID-19 jadi lebih luas.

Hanya saja butuh teknologi, sumber daya dan transparansi agar Big Data berhasil diterapkan. Negara maju mungkin sudah memulainya terlebih dulu. Tak masalah mengembangkan data dan bisa digunakan di masa depan. COVID-19 jadi percobaan mendeteksi seberapa baik Indonesia dalam memberdayakan data sebagai informasi korban yang terpapar.

Indonesia tidak sendirian, bahkan negara maju yang terdampak melakukan hal tersebut. Sebut saja USA yang cuek pada COVID-19 dan kini harus panik, ada UK yang sedang bekerja sama dengan layanan telekomunikasi negaranya. Tujuannya mengetahui persebaran data penduduk yang terpapar dan menekan jumlah jadi lebih besar.
Pemerintah USA pun kini sedang merangkul perusahaan teknologi negeri mereka, Google, Microsoft dan Apple agar membuka data pengguna. Tujuannya adalah mengetahui setiap pergerakan warganya, riwayat perjalanan, interaksi sosial hingga lokasi titik persebaran COVID-19. Data tersebut dihimpun dan kemudian dipadukan dalam AI untuk hasil baca yang lebih cepat. Bila tidak, ada jutaan warga USA yang harus terbaring di ranjang RS.

Mengembangkan Big Data dalam Konteks Kesehatan
Big Data memberikan sebuah warna baru yang berbeda dalam setiap aktivitas manusia yang berhubungan dengan dunia digital. Semuanya tercatat jelas bahkan secara real time. Di era internet lonjakan data semakin besar. Setiap kali kita membuka sebuah situs, melakukan pencarian hingga berapa lama Anda datang ke sana menjadi data bukti pencarian kita di internet.

Bisa dibayangkan berapa juta orang yang melakukan pencarian setiap harinya dan data yang dihasilkan, semua termasuk dalam konteks Big Data. Termasuk dalam hal data kesehatan, setiap data yang manusia milik bisa menjadi acuan dasar. Inilah yang berguna buat medis khususnya mengetahui riwayat penyakit, sebelumnya pihak rumah sakit sudah memiliki EHR (Electronic History Record) untuk akses pasien.

Pada kasus pandemi seperti sekarang, Big Data menjadi acuan yang sangat baik. Mulai dari proses analisa yang cepat, memprediksi penyebaran wabah, pengembangan proses perawatan pasien sesuai riwayat setiap pasien bahkan menekan biaya tidak perlu. Idealnya pemerintah hanya mengawasi orang yang tertular dan berpotensi tertular bukan mengawasi seluruh penduduknya. Sudah pasti biayanya besar dan tidak tepat sasaran.
Big Data bisa digunakan secara berkelanjutan tak hanya saat pandemi saja. Tenaga medis sangat terbantu terhadap proses perawatan pasien, mulai dari memantau pasien, opsi dokter dalam proses perawatan pasien hingga pencocokan pasien lebih efisien. Hingga mampu menyelamatkan begitu banyak nyawa lainnya dan teknologi mumpuni mampu melakukannya.

Hanya saja Big Data berpotensi jadi petaka bila jatuh ke tangan yang salah, ada begitu banyak data orang banyak yang bisa dimanipulasi untuk kepentingan khusus bahkan rawan peretasan. Kini tinggal pemerintah dan perusahaan teknologi meyakinkan bahwa data pengguna hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak seperti medis.

Konsep Big Data dan AI yang Indonesia Terapkan
Sebagai orang Indonesia, saya sangat mengharapkan Indonesia bisa menerapkan teknologi dalam memudahkan hajat hidup masyarakat kita. Di era Revolusi Industri 4.0 ada terobosan besar termasuk menghadapi kondisi pelik, jangan saja kita bangga sebagai pengguna internet terbesar Asia Pasifik saja tapi dengan internet mampu memberikan perubahan.

Salah satunya penerapan Big Data yang terkoneksi pada internet, persoalan COVID-19. Indonesia melalui Kemenristek sudah mencoba membuat peta persebaran secara nasional berbekal AI (kecerdasan buatan). Itu semua didapatkan dari data pengguna internet tanah air yang melahirkan peta spasial dalam melacak persebaran virus. Bahkan data tersebut digunakan BIN dalam melacak persebaran korban di tanah air dan Kemenkes untuk data di RS.

Bagaimana sih  konsep kerjanya?
Baiklah, proses pelacakan dilakukan dengan memasang aplikasi khusus di ponsel pasien yang positif COVID-19. Sudah pasti manusia modern tidak bisa lepas dari ponsel ke mana pun saat pergi dan ini sangat membantu pelacakan selama 14 hari ke depan dan pergerakan yang dilakukan. Sekaligus mengetahui lokasinya dan menjaga pasien tidak kabur.
Konsep kerjanya adalah dengan melihat setiap pergerakan manusia dengan menggunakan proyeksi hingga menghasilkan peta perpindahan dan persebaran. Untuk mengolahnya dibutuhkan AI untuk hasil yang didapatkan dari data tersebut. Artinya setiap kontak dengan pasien sebelum jatuh sakit bisa ditelusuri dan kemudian dilakukan tes dan mengkarantina diri selama 14 hari. Nah... AI juga bermanfaat dalam proses mitigasi penelusuran jejak pasien selama bepergian (tracing) dan tentu saja proses pelacakan (tracking).

Hanya saja punya kelemahan besar karena Big Data milik negara kita tak selengkap negara maju. Proses pelacakan hanya bisa dilakukan pada kota besar. Jumlah penduduk yang cukup besar dan merata membuat persebaran bisa sampai ke desa-desa.

Tugas berat diemban pemerintah saat ini, menekan angka pandemi harus dimulai dari perkotaan besar. Bila saja tidak berhasil dan optimal akan menjadi bumerang besar akan persebarannya. Big Data adalah satu dari sekian banyak solusi low budget tanpa menghukum roda perekonomian dan tentu saja nyawa masyarakat yang tak sedikit. Bergerak cepat sebelum semuanya terlambat....

Semoga tulisan ini menginspirasi, Stay at Home and Have a Nice Days...

Share:

1 comment:

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer