Sunday, March 29, 2020

Seberapa Besar Dampak Pandemi Terhadap Dunia Teknologi?

Kini segala lini industri yang ada di dunia dalam ancaman hebat tak terkecuali dunia teknologi. Efek domino dari COVID-19 sangat terasa secara global dan dunia teknologi cukup terpukul dalam hal ini. Pandemi yang berlangsung selama tiga bulan tersebut memberikan efek jangka pendek dan jangka panjang.

Semua produsen yang bergelut di dunia teknologi seakan ketar-ketir dibuatnya. Berawal dari China, imbasnya kini merambat ke seluruh dunia. Pandemi tersebut berdampak besar buat banyak manusia, sejumlah kantor, toko, dan pabrik tutup total. Pasokan teknologi dunia makin terpuruk karena ada larangan terbang dari dan ke China.

Awan kelabu di tahun 2020 seakan belum usai, hampir tiga bulan pertama jadi sesuatu yang pelik. Bila sebelumnya perang dagang sudah mempengaruhi ekonomi dunia, pukulan itu berlanjut dengan pandemi virus. Ini ibarat peperangan sebenarnya dan bahkan di luar dugaan banyak orang. Alhasil ada begitu banyak ekonomi negara yang tertekan dan mengalami resesi.

Tahun 2020 jadi era dekade baru termasuk dalam perkembangan teknologi, ada begitu banyak penemuan besar yang terjadi. Itu dimulai dengan telah diuji cobanya teknologi 5G pada sejumlah negara, ini pertanda dunia sudah memasuki dimensi baru. Tapi petaka di awal tahun seakan mengacaukan skenario tersebut, virus misterius datang dan semua jadi tak sesuai rencana. 
Berbagai pagelaran teknologi di awal tahun jadi yang terakhir diadakan, sedangkan yang lainnya harus ditunda dari jadwal. Virus yang awalnya hanya di China mendadak menyebar ke seluruh dunia, memang pada awal bulan pertama hanya ada di China daratan. Tapi kini hampir semua negara tak luput dari serangan tersebut.

Semua dunia sudah bahwa China menjadi tempat para produsen teknologi dari dalam dan luar negeri membuat dan merakit produknya. Para tenaga di sana begitu terampil dan punya kualifikasi kerja yang sangat bagus tapi punya biaya miring. Bahkan gadget yang kita gunakan hampir sebagian besar dirakit dan diproduksi di China. Saat COVID-19 menyerang, itu artinya ada begitu banyak stok produksi yang berhenti.
Perusahaan teknologi besar seperti Apple, Samsung, Tesla, Google hingga Foxconn mulai mengumumkan penutupan kantor korporasi, pabrik manufaktur hingga ritel yang ada di China. Dampak begitu besar, alasannya karena China menjadi pangsa yang begitu besar buat perusahaan teknologi. Ada ceruk yang begitu besar tak dipunyai negara lain. Selain produsen dan perakit, mereka juga target besar perusahaan teknologi dunia.

Saat ekonomi China dirongrong oleh virus, otomatis seluruh dunia panik. Banyak pekerja pabrik yang harus dirumahkan hingga virus mereda. Apalagi Provinsi Hubei dari beberapa Provinsi satelit lainnya jadi daerah industri China. Selama dua dekade terakhir China mampu mengubah setiap provinsi dari sentra pertanian ke industri.

Wabah tak kalah menakutkan dari perang dagang
Selama ini penduduk bumi sering menakutkan perang dagang dan perang nuklir di masa depan. Negara adikuasa Amerika seakan menabuhkan perang pada pesaingnya. Ini yang paling ditakutkan, ketegangan dan bahkan saling serang yang berujung kehancuran.

Saya pun seakan mengembalikan memori setelah menonton salah satu TED Talk. Pemateri utama yang mengisi seminar kala itu adalah Co-Founder Microsoft, Bill Gates. Ia bercerita banyak mengenai bahaya wabah yang mengintai banyak umat manusia. Bahkan yang selama ini masyarakat dunia takuti adalah perang nuklir atau bahkan krisis global. 
Nyatanya virus misterius bisa mengancam, tanpa adanya vaksin akan ada 60 juta korban yang terjangkit di era modern. Ketakutan tersebut seakan semuanya jadi De Javu, kini muncul virus yang sebelumnya belum ada. Sama-sama menyerang sistem pernapasan dan mengancam banyak manusia hingga menjadi pandemi global.

Semuanya mengacaukan berbagai bidang, hubungan panas USA dan Iran mendadak hilang, sengketa China dengan banyak negara lainnya di Laut China Selatan seakan tak digubris lagi. Setiap negara kita fokus dalam proses penghentian penyebaran virus dan himbauan masyarakatnya melakukan Physical Distancing.

Cara ini tergolong efektif dalam proses pemutusan penyebaran virus COVID-19. Sesuatu yang belum diketahui atau bahkan populer seabad silam. Berbagai cara ini dinilai bisa menekan angka korban yang terjangkit jadi lebih luas. Hingga akhirnya vaksin berhasil diuji para pasien yang sudah terpapar.

Wabah dan Efek Jangka Panjang Terhadap Dunia Teknologi
Nyatanya wabah dan pandemi lebih mengancam dari itu semua, COVID-19 yang baru hadir 3 bulan terakhir membuat segala bidang mendadak berhenti. Ekonomi berhenti, dunia hiburan, dan tentu saja produksi dan peluncuran beragam teknologi terbaru harus ditunda dari waktu yang dijadwalkan.
Bahkan jumlah produk yang ingin diproduksi terhambat, sudah pasti berpengaruh pada animo masyarakat dalam membeli perangkat baru. Pandemi seakan membuat masyarakat lebih memprioritaskan logistik dan kesehatan dibandingkan teknologi. Tidak upgrade gawai terbaru bukan masalah, inilah yang dipikirkan oleh produsen teknologi. Menunda lebih baik dibandingkan harus menanggung rugi penjualan di akhir tahun nanti.

Tapi dapat ini tidak terlalu dirasakan oleh Indonesia karena negara kita sudah cukup mandiri dalam perakitan produk teknologi dari luar negeri. Semenjak kebijakan dari kementerian Perindustrian di tahun 2016 mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Otomatis tak berpengaruh pada produksi luar negeri khususnya China, sehingga tak ada kelangkaan produk. Hanya saja pergerakan dolar yang terus meningkat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat.

Perkembangan Teknologi Kini Kurang Menggigit
Adanya lockdown dan karantina membuat perusahaan teknologi melakukan karantina dalam teknologi. Selama ini teknologi selalu begitu saja. Misalnya pada smartphone dan laptop hanya mengejar ketipisan layar dan menaikkan sedikit performa tanpa perubahan berarti. Waktu pandemi membuat para insinyur berpikir out off the box, sembari work for home mampu menginspirasi ide baru di dunia teknologi. 
Selama ini di dunia teknologi sangat dikenal dengan istilah gimmick atau teknologi baru yang tak terlalu diperlukan pasar. Perusahaan teknologi seakan berlomba untuk melakukan hal tersebut untuk menarik pelanggan. Adanya pandemi seakan perusahaan teknologi bisa lebih jeli dan matang dalam mempersiapkan sebuah produk. Waktu karantina karyawan dan perusahaan memberikan inovasi baru setelah pandemi mereda.

Para pekerja perusahaan dari direksi, insinyur, pekerja pabrik hingga seller bisa sedikit meluruskan kakinya di rumah. Tak harus mengejar target pembuatan, perakitan, dan tentu saja penjualan. Kini saatnya mereka kembali ke rumah, bertemu dengan keluarga yang selama ini sulit ditemukan akibat beban pekerjaan.

Perusahaan Teknologi Dunia yang Merana Akibat Corona
Saat pertama kali melanda, ada begitu banyak imbas yang dirasakan. Di awali dengan turunnya minat masyarakat dalam membeli ponsel barunya, diperkirakan hingga 12% bila pandemi berlangsung hingga tengah tahun. Bahkan akan lebih turun bisa terus berlangsung hingga akhir tahun.

Di pabrik hal serupa juga terjadi, untuk menghasilkan sebuah komponen teknologi. Ada beragam komponen yang dibutuhkan dari beragam perusahaan distributor. Bila saja pasokan komponen saja terganggu, sudah pasti proses produksi akan terhambat. Bila lebih masif lagi, sudah pasti pabrik utama akan tutup total. 
Itulah yang terjadi di Foxconn selaku perusahaan komponen terbesar di dunia. Mereka miliki 8 pabrik yang tersebar di seluruh dunia, salah satu terbesar ada di China tepat kota Longhua Town, Provinsi Shenzhen. Meskipun tak terlalu berdampak parah di China daratan, tapi karyawan perusahaan dirumahkan untuk mengurangi persebaran COVID-19. Meskipun sudah banyak menggunakan robot, tetap saja pengoperasiannya membutuhkan tenaga manusia.

Bisnis perangkat game sangat terpukul khususnya ponsel gaming dan konsol, di tengah permintaan tinggi tapi produksi minim. Mulai dari ASUS ROG Phone 2 yang terbatas jumlahnya di pasaran dan tak tersedia dalam waktu dekat.

Perusahaan konsol game terkemuka dari SONY dan Oculus seakan menunda peluncuran produk mereka. Padahal khususnya SONY sudah berjanji pada penggemarnya akan meluncurkan PlayStation 5 pada tengah tahun ini pada acara Game Developers Conference (GDC), Pax East dan Sony e3 2020.
Lalu teknologi yang paling ditunggu-tunggu pastinya jaringan 5G, China dianggap pelopor untuk internet super cepat generasi kelima. Hanya saja proses itu harus molor karena pemasok perangkat fiber optik umumnya berbasis di Wuhan, China. Mengejutkannya adalah Wuhan punya kontribusi mengenai 25% produksi global serat optik dunia. Jadi, bagi yang ingin merasakan internet 5G harus sedikit lebih bersabar lagi.

Terakhir adalah derita yang dirasakan oleh acara teknologi dunia, semuanya harus batal atau ditunda hingga tahun depan. Memang bukan hanya pameran teknologi saja, tapi hampir semua agenda dunia harus ditunda sampai pandemi mereda. Seperti batalnya acara besar Mobile World Congress (MWC) 2020 di Barcelona. F8 Facebook, Google I/O, dan bahkan Computex. 
Cara mengakalinya pun dengan peluncuran secara digital atau bahkan mengirimkan langsung produk baru mereka pada influencer dalam mencobanya. Bahkan proses penjualannya pun dilakukan secara online supaya pembeli tak harus keluar rumah untuk mendapatkan produk teknologi terbarunya.

Ada sejumlah perusahaan besar dunia yang menanggung rugi dan berbagai kebijakan yang ia lakukan dalam pandemi COVID-19. Saya pun akan menjabarkan sejumlah perusahaan tersebut, berikut infografisnya.

Kesimpulan Akhir
Setiap musibah yang menimpa pasti ada hikmah panjangnya bila direnungkan. Berbagai penundaan produksi, peluncuran hingga pameran teknologi sudah pasti berdampak besar. Perusahaan teknologi bisa rugi besar, hanya saja faktor kesehatan lebih penting dibandingkan segalanya.

Bila semua elemen orang yang berkecimpung di dunia teknologi terbebas dari penyakit pandemi COVID-19. Otomatis setelahnya semua pihak bisa menata kembali teknologi yang tertunda sembari mematangkan inovasi terbaru di masa depan. Toh bila semua elemen tersebut sakit dan konsumennya sakit, siapa yang membuat dan membeli?

Semoga postingan ini menginspirasi Stay Clean, Stay Healty, Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer