Monday, March 22, 2021

Wujudkan Penjelajahan Bulan Bersama Proyek Artemis

 

Terangnya bulan seakan menyinari malam yang terang, hari ini dihiasi Bulan Purnama. Sinarnya seakan membuat bumi terlihat sangat jelas kala malam hari. Tarikannya membuat pasang surut air laut, pengaruh bulan begitu kentara sejak dulu.

 

Seakan banyak yang terpikir kembali ingin pergi ke sana, penjelajahan di era 70-an jadi yang terakhir kali manusia ke sana. Hingga setengah abad berlalu, mimpi itu coba diwujudkan kembali dan menjadi wisata baru dengan tema wisata luar angkasa.

 

Misi sekaligus pariwisata mahal tersebut sudah pasti jadi program ambisius. NASA jadi yang terdepan dalam mewujudkan itu semua. Program kembali ke bulan tersebut mereka sebut dengan Program Artemis. Ada banyak misi yang coba diusung oleh NASA atas kembalinya ke Bulan.

 

Mulai dari mendaratkan wanita pertama di bulan, menjelajahi kutub selatan Bulan hingga menjadikan proyek wisata dan observasi lebih lanjut terhadap Bulan. Mulai dari mencari potensi air di dalam permukaan bulan hingga mencoba teknologi baru dalam menjelajah luar angkasa.

 

NASA pun tidak sendiri dalam proyek ambisius ini, mereka mengajak mitra terkemuka mulai dari European Space Agency (ESA), Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Badan Antariksa Kanada (CSA), dan Badan Antariksa Australia (ASA) hingga SpaceX selaku perusahaan swasta.

 

Proyek ke bulan dianggap menjadi model bisnis yang menguntungkan banyak pihak. Selama ini aktivitas luar angkasa dianggap sangat mahal dan tidak bisa diakses oleh masyarakat sipil. Tapi kini bisa diakses oleh siapa saja, sekaligus proyek lanjutan dalam mengirim manusia ke Mars.

 

Penantian Panjang Kembali ke Bulan

Misi ke bulan kembali seakan bisa menjawab bukti bahwa manusia dulu pernah menginjakkan kaki ke sana. Bagi pengamat Flat Earth dan berbagai teori konspirasi lainnya, pergi ke bulan adalah hal mustahil dan mengada-ngada. Perjalanan manusia terdahulu dianggap sesuatu rekayasa NASA semata.

 

Namun nyatanya manusia sudah pernah ke sana, ada 6 misi Apollo yang sudah dilakukan di sana selama 1969 hingga 1972. Pertanyaan mengemuka kini, mengapa manusia tidak kembali mengirim manusia ke bulan selama hampir setengah abad lamanya.

 

Isu miring seakan terus berhembus dan menganggap proses eksplorasi di Bulan pada masa lalu hanyalah sesuatu yang fana. Bahkan dianggap hanya kerja sama NASA dan Hollywood semata. Baiklah, ini coba dijawab secara mendetail.

 

Minim Anggaran, misi ke luar angkasa termasuk ke bulan sudah pasti proyek mahal yang menguras kantong negara. Alokasi dana ke luar angkasa seakan terpangkas habis selama ini, ada banyak pengalihan dana ke pos lainnya.

 

Beda di era 60 hingga 70-an kala itu, saat itu erat dengan perang dingin antara blok barat dan timur. Persaingan dari berbagai bidang pun merambah hingga di dunia antariksawan. USA mampu memenangkan perlombaan tersebut dengan berhasil mendaratkan manusia pertama di Bulan.

 

Pencapaian ini dianggap langkah maju dan sebagai pemenang perlombaan, meskipun menyedot begitu banyak dana. Tapi ini mampu mencatatkan USA sebagai negara adikuasa hingga saat ini. Kemenangan di antariksa tersebut jadi bukti nyatanya.

 

Untuk saat ini saja, USA mengucurkan dana US$ 19,9 Miliar dalam proyek tahunan NASA. Dana sebesar ini terlihat besar, namun banyak proyek dari NASA seakan dana tersebut terlihat kecil dalam proyek ambisius ke Bulan.

 

Ada proyek lainnya yang sedang dikerjakan seperti peluncuran Teleskop James Webb, Proyek Space Launch System hingga misi ke planet jauh seperti Jupiter dan ke luar tata surya. Jelas saja dengan biaya seperti itu, banyak yang harus diprioritaskan terlebih dulu. Sehingga proyek ke Bulan bisa tertunda sekian lama.

Sebagai perbandingan, para era perang dingin terdahulu saat perlombaan ke luar angkasa. NASA mendapatkan dana APBN USA hingga 4%, sehingga banyak proyek mercusuar yang berhasil. Sedangkan untuk saat ini, jumlahnya hanya 0,4% saja. Sehingga banyak proyek yang tertunda termasuk proyek mengembalikan manusia ke Bulan.

 

Misalnya saja NASA ingin kembali ke Bulan, mereka membutuhkan biaya hingga US$ 104 Miliar. Itu artinya dana yang pemerintah USA kucuran saat ini jelas sangat sedikit, butuh waktu 7 tahun agar kembali ke sana. Bila tak ada penambahan dan banyak misi lainnya, proyek ke bulan makin lama terwujud.

 

NASA pun harus mendesain ulang roket dari nol sehingga sesuai dengan zaman saat ini. Apollo dianggap sudah usang dan ketinggalan zaman. Mau tak mau segala yang terlibat dalam proyek Artemis semuanya baru.

 

Mulai dari roket, teknologi hingga proses pendaratan nantinya akan mengadopsi konsep baru. Sudah pasti butuh dana riset yang besar agar misi tersebut sukses terlaksana. Masalah dana jadi sesuatu yang membuat proyek tersebut tertunda cukup lama.

 

Putusan orang Nomor 1 USA, Presiden punya peran besar dalam menentukan nasib sebuah negara termasuk dalam eksplorasi luar angkasa. Masa jabatan yang singkat dari Presiden USA yaitu hanya 4 tahun, membuat proyek luar angkasa sendiri tertunda.

 

Perubahan pemerintah jelas menghasilkan kebijakan baru, apakah mendukung proyek mercusuar tersebut atau hanya sebagai pengembangan biasa. Untuk mempersiapkan sebuah roket saja, butuh waktu hingga 8 tahun, itu artinya harus ada presiden yang menjabat 2 periode.

 

Sehingga program bisa terlaksana, tapi ada satu bagian lainnya yaitu bagaimana sang presiden bisa melobi parlemen dalam memprioritaskan misi ke luar angkasa termasuk misi kembali ke Bulan.

 

Nyatanya dukung presiden saja tak cukup, faktor dukungan publik seakan membuat banyak misi yang sulit diwujudkan. Sudah pasti dana yang dikucurkan sangat besar, ada banyak sektor lainnya yang diutamakan. Sehingga banyak masyarakat menolak, apalagi di tengah kondisi krisis saat ini.

 

Bahkan saat manusia pertama mendarat ke bulan saja, ada banyak penolakan dan suara sumbang dari masyarakat AS. Hanya 53% yang setuju dan dana yang dikeluarkan sebanding dengan misi gaya-gaya di era perang dingin tersebut.

 

Faktor non teknis, bulan memang bisa dibilang benda langit terdekat dengan bumi dibandingkan ke planet lain yang jaraknya jutaan kilometer. Meskipun dekat dan hanya membutuhkan waktu 3 hari hingga tiba di sana, nyatanya bulan jadi lokasi mengerikan yang dipenuhi kawah dan batuan terjal.

 

Atmosfer Bulan begitu tipis, butuh proses pendaratan yang optimal agar bisa sampai ke sana. Itu ditambah dengan permukaan yang terjal yang berisiko merusak wahana selama di sana. Faktor lainnya berupa debu bulan yang merusakan wahana dan baju luar angkasa. Itu semua diakibatkan oleh angin matahari yang menerpa permukaan bulan.

 

Belum lagi tidak adanya atmosfer mengakibatkan paparan matahari terpapar penuh oleh bulan. Gravitas bulan yang rendah juga tidak baik buat pencernaan para astronaut dalam waktu lama. Waktu paling lama adalah 14 hari, karena dalam rentan tersebut bulan bisa mendidih akibat cahaya matahari dan dalam 14 hari lainnya menjadi sangat gelap dan dingin.

 

Sehingga bulan dianggap terlalu berbahaya dibandingkan dengan Mars meskipun jaraknya terpaut 80 kali lebih jauh. Tetapi keselamatan para astronaut lebih terjamin di sana termasuk dalam membuat koloni baru. Sehingga cara ke Bulan dianggap lebih sulit dibandingkan ke Mars untuk saat ini.

 

Misi Artemis yang Sarat Komersialisasi

Berbagai kendala tersebut seakan membuat misi ke bulan sering tertunda dan bahkan dianggap hanya misi tanpa awak saja. Bulan yang selalu terlihat kala purnama nyatanya dianggap hanya proyek gaya-gayaan. Namun kini pandangan kini coba diubah dan pergi ke bulan dianggap misi komersial yang mendatangkan keuntungan. 

Wisata luar angkasa dianggap cara baru buat orang kaya bisa ke sana dan NASA dan berbagai antariksa dunia bisa melihat peluangnya sebagai pundi pemasukan. Pengeluaran yang besar dari proses keberangkatan bisa ditutupi dengan banyaknya klien yang ingin ke Bulan.

 

NASA bisa menjalankan misi riset mereka sembari memberangkatkan wisatawan dengan harga yang mereka patok. Wahana yang digunakan pun sangat baru dan modern yang sudah menggunakan layar sentuh dan terintegrasikan dengan internet.

 

Terkait yang mendorong wahana Artemis hingga bisa sampai ke orbit bulan. NASA mengajak sejumlah pabrikan swasta bergabung dalam pengembangan. Mulai dari Orion, Lunar Gateway, Commercial Lunar Payload Services hingga SpaceX.

 

Cara ini membuat NASA bisa menekan biaya yang pada misi Apollo di masa lalu mereka semua danai penuh. Adanya pihak ketiga dalam hal ini swasta membuat biaya yang dikeluarkan jadi lebih murah, terutama terkait dengan riset. Proses penggunaan roket pun bisa digunakan berkali-kali sehingga menghemat biaya.

 

Program Artemis sendiri dianggap sebagai program memberikan kemudahan wisatawan bergabung termasuk dalam hal gender. Selama ini banyak astronaut wanita yang hanya bisa terbang ke ISS saja namun belum ada yang mendaratkan kakinya seperti ke Bulan. Di Program Artemis saat ini, akan ada wanita pertama yang mendarat ke sana.

 

Lompatan besar tersebut dianggap sebagai bentuk dunia antariksa ramah ke semua gender dan bahkan tidak menutup kemungkinan di masa depan anak-anak bisa menjadi salah satu astronaut yang berangkat. Bisa dibilang mereka yang berangkat ke Bulan jadi lokasi simulasi sebelum nantinya tiba di Mars.

 

NASA sejak dulu sangat menyukai program antariksanya dengan menamai setiap misi sesuai dengan nama dewa Yunani kuno. Mulai dari misi Apollo di era 60 hingga 70-an. Kini dilanjutkan dengan Proyek Artemis yang namanya diambil dari saudari kembali Dewi Apollo.

 

Misi utama Artemis dianggap lebih kompleks dan lebih banyak dibandingkan misi Apollo 50 dekade lalu. Itu dilakukan karena lokasi yang dijelajahi lebih beragam, seperti kutub selatan Bulan yang selama ini tidak pernah terlihat oleh manusia. Membangun pangkalan riset di bulan, mencari keberadaan air beku di kutub bulan hingga berbagai program penelitian berkelanjutan.

 

Artinya manusia ke sana bukan hanya semata-mata memasangkan bendera saja atau menggunakan rover penjelajah dan mengirimkan foto ke bumi. Ada banyak misi yang ingin dilakukan termasuk menguji teknologi baru yang lebih canggih. Sehingga keraguan misi Artemis bisa terjawab, apalagi akan ada base camp yang bisa digunakan untuk proses tempat tinggal selama di Bulan.

Base camp nantinya berada di Kawah Shackleton yang berada di selatan bulan. Lokasi ini dipilih oleh NASA dalam keberadaan base camp tetap. Lokasi ini juga jadi tempat singgah para astronaut yang ingin berwisata dan menjelajah bulan.

 

Nantinya infrastruktur di sana dibangun secara permanen yang mendukung ekspedisi yang berlangsung hingga dua bulan lamanya. Sebelum nantinya para astronaut kembali ke bumi. Waktu yang panjang ini bisa membuat proses riset dan wisata jadi lebih lama. Termasuk pengalaman menginap di bulan buat para ekspatriat luar angkasa.

 

Bahkan ada ide di masa depan yaitu dengan menjadikan bulan sebagai lokasi depot pengisian bahan bakar untuk setiap misi luar angkasa. Selama ini bahan bakar harus dibawa langsung dari bumi, konsep depot di bulan akan menjadi lokasi transit sebelum misi ke Mars atau planet jauh berlangsung. Termasuk juga meletakkan Teleskop raksasa yang bisa menangkap luar angkasa jadi lebih luas.

 

Artinya  misi Artemis dianggap misi yang punya efek berkelanjutan di masa depan. Bahkan NASA dan lembaga antariksa lainnya bisa menjadikan bulan sebagai pundi-pundi pemasukan mereka yang selama ini hanya menguap saja. Bahkan bisa dikatakana, bisnis luar angkasa akan meroket seperti agen perjalanan dan tour guide di masa depan.

 

Cara Misi Artemis Mendaratkan Manusia ke Bulan

Misi pendaratan ke Bulan NASA menciptakan wahana bernama Orion Multi_Purpose Crew Vehicle. Sebagai wahana penjelajah ke Bulan. Kapsul Orion mampu menampung 4 awak dalam setiap misinya dan saat ini masih dalam proses pengujian. NASA berencana memulai misi Artemis I pada tahun 2024.

Misi Artemis sendiri terdiri dari berbagai program yang berjumlah hingga 3 misi. Jumlah nantinya akan bertambah kembali andai melihat tingginya animo perjalanan ke luar angkasa di masa depan. Pada Artemis pertama dianggap jadi fondasi dari akan penerbangan luar angkasa. Pengujiannya tidak main-main dan sudah dilakukan terutama pengujian Orian saat sampai ke Bulan.


Orion nantinya akan didukung dengan sejumlah komponen pendukung mulai dari service module, launch abort system, Cargo Hold, Exploration Upper Stoge, Core Stage, Solid Rocket Booster. Sejumlah komponen ini dalam proyek Artemis NASA sebut dengan SLS Block 18. Ukurannya jauh lebih besar dan lebar dibandingkan penerusnya Apollo.

 

Bila dianggap sudah siap sepenuhnya, misi Artemis I akan segera dimulai sesuai dengan jadwal. Pengujian panjang yang sudah NASA lakukan dianggap sudah cukup dalam memulai misi kembali. Pendaratan manusia kembali di era modern punya nilai historis, sama halnya saat Pesawat Apollo 11 mencapai Bulan 5 dekade silam.

 

NASA telah memilih Blue Origin of Kent, Washington, Dynetics dan SpaceX dalam pengembangan HLS. Tim Sistem Pendaratan Manusia Blue Origin yang dipimpin termasuk Lockheed Martin, Northrop Grumman, dan Draper.

 

Untuk bagian terakhir yaitu Draper akan memberikan panduan, navigasi dan kontrol, avionik, dan sistem perangkat lunak. ILV akan diluncurkan dengan roket New Glenn Blue Origin dan Roket Vulcan dari United Launch Alliance (ULA).

 

Pada prosesnya nantinya, roket Artemis akan melakukan perjalanan sejauh 40 ribu mil dari luar orbit bumi. Kecepatan yang dihasilkan hingga 32 Mach dan punya kemampuan panas yang mampu menahan Orion hingga 2800 derajat celcius.

 

Waktu pelaksanaan misi pun cukup lama hingga durasi empat hingga enam minggu. Bila sebelumnya misi hanya dilakukan rentan waktu seminggu saja, kini durasi lebih lama terkait berbagai misi selama berada di Bulan. 

Dalam hal ini juga, para astronaut akan membawa berupa Cubesat sebanyak 13 unit. Alat ini bertugas sebagai satelit berukuran mini yang bertujuan dalam proses penelitian ruang angkasa. Ukurannya sangat kecil yaitu hanya 10 cm dengan hanya punya bobot 1,4 kg.

 

Bila misi sudah selesai, proses kepulangan pun serupa dengan yang Apollo 11 lakukan dahulu. Orion akan masuk ke orbit Bumi dengan melakukan proses rotasi terlebih dahulu. Bila dianggap sudah tepat, Orion akan memasuki orbit Bumi dan mendarat menggunakan parasut.

 

Setelah itu semua terjadi, semua tentang sejarah sama halnya saat manusia pertama menginjakkan kaki ke bulan. Satu hal yang cukup menarik adalah akan ada wanita pertama yang menginjakkan kaki ke sana, sekaligus menandakan bahwa manusia siap menginvasi Planet terdekat seperti Mars.

 

Bulan, Langkah Awal Masa Depan Perjalanan Luar Angkasa

Benda luar angkasa terdekat dengan Bumi adalah Bulan, satelit yang selalu setia mengitari bumi. Langkah besar yang dilakukan di Bulan di masa lalu seakan mempertegas Bulan sebagai batu loncatan untuk bisa mengeksplorasi benda angkasa apakah itu planet, satelit, asteroid dan bintang terdekat.

 

Selain itu Bulan jadi laboratorium yang digunakan para astronaut di masa depan terkait dengan pengembangan dunia antariksa. Bahkan di masa depan konsep proses peluncuran dari bumi dianggap mulai ditinggalkan. Cara yang digunakan adalah dengan menggunakan The Gateway.

 

Adanya Gateway seakan mempermudah proses dalam mengorbit Bulan, terkait dengan misi Artemis. Fungsi utamanya pun bersifat jangka panjang dalam hal misi ke bulan dan proses eksplorasi luar angkasa lainnya. Nantinya Gateway akan diisi oleh berbagai badan antariksa lainnya yang saling bekerja sama dalam mengirimkan astronaut dan misi wisata ke bulan.

 

Nantinya akan ada dua modul Gateway yaitu PPE (Power and Propulsion Element) dan HALO (Habitation and Logistics Outpost) akan diintegrasikan di lapangan. Pengiriman kargo, awalnya disediakan oleh SpaceX. Kargo untuk persediaan di Gateway akan menyediakan makanan instrumen sains dalam ekspedisi di Bulan. 

Data yang dikumpulkan oleh Payload ini, digabungkan dengan Gateway pengalaman operasional, akan dimanfaatkan untuk memungkinkan operasi bulan yang berkelanjutan dan berhasil menyelesaikan Misi Artemis yang akan berlangsung hingga tiga tahapan. Kini kita tinggal menunggu manusia kembali ke Bulan dan gemuruh eksplorasi luar angkasa seperti era 70-an.

 

Semoga tulisan ini memberikan pengetahuan Anda terkait dengan dunia luar angkasa sekaligus membuktikan bahwa teknologi kini bisa membuat manusia bisa menciptakan koloni selain di Bumi. Akhir kata, Have a Nice Days!

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Langganan via Email Yuk?