Wednesday, March 30, 2022

Budaya Tumbler, Cara Kurangi Konsumsi Botol Plastik

 

Sebagai anak muda yang begitu aktif olahraga, hampir setiap sorenya saya bergumul dengan keringat. Setiap keringat yang keluar terjadi dari proses metabolisme di dalam tubuh. Dampaknya adalah tubuh butuh asupan agar bisa mengimbangi itu semua. Pilihannya jatuh pada air mineral.

 

Sudah jadi hal yang lumrah di sekitar kita bisa menemukan air mineral dari berbagai kemasan dari ukuran gelas hingga ukuran 1 liter. Pilihan beragam dari yang tanpa gula hingga gula berlebih di dalamnya. Untuk itu semua, saya pun memilih minuman dari air mineral yang tanpa gula.

 

Bisa dibayangkan berapa banyak air mineral yang saya membutuhkan setiap harinya. Sebagai catatan, dalam sekali olahraga berat saya bisa menghabiskan sebanyak 1,5 Liter (ukuran besar) dan 600 ml saat aktivitas bisa.

 

Bisa dikatakan ada 2 botol air mineral yang harus dihabiskan setiap hari. Bisa diasumsikan bahwa dalam sebulan saya bisa menghasilkan 60 botol mineral setiap hari. Itu belum sampah plastik lainnya. Itu artinya sampah plastik jadi momok menakutkan.

 

Tumpukan Gunung Sampah yang Menghantui

Menurut survei, di Indonesia, menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, jenis sampah plastik menduduki peringkat kedua sebesar 5.4 juta ton per tahun atau 14% dari total produksi sampah.

 

Itu belum lagi termasuk dengan berbagai jenis sampah lainnya. Salah satunya adalah sampah makanan. Menurut data selama kurun waktu 20 tahun terakhir, 23 hingga 48 juta ton per tahun. Ini sudah cukup bisa membangun gunung raksasa dari bongkahan sampah setiap tahunnya.

Perlu waktu penguraian kurang lebih 80 tahun agar terurai secara sempurna, karena umumnya bahan-bahan untuk membuat botol plastik menggunakan bahan-bahan kimia atau non-hayati. Lalu ditambah dengan komsumsi masyarakat yang tinggi menyebabkan limbah botol plastik ini tidak dimanfaatkan kembali, padahal hasil daur ulang limbah botol memiliki nilai ekonomis.

 

Bagi yang tinggal di daerah perlintasan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) jelas sangat terganggu. Kendaraan pembawa sampah menghasilkan bau yang menyengat setiap hari. Menciptakan gunungan sampah dari jutaan sampah masyarakat.

 

Itu belum lagi buat orang yang membuang sampah sembarangan. Ada begitu banyak sampah plastik berakhir ke saluran atau selokan.  Menyumbat aliran air saat hujan deras terjadi, tak heran banjir terjadi setiap kali hujan turun. Persoalan sampah jadi begitu pelik dan mengganggu.

 

Kini bagaimana cara kini menekan sampah plastik dan tidak lagi meninggikan gunung sampah. Atau berakhir di selokan di depan rumah Anda.

 

Memangnya, seberapa bahayakah dampak dari cemaran sampah?

Bahaya atau dampak negatif akibat limbah botol plastik begitu beragam, pencemarannya tak hanya terjadi di tanah, air, dan udara, bahkan pada keindahan lokasi tersebut akan kehilangan keelokan saat begitu banyak sampah plastik.

 

Pencemaran pertama yang terjadi di udara, ini terjadi saat begitu banyak sampah plastik yang ada di lingkungan coba dimusnahkan sendiri. Proses yang dipilih adalah dengan membakarnya. Buat yang belum tahu di dalam plastik ada zat bernama dioksin yang bisa dibakar bisa mencemari lingkungan yang berdampak keracunan pada makhluk hidup dan efek rumah kaca.

 

Pencemaran lainnya terjadi di tanah, limbah botol plastik yang dibakar dapat menjadikan tanaman yang tumbuh di daerah sekitar mengalami nekrosis, bintik hitam, dan klorosis, hingga mempercepat kematian tanaman. Lalu kandungan tanah terdegradasi dengan cepat sehingga tak subur seperti sebelum kena limbah plastik.

 

Pencemaran di air, inilah yang terjadi bila saja limbah botol plastik langsung dibuang disungai atau danau dapat menyebabkan perairan sungai atau danau mengalami penyumbatan saluran dan terjadi banjir juga material yang ada di dalam limbah botol plastik juga mampu menyebabkan perairan mengalami perubahan warna serta menghasilkan bau yang menyengat.

 

Bagi tubuh juga ada pengaruh, kesehatan manusia yang terpapar plastik karena di dalamnya ada zat Bernama bisphenol A (BPA). Kandungan bisa meresap ke makanan dan minuman sehingga memiliki konsekuensi terhadap kesehatan dalam jangka panjang. Manusia yang terpapar dapat menyebabkan gangguan kesuburan, kanker, permasalahan pada saraf, dan kekebalan tubuh.

 

Cemaran Botol Plastik yang Mengancam Laut

Sebagai akademisi yang mengambil studi terkait dengan pencemaran di pesisir dan laut. Saya pun merasakan hal yang mengancam di pesisir dari dampak pencemaran plastik khususnya dari aktivitas rumah tangga.

 

Banyaknya masyarakat yang hidup di pesisir seakan membuat makin besar sampah rumah tangga yang dihasilkan. Sampah plastik dari hulu akhirnya hanyut ke hilir hingga kemudian terbawa jauh ke tengah laut.

Tak jarang dari sekian banyak sampah plastik itu termakan atau mengganggu para habitat di laut. Mungkin dulunya kita pernah melihat video seekor penyu yang di dalam hidupnya terhirup sedotan. Atau hewan laut lainnya yang di dalam perutnya sudah penuh sampah plastik yang ia kira plankton.

 

Kini kita bersama-sama mengurangi sampah plastik dimulai dari hal kecil. Karena bagi sebagian orang, gaya hidup ramah lingkungan tidak selalu diawali dengan hal-hal yang besar. So.. peduli botol plastik jadi cara menekan jumlah plastik yang beredar.

 

Menyadarkan Pentingnya Peduli Sampah

Buat yang belum tahu, sampah plastik itu sulit untuk dihancurkan atau dimusnahkan. Jika dibakar, sampah plastik akan menghasilkan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan. Bila dibuang ke air dapat menyebabkan banjir bahkan yang terparah dapat merusak turbin waduk. Serta di tanah akan sangat lama untuk diurai.

 

Sebagai orang yang peduli pada sampah, harus ada solusi jitu yang bisa dilakukan dalam proses pengolahan sampah. Misalnya saja dengan teknologi pemusnahkan sampah selaku buangan padat adalah reduksi volume secara maksimum. Jadi, teknologi yang tepat untuk memusnahkan sampah adalah dengan cara pembakaran yang terkontrol.

 

Serta ada juga teknik yang dikenal dengan cara produksi bersih (clean production) produk ini merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara pengurangan produk samping yang berbahaya ke lingkungan. Melalui cara menciptakan produk yang aman dalam kerangka siklus ekologis.

Perannya sangat beragam, ada banyak pihak yang terlibat dalam proyek besar ini. Mulai dari masyarakat, LSM, hingga pemerintah saling berkolaborasi dalam proses pengolahan sampah.

 

Mengelola Sampah dari Diri Sendiri

Bila cara di atas terlalu kompleks dan butuh teknologi mutakhir dalam penerapannya. Memulai dari diri sendiri nyatanya lebih murah dan mudah. Selain itu kita jadi role model di lingkungan dalam proses memanajemen sampah plastik. 


Bagi saya pribadi, saya sudah rutin membawa tumbler ke mana pun itu. Aktivitas dari jogging, sepak bola, ke pusat kebugaran hingga bekerja selalu membawa tumbler. Ini bagi saya punya dampak besar dalam hidup.

 

Manfaat membawa air minum dengan tumbler yaitu memiliki hidup yang sehat karena membawa air minum sendiri, memiliki gaya hidup yang hemat, dapat mengurangi polusi akibat botol plastik, dan juga berusaha ramah terhadap lingkungan.

 

Jika kita mulai menggunakan tumbler bayangkan sudah berapa banyak sampah yang kita kurangi dalam setiap bulan hingga tahunnya. Bagi saya pribadi bisa menekan 60 botol air mineral setiap bulannya dan bahkan 720 botol dalam setahun.

 

Botol minum plastik yang bisa digunakan berkali-kali, air yang diisi bisa bermacam-macam jenis air dan bahkan bisa menekan biaya pengeluaran. Ini masuk akal karena setiap harinya manusia butuh 8 gelas air yang setara dengan 2 liter air, jumlah ini bisa bertambah lagi buat yang punya aktivitas ekstra.

 

Toh... dengan membeli air botol mineral rata-rata 2 botol sehari dengan asumsi harga (Rp5.000). Itu artinya sebulan kita bisa menekan biaya sampai 150 ribu. Biaya itu bisa digunakan untuk keperluan lainnya dan bahkan mengurangi jumlah sampah botol. Andai saja ada begitu banyak anak muda yang beralih ke tumbler, itu bisa mengurangi jumlah sampah botol plastik.

 

Anak muda pakai tumbler itu cupu atau kekinian?

Jelas saja anak muda yang pakai tumbler itu kekinian dan sadar lingkungan. Hanya anggapan keliru yang mengatakan seperti itu. Ada banyak alasan yang bisa saya kemukakan. Misalnya saja penggunaan berulang kali yang tidak bisa digunakan pada botol mineral, penggunaan berulang kali atau pada suhu tinggi akan mengubah botol plastik termasuk membahayakan tubuh.

 

Itu tidak terjadi pada tumbler yang bisa digunakan berapa kali tanpa henti, pengguna hanya cukup membersihkannya. Kemudian tidak ada perubahan warna serta tumbler didesain tidak gampang peyot dan tahan pecah. Sedangkan secara ekonomi bisa menekan biaya dan kesehatan. Saat makan di warung, kualitas airnya bisa saja tidak baik.

 

Cara menarik lainnya dalam menekan konsumsi sampah plastik

Adanya tumbler seakan bisa mengurangi efek seperti sakit perut karena air yang kita bawa dari rumah lebih higienis. Itu sudah coba saya lakukan dan kini bisa menekan sampah plastik bagi diri sendiri. Meskipun begitu, ada begitu banyak cara lainnya yang bisa menekan sampah plastik yang bisa kita coba.

Pertama adalah dengan mengurangi belanja online, selama ini belanja online tak hanya cukup menguras kantong. Namun juga bisa menambah begitu banyak sampah kotak dan plastik yang dihasilkan.

Tumpukan kotak dan plastik ini jangan didaur ulang, malahan dibuang begitu saja. Sehingga jadi penyumbang begitu besar akan sampah. Cara menyiasiatinya adalah dengan mengurangi frekuensi belanja dalam jumlah kecil ke bentuk yang lebih besar. Ini bisa menekan jumlah sampah plastik yang dihasilkan.

 

Membawa tas belanja plastik, selama ini kita mengandalkan kantong plastik yang diberikan dari pedagang hingga swalayan. Jumlah menumpuk dan membuat rumah dipenuhi kantong plastik segala ukuran.

 

Nyatanya kita bisa beralih dengan tas belanja, bahan yang digunakan misalnya dari kain atau bahan recycle lainnya. Ini membuat jumlah plastik yang kita gunakan jadi berkurang jauh. Selain itu dengan adanya cara ini, kita bisa mengurangi konsumsi plastik harian.

 

Memilah sampah rumah tangga, buangan dari sampah rumah tangga sangat banyak. Jumlahnya makin besar bila ia hidup di perkotaan. Jumlah ini bisa dikena setiap orangnya dalam konsumsi sampah. Misalnya menyediakan kantong sampah pribadi yang mengharuskan pada berat tertentu. Ini membuat setiap orang bisa membatasi sampah yang ia hasilkan setiap harinya.

 

Join dalam program Team up for Impact

Dalam mengurangi jejak karbon di masa depan, Team up For Impact melakukan semacam kampanye besar pada masyarakat dan bahkan influencer dalam bertindak menyelamatkan bumi kita. Program yang dilakukan di antaranya adalah dengan peduli dalam hal kecil.

 

Total kampanye yang digaungkan ada sebanyak 7 kampanye yang dilakukan selama sepekan. Mulai dari senin dengan tidak membeli makanan/minuman kemasan, selasa dengan mengurangi pemakaian listrik selama 2 jam sehari, rabu dengan tidak makan daging merah.

Selanjutnya kamis dengan tidak menggunakan tisu, tidak menaiki kendaraan berbahan bakar bensin, sabtu tidak menyalakan pesawat TV, dan terakhir di hari minggu dengan tidak menghasilkan sampah makanan.

 

Program ini bisa dipilih untuk menjadi kampanye kita dalam mengelola bumi kita. Buat yang ingin ikutan juga bisa. Cara dengan datang langsung ke website teamupforimpact dan pilih kampanye yang ingin kalian ikutan.

 

Jangan lupa berbagi di sosial media sehingga makin banyak yang ikut serta dalam program ini. Untuk saya pribadi memilih program dengan tidak membeli makan/minuman kemasan terutama menekan sampah plastik.

 

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua dan tetap menjaga bumi kita tetap hijau. Akhir kata, have a nice days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer