Wednesday, November 23, 2022

Dekarbonisasi, Opsi Keadilan Iklim di Masa Depan

 

Selama seminggu terakhir kita sibuk dengan pagelaran G-20 yang berlangsung di Indonesia. Animo yang besar dari masyarakat akan hadirnya G-20 sangat terakhir. Dua hari spesial itu menghasilkan sejumlah kesepakatan besar di tengah kondisi dunia yang sedang tidak sedang baik-baik saja.

 

Menjadi Presidensi G-20 adalah berkah di tengah dunia yang tak menentu, mempertemukan banyak pemimpin dunia dalam satu meja. Membahas isu-isu penting dan proses implementasinya. Indonesia selaku tuan rumah punya hak dalam menentukan isu yang menguntungkan negara. Salah satunya terkait dengan emisi karbon.

 

Hal itu terbukti dengan pelaksanaan G-20 yang mengandalkan sejumlah kendaraan listrik. Sebelumnya pada KTT G-20 terdahulu, kendaraan yang digunakan oleh pemimpin negara masih kendaraan fosil. Namun kini, hampir semua kendaraan tamu negara hingga patwal menggunakan kendaraan listrik. Ini menunjukkan Indonesia peduli dengan isu lingkungan

 

Isu yang paling menarik yang diangkat adalah isu lingkungan, ini menjadi isu penting di tengah isu peperangan, pandemi hingga resesi global. Kerusakan lingkungan yang disebabkan selama ini harus dicegah dan hasil dari G-20 menghasilkan sejumlah ide dan gagasan yang bisa diterapkan di masa depan.

 

Di akhir acara, para pemimpin dunia diajak mengeliling hutan mangrove di daerah Ngurah Rai. Daerah yang dulunya rusak tersebut, berubah menjadi lokasi mangrove dari beragam spesies dan menjadi penyerap karbon. Akhir sesi, para pemimpin dunia diajak menanam mangrove, bukti kepedulian pada lingkungan.

 

Tantangan negara G-20 adalah bagaimana melakukan transformasi sistem dari yang tadinya berbasis energi kotor menjadi energi bersih yang menitikberatkan pada efisiensi energi dan energi terbarukan. Salah satu langkah awal adalah dengan melakukan dekarbonisasi.

 

Apa itu Dekarbonisasi?

Secara garis besar, dekarbonisasi adalah proses menghilangkan atau mengurangi semua emisi karbon buatan manusia, dengan tujuan untuk menghilangkannya dan mencapai nol emisi. Salah satunya adalah dengan proses penggantian bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang lebih ramah bagi lingkungan. 

Sudah pasti tak ada energi yang 100% bersih, namun bisa mengurangi efek karbon yang dihasilkan ke alam. Jelas proses dekarbonisasi jelas tak mudah karena melibatkan banyak pihak dan tentunya bisa berpengaruh secara ekonomi sebuah negara.

 

Proses dekarbonisasi diawali dengan proses transisi energi, pasti ada pihak yang dirugikan dan diuntungkan pada proses ini. Awal dekarboniasai adalah dengan sosialisasi dan penerapan energi baru yang rendah karbon. Dekarbonisasi sering diterapkan pada ekonomi suatu negara dan dicapai dengan menargetkan industri paling intensif karbon di negara tertentu dan menemukan solusi inovatif untuk mengurangi emisi karbon.

 

Kapan sih Dekarbonisasi awal diperkenalkan?

Konsep dekarbonisasi muncul dari Paris Agreement di tahun 2015. Perjanjian ini bermaksud untuk membatasi pemanasan global jauh di bawah 2°C di atas tingkat pra industri dan mengejar upaya untuk membatasinya hingga 1,5°C.

Saat itu, isu karbon sangat mengancam karena tingginya buangan karbon global. Inilah yang jadi tujuan awal karena dengan banyak negara yang sepakat, itu artinya bisa menurunkan emisi GRK mencapai netralitas karbon pada 2030 dan emisi nol bersih pada 2050. Di sinilah peran dekarbonisasi berjalan.

 

Bagi perusahaan, dekarbonisasi berarti pengurangan total emisi karbon, pada semua lingkup emisi karbon. Setiap perusahaan harus menetapkan strategi dekarbonisasi yang sejalan dengan industrinya. Kemudian, penting bagi perusahaan untuk mengevaluasi jumlah emisi yang secara langsung atau tidak langsung bertanggung jawab sebagai akibat dari operasi bisnisnya, dan kemudian mengidentifikasi opsi untuk menguranginya.

 

Tantangan Negara dan Perusahaan dalam Dekarbonisasi

Negara dan perusahaan di sebuah negara adalah tantangan terbesar dalam menekan jumlah karbon. Pemerintah selaku pembuat dan pemberi izin dan perusahaan yang melakukan secara langsung. Salah satunya adalah memberikan regulasi ketat pada perusahaan, karena mereka punya konsultan agar bisnis bisa melihat sejauh mana dan sebanyak apa pengurangan karbon yang harus dan sudah dilakukan.

 

Selama ini kita kurang tahu apa itu esensi dari energi bersih. Pada energi bersih terdapat dua hal yaitu energi terbarukan dan efisiensi energi. Pada EBT dilakukan proses transisi energi ke sejumlah energi potensial yang ada di suatu negara sedangkan energi bersih adalah dengan pengurangan buangan karbon.

 Baca juga: Menjaga Kelestarian Gambut Indonesia

Nah.. lalu berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) yang dibentuk oleh PBB. Kenaikan temperatur global bisa dicegah antara 1,5 hingga 2 derajat celcius. Syaratnya, harus ada penurunan 70% dari PLTU untuk pengurangan emisi karena dianggap polutif. Menurutnya, harus ada kesepakatan bersama secara global untuk mengurangi penggunaan PLTU di tahun 2030.

 

Dekarbonisasi, peluang besar bagi perekonomian Indonesia

Kaya akan energi terbarukan, Indonesia memiliki kemampuan untuk beralih ke 100% energi terbarukan sistem energi. Dekarbonisasi mendalam bukan hanya kunci dalam mengurangi emisi karbon  tetapi juga dalam meremajakan perekonomian Indonesia pasca pandemi. Proyek terbarukan energi, efisiensi energi, dan transportasi bersih adalah proyek siap sekop yang akan tidak hanya menciptakan lapangan kerja dengan segera tetapi juga membawa dampak positif jangka panjang pada lingkungan dan masyarakat.

Minimal, Indonesia akan melihat lebih dari 800.000 pekerjaan baru pada tahun 2030 dan lebih dari 3,2 juta pekerjaan baru pada tahun 2050 jika negara mengikuti melalui jalur dekarbonisasi yang dalam. Manfaat tambahan penting lainnya dari dekarbonisasi adalah biaya iklim yang terhindarkan kerusakan, peningkatan efisiensi energi, dan kualitas udara yang lebih baik.

 

Tak hanya itu saja, ada peningkatan ekosistem yang sehat dan keanekaragaman hayati yang kaya, menghindari biaya aset yang terdampar, lebih rendah pengeluaran dan subsidi energi, akses universal terhadap energi melalui penggunaan lokal, sumber daya energi terbarukan, dan peluang ekonomi baru di daerah pedesaan.

 

Tahapan proses dari pengurangan emisi rumah kaca

Bagian ini menjabarkan jalan menuju nol emisi dalam sistem energi, ada dalam tiga tahap: Pertama adalah di tahun 2030 yaitu dengan mengurangi gas rumah kaca kurva emisi dan puncak emisi kea lam. Lalu di tahapan kedua yaitu tahun 2045 dilakukan menghilangkan sebagian besar emisi melalui transformasi sistem energi. Serta yang terakhir adalah di tahun 2050 yaitu dengan mencapai nol emisi melalui peningkatan produksi bahan bakar sintetik hijau dan penghapusan sisa emisi di sektor industri.


Proses ini harus didukung oleh banyak pihak yang terlibat agar proses pengurangan GRK bisa berjalan optimal. Proses Dekarbonisasi energi juga punya 4 pilar yang digaungkan, yaitu pertama adalah Energi Terbarukan (EBT, Kedua yaitu proses elektrifikasi tenaga listrik, ketiga adalah terbebas dari bahan bakar fosil, dan tentunya terakhir adalah energi ramah lingkungan.

 

Proses ini jelas bertahap dan butuh waktu, kini tinggal bagaimana proses transisi berlangsung. Urusan energi juga harus mementingkan segala aspek khususnya masyarakat agar mau beralih dengan pilihan baru yang lebih murah dan terjangkau.

 

Potensi Dekarbonisasi di Indonesia

Dekarbonisasi mendalam juga akan menciptakan lapangan kerja baru peluang di Indonesia. Penciptaan pekerjaan akan meningkat selama masa transisi seperti Indonesia meningkatkan pembangkit listrik terbarukan. Oleh 2030, negara akan melihat lebih dari 800.000 pekerjaan langsung baru dari sektor listrik, dengan sekitar 67% di antaranya berasal dari PV surya. Itu lapangan kerja akan terus meningkat menjadi lebih dari 3,2 juta pekerjaan pada tahun 2050 dengan PV surya dan baterai membentuk 73% dari total pekerjaan baru dibuat pada tahun itu.

 

Sektor yang berpengaruh pada dekarbonisasi mulai dari sektor energi, sektor industri, dan sektor transportasi, dan tentunya sektor lingkungan. Keempat aspek tersebut harus didukung oleh segala aspek, faktor pertama adalah alternatif energi yang ramah lingkungan. Di Indonesia, ada banyak potensi EBT, kini bagaimana cara dikembangkan dan menghitung seberapa besar potensial energi dan masyarakat di sekitarnya.

 

Pada sektor industri pun serupa, perubahan energi jelas berdampak pada sektor industri. Ketersediaan dan pasokan energi harus diperhatikan karena akan sangat berdampak pada industri besar. Selain itu dalam peralihan energi, yang paling mudah jadi percontohan adalah sektor transportasi. Misalnya saja menggunakan energi biodiesel atau energi listrik. Terakhir adalah sektor lingkungan yang tak terdampak dari emisi buangan tersebut.

 

Keadilan Iklim, Memperhatikan Iklim yang Bisa Berubah Setiap Saat

Perubahan iklim berlangsung sangat cepat, salah satunya butuh solusi jitu salah satunya adalah dengan hadirnya Gerakan khusus. Salah satunya adalah Gerakan Climate Justice muncul dari pertemuan perjuangan sosial dan lingkungan. Gerakan yang berakar dari gerakan lingkungan pada tahun 2000-an pasca konferensi tentang Iklim PBB tahun 2007.

Climate justite merupakan bentuk sikap yang mengatur kepada manusia di bumi satu harus saling berbagi untuk menjaga bumi. Menjadi ketidakadilan, Negara-negara maju terus mengonsumsi emisi karbon dan kemudian tidak bersalah menyediakan dukungan pendanaan kepada Negara lain (greenwash). Padahal yang adil, Negara maju bersedia untuk mengurangi penggunaan emisi karbon dan membebankan tanggung jawab Negara untuk “memperbaiki keadaan di Negara lain”.

 

Isu keadilan iklim mengemuka sebab dampak dari perubahan iklim sebagai sebuah fenomena global, berdampak lebih besar terhadap kelompok masyarakat rentan, dibanding terhadap kelompok yang memiliki privilege. Keadilan iklim berarti adanya jalan keluar yang adil untuk perubahan iklim yang berdasarkan pada hak-hak, kebutuhan, partisipasi, dan kesepakatan komunitas yang merasakan dampak terbesar perubahan iklim.

 

Semoga tulisan ini menginspirasi kita terhadap cara dekarbonisasi yang jadi jalan tengah dalam menjaga iklim di masa depan. Kita pun bisa tahu bahwa ada banyak potensi yang bisa digunakan sebagai energi minim emisi sebagai langkah di tahun 2050 bebas emisi.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer