Friday, November 4, 2022

Metaverse, Proyek Bakar Duit Investor Berujung Durja

Tahun 2022 jadi tahun yang begitu berat buat Meta. Proyek besar mereka bernama Metaverse bisa dibilang gagal besar. Berharap menjadi teknologi baru yang digunakan banyak orang layaknya smartphone. Namun berakhir seperti produk lainnya yang pernah heboh namun tenggelam tak berjejak.

 

Kini Meta merasakan hal serupa, setelah hampir satu setengah dekade berkuasa sejak pertama sekali Facebook menggebrak dunia. Nyatanya bisnis di lini selanjutnya penuh tantangan, tak hanya datang dari pesaing yang terus berevolusi.

 

Misalnya saja gebrakan Tiktok yang menggerus pasar Trio Facebook, Instagram, dan WhatsApp. Namun juga periklanan yang gencar dari Google yang membuat para investor lebih melirik dibandingkan dengan Meta.

Tantangan ini tak datang dari luar, namun juga dari dalam. Banyak anggota terbaik dari Meta yang mengundurkan diri atau bahkan dipecat tanpa alasan berarti. Ini artinya ada banyak potensi yang keluar, potensi itu banyak digaet oleh perusahaan lain yang siap menjadi senjata makan tua Meta di masa depan.

 

Facebook ke Meta, Arah Perubahan Fungsi dan Tanggung Jawab

Saat pertama kali kita mendengar Facebook, yang terlintas di dalam pikiran kita adalah sosial media. Lama-kelamaan Facebook merangkum banyak pengguna dan di tahun 2012 adalah masa keemasannya. Saat sosial media saat itu hanya dia yang paling besar.

 

Saat pesaingnya Friendster gulung tikar, Google+ gagal bersinar, Twitter yang kehilangan minat, dan tentunya Instagram yang berhasil diakuisisi. Itu belum lagi yang meredup karena keunggulannya diadopsi seperti AskFM dan Snapchat.

 

Merasa bahkan sosial media ada masanya, Facebook yang hanya erat kaitannya dengan sosial media mencoba terobosan baru. Mengubah nama adalah pilihan, menjadikan nama yang sebelumnya Facebook menjadi Meta. Terlihat sederhana dan tentunya mereka ingin loncatan besar di masa depan.

 

Facebook di tanggal 29 Oktober 2021 lalu resmi mengubah namanya menjadi Meta platform Inc. Mereka juga hadir dengan membawa Metaverse atau ide-ide yang bisa dibilang cukup futuristik dan semangat baru. Menghilangkan stigma mereka yang hanya sebagai perusahaan sosial media menjadi perusahaan inovasi.

Bagaimana Google yang tanya hidup dari mesin pencari saja, bila hanya mengandalkan mesin pencari saja. Google akan menyusul nasib Yahoo yang mati. Google mencoba inovasi dibanyak bidang riset dan teknologi. Bahkan yang paling gencar adalah dalam pengembangan Teknologi AI. Perlahan tapi pasti, memang tak semua lini bisnisnya berhasil. Namun mereka butuh mencoba sesuatu hal baru yang menjadi target besar pengguna di masa depan.

 

Meta pun mencoba hal tersebut, yang mereka lakukan cukup berani dan tentu saja cukup ambisius. Proyek yang jauh lebih jor-joran dari apa yang Google lakukan atau bahkan Tesla lakukan dalam menginvasi Mars. Proyek itu dinamakan Metaverse, dunia tempat tersebut bernama horizon

Di tengah pandemi, Meta dengan percaya dirinya mencoba proyek ini. Alasan utama karena Metaverse menawarkan hal baru dari sebelumnya yaitu fleksibilitas. Apakah itu Work for Home, Game for Home, Vacation for Home, hingga Fun for Home. Kata-kata yang sangat menarik.

 

Metaverse, Mimpi Besar Meta dalam Merebut Masa Depan

Di dalam sebuah perusahaan, inovasi itu sangat diperlukan. Ada banyak perusahaan yang harus habis masa depannya saat teknologi baru lahir. Mereka telat melakukan disrupsi, berdampak dalam sekejap lenyap dimakan pesaing baru. Mereka punya ide lebih segar, karyawan lebih energik, minim politik, hingga tentu saja kepercayaan investor agar menjadi besar.

Meta tak mau menjadi gagal di masa depan, mereka mempersiapkan ancang-ancang sejak jauh-jauh hari. Kapan momentum itu bisa datang dan pandemi jadi masa yang tepat mempromosikan produk yang mereka namai Metaverse. Nama awal yang jadi nama perusahaan mereka.

 

Lalu bagaimana animo masyarakat?

Masa pandemi menjadi masa bubble paling besar setelah krisis 2008. Ada banyak FOMO banyak orang di sejumlah bidang, salah satu yang paling besar adalah perusahaan teknologi. Kenaikan harga saham dan valuasi yang membesar membuat semua orang berbondong-bondong membeli.

Investor pun tak ada rasa ragu sedikitpun, apalagi saat pandemi banyak orang menghabiskan waktu di rumah. Metaverse yang hadir dengan teknologi terkini dan bisa digunakan di rumah membuat semua tergila-gila membeli. Rela memecahkan celengan tabungannya, berharap hypenya terus berlanjut.

 

Namun nasib berkata lain…

 

Metaverse, Pengaruh Besar dan Daya Pikatnya

Siapa yang tak tertarik dengan kata-kata marketing. Kata-katanya seperti nyanyian di siang hari di tepi pantai. Sungguh syahdu buat didengar, itu ditambah dengan nyiur kelapa yang ditiup angin. Produk ini laris manis saat awal perilisan. Tapi buat yang merasakan FOMO.

 

Metaverse berupa gambaran dari dunia virtual 3D yang tercipta berkat penggunaan teknologi augmented reality. Metaverse diciptakan dengan tujuan untuk menjadi platform komunikasi yang modern dan bisa mempermudah kegiatan setiap individu dalam aktivitas kesehariannya contohnya bekerja, bersosialisasi, bermain hingga melakukan konser secara virtual.

Terdengar sangat menarik, namun ide gila ini sudah lahir 30 tahun lalu dari kisah novel fiksi karya Neil Stephenson berjudul "Snow Crash" di tahun 1992. Kisah dari novel dan kini hampir saja menjadi kenyataan. Bermodalkan dengan kacamata virtual reality (Oculus atau PlayStation VR), smartphone, komputer serta konsol game.

 

Lalu muncul pertanya, apa saja yang bisa kamu lakukan dalam dunia Metaverse?

Pengguna bisa melakukan berbagai kegiatan seperti berkomunikasi dengan pengguna lain, bermain, nonton konser bahkan melakukan pekerjaan di dunia maya. Sama halnya seperti membuka laptop atau menyalakan smartphone. Bedanya adalah menggunakan aplikasi VR dan AR yang berat tersebut, seakan menggabungkan dunia nyata dan maya.

Tentunya dalam dunia Metaverse, lahir istilah yang dinamakan dengan Avatar. Tokoh ini adalah manusia versi maya yang bisa dimodifikasi sesuai dengan keinginan. Makin menarik dan kompleks, jelas makin mahal pengguna membayarnya. Ini salah satu pemasukan dari Meta andai proyek mereka berhasil.

 

Setiap item yang hidup tersebut menjadi iklan, bisa saja itu sebuah toko, apakah itu berupa kendaraan hingga berbagai tempat yang ingin dikunjungi. Avatar harus membayar, misalnya saja ia ingin merasakan kenikmatan berjalan di Kota Paris dan tempat romantis di sana. Maka ia harus membayar untuk merasakan pengalaman tersebut.

 

Itu belum lagi banyak investor yang berinvestasi di setiap ruang metaverse yang sangat luas. Tak terbatas dibandingkan dengan website, atau aplikasi yang kita gunakan saat ini. Jelas Mark Zuckerberg dan pendiri Meta merasakan aliran uang yang sangat besar di sini.

 

Mereka merasakan bahwa, nasib mereka bisa bertahan di tengah gempuran teknologi para pesaingnya andai proyek ini berhasil. Bukti keseriusan mereka adalah dengan menghabiskan dana lebih dari $15 miliar dollar. Hasilnya pun belum terlihat jelas meskipun produknya rilis.

 

Rilis Metaverse yang Penuh Kritikan

Di bulan Agustus 2022, proyek Metaverse akhirnya merilis Avatar. Bentuk dari animasi Avatar tersebut menampakkan tokoh utama dari Mark Zuckerberg. Namun yang anehnya adalah tampilan dari grafis Avatar yang diciptakan. Tokohnya sangat kaku, mengingatkan pada salah satu tokoh di Game Minecraft.

Tampilan dari grafisnya kalah jauh dari game yang sudah dirilis lebih dari sedekade lalu. Seakan tak sebanding dengan yang diharapkan oleh penggemar apalagi investor. Metaverse yang dianggap bisa mendongkrak popularitas perusahaan.

 

Harus menjadi pil pahit, banyak dana investor yang tersedot dan berdampak pada harga sahamnya yang turun jauh dalam sedekade terakhir. Bahkan di awal November sempat menyentuh angka di bawah $90 dollar. Jauh dari tahun lalu yang menyentuh $380 dollar. Turun lebih 5 kali lipat. Ini menandakan investor tak percaya dengan Meta.

Kritikan pada avatar pun dianggap menyerupai game. Bahkan sejumlah developer game terkemuka menganggap apa yang Meta lakukan jauh ketinggalan zaman dengan game lakukan. Apakah itu dari grafis. Seakan pengguna kembali ke arah gambaran awal game di akhir 90-an.

 

Itu belum lagi isu tak sedap yang sedang berhembus. Mulai dari aksi pencurian data pengguna. Meta memang dikenal dengan kelalaian akan produknya dalam menjaga data pelanggan hingga server yang sering down.

 Baca juga: Libra, Sepakterjang Facebook di Mata Uang Kripto

Sebelum kegagalan Metaverse, program gagal yang cukup besar dan ambisius adalah kegagalan mata uang digital mereka yaitu Libra. Awalnya sangat menjanjikan, banyak pihak yang ingin terlibat. Namun saat eksekusi dan uji coba, semua menjadi berantakan. Kasus yang bisa terulang kembali.

 

Kendala Metaverse bagi Pengguna

Ada satu hal yang membuat Meta hanya sukses di sosial media, yaitu karena mereka menjadi raja sejak awal berdiri. Lalu bila ada pesaing, caranya adalah melakukan akuisisi atau adopsi. Namun beda saat mereka masuk ke dunia baru. Jelas ini sangat diuji, meskipun mereka yang pertama sekali membuatnya.

 

Teknologi VR dan AR sudah banyak yang memperkenalkan sebelumnya. Kualitas grafis pun sudah ada beragam developer dengan segudang eksper di dalamnya. Tentu saja mereka lupa pengalaman pengguna kurang diperdalam.

 

Saat ini perangkat paling nyaman adalah ponsel, meskipun seberapa besar layarnya. Produsen tentu akan mencoba inovasi ini, ponsel pun sudah mengalami evolusi yang sangat beragam. Sedangkan Metaverse dengan Oculusnya belum teruji. Persaingan merk ponsel lebih banyak dan jelas mutu mereka lebih baik.

 

Satu lagi, masalah harga. Pakai Oculus bisa dibeli dengan harga hanya 2 jutaan saja. Jelas tidak, harganya sangat mahal bahkan untuk konsumen Amerika dan Eropa. Satu unit Oculus dihargai $1500 dollar. Sangat mahal, dengan harga sebegitu pengguna bisa dapat ponsel paling mahal dengan fitur canggih. Sedangkan Anda cuma dapat Oculus saja. ekosistemnya belum siap dan sangat sepi.

Ponsel cukup masukkan ke dalam saku celana, sedangkan membawa Oculus buatan Meta secara mobile dianggap sebagai membawa Anda pada kesulitan. Pengalaman penulis yang pakai Headphone saja buat mendengarkan musik dalam jangka waktu lama saja bikin kepala pusing dan leher pegal. Bagaimana dengan Oculus yang lebih berat dan tak simpel. Jelas ini masalah baru.

 

Pesaing Metaverse dan Oculus yang jauh lebih teruji

Selain dari ponsel, ada banyak fitur kini yang jauh lebih berkembang dari Metaverse. Buat metaverse yang bisa gembor-gembor dengan meeting, sudah ada duluan aplikasi Zoom atau Google Meet. Bicara pada kualitas grafis gambar, game sudah pada level sangat jauh dari kualitas gambar dan hz. Sedangkan fitur aplikasi, Google, Apple, dan Microsoft sudah duluan bermain di aplikasi yang mereka bangun di ekosistemnya.

 

Tak hanya itu saja, Oculus juga tak nyaman di semua orang. Apakah perangkat ini nyaman digunakan orang yang menggunakan kacamata. Karena semua perangkat bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali. Serta apakah ini cocok buat pengguna yang suka keluar rumah atau introvert? Sebab menggunakan ponsel saja ada jenuhnya apalikasi ini harus dipasangkan di kepala dalam waktu sangat lama. Ibarat sedang menyelam di dasar laut.

 

Meta juga harus belajar dari pendahulunya, Google dan Microsoft sudah lebih dahulu gagal meskipun proyek yang mereka lakukan hanya proyek sampingan tak sebesar dan seambisius yang Meta lakukan. Pertama ada Google dengan proyek bernama Google Glass, teknologi AR dan VR ini sempat ramai 10 tahun lalu. Kemudian Google mematikannya karena dianggap membahayakan pengguna dan tentu saja tak nyaman digunakan.

 

Tak berselang lama, di tahun 2015, Microsoft lebih berani dalam proyek AR dan VR milik mereka. Hasilnya bagaimana? Jelas gagal, dah lebih buruk lagi adalah proyek ini tak dikenal oleh pengguna Microsoft sekalipun. Mereka sadar, makin dikembangkan, hasilnya bisa memperbesar bakar duit sia-sia dari Microsoft.

 

Konsep Nyata Selain Metaverse, Menjadi Tony Stark

Tokoh Tony Stark di Film Iron Man jelas sangat menarik. Tak hanya terkenal kaya raya, ia juga sangat pintar dengan segala penemuan yang ia berikan. Salah satunya adalah teknologi hologram di baju zirah Iron mannya.

Total ada dua jenis hologram yang Tony Stark gunakan di Iron Man, yaitu hologram dua dan tiga dimensi. Hologram dua dimensi atau yang kita kenal sebagai 2D, berfungsi sebagai interface tokoh Tony Stark dan komputer asisten pribadinya, Jarvis. Sedangkan hologram 3D digunakan untuk menampilkan detail konsep baju tempur Iron Man.

 

Terkait dengan konsep ini, sudah banyak ilmuwan yang sudah mengembangkan bahkan sejak era 40-an. Ini beda dengan konsep metaverse yang masih abu-abu dan berasal dari novel science fiksi. Bahkan mulai pesat dikembangkan yang mengandalkan cahaya dan teknik holografi.

 

Cara kerjanya berupa proses penampilan gambar yang terbentuk akibat terbentuknya pola pencampuran sinar ketika dua sinar laser bertumbuk pada satu permukaan holograf. Salah satu dari sinar tersebut dinamakan Reference Beam yaitu sinar yang tidak memantul pada objek, sedangkan sinar yang lain disebut Object Bea karena memantul dan mengenai objek.

 

Alat yang digunakan dalam hologram pun tak perlu jauh-jauh, sudah ada smartphone atau smartwatch yang sudah lekat dengan kita semua. Tak seperti Oculus yang repot harus digunakan di kepala dan harganya mahal serta sulit dibawa-bawa.

 

Hologram juga sangat baik digunakan dalam dunia akademis untuk menjelaskan fenomena alam semesta seperti molekul kimia, struktur atom, interaksi antar-partikel, permodelan sistem tata surya, perancangan bangunan, simulasi pergerakan satelit dan konstelasi bintang. Pengembangannya dinilai lebih mudah dan praktis, asalkan serius didanai layaknya Metaverse.

 

Pilihan ada di tangan Meta

Aksi yang dilakukan Meta dalam mengembangkan Metaverse jelas patut diacungi, mencoba inovasi sangat besar dan belum memperlihatkan hasil optimal. Bisa dibilang, proyek Metaverse gagal besar, melanjutkan bisa berdampak besar pada keuangan perusahaan.

 

Cara terbaik adalah bagaimana mereka mengakui kesalahan besar. Mencari jalan tengah, atau memperbaiki sumber pemasukan besar mereka kini yang sedang digempur pesaingnya. Isu kebocoran data, layanan yang sering down, pemblokiran tanpa sebab dan berbagai masalah lainnya bisa lebih mudah diperbaiki.

 Baca Juga: Belajar dari Isu Kebocoran Data Facebook

Dibandingkan membangun ekosistem baru yang berisiko, toh banyak perusahaan teknologi yang salah langkah. Bahkan jadi pembelajaran dalam berhati-hati berinovasi tanpa melihat keinginan pengguna. Teknologi bukan hanya urusan inovasi tapi juga pengalaman pengguna.

 

Semoga postingan ini menginspirasi kita semua, akhir kata. Have a nice days. 

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer