Sabtu, 09 Juni 2018

Agusen, Desa yang Penuh Sejuta Cerita


Hamparan pegunungan terbentang begitu luas dan saat itulah Saya mulai merasa sudah berada di kawasan tengah Aceh. Perjalanan belasan jam harus kami lalui dari Banda Aceh hingga akhirnya bisa sampai di Gayo Lues.

Perjalanan darat menyusuri jalur tengah daratan Aceh menempuh waktu 15 jam. Sepanjang jalan disuguhi dengan berbagai aneka hutan hujan tropis yang begitu rapat, pegunungan yang luas membentang dan jalan yang begitu berkelok-kelok.

Berangkat di pagi buta dan barulah tengah malam hari barulah kami tiba di lokasi. Udara yang menusuk mulai terasa dan hutan belantara yang menutupi pemandangan. Sesekali terlihat rumah penduduk yang di pinggiran sungai.

Akhirnya kami tiba di sebuah bangunan balai desa, masyarakat setempat menyebutnya dengan Kantor Pengulu. Suasana kampung dan cuaca yang dingin jadi sebuah tantangan saat itu. Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya bernama Marjohansyah menghampiri saya. Ia ditugaskan sebagai pemandu serta menawarkan jasa menginap di rumahnya.


Jaraknya tak jauh dari kantor Pengulu dan berada di perkampungan warga Agusen. Suara desir DAS Sungai Alas terdengar, bak ibarat simfoni. Saya harus mempersiapkan tenaga karena esok harinya ada segudang acara yang harus diikuti.

Topografi Alam Agusen
Sekilas mengenai topografi alam Gayo Lues merupakan disebut dengan negeri seribu bukit, hamparan pegunungan tinggi terhampar. Kabupaten Gayo Lues memiliki 11 kecamatan yang di dalamnya terdapat 253 desa. Topografi yang hampir keseluruhannya oleh hutan hujan tropis membuat sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya dari 55% budidaya pertanian dan 45% Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). 

Pemandangan luar biasa saat menuju Agusen
Desa Agusen berada berbatasan dengan Taman Nasional Gunung Leuser, jaraknya hanya 51 dari puncak Gunung Leuser. Ada lebih dari 200 kepala keluarga yang mendiami Agusen dengan latar belakang suku Gayo. Medan yang harus dilalui cukup berat dan berliku untuk bisa tiba di sana.

Agusen berjarak ± 40 kilometer dari ibu kota Blangkejeren, tapi Anda tak perlu khawatir karena jalannya sudah beraspal dan mulus walaupun sedikit sempit. Pengemudi harus sedikit waspada dan semua terbayar dengan pemandangan yang menakjubkan.

Catatan hitam rekam jejak Agusen
Begitu banyak media dan pihak berwajib yang melabeli bahwa Agusen sebagai desa ganja terbesar di dunia. Alasan masuk akal. Masyarakat dahulu begitu kesulitan untuk memasokkan sejumlah komoditi miliki mereka. Harganya jelas tak sebanding dengan transportasi yang mereka habiskan dan belum lagi permainan tengkulak yang mencekik petani.

Masyarakat saat itu melihat ganja (Cannabis sativa) sebagai komoditi yang menguntungkan walaupun taruhannya adalah nyawa dan jeruji besi. Potensi alam yang sangat besar khususnya kesuburan tanah membuat sejumlah warga jadi gelap mata dan melakukan tindakan yang dilarang oleh pemerintah. Biaya yang dihasilkan jelas sangat besar dibandingkan menjual komoditi seperti tomat dan cabai.

Saat aksi pemberantasan lahan ganja, banyak warga setempat yang menjadi korban. Menurut dari data Bupati Gayo Lues, Ir. Muhammad Amru. Ada sekitar 900 warga harus mendekam di dalam penjara akibat mengedarkan narkoba jenis ganja dan ada ribuan lainnya yang masih dalam keadaan buron.

Pihak kepolisian setempat dan BNN sangat rutin melakukan razia ke sejumlah lahan yang ada di kaki Gunung Leuser. Banyak warga yang memanfaatkannya untuk menanam tumbuhan haram tersebut.

Ketua BNN saat itu, Budi Waseso pun rutin datang ke Desa Agusen termasuk meninjau masyarakat setempat. Tak hanya itu saja, beliau juga rutin menyarankan masyarakat beralih pada sentral pertanian yang hal sehingga jadi salah satu pencetus desa ekowisata.

Semua makin diperkuat dari pengamatan saya dan wawancara dengan Marjonsyah, warga Agusen. Banyak teman sejawatnya yang harus mendekam di balik jeruji besi karena terlibat dalam penanaman ganja. Saat ini, ia dan beberapa warga kampung setempat kini dibina dan dilatih menjadi pemandu untuk para turis.

Bila dahulunya selalu ada pihak kepolisian yang masuk ke desa mengecek aktivitas warga setempat. Kini berubah dengan begitu seringnya warga asing yang datang ke Agusen untuk menikmati keindahan alamnya. Potensi yang besar di dalamnya bisa dimanfaatkan dengan sedemikian rupa.

Membenahi Agusen sebagai desa ekowisata
Kini Desa Agusen ingin menghapus jejak kelam masa lalu, dari desa penghasil ganja nomor wahid dunia menjadi desa ekowisata. Agusen sudah berbenah, menjadi desa ekowisata potensial, bukan hanya pada taraf daerah namun internasional.

Sejumlah aspek begitu dilirik dan pastinya menguntungkan masyarakat sekitar serta menghilangkan stigma buruk tempo dulu. Banyak pengunjung yang datang dengan berbagai kepentingan khususnya label ekowisata yang disandang oleh Agusen. 

Salah satunya adalah program dari ekowisata yang digalakan oleh Yayasan Java Learning Centre (Javlec). Agusen terpilih dari empat desa lainnya untuk berbenah jadi desa dengan pengelolaan hutan kolaboratif berbasis potensi ekowisata.

Masyarakat setempat dilatih dan diberdayakan dalam mempromosikan desanya sebagai lokasi ekowisata potensial di Gayo Lues. Selain itu mengubah lahan yang dahulunya sering digunakan sebagai menanam ganja ke arah tanaman produktif untuk kesejahteraan masyarakat.


Saat kunjungan saya ke Desa Agusen bersama teman-teman INFIS, masyarakat setempat mulai menanam berbagai tumbuhan produktif seperti tanaman kopi, serai wangi, cabai, tomat, dan beras merah. Tak hanya itu saja, Javlec melatih masyarakat setempat akan besarnya potensi ekowisata di Agusen.

Ada beberapa wisata pilihan yang ada di Agusen dan menjadi pilihan pengunjung. Apa saja itu, berikut ulasannya:

Wisata alam dan petualangan, Agusen punya alam bebas yang menarik dan banyak yang bisa dieksplorasi oleh para pengunjung. Agusen punya sesuatu yang sangat menawan yaitu petualangan menguji adrenalin dari DAS Sungai Alas yang begitu jernih. Sangat tepat dalam bermain river tubir.

Bagi mereka yang menyukai alam dapat melakukan hiking dengan menaiki perbukitan yang ada di sepanjang. Lokasi yang paling tepat adalah bukit cinta yang ada di perbukitan Agusen. Dari ketinggian, jajaran bukit menyerupai bentuk hati. Lokasi ini sangat menarik, khususnya lokasi swafoto. 

Kemudian ada wahana river tubir bagi pengunjung, mereka akan merasakan sensasi berselancar dengan ban karet mengarungi anak Sungai Alas. Tak hanya itu saja, pengunjung dapat mandi di sepanjang aliran sungai yang masih sangat jernih dan dingin.

Wisata penelitian, beragam satwa yang ada di TNGL menjadi lokasi yang sangat menarik melakukan penelitian. Agusen dianggap sebagai desa terakhir sebelum memasuki TNGL, letaknya yang strategis jadi pilihan para peneliti untuk singgah sebelum atau sesudah melakukan penelitian di TNGL.

Penelitian lainnya yang bisa dilakukan adalah dengan sejumlah aktivitas masyarakat. Apakah dinilai merusak atau mencemari alam. Itu dianggap masuk akal mengingat di Agusen banyak lokasi wisata yang rentan mengalami kerusakan. Bisa saja dari sampah hingga aktivitas pertanian yang mampu merusak alam. Pihak peneliti bisa melakukan konservasi alam serta pemahaman masyarakat sama seperti pelarangan menanam ganja.

Wisata pendidikan, Lokasi Agusen yang berada di tengah hutan membuat sejumlah akses seperti pendidikan tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebelum Agusen masuk ke dalam desa ekowisata yang digalakan oleh Yayasan Java Learning Centre (Javlec). Sekolah di Agusen berada di sebuah bukit, anak sekolah harus menaiki bukit yang tinggi dan terjal tanpa jalan sebelum masuk sekolah.

Kini telah ada sekolah baru yang dibangun dan letaknya berdekatan dengan Kantor Pengulu Agusen. Tenaga pengajar sudah memadai dan pastinya anak-anak tersebut makin terampil. Salah satunya dengan penerapan desa Inggris. Anak-anak setempat dikenalkan mulai dari ejaan, kosa kata, dan buku berbahasa Inggris. Diharapkan nantinya anak-anak setempat mampu berbahasa Inggris dengan lancar.

Wisata sosial, Merasakan kehangatan warganya, mungkin bagi sebagian besar masyarakat di daerah pegunungan punya sifat yang sangat tertutup. Mereka merasa setiap pendatang adalah orang asing. Namun tidak di Desa Agusen, Gayo Lues. Tamu adalah berkah bagi mereka sendiri.
Itu sangat saya rasakan saat berada di sana, masyarakat di sana cukup ramah dan bersahabat. Bahkan faktor bahasa bukan sebuah kendala, umumnya masyarakat Agusen berbahasa Gayo dan kurang fasih berbahasa Indonesia. Namun semua itu bukan alasan untuk saling berinteraksi.

Wisata budaya, Menjaga cagar budaya khas Gayo Lues yaitu Tari Saman. Anak-anak dilatih mengenal Tari Saman yang sudah mendarah daging. Nantinya mereka bisa dilibatkan saat tamu-tamu datang ke Agusen dan melihat proses latihan Tari Saman.

Bahkan di tahun 2017, Tari Saman berhasil memecahkan rekor dengan melihat 12.262 ribu penari. Menurut UNESCO, Tari Saman telah masuk sebagai warisan tak benda. Tahun ini, pemerintah setempat ingin menyelenggarakan pagelaran serupa pada Hari Saman yang jatuh 12 November. Tari Saman akan terus dilestarikan hingga ke anak cucu kelak sebagai warisan budaya masyarakat Gayo.

Wisata konservasi, Agusen memang terkenal dengan hasil pertanian dan perkebunan. Mulai dari tomat, cabai, seri wangi, dan pastinya kopi. Bahkan sejumlah komoditi unggulan seperti serai wangi dan kopi mampu menembus pasar dunia.

Alih fungsi lahan tanpa merusak kawasan hutan terus dijaga khusus menjadikan lahan pertanian dan perkebunan produktif. Sebagai contoh adalah lahan perkebunan kopi yang disulap sebagai lokasi wisata konservasi.

Bila dahulunya Anda hanya bisa menikmati kopi, kini Anda dengan mudah dapat berkeliling di perkebunan kopi milik warga yang tumbuh bebas di pinggir perbukitan. Minum kopi langsung dari kebunnya pasti begitu syahdu.

Pengembangan ekowisata dianggap sangat penting dalam menjaga kelestarian alam dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat. Nantinya masyarakat mampu menghasilkan pendapatan yang berkesinambungan berkat alam yang mereka miliki. Menjaga alam menjaga bukti mampu mendatangkan keuntungan berlipat.

Peluang Ekowisata, Pemantik Kesejahteraan Warga
Masyarakat yang ada di daerah pegunungan dianggap masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah. Mereka masih menilai hasil pertanian dan perkebunan belum menguntungkan. Tak banyak masyarakat yang pendek akal melakukan pendekatan dengan menanam tumbuhan terlarang ganja buat memperbaik taraf hidup.


Bukannya menghasilkan untung malah berakhir buntung. Banyak masyarakat yang harus merasakan tidur di dalam jeruji besi dengan hukuman sangat berat. Proses pemberdayaan masyarakat menjadi masyarakat produktif dan kreatif terus digalakkan.

Setelah proses pelatihan dan pembinaan yang dilakukan, kini warga Agusen mulai terampil. Mereka mulai memanfaatkan lahan mereka dengan berbagai sentra menguntungkan. Itu pun didukung dengan akses jalan yang lancar tanpa perlu khawatir memasok hasil pertanian dan perkebunannya.

Masyarakat mulai tahu bahwa sentra kopi dari Agusen dinilai sangat baik dibandingkan yang dihasilkan di Kabupaten Aceh Tengah. Itu mendorong masyarakat untuk bisa menghasilkan lahan kopi yang mampu memasok kopi. Kini tinggal peluang besar ekowisata perkebunan terbentang luas. Masyarakat bisa menata ekonomi lebih baik dari hasil alam di tanah bak hamparan surga.

Masyarakat Agusen tidak perlu khawatir andai hasil alam mereka terganggu, mereka punya potensi lainnya yang bisa dimanfaatkan. Kini gaung dari Agusen menyebar ke mana-mana, mampu menyihir media cetak dan elektronik untuk menuliskan cerita tentang desa tersembunyi di kaki Gunung Leuser.

Dari segala potensi tersebut, ada sejumlah permasalahan klasik yang harus dipecahkan dalam pengembangan daerah ekowisata di Agusen. Sejumlah catatan ini jadi pertimbangan pribadi saya selama di sana. Berikut ulasannya:

Penginapan layak, pengalaman saat saya mengingat cukup kurang memuaskan. Memang belum ada penginapan khusus pengunjung. Umumnya hanya kamar dari rumah warga, sejumlah pengunjung harus berbagi kamar dengan pengunjung lainnya.

Bila ada penginapan yang memadai, jelas banyak turis yang rela menginap dan ini jelas menambah pendapatan masyarakat. Umumnya pengunjung yang datang tidak sampai menginap, jelang senja hari mereka umumnya langsung beranjak pulang.

MCK kurang memadai, permasalahan ini cukup pelik, hampir semua rumah warga belum memiliki toilet. Masyarakat setempat menjadikan DAS Sungai Alas sebagai aktivitas MCK. Hanya ada dua tempat yang menyediakan MCK layak, kantor Pengulu dan masjid. Selebihnya masyarakat lebih memilih melakukan aktivitas MCK di sungai.

Kekurangan ini harus dibenahi segera, pastinya banyak wisatawan yang kesulitan saat BAB. Serta harus adanya bak penampung yang memudahkan proses masyarakat tanpa harus ke sungai, karena pada pagi dan malam hari air sangat dingin. Selain itu mampu menjaga kualitas air tetap optimal dan masyarakat tidak harus ke sungai.

Adanya toilet dinilai membantu masyarakat dalam salinitas lebih baik. Serta mengurangi aktivitas di sungai. Pengadaan toilet saat ini mulai digodok di sejumlah penginapan,  mengingat Agusen sudah termasuk desa ekowisata.

Manajemen sampah, tumpukan sampah jelas sangat merusak pemandangan. Lokasi ini mudah ditemui khususnya setelah pengunjung datang. Kesadaran yang rendah dari pengunjung dan sedikitnya himbauan membuat masalah klasik setiap tempat wisata.

Saya beserta teman-teman sempat melakukan aksi pembersihan sampah, jumlah cukup besar. Bila dibiarkan, akan membuat Agusen tidak menjadi natural lagi. Langkah yang dilakukan adalah dengan pemberian himbauan kepada pengunjung dengan sejumlah plang dilarang membuang sampah. Serta tersedianya tong sampah yang berada di sejumlah titik wisata.

Pemandu yang kredibel, Sebagai bentuk pemanfaatan SDM setempat, anak-anak muda Agusen dilibatkan ke dalam pelatihan sebagai pemandu. Tugas utamanya adalah memandu sejumlah wisata dalam dan luar negeri saat datang ke Agusen. Mereka nantinya akan dilatih kemampuan berbahasa asing dan sopan santun terhadap tamu. Cara ini dinilai mampu meningkatkan kesejahteraan  dan pemberdayaan pemuda sekitar.
 
Butuh lebih banyak pemandu jalan seperti ini
Akses memadai, Untuk bisa sampai Agusen dibutuhkan waktu ±40 menit dari Kota Blangkejeren. Salah satu akses yang bisa tempuh adalah jalur darat yang berliku dan curam. Sangat dibutuhkan pemandu jalan yang jelas untuk bisa sampai ke lokasi karena jaraknya yang jauh.

Pengalaman ini sempat kami rasakan saat tersesat jauh hingga ke perbatasan Aceh Tenggara. Adanya plang petunjuk jalan akan membantu pengunjung yang pertama sekali ke Agusen. Kemudian secara akses jalan cukup baik, namun pengemudi harus hati-hati karena jalan relatif sempit. Semua terbayar dengan pemandangan yang menakjubkan.

Potensi yang bisa dikembangkan dari masyarakat Agusen
Potensi ekowisata tidak hanya fokus pada pembangunan alam dan lokasi wisata semata, namun juga masyarakatnya. Berbagai program digalakkan, ada sejumlah potensi yang sedang dijalankan dan pastinya akan sangat baik buat Agusen di masa depan. Apa sajakah itu:

Pelatihan berbahasa, Datangnya turis dari dalam dan mancanegara seakan dibutuhkan komunikasi yang baik. Tugas ini diemban dengan baik oleh para pemandu wisata. Mereka sebaiknya datang dari masyarakat setempat. Salah satu caranya dengan pelatihan berbahasa asing (Bahasa Inggris). Anak-anak setempat sudah mulai dikenalkan pada kosa kata, ejaan, dan buku Bahasa Inggris.

Tujuan utamanya adalah menjadikan Agusen sebagai desa Inggris yang ramah turis. Dukungan itu bukan isapan jempol semata, ialah dengan menggaet guru-guru yang punya kemampuan mumpuni dalam mengajar berbahasa Inggris.

Desa cagar budaya, Tarian Saman dianggap telah mendarah daging oleh masyarakat Gayo Lues. Sejak kecil anak-anak Gayo sudah sangat akrab dengan Tari Saman, mereka berlatih latihan gerak dan syair dengan rutin setiap harinya.
 
Tari Saman dalam menyambut tamu
Terbukti bahkan Tarian Saman yang dilaksanakan tahun 2017 berhasil memecahkan rekor dengan melihat 12.262 ribu penari. Jangan heran setiap gerakan punya makna filosofi mendalam khususnya kearifan lokal budaya dan alam setempat.

Komoditi unggulan,  Begitu banyak komoditi berharga di Agusen, di mulai dari kopi, serai wangi, hingga cabai dan tobat. Mudahnya akses akan membantu masyarakat dan tidak sulit dalam menjual hasil alam mereka. Untuk komoditas kopi dan serai wangi, sudah terkenal hingga mancanegara.
 
Salah satu komoditi unggulan di Agusen
Salah satu bukti adalah kopi Agusen jenis Arabica punya cita rasa yang kuat dan mampu menarik minat saat festival kopi di Toronto,USA. Kini kopi Agusen bukan hanya dijual eceran di warung-warung warga, tetapi sudah menjadi bahan baku coffee shop di Kota Blangkejeren. Salah satunya adalah coffe shop bernama Blower yang memasuk beragam jenis kopi khas Agusen sebagai bahan baku mereka.

Itulah sejumlah pengalaman tak terlupakan saat di Agusen, desa di bawah kaki Gunung Leuser yang menyimpan sejuta cerita. Perjalanan singkat namun sangat sulit dilupakan, semua ini jadi pengalaman tak terlupakan.
Yuk liburan ke Agusen dan rasakan pengalaman menarik selama di sana.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email