Thursday, August 9, 2018

E-Sport, Dimensi Baru Olahraga Berbasis Teknologi


Main game sering dianggap perbuatan sia-sia, selain menghabiskan waktu dan pemain game sering dianggap orang yang pemalas. Bagaimana tidak, mereka bisa menghabiskan hobi yang kadang sampai lupa waktu. Anggapan itu melekat erat masyarakat, ditambah para gamer identik dengan lelaki urakan dan masa depan tak jelas.

Tapi stop dulu stigma negatif Anda tersebut, kini game dianggap sebagai hobi, pekerjaan atau bahkan kompetisi menjanjikan. Semenjak lahirnya game online yang menghubungkan manusia dari berbagai belahan dunia, perkembangan game terus maju. Ditambah dengan banyaknya pengembang game dan konsol pendukung seakan game jadi gaya hidup.

Mungkin dahulu game hanya sebatas melawan AI sederhana di game tersebut atau bertanding melawan teman sejawat. Kini game dianggap kompetisi sarat gengsi, bagaimana tidak kompetisinya kini bukan melibatkan perorangan atau kelompok namun negara.

Asian Games 2018 di Indonesia jadi bukti E-Sport sudah masuk ke ranah olahraga. Banyak pihak yang makin bingung. Game dianggap olahraga buang-buang waktu dan kini malah dianggap olahraga.

Sejarah awal mula Even E-Sport
Banyak yang mengira virus E-Sport mulai terlihat gaungnya saat wabah internet. Nyatanya E-Sport sudah mulai terkemuka saat era 70-an saat Pong Game muncul. Dengan konsep Arcade Game mampu menyihir anak muda saat itu dalam bermain game tersebut. Pertarungan Arcade jadi salah satu persaingan sengit hingga jadi sebuah lomba dengan hadiah menggiurkan.
 
Pong Game yang pernah jadi primadona di era 70-an
Naiknya pamor Arcade Game seakan jadi magnet buat para stasiun TV dan majalah dalam mengabarkan. Di USA sendiri memiliki sebuah program yang khusus menayangkan Arcade Game dengan program TV bernama Starcade. Episode yang tayang dan memanjakan mata pemirsa mencapai 133 episode dan jadi acara yang mampu menarik minat penonton kala itu.

Di tahun 90-an, perusahaan game terkemuka asal Jepang mulai mengakrabi game. Saat itu game arcade dianggap tidak fleksibel. Game konsol adalah era baru game yang bisa dimainkan tanpa harus berdiri dan bikin betis kram. Ia bisa dimainkan di rumah masing-masing dan dengan permainan lebih beragam.

Sebagai bukti penggemar yang main besar, di tahun 90-an mulai lahir kejuaraan E-Sport buatan Nintendo bernama Nintendo World Championship di USA dengan hadiah uang serta perangkat Nintendo.

Seakan itu langkah awal karena banyak negara yang terkena virus E-Sport walaupun masih sebatas Arcade Game. Seakan bukti E-Sport telah menjadi hiburan menyenangkan dan membawa berkah para gamer.

Tahap selanjutnya adalah era PC yang mulai terkoneksi internet. Awal mulanya datang dari sebuah game dan dianggap sebagai game real E-Sport yaitu Netrek. Grafis yang lebih baik, punya sejumlah taktik (real time strategy) mumpuni hingga mampu menghubungkan orang dari belahan dunia mana pun (metaservers).
 
Netrek game yang mulai berbasis online
Sejak itulah game E-Sport telah dianggap sebuah olahraga tahunan yang mampu mengumpulkan para gamer menguji kemampuannya. Hadiahnya terus meningkat dan pastinya jadi batu loncatan pengembangan game beragam di masa depan.

Di mana letak olahraga pada game?
Jawaban ini kadang sering banyak pihak yang mengeryitkan dahi. Saya mencontohkan itu semua mirip dengan olahraga balap atau pacuan kuda, benda (motor/mobil) dan hewan pacuan yang bekerja atau yang berkompetisi dan sang atlet “dianggap” hanya naik dan menungganginya. Akan tetapi balap tergolong olahraga.

Harus Anda ketahui bawah atlet balap (motor/mobil) dan joki  adalah atlet super terpilih. Mereka harus menjalani latihan yang super berat seperti ketahanan inti tubuh, keseimbangan, dan koordinasi. Bagaimana tidak, sang atlet harus tetap fit dalam melahap lap dan menjaga keseimbangan (bahkan mengurangi angka berkedip) saat membalap.

Mereka harus mengambil keputusan penting pada kecepatan tinggi yang andai saja telat bisa membahayakan nyawanya dan orang lain. Wajar bila atlet balap punya bayaran yang besar setara dengan olahraga populer kini.

Beralih ke game, hampir serupa dengan atlet balap karena mereka punya kemampuan khusus. Bukan hanya sebatas anak rental karena E-Sport saingannya punya jam yang cukup tinggi. Butuh skill, taktik, pengambilan keputusan, dan pastinya mental. 

Para atlet butuh koordinasi tangan dan mata yang cukup cepat serta pengambilan keputusan serba cepat andai ia atau timnya tersingkir. Hampir mirip dengan olahraga balap, hanya saja ia bermain di dunia maya dan pastinya nyawa tidak jadi ancaman seperti para pembalap.

Ada sejumlah game E-Sport yang dipertandingkan jenisnya. Mulai dari Fighting Games, First Person Shooter (FPS), Real-Time Strategy (RTS), Sport Games, dan Racing. Pada Asian Games 2018 ada sejumlah game ternama yang dimainkan sejumlah negara peserta. Mulai dari PES 2018 (sebaiknya FIFA18 juga masuk), Heart Stone, Clash Royale, League Legends, StarCraft, dan AOV (Arena of Valon). 
Sejumlah olahraga yang dipertandingkan di Asian Games
Sejumlah game yang bertema kekerasan dan banyak darah tidak masuk walaupun banyak peminatnya seperti Counter-Strike, Tekken, dan DOTA 2. Mungkin di Asian Games selanjutnya akan ikut diselenggarakan.

Game yang kini membawa berkah
Dahulu game sering dianggap menghabiskan uang serta butuh perangkat mumpuni. Sebuah PC, konseol dan laptop gaming butuh biaya besar. Mulai dari grafis dan daya tahannya. Namun kini game dianggap investasi bagi mereka yang berkat. Bukan hanya sekedar saja tapi bisa ke level dunia.

Hadiah yang ditawarkan buat cabang E-Sport tidak main-main, yaitu miliaran rupiah. Belum lagi mengasah kemampuan serta semangat game sebagai hobi yang menghasilkan. Anggapan game pekerjaan yang sia-sia kini bukan isapan jempol belaka. Tetapi malah berkah tak terduga, siapa sih yang tidak senang dengan hobi dibayar. Jadi gamer adalah buktinya.

Sebagai perbandingan di tahun 2017 diadakan event tahunan The International 7 yaitu turnamen DOTA 2 (dimainkan secara kelompok). Rekor pemenang pun tidak main-main, total hadiah mencapai angka $37,7 juta (Rp492 miliar). Pemenang bisa membawa pulang uang sebesar $10,8 (Rp140 miliar).
 
Jawara kompetisi The International 2017
Sedangkan hadiah E-Sport perorangan memang hadiahnya tidak sebesar game tersebut. Namun cukup menggiurkan. Pada sejumlah Turnamen PES atau FIFA League, pemenang dapat membawa pulang hadiah hingga $200 ribu (2,6 miliar).

Tak heran nantinya pamor game bisa setara atlet olahraga terkemuka yang punya banyak penggemar. Dan bahkan punya basis fans yang tak kalah besar dan jadi cita-cita setiap anak di masa depan.

Bukan hanya sebatas E-Sport saja, sejumlah game mampu menghasilkan dari berbagai proses tanpa harus ikut kompetisi. Sejumlah misi yang dihadirkan seakan mampu menghasilkan pundi-pundi uang fantastis. Ada fitur trading yang sangat menguntung para pemainnya, sehingga bisa diuangkan dalam jumlah menggiurkan kelak.

Perkembangan E-Sport makin berkembang di masa depan, tak tertutup kemungkinan akan lebih banyak perlombaan game. Selain itu mampu sebagai ajang pengujian bakat dan taktik dari berbagai game. Serta menjaga semangat sportivitas olahraga berbasis E-Sport.

Bagaimana pendapat Anda tentang E-Sport menjanjikan atau bahkan masih sesuai dengan stigma dulu. Silakan komentar di kolom komentar dan semoga menginspirasi.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer