Jumat, 23 November 2018

Pesona Hutan Hujan Khas Leuser Bukti Wonderful Indonesia

Luasnya Indonesia tak berbatas jangkau mata. Hamparan pegunungan berganti hutan menutup daratan, hiasan persawahan memperindah pandangan. Gelepar ikan dan hiasan terumbu karang di laut nan biru jadi bukti Indonesia indah luar dalam.

Surga itu nyata dalam wujud nusantara dan keindahannya yang memukau siapa saja. Panorama alam jadi daya tarik Indonesia untuk disinggahi siapa saja. Langkah kaki, rasakan kejutan dari pesona nusantara.

 Setiap jejak menginjakkan kaki di alam Indonesia, terasa seperti berjalan di tanah surga.

Ada jati diri yang sangat melekat bagi para pelancong mengenai Indonesia, hutan.... hamparannya dengan hutan hujan tropis terbaik di dunia. Dilintasi garis tak semu zona garis katulistiwa yang membelah nusantara jadi bukti negeri kita terlihat dari udara.

Hutan rapat yang kaya keanekaragaman hayati di dalamnya sekaligus penopang kehidupan di sekitarnya. Leuser, hutan hujan tropis yang begitu luas dan masyhur ada di Sumatera yang bukti Wonderful Indonesia

Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), lokasi itulah pesona itu lahir. Hamparan alam dengan pemandangan hutan hujan tropis dengan aliran sungai bebas dari aktivitas manusia. Udara yang sejuk dan belum tercemar sedikit pun seakan merasakan indahnya surga dunia. Seakan belum ada jamahan tangan manusia nakal yang mencoba mencemarinya. Wisata alam khas hutan hujan tropis Indonesia jadi daya tarik wisatawan melangkahkan kaki ke sana. 
Cakupan Kawasan Leuser membentang di tujuh kabupaten di dua provinsi paling ujung Sumatera, luasnya 2,63 juta hektar yang menjadi penopang empat juta masyarakat yang hidup di sekitarnya.  Beragam fauna mendiami kawasan Leuser, mulai dari 380 spesies burung, 205 spesies mamalia, 89 spesies langka, dan empat satwa kunci berupa gajah, harimau, orangutan, dan badak.

Menjelajah alam Indonesia tanpa batas, ada beragam pesona yang diberikan dalam menjelajah hutan hujan. Leuser jadi daerah yang paling terdepan yang menawarkan pengalaman hutan hujan tropis Indonesia.

Menjejaki Kawasan Leuser, menjejaki rimba raya
Terbesit di awal pikiran mengenai kawasan hutan Leuser atau di manapun hutan itu, penuh dengan hutan hujan dan satwa buas di dalamnya. Stigma mengenai hutan sering dikaitkan dengan binatang buas dan tempat bersemayamnya roh jahat di dalamnya.

Segala kegundahan itu akhir mencair saat tiba di sana, ada banyak pengalaman dan pengetahuan yang didapatkan dalam penjelajahan ke sana. Pengalaman pertama saya seakan membuat mata terbelalak dengan cipta ilahi. Begitu sempurna tanpa cela...

Saya mendapatkan kesempatan berkunjung di sebuah desa yang ada di Kawasan Ekosistem Leuser, desa paling ujung untuk bisa mencapai Gunung Leuser yang menjulang tinggi. Butuh waktu belasan hari ke sana dengan perjalanan darat ke sana, hanya saja di desa kecil itu saja sampai di bawah kaki Leuser sudah begitu bahagia rasanya. 
Agusen, desa yang penuh dengan keindahan alam yang ia tawarkan. Satu tempat dengan sejuta pengalaman, dimulai dari hiking, wisata air, lokasi penelitian, dan menikmati alam hingga potensi hasil kebun masyarakat.

Perjalanan ke sana tidaklah mudah, butuh perjalanan darat lebih dari ± 600 km dari Kota Banda Aceh. menyusuri jalur tengah daratan Aceh menempuh waktu 15 jam. Sepanjang jalan disuguhi berbagai aneka hutan hujan tropis yang begitu rapat, pegunungan luas membentang dengan jalan penuh liku. 
Bagaimana tidak, saya selaku orang pesisir dan perkotaan merasakan sensasi tak terlupakan pada setiap keindahan alam yang ia berikan. Hutan, perbukitan, perkebunan serta aliran sungai nan jernih. Siapa yang tidak tergoda dan keramahan mereka mampu menghilangkan dingin di sana.

Kawasan Leuser sedang dikembangkan sebagai lokasi ekowisata yang mampu berbicara banyak di nusantara. Mengedukasi masyarakat terhadap potensi besar yang ia miliki sekaligus mempromosikan Leuser sebagai wisata kebanggaan Indonesia.

Wisata pemandangan alam jadi daya tarik di Kawasan Leuser, wisata bisa melihat hutan yang masih murni terbentang sangat luas. Untuk jalur pendakian membutuhkan waktu yang paling panjang dan alami dibandingkan lokasi pendakian lainnya yang ada di Indonesia. Jelas saja ini menjadi pemantik para pendaki dalam maupun luar negeri untuk menjajal kemampuannya.

Pemandangan yang menakjubkan dan lokasi masih sangat asri dikelilingi oleh hutan hujan tropis yang memanjakan mata. Pendaki akan merasakan perjalanan tidak terlupakan untuk bisa sampai ke puncak Gunung Leuser.

Beragam flora dan fauna langka ataupun endemik dengan mudah ditemukan. Seakan pendaki bisa melihat berbagai biota tersebut saat perjalanan menjelajah Leuser, menawarkan wisata petualangan alam tanpa batas. Jadi perjalanan dan pengalaman tak terlupakan seumur hidup.

Anda yang menyukai tantangan alam seperi hiking dan arum jeuram?

Anak sungai Alas di Leuser jadi tempatnya, airnya masih sangat jernih dan jauh dari aktivitas manusia. Belum lagi aliran deras dari Sungai Alas yang mengalir membelah hutan hujan tropis Gunung Leuser. Aura sejuk dari daratan tinggi seakan memberikan rasa segar bagi siapa saja yang bermain di sana. 
Wisata air yang ditawarkan seperti arum jeram, river tubir, hingga pemandian. Semua ada dan bisa dengan mudah dijangkau, menjadi potensi wisata yang penuh dengan tantangan dan nilai rekreasi. Aliran anak sungai yang deras dengan bebatuan pegunungan jadi spot foto terbaik untuk siapa saja.

Tak lengkap rasanya ke Leuser tidak pergi ke perkampungan di sana, Desa Agusen jadi destinasi terbaik. Merasakan berjalan di perkebunan serai wangi dan kopi yang terhampar luas, mencicipi segelas kopi dari aliran anak sungai Alas. Sungguh syahdu, dinginnya setelah bermain air seakan terbalaskan dengan hangat kopi di ujung gelas.

Budaya Saman yang mengakar kuat lintas zaman
Kawasan Leuser didiami oleh suku Gayo, tentu saja Tarian Saman yang telah mendarah daging bagi masyarakat di sana. Sejak pertama sekali diperkenalkan Syekh Saman dalam berdakwah dan mengenalkan ajaran islam di tanah Gayo. 
Anak-anak di Gayo Lues sejak kecil sudah terbiasa dan sangat telaten di setiap gerakan dari  Tarian Saman. Kini identik dengan tarian penyambut tamu sekaligus simbol dakwah dalam ajaran islam. Budaya Tarian Saman akan terus dilestarikan hingga ke anak cucu kelak sebagai warisan budaya masyarakat Gayo.

Saya seakan bisa melihat anak-anak di sana dengan memperagakan Tarian Saman dari dekat. Seakan tetap mempertahankan jati diri budaya dan identitas mereka sebenarnya.

Pengalaman tak terlupakan saat di Leuser dan Desa Agusen seakan menyimpan sejuta cerita yang saya simpan di dalam memori. Perjalanan singkat namun sangat sulit dilupakan, membekas jadi goresan tulisan bahwa Indonesia begitu memesona dengan alam, budaya, dan masyarakatnya.  

Semoga menginspirasi, artikel ini diikutsertakan dalam Wonderful Indonesia Blog Competition. Buat sobat yang tertarik mengikuti lomba ini, dapat mendaftarkan pesona keindahan alam yang ada di daerah kalian. Ayo Daftarkan di https://goo.gl/forms/RJuGs5pjTXEj5ZpD3
Have a Nice Days...





Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Halo Penulis

Foto saya

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email

Kumpulan Tulisan