Monday, December 31, 2018

Senja Tak Biasa di Alue Naga, Desa Asri di Ujung Negeri

Senja itu datang begitu elok, matahari mulai turun ke perapiannya. Membenam jauh di ujung samudra. Semua itu tergambar dengan memesona di Desa Alue Naga. Desa kecil di Ujung Sungai Krueng Aceh. Uniknya Desa di ujung Banda itu terpisah oleh muara sungai, membagi dua desa jadi dua wilayah menjadi sektor barat dan timur.

Dulunya berdiri kokoh jembatan penghubung kedua wilayah, kini hanya tersisa fondasinya saja. Sedangkan badan jembatan tak tahu lagi di mana rimbanya. Tenggelam dibawa gelombang dahsyat pagi itu. Air tsunami yang datang puluhan meter menjadi saksi bisu, kehidupan yang pernah mati kembali ditata kembali.

Senja itu tidak ada aktivitas nelayan, kapal merapat dan jaring tergulung rapat di dek perahu. Tak ada sedikit pun aktivitas yang bisa mereka lakukan. Semua itu karena pantangan, karena esok harinya ada sebuah peristiwa penting di kampung mereka.

Tak terasa memang, 14 tahun lalu desa ini porak-poranda tanpa sisa oleh bencana alam gempa bumi dan tsunami. Kini 26 Desember tepat 14 tahun lalu jadi senja terakhir, sebelum bencana alam itu datang. Mengubah tatanan desa dan penduduknya. Menyisakan kenangan pedih 14 tahun silam yang masih sulit dilupakan.

Letak geografis dari Desa Alue Naga
Alue Naga Adalah Desa paling ujung di Kecamatan Syiah Kuala. Masih berada di daerah Kotamadya Banda Aceh.  Lokasinya berbatasan secara langsung dengan Aceh Besar yaitu Gampong Kajhu. Penyebutan desa di Aceh sudah disesuaikan dengan Qanun Aceh, sehingga nama desa di Aceh disebut dengan Gampong.

Gampong Alue Naga terpilih sebagai salah satu desa yang ada di Aceh sebagai desa binaan Astra. Program ini dikenal dengan istilah Kampung Berseri Astra (KB). Sudah sejak pertengahan September 2017 Astra memberikan banyak pembinaan di Gampong Alue Naga, jadi desa ke-65 yang berada di bawah naungan Astra.

Desa yang secara geografis sangat strategis di Banda Aceh, namun seakan terkucil dan tertinggal jauh dibandingkan banyak desa lainnya. Padahal lokasinya tidak jauh dari perkotaan dan berjarak ± 5 km dari Kopelma (Kompleks Pelajar dan Mahasiswa).
Pulau Weh yang terlihat jelas dari kejauhan
Lokasinya berhadapan langsung dengan Pulau Weh dan berbatasan dengan Desa Kajhu yang sudah masuk dalam teritorial Aceh Besar. Lokasi yang menarik lagi adalah Desa Alue Naga jadi pertemuan Samudra Hindia dengan aliran Sungai Krueng Aceh yang jadi denyut jantung Banda Aceh abad pertengahan sejak dulu.

Lokasinya masuknya ada dua jalur, bisa melalui bagian barat atau timur yang terpisahkan oleh jembatan Krueng Cut. Menuju Desa Alue Naga, pengunjung akan melihat hamparan pepohonan cemara yang ditanam di bagian kiri dan kanan, perjalanan terik siang hari kami pun seakan tidak menyengat kulit. 

Ada banyak perahu yang tertambat di muara Sungai Krueng Aceh, pertanda banyak nelayan yang sudah pulang melaut. Tapi hari itu adalah hari yang spesial, ada pantangan laut yang mengharuskan tidak melaut.

Peringatan Tsunami Aceh 14 tahun silam jadi buktinya, para nelayan lebih banyak duduk menghabiskan waktu di kedai kopi. Termasuk melakukan ziarah ke makam kerabat mereka yang telah duluan berpulang ke hadirat ilahi.

Membangkitkan Gampong Alue Naga yang pernah mati suri
Badai telah berlalu tapi hari tetap berjalan, menata kembali hidup baru kembali. Membangun desa yang sudah porak-poranda setelah saksi bisu gempa tsunami. Alue Naga berbenah dengan pembangunan kembali, menghidupkan kembali sentra ekonomi masyarakat yang bertopang pada hasil laut dan pesisirnya.

Seakan bencana tak pernah hadir di desa ini, geliat ekonomi dan semangat masyarakat terlihat jelas. Para kaum lelaki yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan siap menyalakan mesin perahunya, mencari ikan hingga ujung pulau. Kaum wanita tak mau kalah, mencoba meringankan beban hidup suami mereka dengan mengumpulkan tiram. Menjual atau mengolahnya menjadi sumber makan kaya protein di dalamnya.

Mengembalikan roda ekonomi khas masyarakat pesisir. Bagi mereka hidup itu terus berjalan meskipun ada banyak hal getir yang sudah terjadi sebelumnya. Semangat yang lahir dari masyarakat pesisir.

Menyusuri Alue Naga dan Potensinya
Bagi saya, Desa Alue Naga bukanlah desa yang asing. Ada banyak cerita yang saya ingat sejak kecil. Setiap sorenya, paman saya selalu mengajak jalan ke Alue Naga. Dengan mobil Jeep-nya mengitari desa itu. Panorama alam khas laut dan nelayan yang menambatkan kapal nelayan begitu kentara.

Itu semua berlanjut di masa perkuliahan, mengambil bidang program studi ilmu kelautan mengharuskan saya terjun praktikum ke lapangan. Desa Alue Naga begitu akrab mulai dari mengukur arus laut, vegetasi mangrove hingga penelitian kadar salinitas garam. Salah satunya peran yang saya lakukan saat itu berhasil mengubah potensi air laut menjadi energi listrik buat nelayan. Tak perlu lagi mengandalkan lampu teflok berbahan dasar minyak tanah.

Ada yang begitu akrab dari masyarakat di sana, yaitu melaut. Habis sebagian besar masyarakat berprofesi sebagai nelayan dan petani tambak. Para nelayan setelah lepas malah hari mulai melaut, mempersiapkan peralatan alat tangkap yang akan dibawa. Mengarungi kerasnya samudra, keesokan harinya mereka sudah berada di dermaga. Hasil tangkap pun beralih ke tokei bangku yang membeli dagangan mereka.

Sedangkan para wanitanya bukanlah para wanita lemah, ketangguhan perempuan Aceh sudah harum namanya sejak Laksamana Malahayati. Seorang wanita yang mampu memimpin pasukan Aceh melawan para penjajah dari Portugis.

Kini pun sama, wanita Aceh pesisir rela berpeluh keringat dan bermandikan lumpur pekat pagi dan sore hari. Lahan mangrove di desa mereka menghasilkan begitu banyak tiram. Harga jualnya begitu tinggi dan jadi pekerjaan sampingan para ibu-ibu selepas sang suami pergi melaut dan sang anak berangkat ke sekolah.

Mencari tiram-tiram yang mengendap di dalam lumpur, seakan wajah hitam legam dibakar terik matahari. Semua itu sebagai penyambung hidup masyarakat nelayan Gampong Alue Naga. Kini daerah mangrove sudah mulai teduh, setelah tsunami ada begitu banyak penanaman mangrove di lokasi Gampong Alue Naga.

Peran mangrove sangat sentral, buangan uap karbon dari Kota Banda Aceh berhasil diserap oleh tumbuhan ajaib itu. Belum lagi ia mampu menghambat angin laut yang datang dan bencana tsunami lanjutan di masa depan.

Alue Naga jadi terdepan dari semua itu, bahkan dari kejauhan senja di sebelah samudra tampak sebuah pulau paling terkenal di seluruh negeri. Pulau Weh yang jadi lokasi terluar dari NKRI, pemandangan di ujung Pantai Alue Naga memberikan gambaran bahwa Alue Naga jadi desa terluar di Pulau Sumatra.

Astra dan Mimpi Masyarakat Alue Naga
Kehadiran Astra di Alue Naga barulah seumur jagung, jauh setelah bencana gempa dan tsunami di medio 2004. Tujuan dari Astra mulai, menjadikan Alue Naga jadi desa berseri di ujung daerah ibu pertiwi. 

Kampung Berseri Astra (KBA) punya tujuan mengubah Alue Naga menjadi desa yang asri dari lingkungan, masyarakat yang cerdas, sehat, dan punya sentra ekonomi yang mumpuni. Ada empat pilar yang dibangun dari CSR Astra yaitu sentra pendidikan, UMKM, lingkungan, dan kesehatan. Elemen tersebut akan terus dilakukan semenjak awal mula Astra berpijak di Desa Alue Naga pada September 2017 lalu.

Membangun sentra pendidikan di Jantung Alue Naga
Pagi itu saya pun bersama kedua teman sampai ke desa Alue Naga. Suasana sepi, hanya menyisakan ibu-ibu dan anak-anak. Sedangkan para lelaki sudah pergi melaut, kami memberanikan diri datang ke salah satu sekolah yang ada di Desa Alue Naga.

Sekolah itu berada di jantung Desa Alue Naga, SDN 72...

SD yang telah berdiri sejak 1985, hanya saja bencana menghilangkan keberadaan SD tersebut. Sebelumnya namanya adalah SDN 100 dan kini beralih menjadi SDN 72 yang berada di bawah kemendikbud Kotamadya Banda Aceh. 

Suasana begitu sepi, ada beberapa kendaraan dari guru terparkir di halaman sekolah. Libur panjang seakan membuat kami tidak menjumpai seorang siswa pun. Kami disambut oleh salah seorang ketua pemuda kampung setempat, Bapak  Zakaria.

Beliau berbicara panjang lebar mengenai keadaan kampung. Ia mengatakan merupakan murid pertama di tahun 1985 sekaligus warga yang selamat dari amukan tsunami. Kami pun diajak bertemu dengan kepala sekolah SDN 72, Dra. Kasiyem.
Bersama kepala sekolah SDN 72

Beliau menuturkan banyak hal dari kegundahan masyarakat sekitar akan keberadaan sekolah. Banyak anak-anak di desa tersebut harus sekolah dari kampung. Menempuh puluhan kilometer untuk bisa menuntut ilmu. Kehadiran sekolah ini 2 tahun lalu jadi secercah harapan menuntut ilmu menjadi lebih dekat di desa sendiri.

CSR Astra selaku pun melakukan banyak hal dari sektor pendidikan untuk anak-anak sekitar. Salah satunya adalah pemberian beasiswa setiap semester kepada anak-anak setempat. Beasiswa ditujukan kepada anak yang kurang mampu serta yatim piatu. Bantuan peralatan sekolah juga mendukung aktivitas belajar mereka. Berbagai peringatan hari besar turut serta dalam kegiatan Astra, misalnya saja memperingati hari kemerdekaan RI.

Bukan hanya sekolah saja, ada sejumlah balai pengajian berdiri. Supaya anak-anak desa setempat bisa membangun nilai religiusnya, supaya tahu arah agama dan buta huruf Al-Quran, Pengajian biasa dilangsungkan di balai pengajian setelah lepas salat Magrib. Alunan bacaan Al-Quran terdengar sangat syahdu di Desa Alue Naga. 

Mempersiapkan kemandirian warga dalam balut UMKM
Pendidikan yang baik akan merangsang masyarakat berpikir lebih jeli dalam membangun ekonomi. Harapan ini adalah dengan mengembangkan UMKM masyarakat yang berkelanjutan. Salah satu pilihan tersebut ada pada pengembangan tiram.

Bila dahulunya para wanita di Desa Alue Naga harus turun ke tambak atau bahkan lahan mangrove. Terik matahari, serpihan pecahan cangkang tiram yang menusuk tangan dan kaki hingga tubuh yang mati rasa terendam lama di air asin.

Kini mereka tak perlu lagi harus berkeliling hutan mangrove untuk bisa mendapatkan tiram. Sudah ada media yang dimanfaatkan sebagai lokasi tiram melekat. Sifat tiram yang suka melekat pada media menjadikan inovasi tersebut sangat berharga.

Salah satunya dengan membuat lokasi melekatnya tiram dengan menggunakan ban bekas. Pada waktu tertentu ia akan datang kala air pasang dan melekat saat air surut. Saat itulah ibu-ibu sekitar bisa mengambil tiram pada konsentrasi lokasi. Lebih hemat waktu dan tenaga...

Tiram yang sudah didapatkan kemudian dikupas dan dijual dalam plastik di persimpangan Jembatan Krueng Cut. Lokasinya berada di pintu masuk desa mereka, sangat jarang ada yang membelinya langsung di desa mereka. Selain itu harga jualnya relatif murah, berkisar dari 7-12 ribu setiap kantongnya. Tidak setara dengan usaha dalam mengumpulkan tiram seharian.

Kini saatnya membenahi hasil tangkap tiram menjadi sentra ekonomi yang menguntungkan. Mengolahnya menjadi berbagai pangan dan makanan bernilai tinggi. Salah satunya menjadi keripik tiram.

Usaha itu kini mulai sukses dan diminati dari berbagai pengunjung. Ada salah seorang warga Alue Naga yang berhasil memasarkan keripik tiram adalah kak Maryati. Bermodal dari uang tabungannya, ia memberanikan diri mengolah tiram menjadi lebih berharga. Caranya dengan mengolah tiram jadi kerupuk.

Bahan baku seperti tepung terigu, garam, dan jeruk nipis jadi pendukung keripik tiramnya. Setelah proses itu, saatnya Kak Mar membentuk hasil olahan tiram menjadi ukuran bundar. Sebelum akhirnya dijemur di terik matahari, hingga menghasilkan kerupuk yang renyah saat digoreng.

Kerupuk tiram Kak Mar sudah memiliki branding dan kemasan yang sangat baik. Seakan tidak menggambarkan itu adalah usaha rumahan yang dibuat secara kecil-kecilan. Kini beliau ingin memperluas pangsa pasarnya ke supermarket yang ada di Kota Banda Aceh. 

Kak Mar adalah salah satu contoh wanita Alue Naga yang berhasil mengubah peluang tiram menjadi bisnis UMKM menjanjikan. Tiram yang kaya gizi kini bisa dikenal luar dan jadi sentra unggulan di Desa Alue Naga.

Objek wisata pantai yang memesona
Tahukan kalian bahwa Alue Naga dan Pulau Weh begitu dekat, hanya lautan yang memisahkan mereka berdua. Pemandangan matahari terbenam di ujung pantai Alue Naga menarik hati banyak pengunjung dalam menghabiskan waktu sorenya.

Sajian jagung bakar dan bakso bakar jadi peredam lapar, sembari melihat laut luas tanpa batas. Terlihat dari kejauhan di sisi lain, hiruk-pikuk Kota Banda Aceh. Sisi lainnya terlihat perahu nelayan yang sedang mengarungi samudra ganas.

Kini pantai Alue Naga mulai menjual dan didatangi banyak pengunjung, masyarakat sadar ini adalah peluang menjanjikan. Memperbaiki ekonomi masyarakat dari aktivitas pengunjung di pantai. Aktivitas ekonomi didukung dengan mulai berdirinya banyak warung dan pedagang dari masyarakat.

Sekaligus membuka peluang objek wisata baru yang Alue Naga tawarkan, kini tinggal proses manajemen yang baik kepada semua pengunjung yang datang. Penerapan bisa dilakukan dengan pengaturan sistem lokasi parkir, tempat pembuangan sampah, hingga pedagang. Dan itu semua bisa memakmurkan masyarakat Alue Naga.

Membangun benteng alam dari mangrove
Dulunya saat terbesit daerah pantai sekitaran Banda Aceh, langsung terbesit dengan menjulangnya pepohonan mangrove. Ada beragam spesies yang menutupi setiap rawa asin itu, menjadikan sebuah habitat bagi makhluk yang hidup di sana. Masyarakat memanfaatkannya dengan membuat tambak yang menghasilkan sentra perikanan.

Musibah tsunami seakan merusak itu semua, seakan menyisakan tanah gersang yang panas. Hembusan angin laut kadang sampai ke jantung kota. tak ada lagi penangkal seperti dulu dari pohon mangrove. Tapi kini gersang itu mulai memudar, lahan yang menjadi lokasi hutan mangrove mulai ditanami pohon mangrove dari beragam spesies.
Ribuan mangrove yang ditanam di Alue Naga
Aksi mahasiswa dan solidaritas pecinta lingkungan cukup banyak andil dalam aksi tersebut. Paling baru adalah aksi penanaman mangrove dari pihak Astra yang melibatkan mahasiswa kampus nasional yang ada di Banda Aceh.

Peran mangrove dianggap begitu sentra, selain sebagai tembok alam dari cuaca buruk, ia punya peran menyerap begitu banyak karbon yang dihasilkan kota. Mengubah kandungan karbon menjadi oksigen sekaligus menjaga suhu kota tetap stabil.

Kesehatan sebuah hajat hidup yang perlu diperhatikan
Masyarakat pesisir sering dianggap tidak memperhatikan aspek kesehatan. Gangguan dari penyakit kulit adalah yang paling banyak. Itu pun jadi sebuah alasan kuat karena aktivitas di dalam air. Belum lagi aktivitas MCK yang kurang diperhatikan.

Alasan tersebutlah yang mendorong pengurus KBA Alue Naga bekerja sama dengan berbagai pihak. Di desa tersebut juga telah ada puskesmas dan posyandu dalam melayani masyarakat sekitar. Kegiatan yang sudah menjadi agenda wajib adalah imunisasi kepala balita yang dilangsungkan setiap hari Senin. 

Dalam sosialisasi tersebut melibatkan pihak dinas terkait yang berasal dari Kotamadya Banda Aceh. Sehingga bisa melindungi masyarakat dari penyakit, salah satunya dari pihak Astra yang membantu berbagai peralatan pendukung yang ada di puskesmas.

Kegiatan posyandu rutin dilaksanakan dengan agenda penimbangan berat badan balita, pengukuran lingkar kepala dan pemberian vitamin. Diadakan juga penyuluhan kesehatan seperti bagaimana cara mencegah demam berdarah dan lainnya. Astra memberi bantuan berupa alat kesehatan pada Posyandu

Dukung pembangunan infrastruktur penunjang
Awal mulanya banyak yang tidak tahu lokasi Desa Alue Naga, daerahnya ada di sebelah sisi barat dan timur dari Sungai Krueng Aceh. Terpisah jauh dengan jembatan Krueng Cut yang sudah masuk ke daerah Kajhu, Aceh Besar.

Supaya bisa tahu lokasi desa, pihak Astra bekerja sama dengan masyarakat sekitar dengan membangun plang jalan, gapura, denah desa hingga penunjuk arah selamat tsunami. Tujuannya untuk bisa mengevakuasi warga andai bencana serupa terulang kembali.

Bukan hanya itu saja, Alue Naga kini punya internet yang ngebut. Saya pun bisa merasakan top speed internet 4G sama dengan Kota Banda Aceh. Itu semua karena sudah dibangunnya BTS di desa tersebut yang mendukung berbagai provider.

Inovasi lainnya adalah dengan mendirikan Website desa, bantuan satu juta domain kepada desa membuat semua desa di seluruh Indonesia mendapatkan domain gratis. Ini bisa dimanfaatkan dalam memberi informasi dari Desa Alue Naga pada dunia luar.
Tampilan website Gampong Alue Naga
Tak berhenti di situ saja, Astra pun gencar mempromosikan kegiatan mereka di sosial media. Salah satunya aktivitas Astra dengan masyarakat sekitar terhadap empat pilar. Aktivitas ini jadi program kerja Astra yang berkelanjutan dan membantu masyarakat sekitar. 

Kehadiran Astra yang baru seumur jagung memberi bukti, mengubah Alue Naga menjadi Desa Berseri nan asri. Melihat Alue Naga menjadi elok, bukan hanya saat senja datang tapi dari segala aspek di dalamnya. Desa di ujung negeri itu kini jadi primadona yang memikat hati siapa saja yang pergi ke sana.

Terima kasih Astra yang telah membangun negeri...

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email