Sunday, January 6, 2019

Ketahui 10 Aplikasi Populer yang Kini Hanya Tinggal Nama


Dunia teknologi memang punya begitu banyak tantangan, lahirnya berbagai fitur baru dan ekosistem yang begitu kuat seakan ada banyak aplikasi yang harus rela mati. Kematian ini bukan hal baru di dunia aplikasi karena kurangnya inovasi, lahirnya aplikasi baru seakan menggerus nama besarnya sekalipun.

Pada tahun 2018, ada banyak aplikasi kenamaan yang harus merasakan seleksi alam. Kejayaannya harus berakhir tragis, meninggalkan banyak pengguna setia sekalipun.  Persaingan ketat dan perang inovasi harus sering dilakukan dan pastinya bisa membaca arah pasar.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini sejumlah aplikasi yang harus mengakhir hidup di tahun 2018 lalu. Apa sajakah itu, berikut ini ulasannya:

1. Yahoo Messenger
17 Juli 2018 mungkin jadi hari kelam layanan chatting legendaris Yahoo Messenger. Semenjak awal kemunculannya dua dekade silam, Yahoo seakan terus mengalami banyak masalah selama satu dekade terakhir. Seakan hanya mampu mengandalkan layanan chatting yang telah ketinggalan zaman.
 Image result for yahoo messenger
Awal 2000-an adalah punya kejayaan, saat di bilik warnet segala komunikasi, pertemanan, dan kisah cinta tak berbalas lahir. Kejayaan PC pun saat itu puncaknya, antrean warnet dan punya akun Yahoo Messenger jadi bukti eksis anak muda zaman Old. Suka duka warnet dan Yahoo seakan lekang oleh zaman dan hanya menjadi kenangan. Kini semua ia mulai mati meninggalkan nama dan pengguna.

Ekspansi era laptop dan notebook yang portabel mulai merajai setelahnya. Dan saat itu era warnet mulai tergusur perlahan-lahan. Arus kencang itu makin menjadi-jadi saat ponsel bisa melakukan segalanya dalam wujud smartphone. Perlahan tapi pasti Yahoo seperti jalan di tempat, pesaingnya mulai berbenah kuat dengan segala inovasi. Google semakin perkasa sebagai mesin pencari dan Facebook mulai tangguh sejak mengakusisi perusahaan potensial seperti Instagram dan Whatsapp.

Sedangkan Yahoo seperti kehabisan ide, andalannya hanyalah Yahoo Messenger dan Yahoo Mail. Selebihnya tak familiar di telinga para pengguna. Namun kedua layanan itu tahun demi tahun makin kalah telak. Yahoo Messenger harus kalah dengan sosial media macam Facebook, Whatsapp, Line, dan sejumlah instan messaging lainnya.

Pada layanan email, mereka harus takluk dengan kekuatan Gmail milik Google dan Outlook milik Microsoft. Perlahan jelas waktu menunjukkan Yahoo tidak pada tujuan yang jelas, para klien perlahan-lahan mulai beranjak pergi dan tak pernah kembali. Investor di lantai saham seakan menarik diri sembari mengamankan uang mereka dari lesunya saham Yahoo.

Makin hari  nasib Yahoo makin tak menentu. Dari awal perusahaan teknologi dengan layanan terbaik, perlahan turun kelas jadi perusahaan media iklan hingga akhirnya karam di lautan internet. Verizon datang dengan dana segar, membantu Yahoo yang mulai mati suri.
 Image result for yahoo verizon
Nasib si raksasa instant-messaging berakhir tragis, bukan lagi perusahaan yang mengkilap seperti dulu. Kini ia hanya sebagai divisi kecil di perusahaan mereka. Semua pasti karena inovasi dan konsep perusahaan yang tidak jelas hingga akhirnya ia menjadi aplikasi yang menyisakan nama saja.

2. Path
Sosial media ini mungkin begitu melekat di hati para pengguna tanah air, ia seakan berada di masa kejayaannya pada rentang tahun 2012 – 2015 silam. Itu semua lahir dari dua orang tangan terampil yang Shawn Fanning dan Dave Morin.
Image result for path social media
Mereka pun saat itu punya ambisi mendirikan sebuah sosial media yang mengedepankan pembatasan pengguna yang awalnya hanya 150 pengguna saja. Sejumlah fitur yang ditawarkan terlihat unik dan sedikit show off, misalnya saja update lokasi, mengunggah foto, mendengarkan lagu, film, dan status.

Meskipun kemudian jumlah hingga mencapai 500. Secara tak langsung ini mengurangi nilai eksklusif dari Path yang hanya sesuai circle pertemanan saja. Alasan ini lahir karena desakan pengguna yang umumnya datang dari Indonesia. Hingga akhirnya nilai eksklusif Path terjun bebas, ia tak jauh beda dengan sosial media lainnya. Meskipun saat itu banyak migrasi pengguna dari sebelumnya dari Facebook dan Twitter.

Blunder besar ini semakin diperparah dengan minimnya inovasi yang dilakukan, seakan kalah jauh dari pesaingnya seperti Snapchat dan Instagram. Segala fitur yang ada di Path seakan sudah dimiliki pesaingnya. Sehingga ini membuat daya Tarik Path berkurang, belum lagi kebocoran data yang pernah menimpa Path seakan membuat pengguna enggan kembali ke Path.
 Related image
Sejak diambil alih oleh April 2015 oleh anak perusahaan Kakao Talk, nasib Path terus minim pengguna hingga akhirnya tanggal 18 Oktober 2018 jadi hari terakhir Path dan meninggalkan banyak cerita dari penggunanya.

3. Google Tango
Google terkenal dengan beragam penemuan dan inovasi mencengangkannya dalam mewujudkan masa depan. Salah satunya adalah ambisinya dalam Project Tango dalam penerapan di smartphone. Nantinya ponsel yang digunakan akan mengandalkan teknologi dalam computer vision sehingga mampu mendeteksi kemampuannya di dunia nyata secara 3D tanpa perlu lagi bantuan GPS atau sinyal eksternal.
 Related image
Teknologi Project Tango memiliki tiga fondasi utama, yaitu Motion tracking, area learning, dan depth perception. Tugasnya sama dengan manusia dalam mendeteksi ruang tiga dimensi seperti di dalam ruangan hingga ketinggian tangga, hingga keberadaan pintu.

Hanya saja konsep ini menyerupai Augmented Virtuality (AV) namun berbentuk ponsel. Jelas saja jelajahnya lebih sempit dan terlihat tidak terlalu membuahkan hasil. Hingga akhirnya Project Tango dinonaktifkan, Maret 2018 jadi hari terakhir Google Tango beraksi dan oleh Google karena dinilai masih terlalu prematur.

4. Goo.gl
Bagi para konten kreator seperti Blogger dan YouTube layanan memperpendek URL seperti Goo.gl sangat penting. Ia mampu memperpendek URL postingan URL mereka jadi lebih pendek dan tidak memakan tempat. Bukan hanya itu saja, pada Goo.gl juga tersedia aktivitas link yang dibuat sepeti jumlah total klik sehari dan informasi valid lainnya. Semua sudah ada di layanan tersebut, tinggal konten kreator melihat jumlah klik yang ia dapatkan.
 Image result for goo.gl
Hanya saja tahun kemarin jadi tahun terakhir Goo.gl beroperasi sebelum dimatikan oleh Google. Setelah hampir 1 dekade eksis, tepatnya tanggal 13 April 2018 jadi hari terakhir sedangkan bagi pengguna tetap masih diberikan nafas hingga 30 Maret 2019 sebelum resmi dimatikan.

Meskipun begitu, Google sudah mempersiapkan pengganti yang sepadan dan lebih bertenaga. Pihak Google menamakan FDL (Firebase Dynamic Links) yang terintegrasi dengan beragam perangkat teknologi lainnya. Bukan hanya sebatas desktop saja, tapi beragam perangkap seperti Smartphone, IoT, dan AI.
 Related image
Prosesnya lebih beragam dan bukan sebatas short link saja karena ada banyak cara pengirim yang menyesuaikan zaman. Misalnya melalui email, pamflet, dan bahkan melalui barcode. Cara ini mampu mengetahui siapa pengirim link informasi tadi dan pastinya mampu menangkal informasi bernilai rendah dan mengandung hoax.

Meskipun Goo.gl tinggal nama, ia sudah punya pengganti yang lebih baru. Hanya saja ada banyak kenangan yang ia berikan. Bagi konten kreator harus beradaptasi dan pastinya bisa menyebarkan kontennya lebih mudah dan beragam lagi. Sedangkan yang masih belum bisa move on, ada sejumlah alternatif pilihan seperti bit.ly, ow.ly dan Tiny URL.

5. Google Allo
Layanan Google Allo mungkin kurang familiar bagi sebagian orang, meskipun aplikasi sudah terpasang langsung di ponsel Android. Konsep aplikasi chatting khas Google ini menawarkan chatting dengan cara menarik. Salah satunya adanya asisten pribadi Google yang bisa menjawab pertanyaan serta mengetahui lokasi teman yang sedang hang out.
 Image result for google allo
Bukan hanya itu saja, ada fitur aplikasi mengirim animasi GIF kepada teman Anda, meskipun berbagai platform sudah memiliki hal serupa. Serta stiker wajah yang sudah diterapkan instant messaging pesaing. Termasuk pengalaman bermain game yang ada di Google Allo.

Kurangnya promosi dan susahnya melawan sejumlah sosial media mapan lainnya seakan Google Allo harus menyerah setelah dua tahun berjuang mendapatkan hati pengguna. Hingga akhirnya di pada Maret 2019 nanti, sekaligus memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk memback-up datanya.

6. Google+
Aplikasi yang pastinya menjadi andalan Google yaitu Google+ pun harus menyerah. Sempat mencoba mencari popularitas, tetap saja ia kesulitan menyaingi pesaingnya. Bahkan menurut riset Google, pengguna hanya membuka Google+ selama 5 detik dalam waktu sehari. Jelas ini tidak baik dan pihak Google berniat mematikan produknya tersebut.
 Image result for google+
Layanan Google pertama sekali hadir di Juni 2011 dan akhirnya harus berakhir di tahun ke-7 peluncurannya. Memang kemunculan saat itu di tengah besarnya Animo Facebook dan Twitter, konsepnya dalam membagikan konten dirasa sangat baik khususnya buat konten kreator. Hanya saja pengguna hanya membagikan konten tanpa berinteraksi di Google+.

Masalah kembali menimpa saat kasus kebocoran data yang marak terjadi, seakan makin menipiskan kepercayaan pada Google+. Belum lagi rentan dengan bug yang menyerang sistem aplikasi tersebut dan semua semakin penuh nestapa karena pengguna yang makin menurun dan sebagian besar merupakan akun tidak aktif.
 Image result for google+
Google bergerak cepat dan mengambil keputusan besar dengan mematikan Google+ pada Oktober 2018. Meskipun begitu, untuk proses berbagi link dan konten masih bisa dilakukan yang sifatnya dari antar pengguna layanan terbatas hingga Agustus 2019.

7. Google Inbox
Aplikasi Google terakhir yang harus khatam adalah Google Inbox, tugasnya sebagai fitur yang memudahkan proses pengaksesan email. Bukan hanya itu saja, pada layanan ini akan memberikan segala informasi dari email yang masuk tersebut.

Ada sejumlah fitur unggulan yang dikedepankan seperti fitur Snoozing yang bertugas menghapus email dan pengingat sementara dan Bundling yang merapikan email sesuai dengan kategorinya. Hanya saja konsep Google Inbox seakan sudah dimiliki oleh Gmail sendiri, produk utama dari Google. Seakan tugasnya saling tumpeng tindih dan tidak efisien tanpa harus mengunduh aplikasi Google Inbox lagi.
 Related image
Keputusan berat akhirnya diambil dengan mempertahankan Gmail dan mematikan Google Inbox karena fiturnya sudah dimiliki Gmail. Selain itu penggunanya relatif sedikit dan cenderung stagnan, otomatis menjadi dasar utama Google mengambil keputusan berat itu. Hingga akhirnya di Maret 2019 aplikasi ini akan dimatikan.

8. Vine
Masih ingat bukan dengan aplikasi Vine?

Aplikasi berbasis video pendek yang pada tahun 2012 diakusisi oleh raksasa Twiter. Menawarkan video pendek berdurasi 6 detik saat GIF belum begitu dikenal. Karena terkesan keren dan mampu menampilkan ekspresi Vine mampu menaruh perhatian pengguna sampai pada kalangan selebriti.
 Image result for vine
Hanya saja sampai pada tahun 2016, Vine tidak menghasilkan inovasi apa pun yang kemudian dilihat para pesaingnya sebagai ladang kompetisi. Vine seakan kehabisan bensin dan mulai oleng di Oktober 2016 dan harus mengakhiri nasibnya di dunia sosial media dan Twitter tak mampu berbuat banyak.

Meskipun begitu, angin segar kembali bertiup buat Vine karena punya basis pengguna yang besar. Di tahun 2018 jadi tahun pengembangannya dikenal dengan Vine V2, dikembangkan langsung oleh CEO yaitu Dom Huffman.

Hanya saja, masalah pendanaan hingga beragam masalah lainnya seakan mengubur impian melihat Vine berjaya. Hingga akhir pada Mei 2018, Dom Huffman tidak melanjutkan project tersebut hingga waktu yang tak ditentukan. Pastinya para fansnya harus bersabar lebih lama lagi untuk merasakan sensasi Vine seperti dahulu.

9. Stumbleupon
Mungkin Stumbleupon jadi media yang sudah cukup lama bertahan, jauh sebelum ketenaran Facebook dan Twitter hadir. 16 tahun jadi masa bakti yang ia berikan selama ini dan harus mengucapkan kata selamat tinggal di jagat media seperti blog. Kata-kata itu terucap oleh Garret Camp selaku founder Stumbleupon pada layanan yang punya 40 juta pengguna setia.
Related image
Beragam blog dan website link di Stumbleupon
Sebagai mengingat kembali Stumbleupon yang pernah booming di awal 2000-an. Konsep yang ditawarkan Stumbleupon tergolong menarik yaitu dengan beragam tool atraktif dalam membagikan konten. Khususnya dalam sekali mengeklik konten, pengguna bisa berpindah ke konten lainnya. Sehingga mampu menghimpun banyak tulisan web dan blog dibaca pengguna.

Meskipun harus tutup karena sudah mulai kalah saing, bukan berarti Stumbleupon mengabaikan penggunanya. Camp selaku founder sudah menyiapkan aplikasi serupa bernama Mix selaku konten web kurasi yang berdiri di tahun 2015.
 Image result for stumbleupon
Konsep yang ditawarkan Mix serupa dengan yang ada di Stumbleupon dan ibarat regenerasi dari layanan. Semua itu dilakukan dari segi tampilan, hingga fitur yang diadaptasikan dari Stumbleupon. Alasan utama karena pangsa saat ini jauh berbeda dengan dulu. Saat awal kemunculannya, tampilan via desktop selalu dikedepankan. Beda dengan saat ini yang lebih fleksibel mengandalkan smartphone.

Meskipun begitu, Stumbleupon tinggal nama dan pada 12 Mei 2018 jadi hari terakhir. Kini pengguna menata konsep baru yang ditawarkan oleh Mix. Semoga seperti rumah lama ya….

10. Groove Music
Bukan hanya Google yang banyak produknya dimatikan di tahun lalu, ada juga produk music andalan milik Microsoft bernasib serupa. Itu terjadi pada aplikasi andalan yang ada di Windows 10 yaitu Groove Music yang menggantikan si lawas Winamp.
 Related image
Awal kemunculannya bernama Xbox Music hingga berubah nama menjadi Groove music di tahun 2016. Konsep berbeda dengan versi dari Windows Media Player karena bisa dilakukan secara online maupun offline. Sehingga pengguna bisa mendownload dan membeli lagu yang ia inginkan, nantinya lagu tersebut akan tersimpan di Groove dan layanan cloud Onedrive.

Hanya saja proses membeli lagu via Groove hanya terbatas menggunakan US$ saja dan tidak mendukung mata uang seperti Rp. Tak hanya itu saja, penetrasinya kecil hanya di zona Amerika Utara saja karena gebrakan itu seakan tak mampu menyaingi pesaingnya seperti Apple Music, Deezer dan pendatang baru Spotify.
 Image result for groove music
Hingga pada 31 Desember 2018, Groove resmi menutup layanannya. Para pengguna bisa bermigrasi ke sejumlah layanan musik lainnya seperti Spotify. Meskipun begitu, Groove masih ada pada layanan Windows khususnya untuk mendengarkan musik secara offline.

Itulah sejumlah aplikasi terkenal yang harus menutup layanannya. Beragam masalah mulai dari kalah berinovasi, kekurangan pendanaan hingga salah langkah adalah sedikit dari segudang masalah yang menimpa aplikasi terkait.

Pastinya di tahun ini dan tahun-tahun berikutnya akan ada aplikasi besar yang harus tumbang. Bisa saja sekarang jadi aplikasi andalan Anda, tapi kemudian jadi pesakitan. Itu semua bisa terjadi karena dinamisnya sebuah aplikasi dan inovasi tanpa henti jadi modal. Sebelum masa nostalgia itu datang.

Semoga saja postingan ini memberikan inspirasi untuk kita semua dan akhir kata: Have a Nice Day.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo

Hobi membaca, mengobservasi sekitar, pelaku lapangan hijau, dan pengamat EDM

Berlangganan via Email