Saturday, March 9, 2019

Ekspektasi Luar Biasa saat Berkunjung ke Pustaka Unsyiah

Memori terngiang pertama sekali, tepat 9 tahun yang lalu saya diterima di kampus Jantong Hate rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala. Hingga 5 tahun berselang saya telah berhasil menyelesaikan studi di salah satu Fakultas Kelautan dan Perikanan. Memori mendaftar ulang mahasiswa baru kala itu dilaksanakan di pustaka Unsyiah. 

Saat itulah saya menjadi salah satu mahasiswa di bawah panji Unsyiah dan menuntut ilmu di sana. Sebagai seorang alumni, setiap kali berkunjung ke Unsyiah, mungkin pilihan jatuh pada pustaka. Ada banyak kenangan dan perjuangan hingga akhirnya meraih gelar sarjana. Gedungnya dahulu dan sekarang terlihat menjulang seakan ada semangat di dalamnya.
Letaknya sangat strategis saat memasuki gerbang KOPELMA (Kompleks Pelajar Mahasiswa). Unsyiah pun semakin asri dengan beragam pepohonan hijau nan teduh. Beragam gedung baru mulai yang berdiri kokoh, ada satu gedung yang mampu menarik perhatian pecinta literasi yaitu Pustaka Unsyiah. Ia tetap berdiri dengan kokohnya di depan lapangan tugu sebagai simbol dari Unsyiah sebagai Jantong Hatee Rakyat Aceh.

Pustaka Unsyiah jadi lokasi yang tidak asing bagi saya semenjak awal perkuliahan dan bahkan setelah tamat sekalipun. Transformasi wajah perpustakaan dari awal mula kuliah hingga saat ini begitu saya rasakan. Dahulu saat mendengar kata perpustakaan, banyak yang terbesit di dalam pikiran identik ialah rak buku tinggi yang sulit digapai dan tempat perkumpulan kutu buku.

Namun kini hal itu tidak berlaku lagi saat ini. UPT. Perpustakaan Unsyiah telah bertransformasi menjadi pustaka yang diakui di tingkat Nasional. Mengusung tema More Than Just a Library, Saat di depan terpampang jelas di papan ukir nama dari Pustaka Unsyiah. Tertulis dengan jelas Knowledge is Free at Our Library, Just Bring Your Own Container dari luar tergambar jelas Pustaka Unsyiah bukan hanya sekedar pustaka namun banyak hal menarik yang ditawarkan.
Pustaka Unsyiah memang memberikan sesuatu yang beda saat pertama sekali saya kuliah di medio 2010. Hanya sedikit mahasiswa yang mau datang ke sana, itu pun ketika butuh dalam mengerjakan tugas dan anjuran dosen. Fasilitas kurang lengkap dan nyaman seakan membuat mahasiswa sedikit malas ke perpustakaan kala itu.

Mahasiswa lebih memilih menghabiskan tugas di kedai kopi yang begitu menjamur di Banda Aceh. Alhasil perpustakaan hanya diisi oleh yang benar-benar memiliki minat membaca dan mahasiswa yang terpaksa mencari bahan kuliah karena tidak ditemukan di internet. Kini sudah mengalami transformasi jadi ruang publik yang nyaman dan menyenangkan.

Pustaka Unsyiah dan Jalan Panjang nan terjal
Tahun 1970 menjadi awal berdirinya Pustaka Unsyiah yang saat itu masih menggunakan gedung Fakultas Ekonomi. Jalan panjang bertahun-tahun akhirnya tercapai pada April 1994 memiliki gedung sendiri. Semua berkat Keputusan Rektor No. 060 Tahun 1994, sekaligus menyatukan semua perpustakaan di lingkup Unsyiah dalam satu wadah UPT perpustakaan Unsyiah.

Cerita manis tersebut tak bertahan lama, di akhir tahun 2004 jadi kisah yang pilu buat Aceh dan Unsyiah. Gempa bumi dan Tsunami yang sempat melanda Aceh jadi saksi Gedung Perpustakaan Unsyiah tetap berdiri kokoh. Walaupun menerjang kampus Jantong Hatee rakyat Aceh, sejumlah koleksinya berhasil selamat dari amukan bencana tersebut dan tetap terawat hingga sekarang.

Hampir 49 tahun pasang surut setelah berdiri, kini transformasi ke arah digital dan modern berhasil dijalankan. Visi dan misinya bukan hanya sebagai pustaka terbaik di tanah Aceh saja tapi hingga ke level nasional.

Proses itu mulai diterapkan secara penuh di bawah kepemimpinan  Bapak Dr. Taufiq Abdul Gani selaku Kepala Pustaka Unsyiah. Gebrakan yang dilakukan dengan memodernisasikan Pustaka bukan hanya sebagai lokasi meminjam dan membaca buku, namun bersifat multifungsi segala kegiatan kemahasiswaan.

Untuk meningkatkan kembali mutu pendidikan yakni dengan cara meningkatkan minat baca dan kunjungan mahasiswa serta dosen ke pustaka. Apalagi Unsyiah yang terkenal dengan publikasi terbaik tingkat nasional, akan terasa sia-sia bila tidak didukung dengan perbaikan di pelayanan pustaka. Cara yang dilakukan untuk menaikkan taraf Pustaka Unsyiah menjadi kompeten dan bersaing di level nasional. 
Pustaka Unsyiah yang punya Akreditasi A Perpusnas RI
Langkah yang dilakukan yaitu dengan memodernisasi pustaka ke arah yang diminati oleh para akademisi. Ganjarannya dari segala kerja keras tersebut terbayar karena Pustaka Unsyiah berhasil mengantongi akreditasi Nasional A dan sertifikasi ISO 9001:2008 mulai dari tahun 2013 dari Lembaga Perpustakaan Nasional RI.

Gagahnya Penampilan Pustaka Unsyiah
Menuju Pustaka Unsyiah sangat mudah karena letaknya sangat strategis, bersebelahan dengan Gedung Biro Utama Unsyiah dan Masjid Putih Kampus. Selain letaknya yang strategis, menyediakan parkir yang mampu menampung roda 2 dan 4 dengan penjagaan oleh pihak keamanan kampus. Sehingga tak perlu khawatir dan was-was saat membawa kendaraan ke sana. 
Selain itu di depan Pustaka Unsyiah terkoneksi secara langsung dengan halte Bus Trans Koetaradja yang melintas sehingga memudahkan pengunjung yang tidak membawa kendaraan. Berjalan beberapa puluh meter langsung melihat megahnya Gedung Pustaka, berwarna putih dengan halaman yang asri dan rindang.
Mudah dijangkau termasuk dengan moda angkutan umum
Suasana siang itu sangat terik, tapi saya seakan merasa sejuk saat masuk ke area halaman pustaka. Punya halaman yang luas dan taman sering dimanfaatkan para mahasiswa yang ingin merasakan belajar dengan alam outdoor. Keberadaan  kursi taman yang ada di depan pustaka membantu mahasiswa untuk beristirahat.

Seluruh ruangan dalam pustaka sudah memiliki pendingin ruangan, hawa sejuk seakan mampu melupakan rasa terik sebelumnya. Pada bagian depan terdapat papan informasi yang memberikan sejumlah informasi, papan itu bisa ditemukan di lokasi proses masuk ke dalam pustaka. Ada banyak berbagai event dan informasi lomba yang sangat bermanfaat buat pengunjung. 
Ada banyak event lanjutan
Pengunjung yang menunggu di luar pustaka tak akan bosan karena terpampang TV LCD raksasa yang menyajikan tontonan edukasi. Bak hiburan sembari menunggu teman di dalam pustaka. Pastinya Sebelum masuk ke dalam pustaka para pengunjung khususnya dari mahasiswa Unsyiah melakukan harus melakukan Scan elektronik menggunakan KTM.

Sedangkan bagi pihak luar kampus atau alumni seperti saya dikenakan biaya sebesar Rp.5.000 setiap masuk ke pustaka. Proses pembayaran bisa menggunakan sejumlah kartu ATM yang tersedia di dalam pustaka. Saya selaku alumni pun memilih salah satu pembayaran dengan Brizzi BRI dan mendapatkan akses masuk selama seharian hingga pukul 23:00 WIB meskipun nantinya saya sempat keluar masuk pustaka. 
Bayar sekali, nikmati fasilitas sepuasnya
Bukan itu saja, saya mendapatkan kata sandi untuk koneksi Wi-Fi dan LAN yang terhubung dengan koneksi pustaka. Ini mampu mendukung pengguna dengan mudah mengakses sistem UILIS Unsyiah dan pencaharian tugas lainnya di internet.
Bisa dipakai seharian
Yang uniknya, Pustaka berkolaborasi dengan mahasiswa dalam memberikan tanggung jawab dalam mengelola pustaka. Saya pun menemui beberapa mahasiswa yang menjadi volunteer di pustaka dengan senyum manis merekah di bibir mereka. Cara ini menurut saya mampu jiwa pustaka untuk cinta pada pustaka. 
Siapa selanjutnya pengen jadi Volunteer?
Selanjutnya di pintu masuk terdapat alat EM Detector yang punya fungsi menghindari pencurian buku oleh pengunjung pustaka yang tak bertanggung jawab, apalagi sejumlah buku yang ada tergolong langka. Hampir seluruh buku yang ada di pustaka telah memiliki nomor kode dan terdaftar di EM Detector.

Sesaat memasuki perpustakaan, suasana terasa sangat lebih hidup dan berwarna. Dulunya semua dinding pustaka hanya didominasi warna putih saja. Kini seakan lebih berwarna dengan beragam kombinasi warna khas retro dan fasilitas yang membuat nyaman di dalamnya. Semua itu dilakukan agar pengunjung betah membaca buku dan mencoba segala fasilitas yang ada di dalam pustaka. 
Di bagian sebelah kanan di lantai bawah terdapat sebuah layar digital yang mencatat pengunjung pustaka saat itu dan jumlah pinjaman buku. Semua pengunjung yang masih akan terdata pada mesin EM Detector dan mengetahui jumlah pengunjung setiap saat secara real-time. 
Masih pagi tapi sudah ramai
Sembari melepas lelah sekaligus rileks hanyut dalam bacaan, ada banyak pilihan yang layak dipilih. Mulai dari ruang membaca yang menyerupai lesehan, sering dimanfaatkan mahasiswa untuk membaca buku dan membuat kelompok tugas. Sofa lounge buat para pengunjung ingin melahap bacaan sambil duduk, semua memberi nyaman kepada siapa saja. 
Setiap kejutan di setiap lantai Pustaka Unsyiah
Setiap lantai pustaka Unsyiah punya beragam buku bacaan yang sesuai dengan preferensi pengunjung. Pustaka Unsyiah memiliki 3 lantai yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pengunjung ingin. Ada begitu banyak koleksi buku di UPT. Perpustakaan Unsyiah, menurut data dari Onesearch, sedikitnya ada sekitar 116.683 koleksi buku yang ada.

Jumlah totalnya ada 81.805 katalog pustaka, 22.973 berupa ETD dan sisanya sebanyak 11.905 berupa katalog dan jurnal dari sejumlah kampus di Unsyiah.  Angka tersebut membuat Pustaka Unsyiah adalah pemilik koleksi pustaka terbanyak nomor 7 di Indonesia dan di peringkat ke 3 untuk tingkat Universitas.
Ada puluhan buku fisik yang tersusun rapi
Jumlah sebanyak itu diberikan kode buku sesuai raknya dan jenis bidang ilmu terapannya, supaya memudahkan pengunjung menemukan buku yang dicari. Cukup melihat petunjuk kode angka yang tertera dengan jelas di setiap rak.

Pada lantai 1, pengunjung dapat menemukan sejumlah koleksi katalog perpustakaan yang di dominasi oleh buku ilmu pengetahuan sosial seperti hukum dan ekonomi. Selain itu, juga terdapat ruangan tertutup yakni Ruangan Peminjaman Singkat. Di ruangan tersebut para pengunjung dalam membaca buku atau meminjam secara singkat. 
Setiap kode rak punya yang memudahkan pengunjung
Cukup dengan menuliskan nama, NIM, dan asal kampus. Pihak pustaka memberikan izin untuk mengopi buku yang ingin dipinjam sementara. Cukup membantu terutama bagi para pengunjung yang berasal dari luar lingkungan Unsyiah. Meskipun hanya bisa melakukan proses peminjaman singkat, tak perlu khawatir karena sudah ada mesin foto kopi khusus yang melayani proses mengopi materi yang diinginkan pengunjung.

Ada satu sudut yang menarik perhatian saya saat berada di lantai 1 yaitu beragam artefak keramik yang berasal dari kerajaan kuno di berbagai negara di dunia. Seakan menambahkan nilai sejarah yang ditonjolkan sesuai dengan buku ilmu terapan sosial yang mendominasi lantai 1. 
Segudang artefak yang kaya sejarah
Beranjak ke lantai 2, di lantai tersebut lebih banyak didominasi ilmu alam, teknologi dan kedokteran. Saya dahulu kuliah di bidang sains dengan mudah dapat menemukan buku-buku sesuai jurusan yang saya dalami dulu. Lantai 2 jadi lokasi favorit buat para pemburu berbagai materi kuliah hingga tugas akhir.

Saya pun duduk sejenak sambil membuka laptop dan mengambil beberapa buku di dalam rak. Para mahasiswa sibuk dengan tugasnya masing-masing. Urusan koneksi internet bukanlah sebuah masalah, saya pun sudah mendapatkan kata sandi yang diberikan dari pihak pustaka saat masuk pustaka. 
Mahdi dan tugas akhir, serta mimpi menjadi sarjana
Saya pun sempat berbincang-bincang dengan salah seorang mahasiswa tahap akhir bernama Mahdi. Ia menceritakan bahwa segala urusan bahan perkuliahan hingga bahan skripsi didapatkan dan dibuat di pustaka. Ia sangat terbantu dengan bahan dan suasana kondusif yang membantu ia menyelesaikan kuliah tepat waktu. Sebagai kado berharga buat orang tuanya di kampung.

Doakan saya bisa wisuda pertengahan tahun nanti ya…

Cerita Mahdi tadi seakan mengingatkan saya 4 tahun yang lalu, mungkin saya dan banyak alumni lainnya terbantu dengan suasana belajar di pustaka. Sambil melepaskan hiruk-pikuk dunia luar yang penuh penat dan jengah, suasana pustaka begitu dirindukan.

Sudah puas menghabiskan waktu di lantai 2, saya pun selalu penasaran dengan lantai 3. Di lantai ini ada buku didominasi buku tentang Fiksi bahasa, sejumlah skripsi, tesis dan disertasi. Banyak sejumlah karya tulis mahasiswa terdahulu masih tersimpan rapi dan bisa dipinjam seluruhnya. Cukup dengan menuliskan judul terkait, pustakawan Unsyiah langsung mencarikan buku atau pun jurnal yang Anda cari. 
Akhirnya buku yang dicari ketemu
Selain itu, lantai 3 telah bertransformasi dalam pengadaan buku-buku fiksi dan bahasa. Bagi yang menyukai buku-buku fiksi, lantai 3 jadi tempat yang paling tepat dalam lamunan khayalan bacaannya. Setelah lelah dengan bahan kuliah, saya pun tak pernah lupa membaca sastra. Bak memperkaya bahasa dan memperdalam diksi supaya nantinya tulisan saya enak dibaca para pembaca.

Di lantai tiga ada beragam bacaan yang menarik salah satunya di bagian rubik di area jurnal yang menyediakan beragam majalah dan surat kabar. Pengunjung bisa menemui berbagai macam majalah kenamaan yang membahas beragam isu secara in depth seperti Tempo dan Gatra. Bukan hanya itu saja, ada sejumlah surat kabar kenamaan yang selalu update. 
Bacaan In-depth khas Tempo dan Gatra yang sangat menggugah
Meskipun saat ini penetrasi informasi digital sudah sangat pesat, membaca surat kabar dengan sambil membolak-balikkan halaman tetaplah nyaman. Apalagi di setiap sudut ada sofa empuk dan nyaman yang bisa gunakan sambil merebahkan bahu sambil menikmati bacaan. 
Nah… yang paling keren di lantai tiga yaitu ada sebuah koridor khusus yang menonjolkan budaya khas negeri ginseng. Pernak-pernik khas Korea Selatan semua ada di sana, mulai dari buku, miniatur yang tersusun rapi di sepanjang rak hingga foto-foto kerja sama delegasi Korea Selatan dengan pihak Unsyiah. 

Pihak Unsyiah sangat getol bekerja sama dengan Korea Selatan termasuk menyediakan ruangan khusus untuk bisa mengetahui lebih banyak budaya mereka. Lokasi ini jadi yang paling ikonik buat siapa saja yang berswafoto atau mengetahui lebih banyak mengenai Korea. Seakan merasakan aura yang kental saat di sana, saat berada di lantai 3 Unsyiah. 
Segudang pernak-pernik khas Korea
Bagi pengunjung yang berkebutuhan khusus, telah tersedia lift khusus yang memudahkan mereka untuk naik ke lantai berikutnya. Mereka sangat terbantu karena pihak Pustaka Unsyiah memperhatikan hal detail tersebut. Lift juga sering digunakan untuk proses mengangkut buku yang telah dipinjamkan pengunjung agar diletakkan kembali oleh pemustaka.

UILIS dan Pencarian tanpa batas Pustaka Unsyiah
Pencarian buku kini telah  makin mudah secara digital berkat adanya UILIS (Unsyiah Integrated Library Information System). Salah satunya adalah integrasi dengan OPAC (Online Public Acces Catalog), yaitu dengan adanya komputer pustaka yang terhubung dengan jaringan tersebut.

Ini memudahkan para pengunjung mencari buku atau bacaan yang diinginkan hanya dengan pencarian kata kunci. Kemudian pengunjung dalam mengakses sejumlah pencarian buku, katalog, dan dokumen yang tersedia. Aksesnya OPAC bukan hanya melalui komputer di pustaka, tetapi juga dengan perangkat pribadi. Sudah ada aplikasi UILIS Mobile dalam mengetahui pencarian OPAC, historis peminjaman dan proses perpanjangan peminjaman. 
Proses pencarian buku pada sistem Uilis
Aplikasi punya peran besar di era digital termasuk memudahkan akses ke dunia pustaka. Sadar akan peluang menarik tersebut, Pustaka Unsyiah tak mau ketinggalan melakukan terobosan baru. Salah satunya ialah pengadaan aplikasi Mobile.
Cara menggunakan Uilis Mobile
Cara ini dapat menghemat waktu dan tenaga dari pengunjung pustaka karena cukup dengan memasukkan kata kunci yang diingin, pengunjung dengan mudah menemukan apa yang dicari. OPAC mampu terintegrasi secara langsung dengan segala macam mesin pencarian.

Pengunjung dapat melihat di mana buku yang dicari berada sesuai dengan kode yang tertera. Pustaka Unsyiah juga memiliki kualifikasi buku sesuai lantai. Dengan melihat kode yang tertera, pengunjung dapat dengan mudah menemukan buku yang dicari. Praktis banget ya…!

Selain itu, di pustaka Unsyiah terdapat komputer yang terhubung secara langsung ke UILIS. Ini memudahkan pengunjung yang tidak membawa gadget dalam mengakses dengan komputer yang tersedia. Cukup dengan memilih OPAC dan memasukkan kata kunci pencarian. 
Petunjuk akses pada sistem OPAC
Bukan hanya itu saja, buat mahasiswa tahap akhir sangat terbantu dengan fitur ETD (Electronic Theses and Disertations). Salah satunya teman saya Yudi yang sedang mempersiapkan disertasinya. Fitur ini sangat membantu dan caranya cukup dengan mengakses ETD dan memasukkan kata kunci, maka secara tak langsung akan muncul berbagai Skripsi, Tesis dan Disertasi secara online.

ETD bisa diakses di mana saja tak harus di pustaka dan ini sangat membantu mahasiswa. Selain itu begitu banyak sejumlah karya tulis mahasiswa sebelumnya yang telah lulus. Cukup memasukkan kata kunci nama ataupun judul, termasuk saya pribadi bisa menemukan skripsi terdahulu.

Unsyiah dan segala fasilitas pendukungnya
Pustaka terbaik mampu membuat siapa saja yang di dalamnya larut tanpa harus memikirkan banyak hal yang mengganjal. Semua kebutuhan dan keperluan lainnya bisa dilayani di dalamnya termasuk pengadaan loker khusus yang menyimpan barang berharga saat di pustaka.

Membawa tas, tak perlu khawatir karena bisa dibawa masuk ke dalam pustaka. Selain itu ada opsi pilihan memasukkannya ke dalam loker yang ada di setiap sudut, sudah pasti dijamin aman. Ukurannya sangat pas untuk berbagai ukuran tas, dibandingkan harus memikul tas saat mencari buku. Memasukkan loker jadi sebuah pilihan pengunjung. 
Barang bawaan aman di dalam loker
Pustaka Unsyiah punya juga mengedepankan sejumlah kerajinan tangan yang dihasilkan oleh perorangan atau UKM di bawah Unsyiah. Pada bagian kanan di sebelah kanan ada sebuah gerai kecil yang bernama Library Gift Shop (LGF).

Mekanisme yang diterapkan seperti ini seakan mampu menumbuhkan semangat berkreasi dan berwirausaha bagi mahasiswa. Menurut saya pribadi, letaknya yang strategis yaitu di dekat tangga menuju lantai selanjutnya sering dimanfaatkan oleh mahasiswa untuk membelinya.

Di LGF ada beragam kerajinan tangan khas mahaasiswa mulai dari gantungan kunci, syal hingga pakaian. Karyawan yang bekerja di sana bertugas bergantian menjaga dan mengelola LGF secara mandiri. Bagi pengunjung yang jarang datang ke pustaka Unsyiah, pernak-pernik di LGF sangat cocok dibawa pulang sebagai cendera mata khas pustaka Unsyiah. 
Belanja, di LGF saja
Walaupun Pustaka Unsyiah bersebelahan dengan Masjid Putih Kampus, namun bukan berarti tidak memiliki Musala. Tujuannya mengakomodir pengunjung terutama perempuan dapat melaksanakan ibadahnya. Di dalam Musala juga tersedia peralatan salat mulai dari sajadah, mukena, dan kain sarung.

Untuk proses peminjaman buku lebih modern tanpa harus mengandalkan pihak pustaka karena telah ada mesin peminjaman otomatis bernama Self Loan Station. Sesuai dengan Revolusi Industri 4.0 yang mengandalkan teknologi. Pengunjung yang memiliki kartu pustaka dapat dengan mudah meminjamkan buku dengan maksimal 3 buku. Waktu pengembalian buku berlangsung selama 14 hari dengan sekali masa perpanjang lanjutan. Sangat praktis dan tidak memerlukan waktu antre yang lama. 
Self Loan Station yang buat proses pinjam jadi lebih mudah
Setelah puas dengan semuanya, ada lokasi saran yang berbentuk emoji atas kedatangan di pustaka Unsyiah. Segala pengalaman yang saya rasakan selama berada di dalamnya terbayar dengan lunas. Emoji excellent sangat layak ganjarannya buat pustaka Unsyiah. Semua dahaga saya terjawab dengan baik selama di dalamnya. 

Tak ada Alasan Tak pergi ke Pustaka Unsyiah
Sesuai dengan konsep yang diusung pustaka Unsyiah yaitu: More than Just a Library ternyata memberikan banyak perubahan pada pengunjung Pustaka Unsyiah. Seakan memberikan sebuah dimensi baru dalam revolusi pustaka. Ini menjadi sebuah semangat dalam Unsyiah Library Fiesta 2019.

Bila dahulunya pustaka identik dengan suasana yang formal dan senyap, kini konsep ini coba diubah dengan sedemikian rupa untuk kenyamanan pengunjung. Pengunjung rela menghabiskan banyak waktu saat berada di sana. Waktu yang digunakan jadi lebih optimal, larut dalam lamunan buku yang seakan memupuk pikiran. 
Pustaka pun tak seperti tempo dulu, ada banyak hiburan yang mengasah edukasi dan kreativitas mahasiswa. Selain menarik animo pengunjung serta kecintaan pergi ke pustaka. Mulai dari Kelas Literasi Informasi yang menghadirkan pemateri berbobot, Kegiatan Harmoni Kampus, dan Acara Relax and Easy.

Urusan jadwal buka Pustaka Unsyiah pun lebih lama dalam menunjang aktivitas pustaka. Ada banyak pustaka yang hanya buka pada siang hari dan tutup pada malam hari. Unsyiah berlaku beda dengan menerapkan buka setiap harinya dan pada malam tertentu, sehingga memudahkan siapa saja mencari bahan dan lokasi belajar.
Jadwal kunjungan Pustaka Unsyiah
Secara tak langsung mereka yang kurang suka minat membaca mampu tumbuh dengan sendirinya dengan acara tersebut. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan oleh duta baca Unsyiah dalam mempromosikan perpustakaan Unsyiah dan menanamkan minat baca bagi kalangan akademisi.

Jadi itulah sejumlah alasan mengapa Pustaka Unsyiah bukan sekedar pustaka biasa. Dengan konsep dan animo dari pengunjung yang terus meningkat, tak tertutup kemungkinan Pustaka Unsyiah jadi model role pustaka modern bukan hanya di Aceh saja tetap tingkat nasional.

Cafe Kekinian dan Hiburan atraktif di Pustaka
Pustaka Unsyiah punya konsep dengan menawarkan sejumlah makanan ringan bagi pengunjung yang ingin mengganjal perut atau melegakan tenggorokan. Adanya kantin yang menyediakan segala makanan dan minuman ringan saat masuk ke dalam pustaka. Harganya juga relatif terjangkau yang ramah buat kantong mahasiswa. 
Kini tak harus jauh mencari makanan pengganjal perut
Bukan berhenti di situ saja, ada juga Libri Cafe tersebut dibuat dengan konsep anak muda kekinian serta dikelola secara langsung oleh mahasiswa. Lokasi Libri Cafe sering menghadirkan sejumlah penampilan dari Relax and Easy, mulai dari mahasiswa yang berbakat hingga musisi ternama khas Aceh pernah tampil di panggung tersebut. 
Panggung utama Relax and Easy
Hanya saja dalam beberapa kunjungan saya tidak berhasil memesannya, karena Libri Cafe baru mulai buka jelas siang hari. Mungkin di lain kesempatan saya bisa kesampaian menyaksikan penampilan Relax and Easy dari mahasiswa sambil menyeruput satu cup Americano dingin di Libri Cafe. 
Libri Cafe yang modern di dalam pustaka Unsyiah
Setelah menghabiskan beberapa jam di Pustaka Unsyiah, saya merasa lega karena bisa mendapatkan banyak sekali ilmu dan pengalaman baru. Seakan ingin kembali menjadi mahasiswa baru dan merasakan duduk di salah satu kursi sambil larut di dalam bacaan.

Pengalaman ini membekas dan melebihi ekspektasi saya pribadi, bahkan siapa saja yang datang akan kagum dan nyaman di dalam Pustaka Unsyiah. Sangat layak menganggap Pustaka Unsyiah More Than Just a Library. Melalui semangat Unsyiah Library Fiesta 2019, saya seakan mendapatkan apa yang tertera di papan ukir di depan Pustaka Unsyiah Knowledge is Free at Our Library, Just Bring Your Own Container. Semua bak pengalaman tak terlupakan..
Semoga saja postingan ini menginspirasi dan silakan cerita pengalaman kalian saat berkunjung ke pustaka Unsyiah. Have a Nice Day.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Part of EcoBlogger Squad

Part of EcoBlogger Squad