Saturday, November 16, 2019

Bali United, Profesional Dulu Sebelum Jadi Jawara

Bali United tergolong klub baru di kancah sepak bola tanah air. Kelahirannya pun sedikit kontroversial di tengah kisruh kompetisi kala itu, Melalui sosok Bankir bernama Yabes Tanuri membeli lisensi klub Persisam Samarinda yang saat itu mengalami kesulitan keuangan. Sejarah Bali United pun tercipta, Yabes pun berani mengambil risiko membangun klub bola di tengah kisruh tak menentu.

Yabes Tanuri pun memilih lokasi baru yang punya potensi dalam membangun sepak bola modern. Pilihan jatuh pada Pulau Dewata yang terkenal sebagai objek wisata hingga mancanegara. Hanya saja di level klub sepak bola belum ada yang mampu bersaing, sejumlah klub di Pulau Dewata  hanya berlaga di kasta bawah. Lahirnya Bali United seakan mencoba membenahi persepakbolaan Pulau Dewata yang bersaing sama baiknya dengan sektor pariwisata.
Semuanya dimulai dari nol kembali, langkah awal adalah menyewa stadion yang jarang dipakai oleh klub lokal sebelumnya. Stadion Kapten I Wayan Dipta disulap menjadi stadion milik klub dengan fasilitas terbaik. Perbaikan dari tribun penonton, pengecatan, penerangan, bench pemain sampai pada rumput dan drainase sesuai standar Eropa.
Konsep manajemen Bali United dibangun melalui semboyan Beyond Football, sekaligus merevolusi sepak bola Indonesia dengan konsep Modern Football. Awal mula berdiri, hujatan pun datang karena klub instan atau klub siluman di benak penggemar sepak bola Indonesia. Bahkan Bali United lebih layak dianggap tim balap karena banyaknya sponsor yang melekat di jersey.

Kritikan dan hujatan itu seakan mulai pudar dalam beberapa tahun terakhir. Bali United selalu masuk dalam kandidat juara selama 3 musim terakhir. Terbukti kini Bali United kokoh di puncak Shopee Liga 1, para pesaing seakan kehabisan bensin mengejar torehan poin yang didulang Bali United. Meski baru seumur jagung, Bali United dianggap revolusioner dan punya Lisensi AFC sebagai standar wajib klub profesional di Asia. Jauh mengalahkan sejumlah klub tradisi yang masih belum punya lisensi tersebut.

Manajemen sadar bahwa membangun tim sepak bola tak hanya bisa mengandalkan squad dan pelatih top saja. Atau mengandalkan pemasukan klub hanya dari pemasukan dari tiket, hak siar, dan penjualan jersey. Efeknya klub tersebut akan mengalami krisis keuangan dan telatnya pembayaran gaji pemain.

Bali United mengatasi hal tersebut dengan membangun bisnis di luar lapangan yang anti-mainstream. Stadion dihidupkan untuk menghasilkan uang segar dengan menggabungkan sisi olahraga dan bisnis. Salah satunya dengan menghapus stigma sepak bola bisa dinikmati orang dewasa tapi semua lintas umur bisa datang ke stadion. Di Stadion Dipta disulap menjadi lokasi hiburan, wisata hingga tempat perbelanjaan. 
Terobosan yang dilakukan dengan mengadakan Tour Stadium bagi fans yang ingin berkeliling stadion. Seperti melihat ruang ganti pemain, ruang konferensi pers, hingga berfoto dengan latar stadion Dipta. Semuanya proses pendaftaran dilakukan secara online melalui Bali United App. Bagi Fans yang membawa si buah hati tak perlu khawatir, telah tersedia Bali United PlayLand sebagai lokasi bermain anak.

Penggemar yang menggilai kuliner dan tetap ngehits, sudah ada Bali United Café lokasi mencicipi makanan sambil melihat pemandangan stadion. Terakhir rasanya belum lengkap tak datang ke Bali United Megastore, menjual berbagai pernak-pernik khas Bali United.

Di ranah media pun Bali United tidak main-main dengan membangun basis fans secara global. Strategi seperti tebak skor, tebak tokoh hingga game lainnya membuat fans Bali United terus meningkat. Seperti di Instagram yang menyentuh angka 800 ribu follower. Ada banyak fans dari luar daerah hingga mancanegara menonton langsung di Stadion Dipta. 
Di level pasar saham, Bali United menorehkan sejarah sebagai klub pertama di Indonesia yang melakukan IPO. Nama Bali United dengan kode (BOLA) meluncur di Bursa Efek Indonesia, terhitung sejak 17 Juni 2019. Total ada sebanyak 2 miliar unit saham dilepas ke publik, diharapkan akan ada dana segar yang diraut untuk operasional klub. 

Setelah berhasil membenahi berbagai sektor dari stadion, manajemen keuangan klub, sponsorship, hingga bisnis di luar lapangan hijau. Kini waktunya Bali United membuktikannya di lapangan hijau sebagai jawara. Menilik ke belakang, prestasi terbaik yang mereka raih hanyalah runner up tahun 2017 di bawah Bhayangkara United. Sempat memimpin, Bhayangkara berhasil menyalip di partai terakhir liga dan kalah head-to-head.

Musim 2018 begitu apes, sempat bermain baik di putaran pertama. Namun di putaran kedua Bali United terlempar dari perebutan jawara dan harus puas mengakhir liga di posisi 11. Itu prestasi terburuk kedua setelah di tahun 2016 hanya finish di posisi 12. Hingga akhirnya memaksa Widodo C. Putro meletakkan jabatan kepala pelatih. 
Manajemen berbenah dan bergerak cepat dengan merekrut Stefano Cugurra, yang akrab dipanggil Teco. Alasan pemilihan Teco karena ia tipikal pelatih yang cepat adaptasi terhadap paham akan iklim liga Indonesia. Buktinya ia sukses membesut Macan Kemayoran mengawinkan gelar Liga 1 dan Piala Presiden tahun 2018.
Di awal kendalinya, ia merombak tim dan mencari komposisi pemain yang cocok dengan gaya mainnya. Sisi pertahanan adalah titik lemah Bali United di musim sebelumnya, ada banyak gol yang bersarang melalui serang balik sayap dan skema open play. Nama seperti Demerson da Silva, Muhammadou N’diaye, Ahn Byung-Keon, dan Novan Sasongko didepak.
Teco mendatangkan sejumlah pemain andalannya dari Persija dan muka baru yang sesuai dengan skema bertahan miliknya. Ada nama Gunawan Cahyo, Anan Lestaluhu, dan William Pacheco. Mereka dipadukan wajah lawas seperti Leonardo Tupamahu, Dias Angga, dan Ricky Fajrin. Ada perpaduan pemain senior, berpengalaman, dan muda di sisi pertahanan Bali United.

Sisi gelandang setelah Van Der Velden gantung sepatu, Bali United berhasil menggaet Paulo Sergio. Kesuksesannya di Bhayangkara diharapkan bisa ditularkan untuk Bali United. Lalu manajemen pun merekrut pula Melvin Platje yang terkenal penyerang haus gol, menjadi trisula bersama Spasojevic dan Irfan Bachdim. Terakhir adalah Brwa Nouri yang bertugas sebagai jenderal lapangan tengah dan suplai bola untuk Lilipaly dan Paulo Sergio.
Bali United tidak mau lagi salah membeli pemain yang tidak cocok skema tim. Tahun sebelumnya dua pemain yaitu Milos Krkotic dan Kevin Brands tak mampu menjawab peran yang diberikan. Berdampak pada performa tim jeblok pada putaran kedua liga, Bali United harus rela bermain tanpa pemain kouta pemain Eropa.

Teco pun berperan mengembalikan ketajaman Spasojevic yang menurun di musim perdana. Kini Spaso sudah mengemas 13 gol di Shopee Liga 1 dan terlibat dalam skema 10 gol lainnya yang Bali United lesatkan. 
Tak hanya Spaso, peran Lilipaly begitu sentral di lini tengah Bali United. Menyumbang assist dan tak jarang jadi penentu kemenangan Bali United. Moment paling diingat adalah tendangan geledeknya melawan PS Tira di pekan 14. Pasca kemenangan itu, Bali United seakan tak tersentuh di puncak klasemen Shopee Liga 1.

Lalu di benteng pertahanan ada penampilan menawan dari Wawan Spiderwan di bawah mistar gawang. Ia mampu menciptakan banyak penyelamatan heroik. Total Wawan menorehkan rekor 11 laga nirbobol dari 27 laga yang sudah dimainkan. Ganjarannya, Wawan Spiderwan dipanggil ke timnas untuk pertama kalinya.
Semua karena tangan dingin Teco dalam menangani setiap pemain dan ruang ganti terasa harmonis. Setiap hasil buruk selalu berhasil direspons dengan sangat baik dan cepat. Taktik yang digunakan cair dan terbukti jitu. Bahkan Bali United cukup banyak menciptakan gol setelah turun minum berkat perubahan taktik yang dilakukan.

Setiap laga Liga 1 selalu tayang setiap harinya dengan total 34 laga. Otomatis waktu pemain melakukan recovery jadi sangat pendek. Ini sangat menguras tenaga dan pikiran, ditambah ada sejumlah nama yang dipanggil untuk memperkuat Timnas dari level U-19, U-23 hingga tim senior di ajang kualifikasi Piala Dunia.

Sebagai catatan untuk musim ini, Bali United memainkan 43 laga selama 11 bulan. Memang tidak sepadat Persija Jakarta dan PSM Makassar yang harus berlaga di AFC Cup. Total ada 34 laga untuk liga 1, 6 laga di Piala Indonesia (tersingkir di quarter final), dan 3 laga di Piala Presiden (tak lolos fase grup).
Squad Bali United di Shopee Liga 1
Bali United butuh skuad yang dalam agar kejadian di musim sebelumnya tidak terulang. Efek berlaga di level Asia, performa Bali United di Liga 1 harus jeblok. Ini yang coba Teco lakukan dengan memperdalam squad hingga 30 pemain, bahkan ada 8 pemain akademi yang dipanggil ke tim senior.
Rotasi sering dilakukan, Teco memutar otak serta bisa memaksimalkan pemain yang ada karena jarak laga tandang sangat menguras fisik dan pikiran. Para Tridatu Muda Teco persiapkan untuk menambah jam terbang, sekaligus ajang pembuktian diri mereka. Alhasil muncul nama Diky Indriyana, Lingka Poerba, dan I Kadek Agung di tengah pemain bintang dan berpengalaman di skuad Bali United.

Ada banyak kontesan klub liga 1 mengandalkan laga kandang untuk meraut poin sebanyaknya. Namun saat bertandang hasil malah sebaliknya, mereka kehilangan banyak poin dan sulit konsisten di papan klasemen. Keberhasilan Bali United di musim ini dinilai karena mampu meraut banyak poin di sejumlah laga tandang pada basis klub dengan fans fanatik.

Sebut saja Persib, Madura United, dan Persija. Sedangkan PSS Sleman, Persebaya, dan Persipura dipaksa berbagi angka. Bali United pun baru takluk 4 laga saja dan semuanya di laga tandang yaitu saat melawat ke Barito, Persela, Borneo, dan PSIS. Uniknya, semua klub yang berhasil menaklukkan Bali United malah tidak menduduki posisi 10 besar klasemen Shopee Liga 1.
Kemudian saat bermain di Stadion Dipta, Bali United sangat dominan dan sangat sulit kehilangan angka. Sekitar 25 ribu Semeton selalu setia hadir ke stadion mendukung Bali United bermain. Total dari 14 laga yang sudah dimainkan, hanya Persela berhasil memaksa hasil imbang. Inilah yang membuat poin Bali United sulit dikejar pesaingnya.
Beragam suporter Bali United dengan chants dan kreografinya
Menilik selisih poin yang saat ini, secara hitung-hitungan seakan tak sulit buat Bali United lebih cepat sebelum kompetisi berakhir. Prediksi saya, Bali United akan mengunci gelar di pekan ke-31 saat menjamu tim peringkat ke-2 Persipura. Kemenangan di depan puluhan ribu Semeton yang hadir Stadion Dipta terasa sangat istimewa, sekaligus menjadi gelar perdana Bali United.
Bagi Bali United, untuk jadi sebuah klub profesional dimulai dari membangun manajemen yang baik terlebih dahulu. Setelah itu tinggal menunggu waktu saja sejarah mencatat Bali United sebagai klub profesional dan jawara.

Tulisan ini diikutsertakan pada Kontes Blog Shopee Liga 1. Have a Nice Day.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email