Friday, January 17, 2020

Kemandirian Indonesia dalam Membangun Industri Pertahanan

Menjaga kedaulatan negara jadi tugas utama TNI sebagai garda terdepan republik ini. Kedaulatan tak  hanya di daratan dan laut saja, ruang udara jadi wilayah yang dikontrol penuh. Tanggung jawabnya begitu besar, mengingat luas Indonesia yang mencapai ±1,9 juta km2  lebih dari 17 ribu pulau, 5 juta km2 ruang udara dan berbatasan dengan 10 negara lainnya baik darat dan laut.

Memang TNI tidak diragukan kemampuannya, menduduki peringkat 16 dari 137 negara menurut Global Fire Power. Kekuatan pasukan tempur saja tidak cukup karena ada banyak tantangan di era modern saat ini. ada banyak ancaman tak terduga yang datang, mulai dari penyelundupan, pencurian, hingga pencaplokan wilayah. Butuh armada dan alutsista mumpuni dalam menjaga itu semua.

Selama ini Indonesia masih cukup banyak mengandalkan alutsista dari berbagai negara. Kini kebijakan sedikit diubah dengan sangat getol dalam melakukan modernisasi alutsista dan juga memproduksinya secara mandiri. Ada sejumlah alasan harus dilakukan, mulai embargo asing hingga kemandirian dalam pemenuhan dasar pertahanan RI. Ketergantungan dari bangsa lain sangat tidak baik khususnya dalam pemenuhan sistem keamanan negara.

Pengalaman pahit ini coba dilakukan dengan cara proses pengembangan dan produksi industri pertahanan secara mandiri. Memang awalnya Mendirikan industri pertahanan membutuhkan biaya yang cukup besar. Namun ada dampak besar yang akan didapatkan setelahnya. Salah satunya dalam pemenuhan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) di dalam Alutsista.

Model yang digunakan adalah dengan kerja sama dengan negara lain dalam transfer teknologi dan pengetahuan. Tujuannya adalah mengadopsi kemampuan dalam bisnis alutsista RI. Semua itu seakan terbayar dengan majunya sejumlah perusahaan lokal dalam pemenuhan alutsista khususnya persenjataan, panser, hingga kapal.

Masa depan Alutsista Indonesia sebagai benteng pertahanan
Peran Alutsista sangat krusial khususnya sebagai benteng pertahanan bangsa sekaligus kebutuhan wajib buat TNI. Ada sejumlah target yang dicanangkan khususnya pemenuhan Minimum Essential Force (MEF) untuk alutsista nasional. Saat ini angkanya masih di bawah 75%, tapi beberapa tahun ke depan sudah mencapai 100%.
Tujuan utama MEF ialah melakukan proses modernisasi alutsista yang terbagi pada tiga komponen postur seperti: kekuatan, gelar (persebaran penempatan), dan kemampuan pengembangan prajurit. MEF tak hanya modernisasi bidang teknologi saja tapi juga bidang industri pertahanan.

Peran Komite Kebijakan Industri Pertahanan(KKIP) sangat diperlukan dalam melanjutkan pertumbuhan industri pertahanan. Sesuai dengan visi dan misi dari presiden dan Kementrian Pertahanan RI, KKIP membantu menargetkan MEF pada sejumlah industri pertahanan lokal seperti PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, dan PT PAL. KKIP mengacu pada Undang-undang No. 16 tahun 2012 dan peraturan perundang-undangan terkait cita-cita memiliki industri pertahanan yang maju, kuat, mandiri, dan berdaya saing.
Riset juga melihat sejumlah lembaga penelitian litbang dalam hal transfer ilmu pengetahuan dan teknologi pada program nasional.  Khususnya mempersiapkan sistem pertahanan yang bersaing di masa depan Terakhir tentunya melanjutkan sejumlah kerja sama dalam pengembangan alutsista dari radar hingga pengembangan pesawat jet semi siluman KFX/IFX.

Membangun pertahanan jadi tugas wajib karena saat ini alutsista TNI sudah mulai termakan zaman. Ada banyak ancaman yang datang saat ini atau masa depan. Kasus Laut Natuna, pesawat atau kapal asing masuk ke wilayah teritorial Indonesia, hingga tindakan separatis butuh alutsista canggih. Mulai dari mengamankan hingga meredam khususnya yang sifatnya mengganggu kedaulatan RI.

Tak berhenti di situ saja, ada gangguan lainnya yang sifatnya mendukung, seperti aksi kemanusiaan. Apalagi sejumlah peralatan keamanan sering digunakan dalam proses evakuasi dan distribusi pasca bencana alam. Bahkan penyelundupan barang terlarang bisa digagalkan dengan alutsista canggih khususnya di daerah perbatasan. Di masa depan makin berkembang lagi, penanggalan cyber attack dibutuhkan peralatan canggih dan SDM unggul di bidang tersebut. Butuh revolusi dan tindakan cepat dalam menanganinya.

Potensi besar Industri  Pertahanan Lokal yang berdaya saing
Kemajuan yang paling signifikan  dari perusahaan pertahanan lokal adalah proses pengembangan drone MALE, artileri, dan Sentry Gun berbasis Unmanned Ground Combat Vehicle (UGCV). Proses pengembangan sedang dilakukan dan bahkan punya keunggulan bersaing  terhadap adaptasi teknologi di masa depan.

Tak hanya itu saja, ada realisasi lain yang sedang dipersiapkan dan digarap dalam ketahanan persenjataan milik TNI. Mulai dari menciptakan senjata laser, sistem senjata jarak jauh, sistem pertahanan optronic terpadu, Gyrocopter, dan tentu saja Flapping Bird. Total ada lebih dari tujuh perusahaan pertahanan nasional yang mampu menghasilkan produk alutsista berkualitas dan bersaing di level internasional. Berikut sejumlah perusahaan dan produk andalannya:
Produk yang sudah dipamerkan ialah Purwarupa Drone MALE (Medium Altitude Long Endurance) yang mampu melakukan sejumlah misi rahasia berbasis ISR (Inteligence, Surveilance, and Reconnaisance). Konsepnya tanpa awak yang sudah dikembangkan sejak tahun 2015 melalui konsorsium Kementrian Pertahanan, TNI-AU, BPPT, LAPAN, ITB, PTDI, dan PT Len Persero.
Pada proses pengembangan Drone, ada sejumlah teknologi yang diadaptasinya. Misalnya saja teknologi Flight Control System, kemampuan Auto Take-off, serta Auto Landing. Mission System, multi rotor Weapon-Platform Integration, dan Radar SAR. Kemampuan lainnya yang dibutuhkan dari Drone MALE adalah dalam menjalankan Inertial Navigation System (INS), Electro-Optics Targeting System (EOTS), dan tentu saja pada Guidance System.

Kemampuan yang dimiliki dari Drone Black Eagle tersebut mampu beroperasi selama 30 jam dengan ketinggian hingga 23 ribu kaki. Jangkauan dan jelajahnya hingga 5000 km, punya suara yang senyap dan cocok sebagai fungsi keamanan di ruang udara RI. Kemampuannya tak kalah bersaing dengan Drone pemantau terkemuka milik negara lain.

Lalu sedang giatnya dilakukan proses pengembangan artileri jarak menengah yaitu melalui program pengembangan Rudal Petir V-101. Artileri ini dipersiapkan untuk proses peluncuran baik di darat atau pun di dalam laut (menggunakan kapal selam). Tujuannya adalah untuk menyerang objek sasaran baik yang ada di daratan atau pun di pesisir musuh.
Petir V-101 punya panjang 185 cm, rentang sayap 155 cm, berat 20 kg serta mampu mengangkut hulu ledak hingga 10 kg. Kemampuan yang dimiliki ialah berkecepatan 350 km/jam dengan jangkauan 80 km tanpa terdeteksi oleh radar musuh meskipun terbang rendah dari permukaan.

Terakhir tentu saja Sentry Gun yang sedang dikembangkan, menggunakan kendaraan darat tanpa awak yang menyerupai Tank dan bekerja secara robotik. Penerapan Sentry Gun adalah Unmanned Ground Combat Vehicle (UGCV) khusus pada misi pengintaian, pengawasan, dan pengarahan pada pasukan. Serta ia punya kemampuan batas mana prajurit aman dari tembakan musuh. Berikut spesifikasinya:

Membangun industri pertahanan dengan bekerja sama
Ada sejumlah kelemahan yang dimiliki oleh militer Indonesia yang harus dibenahi. Luasnya wilayah nusantara menyulitkan proses penjagaan kedaulatan ditambah banyak alutsista yang mulai termakan usia dan ketinggalan zaman.

Pengadaan alutsista juga menyesuaikan corak peperangan di masa depan yang sulit diprediksi dan menjadikan RI sebagai negara kuat yang disegani di Asia Pasifik. Melalui Menteri pertahanan saat ini, Prabowo Subianto, pengadaan alutsista orientasinya ialah strategic partnership, khususnya dalam kemandirian dan daya saing menghasilkan alutsista buatan karya anak negeri.

Paling penting dan sifatnya urgen adalah proses pengembangan radar militer. Selama ini kita sering kecolongan khususnya di ruang udara dan laut. Mulai dari aksi penyelundupan, pencurian ikan hingga sengketa wilayah. Adanya batas wilayah yang jelas serta radar yang mumpuni akan sangat membantu kinerja TNI sebagai garda terdepan RI.

Untuk saat ini saja baru ada 19 unit radar yang beroperasi di Indonesia, jauh dibandingkan dengan 1.000 unit yang telah dilakukan riset oleh Kemenristek Dikti. Ada banyak yang tak terpantau sehingga pelanggaran di perbatasan sering terjadi. Tak jarang sering merugikan negara kita karena aksi kriminal sejumlah kapal nelayan masuk ke wilayah kita, mulai dari mencuri ikan hingga beragam aksi penyelundupan.

Salah satu caranya adalah pengembangan radar militer, pemerintah melalui PT Len Industri (Persero Bersama dengan Leonardo S.p.A asal Italia melakukan kerja sama kontrak dalam pengembangan dan pengadaan radar pertahanan level medium RAT 31 DL/M. Khususnya untuk memperkuat sistem pertahanan ruang udara di wilayah NKRI.
Pada PT Len akan mengadakan suplai khususnya komponen lokal dalam pemenuhan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN), menyiapkan infrastrukturnya dan tentu saja melakukan pelatihan bertahap. Nantinya akan ada  kerja sama produksi radar serta proses pemeliharaan akan diambil penuh oleh PT Len.

Kerja sama tersebut menguntungkan di masa depan, sebagai transfer pengetahuan dan teknologi pada sistem radar. Saat ini PT Len sudah memiliki radar sendiri untuk level 2D, tinggal proses pengembangan radar 3D saja. Kerja sama dengan Leonardo S.p.A akan mampu membuat RI kuat dalam menjangkau wilayahnya dari para penyusup di tapal batas negeri.

Selama ini Indonesia masih mengandalkan pesawat tempur milik USA dan Rusia. Tak mungkin selamanya mengandalkan Alutsista buatan dua negara adikuasa tersebut, salah satunya menghidupkan kembali kerja sama pengembangan pesawat tempur generasi 4++ dengan pemerintah Korea Selatan.

Pengembangan pesawat tempur yang sempat mandek kini sudah mulai ada lampu hijau dalam proses pengembangan lanjutan. Melalui penandatanganan cost share agreement dengan pemerintah Korsel senilai Rp 18 triliun. Pengembangan diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan setiap negara, pada perjanjian andai proyek ini selesai. Ada 168 pesawat tempur dengan pembagian sebanyak 120 untuk Korsel dan 48 untuk pemerintah RI.
Tahapan selanjutnya adalah dengan mengembangkan purwarupa, tahap EMD (Engineering Manufacturing Development) dan sertifikasi. Terakhir adalah tahap produksi massal, selama ini sempat terkendala dan di tahun 2021 purwarupanya akan diperkenalkan pada publik.

Kemampuan dari Jet tempur KFX/IFX generasi 4++ tersebut tergolong pesawat semi-siluman. Ia punya kemampuan khusus dalam merusak sistem elektronik musuh (Jammer Eletronic) dan sistem radar yang mampu mendeteksi musuh dari berbagai penjuru.

Buah Manis Alutsista Lokal yang Memikat Bangsa Lain
Selama ini kita sering mengabaikan bahkan sejumlah perusahaan pembuatan produk pertahanan Indonesia cukup dikenal di luar negeri. Produk yang dihasilkan bahkan sudah diekspor di sejumlah negara di belahan dunia, kemampuan anak bangsa tak kalah bagusnya. Berikut sejumlah produk dan negara yang sudah menggunakannya sebagai alutsista andalan mereka, cekidot:

Chile yang telah mengekspor Smoke Warhead, punya kemampuan yang mampu menyaingi buatan USA dan Rusia. Smoke Warhead merupakan alutsista yang menyerupai roket berdiameter 70 mm, mampu mengirimkan lokasi jatuhnya dengan mengeluarkan asap selama dua menit saat menyentuh media keras seperti di tanah. Smoke Warhead sangat cocok dipasangkan pada sejumlah pesawat tempur latih Super Tucano dan merupakan buatan PT Sari Bahari dari Malang, Jawa Timur.
Korea Selatan, Vietnam, Filipina dan Senegal mengekspor Pesawat CN 235-MPA, merupakan sebuah pesawat jenis Maritime Patrol Aircraft (MPA) yang dikhususkan untuk patroli laut. Khususnya di perairan yang berbatasan dengan negara tetangga. Buatan PT. Dirgantara Indonesia tersebut punya keahlian dalam sistem navigasi dan komunikasi, sangat cocok dalam menjaga bibir pantai yang sering jadi lokasi penyelundupan dan pelanggaran tapal batas.
Timor Leste mengekspor Fast Patrol Boat, Sebagai perusahaan yang menghasilkan armada maritim unggulan, PT PAL mampu menghasilkan kapal patroli cepat khususnya dalam melakukan aksi serbu melalui (Fast Patrol Boat). Ini membuat negara tetangga kita Timor Leste kepincut dengan buatan Indonesia, khususnya dalam melindungi wilayah teritorial mereka.
Kelebihan yang dimiliki oleh Fast Patrol Boat adalah menggunakan bahan ringan tapi kuat yaitu aluminium, mampu menahan gelombang besar tapi cepat dalam melakukan manuver. Kecepatannya bisa dipacu sampai 30 Knot. Sudah dilengkapi dengan dua baling-baling dan Radar NavNet yang mampu mengintegrasikan data-data pada sistem navigasi dan komunikasi pada peta elektronik serta radar.

Ekspor Landing Platform Dock buatan PT PAL ke Filipina, selaku perusahaan yang mengembangkan produk maritim andal, PT PAL punya jam terbang dalam menghasilkan produk terbaik. Salah satunya jenis Landing Platform Dock (LPD) yang diminati oleh Filipina. Total ada dua unit yang dibeli dengan harga total mencapai US$ 86 juta dan dinamai dengan BRP Tarlac dan BRP Davao del Sur.
Selain digunakan sebagai armada militer, kapal militer jenis LPD tersebut bisa digunakan untuk aksi kemanusiaan atau bencana yang terjadi di laut. Kemampuan full load speed hingga 20 knots dan tahan berlayar hingga 30 hari non-stop dengan kecepatan rata-rata 12 knots.

Minat ekspor sejumlah negara dengan Tank Boat Antasena, Salah satu alutsista yang dikembangkan oleh PT Lundin dalam membuat karakteristik dari tank dan boat yang lincah melakukan operasi. Indonesia terkenal dengan banyak pantai, rawa, dan sungai besar. Tank Boat Antasena sangat cocok dalam operasi di perairan dangkal dan punya kemampuan melakukan patroli melawan perompak hingga sarana pasukan dan pengiriman bahan logistik.
Punya dimensi yaitu 18 meter dengan lebar 6,6 meter dan mampu menampung 20 pasukan dan empat ABK. Mengandalkan daya mesin hingga 1.400 hp yang mampu melaju hingga 40 knot dan jangkauan hingga 2.000 mil. Sejumlah negara seperti UEA dan Mesir sudah memesan Tank Boat Antasena sebagai armada dalam memperkuat perairannya.

Singapura hingga USA minati peluru buatan Pindad, nama besar dan reputasi yang dimiliki PT Pindad membuat mereka punya klien dari seluruh dunia. Salah satunya peluru berkaliber 5,56 mm, 7,62 mm, dan 9 mm yang tak hanya untuk kebutuhan TNI-Polri tapi diekspor ke mancanegara. Negara Seperti Singapura, Filipina, Bangladesh hingga USA kepincut dengan produk tersebut.
Salah satu keandalannya dari presisi dengan target serta cocok dengan sejumlah jenis senjata. Peluru Pindad pun sudah melewati uji kelayakan badan internasional yaitu dengan adanya sertifikat ISO 9001 dari SGS Yearsly-International Certification Service Ltd di Inggris.

Malaysia dan Oman, peminat Panser Anoa, Tak hanya peluru saja, produk Pindad yang cukup terkenal adalah Panser Anoa selaku alutsista unggulan. Beragam tipe sudah laris manis dalam satu dekade terakhir. Negara pemesanan datang dari kerajaan Oman hingga Malaysia.
Keunggulan Panser Anoa yaitu punya harga terjangkau tapi kualitas mumpuni. Sudah melewati standar yang ditetapkan NATO yaitu level III, khususnya ketahanan dari serangan dan pertempuran. Bahkan ada sebanyak 350 unit Panser yang digunakan oleh PBB adalah Panser Anoa buatan Pindad. Terbaru ialah Panser Anoa dengan mengusung Kanon kaliber 20 mm dan berjenis IFV (Infantry Fighting Vehicle).

Terakhir yang diminati punya Pindad adalah senapan yang mampu melakukan serangan hingga ke pos musuh. Senapan tersebut dipesan dari Singapura hingga Afrika. Jenis senjata mulai dari senjata serbu (SS1-Series), Senapan sniper, (SPR-1), Pistol (P-1 dan P-2, Revolver, senapan Sabhara (untuk polisi), senapan penjaga hutan, dan pistol Magnum. Lalu ada juga seperti peluncur granat dan pelindung tubuh dari serangan atau tembakan dari musuh.

Karena kelengkapan produk yang dimiliki oleh Pindad, ada banyak dari militer, kepolisian hingga jaringan khusus berburu yaitu Cabelas’s meminati produk Pindad. Negara ASEAN, Afrika hingga USA jadi pelanggan setia produk buatan Pindad tersebut.

Segala pemenuhan kebutuhan industri pertahanan nasional kini sedang dirintis secara serius dan profesional. Dukungan penuh pemerintah seakan membuat industri pertahanan RI terus maju, bukan hanya bisa memperkuat armada pendukung TNI tapi juga menarik minat sejumlah negara menggunakannya.
Tinggal saja transfer teknologi dan pengetahuan dalam pengembangan industri pertahanan berbasis masa depan. Saat ini sudah banyak yang dikembangkan dan sebagian besar sudah dalam bentuk purwarupa. Tinggal proses produksi massal dan jadi jajaran alutsista kebanggaan RI.

Semoga postingan ini memberikan edukasi dan pencerahan mengenai alutsista buatan anak negeri. Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer