Wednesday, February 5, 2020

Pendidikan Online, Shorcut Menciptakan Manusia Andal

Saya pikir ini adalah sebuah keharusan sosial, kita harus menerima apa yang disebut industri sebelumnya berganti menjadi revolusi informasi. Ini jelas tergambar dan bahkan sedang terjadi di era industri, bentuknya menyerupai piramida. Di dasar piramida, tenaga manusia sangat dibutuhkan, lalu di bagian tengah piramida bagian manusia memproses informasi, dan di puncak piramida adalah kelas birokrasi yang duduk nyaman di atasnya.  

Tahukah bahwa di kelas bawah piramida, para tenaga manusia seakan mulai tergerus dan diambil alih, bahkan hingga tingkat menengah piramida dengan pemrosesan data yang lebih cepat. Semuanya akan digantikan oleh robot dan para ahli komputer andal. Mereka yang tidak beradaptasi akan terdisrupsi oleh itu semua.
Petikan pembicaraan itu saya ambil dari Salman Khan, saat berbicara di sebuah Forum TED yang disiarkan di channel YouTube. Salman yang menjadi seorang pendidik dan bahkan mendirikan Khan Academy mulai khawatir dengan disrupsi pekerjaan manusia di masa depan. Ada banyak pekerjaan yang tergantikan dengan cepat dan banyak manusia yang tidak menyadari hal tersebut.

Ia pun mewanti-wanti hal tersebut segera terjadi, siap ataukah tidak kamu. Upaya yang dilakukan ialah dengan mengembangkan pendidikan online gratis yang begitu marak untuk saat ini. Khan pun mendirikan media belajar online yang menghasilkan ribuan video belajar dengan berbagai spektrum mata pelajaran yang fokus pada matematika dan sains. Era saat ini, kedua kemampuan tersebut sangat berguna di dunia teknologi.

Kecerdasan buatan (AI) berkembang dengan pesat dan menjadi ancaman yang nyata, kemampuan yang sifatnya unik akan menjadi sebuah pembeda sekaligus pekerjaan di masa depan. Peran pendidikan dalam mengarahkan itu semua seakan dibutuhkan. Sekaligus mempersiapkan peserta didik yang siap dengan perubahan zaman. AI yang banyak mengambil pekerjaannya, bukanlah halangan. Malah bisa bekerja sama  dalam satu tujuan.

Di tahun 2018, salah satu lembaga pendidikan yang mengukur skor pendidikan sebuah negara yaitu PISA (Programme for International Student Assessment) di bawah OECD. Mereka melakukan proses perhitungan skor dari tiga item pada anak di bawah 15 tahun di sebuah negara yaitu kemampuan membaca, Matematika, dan Sains. Alhasil Indonesia hanya berada di peringkat 70 dari 78 negara yang disurvei oleh PISA.
Sesuatu yang tergolong buruk dan mengecewakan, ada sesuatu yang salah dari pendidikan Indonesia. Siswa lebih banyak diajarkan menghafal sebuah pelajaran dibandingkan dengan memahaminya. Alhasil di bidang industri, kemampuan yang dibutuhkan industri tidak match dan bahkan ketinggalan zaman.

Pengetahuan yang kita pelajari di dunia sekolah kebanyakan tidak terlalu terpakai di dunia kerja dan industri. Di sisi lain, perkembangan industri berubah dengan sangat cepat dan berakibat banyak lulusan tidak terserap lapangan pekerjaan. Industri kesulitan mencari calon pekerja yang ia inginkan, bahkan harus ada pelatihan lanjutan agar pekerja bisa beradaptasi dengan dunia kerja.

Sebagai contoh, mungkin dahulu pekerjaan seperti programmer sangat langka, di era Revolusi Industri 4.0 Seakan pekerjaan tersebut sangat dibutuhkan, kebutuhannya baru ada di masa depan. Sedangkan di sekolah pelajaran seperti ini tidak ada, alhasil para lulusan harus belajar sendiri untuk menyesuaikan dengan kebutuhan industri.

Tak hanya dunia kerja saja, di dunia pendidikan tidak diajarkan berbagai kreativitas dan pengembangan ide di masa depan. Ada banyak yang dahulunya tidak ada namun kini ada, misalnya saja konten kreator. Ini mengharuskan banyak kreator terlambat mengembangkan bakatnya, sesuatu yang tidak begitu istimewa.

Lalu, untuk apa jaminan survei yang dilakukan PISA terhadap masa depan anak atas pendidikan yang ia dapatkan. Ketiga elemen yang diukur yaitu kemampuan membaca, matematika, dan sains. Skor PISA cukup berpengaruh terhadap para peserta didik, apakah nantinya masuk ke dunia kerja atau industri, bahkan berkontribusi lebih pada masyarakat. Ia pun dengan mudah beradaptasi dengan dunia digital yang begitu dinamis saat ini.

Era Modern dan Kelahiran Edukasi 4.0
Bukan hanya industri saja yang sudah mencapai generasi ke-4, tetapi pendidikan sudah mencapai tahap tersebut. Indonesia sedang mempersiapkan Edukasi 4.0 sebagai shortcut menciptakan peserta didik andal di era saat ini. Mungkin pendidikan formal butuh waktu lama dan bertahap dalam mengasah kemampuan dan bakat yang dimiliki. Shortcut dianggap bisa menyetarakan bangsa dengan negara maju lainnya di bidang pendidikan.

Apa yang ada pada konsep Edukasi 4.0 sangat cocok dengan luas regional Indonesia dalam pengembangan pembelajaran berbasis daring. Apalagi kemampuan dari peserta didik yang sangat bervariatif, melalui konsep belajar e-Learning, hanya dari sebuah konten yang dihasilkan oleh pengajar saja dapat dimanfaatkan oleh berbagai sekolah hingga perguruan tinggi.
Konsep Edukasi 4.0 yang mengedepankan fleksibilitas dan kreativitas. Proses pembelajaran pun tak jarang bidang dilakukan secara jarak jauh (Tele Learning).  Ada sejumlah hal yang dikedepankan yaitu: Fleksibel waktu dan tempat, personalized learning, free choice, berbasis proyek, pengalaman lapangan, dan interpretasi data. Berikut penerapan yang ada pada Edukasi 4.0, yakni:

Fleksibel waktu dan tempat, proses belajar bukan hanya di ruang kelas saja seperti pendidikan sebelumnya. Jumlah durasi di kelas jadi berkurang dan akan ada banyak waktu belajar di waktu serta ruang berbeda. Sistem belajar dibalik, materi teoritis lebih banyak dilakukan di luar kelas sedangkan praktis dilakukan di dalam kelas.

Personalized Learning, proses belajar ini ialah dengan menyesuaikan si pelajar dalam memahami materi. Konsepnya adalah peserta didik akan dipacu dalam memecahkan jawaban sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Sederhananya Ibarat bermain game, yang lebih banyak mampu memecahkan tantangan akan cepat naik level jadi bukan lagi cara pukul rata kemampuan peserta didik.

Selain itu guru bisa mengukur kemampuan yang dimiliki peserta didik dan kelemahan apa yang perlu diperbaiki atau bakat mana yang terus diasah serta dikembangkan. Ini sangat cocok tanpa mematikan kreativitas dan keunikan anak tersebut bahkan terus mengasahnya.

Menerapkan Free Choice, pada sistem Edukasi 4.0 peserta didik bisa menggunakan perangkat yang ia kehendaki., bahkan program atau teknik dalam belajar sesuai dengan keinginannya Di sini peserta didik akan mempraktikkan cara belajar yang paling ia rasa nyaman sehingga kemampuannya terus terasah.

Belajar Berbasis Proyek, siswa diajak menerapkan keterampilan yang ia sudah pelajari dalam berbagai situasi. Seperti belajar bagaimana cara instalasi komputer, memecahkan kode struktur, dan coding. Jadi pengalamannya akan terasa untuk nantinya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya.

Melatih Pengalaman Lapangan, link and match di dunia pekerjaan sangat penting di era saat ini. Saat ini banyak sekali materi yang diajarkan di bangku sekolah dan perkuliahan yang tidak sesuai dengan dunia kerja. Bahkan kurikulum saat ini sudah ketinggalan zaman dan tidak sinkron dengan zaman.

Nah.. pada Edukasi 4.0 akan banyak pengalaman lapangan saat masih di sekolah dipraktikkan di dunia kerja. Ini yang sangat dibutuhkan, karena teori dan hafalan saja tidak mendukung
Interpretasi Data, Setiap siswa akan lebih banyak tahu mengenai komputer dan analisa data. Mengingat di era Revolusi Industri 4.0 sangat banyak bersinggungan dengan data. Peran Big Data sangat sentral dalam memecahkan masalah yang ada. Data tersebut bisa digunakan sesuai kebutuhan dan menganalisis sejumlah masalah jadi solusi akhir.

Bagaimanakah Penerapan Konsep Edukasi 4.0?
Pada Edukasi 4.0, siswa bukan lagi siswa yang dahulu. Pengetahuan mereka bila melampaui gurunya, akses informasi tanpa batas jadi alasan. Dibandingkan menyuruh membaca buku materi yang terlihat sangat membosankan, ia bisa mengakses segala pengetahuan dengan gadgetnya.

Tak ada lagi konsep guru berceramah panjang lebar atau mencatat apa yang ada di papan tulis. Peran di era saat ini lebih pada proses mentoring berkelanjutan. Misalnya saat pengaplikasian dengan perangkat IT yang ada di sekolah. Kemudian lagi kemampuan memecahkan masalah jadi lebih berbeda, karena teamwork jadi sesuatu yang menonjol dalam Edukasi 4.0. Terakhir proses penilaiannya bukan lagi menitikberatkan pada nilai tapi proses berjuang di dalamnya.
Model kelasnya berbasis Digital Classroom juga menggunakan konsep IoT, platform ini akan melakukan proses kegiatan akademik jarak-jauh. Memungkinkan para siswa belajar melalui Video, PPT, bahkan tes online. Konsep ini lahir saat jadwal dosen sangat padat dan memungkinkan ia tidak bisa masuk ke dalam kelas. Platform atau website tersebut bisa diakses dengan mudah.

Nantinya dalam proses ujian pun akan ada tes online, ujian dipantau webcam dan sensor. Saat melakukan kecurangan seperti menyontek atau membawa bocoran jawaban, otomatis akan terdeteksi dari aplikasi tersebut. Karena tidak menitikberatkan pada nilai, otomatis tekanan dalam ujian tidak seberat sistem sebelumnya. Sehingga siswa bisa mengedepankan rasa jujur dalam membangun pendidikan bukan sebatas nilai.

Di level bangku perkuliahan akan ada teknologi IoT (Internet of Things), salah satunya ID tertentu sehingga bisa mengetahui siswa yang masuk dan tidak masuk. Proses scanning inilah yang guru atau dosen lakukan terhadap siswa atau mahasiswanya. ID tersebut berupa jam tangan pintar berbasis IoT, akan ketahuan siapa saja yang membolos atau bahkan terlambat masuk ke dalam kelas.
Makin lengkap lagi dengan penerapan Blockchain, dulunya konsep ini hanya diterapkan pada sistem mata uang kripto berbasis peer to peer. Sifatnya yang global, Blockchain sangat cocok juga dikembangkan pada berbagai bidang salah satu pendidikan.

Penerapannya adalah dalam penggunaan e-certificate berbasis Blockchain, kecurangan di dunia Pendidikan jadi alasan besar Blockchain menanggulanginya. Ijazah palsu, pemalsuan nama, hingga nilai jadi sisi mirip dunia pendidikan. Adanya Blockchain yang bersifat desentralisasi seakan menyulitkan orang memalsukan ijazah. Apalagi di era teknologi, kepercayaan dan transparansi sesuatu yang wajib dan Blockchain menawarkannya.

Salah satu tempat lokasi belajar yang sudah menerapkan konsep ini adalah kampus nomor wahid di dunia, Massachusetts Institute of Technology, USA. Sekaligus penerapan  Edukasi 4.0, konsep ini bisa membangun karakter setiap anak didik. Khususnya menjadi pribadi yang jujur sejak dini, teknologi jadi salah satu cara yang dipilih bijak.

Nah… dengan begitu kita tak perlu takut atau anak kita tak perlu takut menghadapi perubahan di masa depan. Secara pendidikan ia siap bersaing, perubahan banyak pekerjaan dan tugas robot dalam mengganti manusia tak terpengaruh sedikit pun.

Pembelajaran Online dalam Menciptakan Anak Muda Siap Kerja
Industri saat ini begitu kewalahan dalam mencari pekerjaan di dunia digital, ledakan startup dan bisnis digital membutuhkan para pekerja yang mampu menyelesaikan masalah tersebut. Salah satunya para developer, ada banyak aksi saling bajak antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam mengambil pekerja terbaik.

Saling sikut ini dinilai tidak enak, tapi itu terjadi karena besarnya permintaan yang dibutuhkan perusahaan terhadap. Rendahnya para engineer  dan developer yang dihasilkan Indonesia seperti yang diperkirakan oleh PISA karena kemampuan Science, Technology, Engineering, and Math (STEM) sangat rendah dan tidak bersaing. Sehingga sangat sulit para engineering dan developer yang dibutuhkan untuk industri.
Padahal dalam beberapa tahun terakhir, startup rasa lokal dan perusahaan teknologi dunia silih berganti berinvestasi ke Indonesia di bidang digital dan teknologi. Kucuran dana segar mengalir tanpa hentinya khususnya dalam memperbaiki produk mereka agar sesuai dengan selera pasar.

Perubahan ini nyatanya membutuhkan begitu banyak tenaga engineering dan developer siap kerja. Sialnya Indonesia sangat terbatas dengan itu semua. Alhasil banyak perusahaan yang rela membayar mahal atau bahkan membajak karyawan terbaik di sebuah perusahaan. Mereka yang ahli pun seakan kebanjiran pekerjaan yang dulunya tidak terpikirkan oleh anak muda.

HACKTIV8 Pencipta Lowongan Kerja Era Digital
Salah satu lembaga kerja yaitu McKinsey merilis data mengenai perkembangan talenta digital lokal. Dalam survei yang dilakukan tersebut, 15 dari 20 petinggi perusahaan teknologi yang berinvestasi di Indonesia seakan kesulitan mencari talenta lokal yang cocok dengan perusahaan mereka. Bukan hanya itu saja, mempertahankan lebih sulit lagi. Menurut survei, 10 dari 20 petinggi perusahaan teknologi merasakan masalah tersebut.

Kegundahan itu seakan dibaca oleh kedua founder HACKTIV8 yaitu Roland Ishak dan Riza Fahmi, hingga lahirlah HACKTIV8 di tahun 2016. Dunia digital khususnya startup hadir begitu banyak di Indonesia. Hanya saja para engineering dan developer sangat terbatas yang berasal dari tenaga lokal. Alhasil banyak perusahaan yang mencari cara pintas membajak engineering atau developer andal dengan cara tak sehat.
Apalagi di tahun 2020 ini, Indonesia diprediksi sebagai pusat ekonomi digital dengan berbagai startup dan marketplace bernilai jutaan dolar. Para investor dari perusahaan luar negeri melirik Indonesia karena jumlah pasar yang cukup besar. HACKTIV8 melakukan gebrakan besar tersebut dengan bootcamp dalam pengembangan peserta didik.

Bagi Roland dan Riza melihat ini sebuah peluang yang sangat baik, khususnya dalam pembelajaran dan pengembangan program bagi peserta didik. Meskipun mereka bukan berlatar belakang IT, tapi dengan tekad dan kemauan, HACKTIV8 mampu mengubah mereka jadi engineering dan developer andal yang dibutuhkan perusahaan dan industri.

Visi dan misi dari HACKTIV8 adalah menawarkan sesuatu yang dibutuhkan untuk saat ini. Proses pelatihan yang dilakukan adalah dengan pembelajaran intensif.  Ada sejumlah program yang sangat dibutuhkan untuk saat ini dan menjadi masalah yang dihadapi oleh startup serta perusahaan teknologi. Mulai dari program JavaScript, Node.js, Vue.js, dan bahasa pemrograman andalan Facebook yaitu React. Semuanya dilakukan dengan berbagai latihan rutin yang mengasah kemampuan peserta didik.
Waktu yang diberikan pun tidak main-main, yaitu mencapai 10-12 jam dengan proses belajar intensif dilakukan selama 5 sampai 6 hari selama seminggu. Waktu yang dibutuhkan para peserta didik pun dinilai singkat tapi punya proses yang efektif di dunia kerja, HACKTIV8 memberikan proses pelatihan dari 12 sampai 18 minggu dengan total 900 jam belajar untuk melatih peserta menjadi mahir.

Para peserta yang tadinya tidak punya kemampuan atau bahkan tidak punya dasar mengenai pemrograman, kini mereka cukup andal dan jadi rebutan oleh startup dan perusahaan teknologi di tanah air. HACKTIV8 seakan menjawab keraguan tersebut dengan standar kelulusan internasional yaitu Counsel on Integrity in Results Reporting (CIRR). Ini dilakukan bahwa peserta didikan yang dihasilkan mampu bersaing bahkan secara global.
Selain itu Hacktiv8 punya tugas mulia dalam visi dan misi mereka yaitu meningkatkan taraf hidup dan karier banyak orang khususnya di bidang teknologi melalui program intensif. Mungkin dahulunya gaji puluhan juta atau pekerjaan programming hanya bisa dilihat dari film Holywood. Kini anak-anak muda sudah merintis karier dan mimpinya menjadi sebuah kenyataan.

Merasakan Iklim belajar yang ada di HACKTIV8
Belajar di era digital pasti bukan hanya mengharuskan para peserta didik bisa tapi membuat ia nyaman dalam menjalani jam demi jam selama proses pembelajaran. Inilah yang dibangun oleh HACKTIV8, karena suasana belajar akan membuat semua anak didik tidak jenuh atau bosan dalam belajar. Konsepnya menyerupai dengan Coworking Space, artinya seperti rumah sendiri dan menyediakan segala fasilitas yang dibutuhkan oleh peserta didik.
Ada sejumlah alasan yang menjadikan HACKTIV8 sebuah pilihan utama dibandingkan bootcamp lainnya yang ada di Indonesia. Tak hanya itu saja, ada juga kemampuan lainnya yang diajarkan seperti front-end dan back-end JavaScript. Karena tak kalah dibutuhkan di dunia kerja, Saya pun coba mengulas kelebihan yang didapatkan dari proses belajar intensif bootcamp ala HACKTIV8. Berikut ulasan infografisnya:

Pengalaman berharga yang didapatkan oleh HACKTIV8
Kerja Keras dari HACKTIV8 selama hampir 4 tahun oleh tim seakan membuahkan hasil. Di akhir tahun 2019 lalu, HACKTIV8 mendapatkan pendanaan  Pra-Seri A senilai US$ 3 juta dari investor East Ventures. Selama ini perusahaan modal ventura East Ventures terkenal dengan begitu banyak berinvestasi pada startup yang ada di Asia Tenggara. Tak hanya itu saja, ada sejumlah perusahaan lainnya yang menyusul mendanai HACKTIV8 yaitu Sovereign’s Capital, SMDV, Skystar Capital, Convergence Ventures, RMKB Ventures, dan Everhaus.

Dana segar yang didapatkan tersebut dimanfaatkan dalam lebih banyak lagi membuat kelas coding bootcamp. Apalagi saat ini HACKTIV8 bermitra dengan sejumlah perusahaan hiring partner dalam merekrut setiap lulusan mereka. Model konsep hiring partner dengan sejumlah perusahaan juga punya kelebihan dalam merancang kurikulum yang dibutuhkan calon pekerja. Sehingga up to date dan bisa segera diserap.

Terakhir adalah dengan adanya sebuah program bernama Income Share Agreement (ISA). Suatu program yang cukup diminati oleh peserta didik namun terhalang biaya. Mekanismenya melalui perjanjian bagi hasil dari penghasilan yang didapatkan setelah lulus dan bekerja. Besaran pun disesuaikan dengan pendapatan alumnus bekerja.
Tapi tenang dan tak perlu khawatir, karena ada banyak mitra yang bekerja sama dengan HACKTIV8. Menurut survei yang HACKTIV8 lakukan didapatkan bahwa rata-rata alumni bootcamp memperoleh gaji cukup besar dan layak. Bahkan para alumni tidak perlu berlama-lama menganggur, karena perusahaan dan pekerjaan yang ia inginkan segera didapatkan.

Segala kemudahan inilah yang membuat HACKTIV8 unggulan dibandingkan tempat belajar online lainnya. proses belajar hingga peserta paham, ruangan nyaman serasa rumah sendiri, jaminan kerja jelas, banyak mitra partner, dan tentunya ada cicilan pembayaran yang bisa dibayarkan setelah lulus. HACKTIV8 menjawab itu semua buat pekerjaan idaman era kini.
Semoga postingan ini menginspirasi dan Have a Nice Days.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer