Tuesday, July 7, 2020

Masa Depan Game Berada di Cloud Gaming

Kehadiran konsol Playstation 5 akhir tahun ini seakan membuat para gamer begitu euforia. Belum lagi para pesaingnya Xbox dan Nintendo juga mengeluarkan produk andalannya. Membuat gamer bisa memilih konsol pilihannya.

Dunia PC gaming serupa, saat anjuran Work from Home diberlakukan. Ada begitu banyak konsumen laptop bersaing menciptakan produk andalannya. Serbuan ini bisa dikatakan mengapa dunia konsol dan PC gaming masih sangat digdaya.

Para gamer merasa membeli perangkat terbaru atau melakukan upgrade sudah jadi tradisi wajib. Hingga akhirnya produsen memperkenalkan cara baru bermain game secara cloud bermodal perangkat seadanya. 
Istilah ini dikenal dengan cloud gaming, terdengar masih begitu asing. Mungkin saat ini hanya ada tiga skema bermain game: Konsol, PC gaming, dan tentu saja mobile gaming.


Cloud gaming seakan menggabungkan semua perangkat tadi. Bermodal internet dan tentu saja cloud sebagai penyimpanannya. Alhasil tidak perlu upgrade atau beli perangkat baru lagi, para gamer pasti kegirangan.

Ini semakin nyata terwujud meskipun dianggap permasalahan terbesar datang dari kualitas internet di belahan dunia belum stabil. Cloud gaming punya potensi besar di masa depan dan jadi cara bermain praktis.

Sejarah Panjang Cloud Gaming
Awal milenium sudah ditandai dengan hadirnya game cloud, saat konsol sedang begitu berjaya. G-Cluster sudah mendemonstrasikan konsep cloud gaming kala itu di salah satu ajang Electronic Entertainment Expo tahun 2000.

Hanya saja minat tersebut kurang menarik gamer, karena visi tersebut terlalu jauh. Konsol dan PC gaming dianggap sedang merajalela. Berbeda dengan cloud gaming yang mengandalkan internet akses tanpa batas.
Model tersebut nyata menarik minat dari pengembang game Cyrek dan mulai mencoba cara tersebut lima tahun berselang. Tapi setelah percobaan selama dua tahun, hasilnya nihil. Alasan utama butuh perangkat yang sesuai pendukung cloud gaming.

Tapi yang cukup berhasil hanyalah OnLive, pada tahun 2010 berhasil diperkenalkan pada publik. Mereka menawarkan game berserta microconsole pendukung bermain. Hanya saja selama beberapa tahun penjualannya kurang memuaskan.

Sony melihat ini peluang besar dan membeli sejumlah paten OnLive. Pergerakan ini bisa dikatakan awal Sony menyiapkan generasi game di masa depan, saat konsol andalan mereka mulai meredup.

Sony tak sendirian karena ada banyak pesaingnya yang menyiapkan rencana serupa. Ada GeForce Now bersama NVIDIA sudah menyiapkan cloud gaming streaming di tahun 2015.

Ada juga NVIDIA GRID yang punya target pengguna khusus dalam cloud gaming milik mereka. Khususnya urusan proses grafik dan video encoding dalam satu perangkat yang berbasis video gaming streaming. 
Lalu mengekor juga Google dengan Project Stream dan Microsoft melalui Project X-Cloud di tahun 2018. Artinya tinggal menunggu infrastruktur yang tepat sampai akhirnya cloud gaming berjalan dengan optimal.

Saat ini ada banyak cloud gaming yang menawarkan game terbaik, meskipun belum begitu populer. Ada Playstation Now, Google Stadia, Shadow, GeForce Now, Project X-Cloud hingga Vortex.

Yuk Kenalan Cloud Gaming Lebih Jauh
Buat yang masih bingung dan penasaran, cloud gaming atau game streaming punya istilah yang sama. Keduanya berjalan secara mandiri dengan mengandalkan cloud dan server pusat.

Pengguna tidak perlu lagi mengunduh game yang diinginkan pada perangkat miliknya, cukup masuk atau terhubung ke server pusat dengan internet untuk bisa bermain.
Tak perlu menginstal lagi software atau kaset game agar bisa bermain. Sesuatu yang memenuhi memori dan menambah biaya pengeluaran dari setiap kali membeli kaset.

Analogi sederhananya seperti menonton, bila dulunya kita harus beli DVD untuk bisa menonton di TV. Kini cukup dengan streaming sudah bisa menonton video yang diinginkan kapan pun, bermodal internet.

Cara inilah yang coba diadopsikan dalam bermain game. Pada game streaming yang dimainkan saat ini masih mengharuskan install atau beli kaset agar bisa bermain. Meskipun setelahnya kita bermain secara online.

Imbasnya yang bekerja berat adalah server penyedia dan tentu saja internet. Perangkat hanya menerima saja, ia tidak butuh lagi kemampuan grafis atau performa CPU GPU tangguh.

Semuanya kan cukup dijalankan secara internet, paling yang sangat dibutuhkan adalah internet ngebut. Selain itu perangkat agar gambar baik dan proses latency kecil adalah pendukung komputasi dan layar.
Sifatnya yang fleksibel membuat perangkat apa pun bisa untuk bermain game terbaru. Bahkan lebih adaptif tanpa harus memikirkan FPS. Bermodal gamepad buat konsol, atau keyboard serta mouse untuk PC kalian.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana cloud gaming bekerja?
Konsepnya gaming on demand, alhasil pengguna tidak perlu lagi berharap banyak pada DVD atau Blue-ray buat bermain game.

Bahkan penyimpanan seperti hardisk atau SSD tidak terlalu dibutuhkan lagi. Semuanya sudah tersimpan di dalam cloud, kita hanya butuh device untuk bermain game yang diinginkan.

Saat gamer masuk ke dalam server, perusahaan layanan akan menyesuaikan menjalankan game sesuai dengan akunnya. Prosesnya sama seperti kita punya akun Youtube, Spotify, atau bahkan Netflix tapi dalam wujud game.

Kemudian gamer hanya butuh perangkat apa yang ingin ia gunakan dalam bermain. Bisa itu ponsel, TV, laptop atau gaming desktop. Semuanya mendukung, tergantung resolusi layar perangkat yang dimiliki.
Alhasil ini membuat gaming jadi lebih murah dan pengalaman yang hampir sama. Tak perlu mengeluarkan banyak uang, tapi bisa merasakan pengalaman terbaik. Paling yang berbeda adalah biaya yang dikeluarkan, karena ini bisa jadi cara pengembang mendapatkan uang.

Para gamer paling nantinya harus punya akun cloud gaming dan berlangganan sejumlah game. Salah satunya di Steam dan Epic Games Store, dan berbagai penyedia lainnya.

Para gamer hanya cukup diberikan software installer yang terpasang di perangkat miliknya. Ibarat aplikasi atau mungkin serupa browser. Tak memakan tempat di perangkat karena semua terhubung ke internet.

Sisi Unggul dan Cela dari Cloud Gaming
Ada banyak sisi menarik andai saja cloud gaming berhasil diwujudkan dan gamer beralih ke arah sana. Tak ada lagi istilah harus upgrade PC atau konsol pada generasi terbaru.

Segala pengolahan berada di cloud, bukan lagi pada perangkat keras, Tak perlu lagi mendewakan CPU, GPU atau memori utama, hanya bermodal streaming box tahu controller yang bisa menjangkau semua gamer.
Selain itu bisa multi device, artinya tidak terpaku pada satu perangkat saja. Bila saja bermain game di konsol saat di rumah. Kemudian saat di luar rumah bisa bermain melalui laptop atau bahkan ponsel.

Proses switch-nya sangat gampang, harus bermodal akun cloud gaming, jadi lebih instan dan mudah dimainkan di mana saja. Ada Wi-Fi gratisan, tinggal main, yang penting jangan nge-lag.

Selain itu yang menarik ada proses game yang tak perlu upgrade, saat masuk jaringan server. Pengguna langsung bisa merasakan update gaming. Tidak perlu menunggu rilis, ini bagian yang cukup dirisaukan gamer, cloud gaming memberikan cara berbeda.

Cloud gaming punya cela, memang dianggap merevolusi cara gamer bermain game. Hanya saja bukan solusi yang baik untuk saat ini. Proses yang paling menyedot adalah koneksi internet super kencang agar game berjalan lancar.

Masalahnya adalah proses streaming game butuh minimal 20 Mbps untuk resolusi Full HD dengan frame rate 60 fps. Itu batas minimal, sesuatu yang dilakukan saat ini. Justru notabennya mabar bareng teman yang menyedot banyak bandwidth.

Alhasil harus main di rumah dan itu seakan menghilangkan bersamaan, mengingat gamer doyan mabar. Itu baru full HD, bisa grafis 4k butuh 35 Mbps dan menghabiskan kouta hingga 25GB dalam sejam. Berat buat tagihan internet pastinya.

Memang kelebihan cloud gaming adalah menyesuaikan kualitas internet. Sama halnya saat kita buka Youtube dengan pengaturan auto. Kualitas internet akan menyesuaikan dengan kekuatan internet di lokasimu.

Ini pengaruh besar pada latency yang buruk dan jauh dari router sebagai penghantar koneksi internet. Belum lagi faktor cuaca, geografis, dan gangguan penyedia yang sering terjadi. Siap-siap saja harus gigit jari.

Saat bermain game jelas ini sangat mengganggu, ada pada peristiwa tertentu yang mengharuskan kualitas bagus. Misalnya saat proses menembak dan membidik lawan, saat resolusi menjadi buram berakibat target lolos.

Faktor terakhir adalah respons yang lambat, ini hal wajar karena proses latency yang lama dari server utama ke controller. Itu sama seperti kita menonton streaming, ada pada bagian tertentu kita kehilangan moment akibat lantency.
Beda halnya dengan bermain langsung di perangkat konsol, PC, dan ponsel. Pengguna tidak merasakan tersebut. Semuanya terasa smooth dan terjadi secara real-time.

Sisi baiknya adalah biaya yang dikeluarkan lebih hemat dibandingkan membeli konsol atau membangun PC gaming yang kini harganya puluhan juta.

Nasib buruk pastinya akan berpengaruh pada chipset dan perangkat gaming bertenaga. Para produsen jelas tidak mau rugi, setelah melakukan banyak riset buat mengeluarkan produk mereka.

Bisa saja mereka kehilangan banyak konsumen saat cloud gaming datang. Caranya adalah tidak mengembangkan dulu, melihat saat kondisi sudah layak. Buktinya banyak produsen teknologi yang sudah mempersiapkan cloud gaming andalannya.

So... tinggal memilih mana yang terbaik menurutmu, karena belum jadi tren baru. Cloud gaming punya peluang menarik di masa depan. Tak masalah coba-coba dulu sekarang.

Internet 5G Menjawab Cloud Gaming
Kebutuhan internet makin hari makin besar, manusia malah makin rakus akan bandwidth. Itu wajar mengingat hampir semua sendi kehidupan sudah terkoneksi dengan internet.

Dampak yang ditimbulkan dari 5G begitu luas dan akan merevolusi beragam perangkat mobile. Bukan hanya menghubungkan 6 hingga 7 miliar orang saja. Namun menghubungkan dengan puluhan miliar benda di sekitar manusia.

Bila dulunya orang awam skeptis dan menganggap bahwa: Untuk apa internet cepat, paling hanya digunakan untuk browsing dan streaming semata. Sekarang seakan terjawab semua termasuk akan kebutuhan gaming.
Lalu konsep internet bukan hanya sebatas browsing dan menonton film via streaming semata. Ada banyak akses yang diharapkan dari lahirnya teknologi 5G.

Di dalam teknologi 5G seakan mampu menyambung dunia tanpa batas. Mulai dari akses informasi, komunikasi, dan hiburan dari dimensi baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Sebut saja proses komputasi berbasis cloud, mapping, smart home berbasis IoT, hingga Autonom Car yang mengetahui data trafik hingga keadaan sekitarnya dan penerapan Virtual Reality.

Paling menarik tentu saja cloud gaming, tanpa 5G rasanya masih sulit dan jauh membayangkan kita bermain game mengandalkan server. Kecepatan hingga 10Gbps seakan buat segala game bisa berjalan optimal.
Sejumlah negara sudah membangun infrastruktur tersebut, hanya saja di Indonesia masih jauh panggang dari api. Luasnya jangkauan dan belum stabil jaringan membuat hal itu tidak terjadi dalam waktu dekat.

Kabar baiknya adalah sudah siapnya jaringan Palapa Ring yang menjangkau nusantara sepanjang 12.148 km Terbagi dalam tiga regional yaitu barat, tengah, dan timur yang terbentang di daratan dan dasar laut.

Bila itu sudah ada, harapan 5G masuk ke tanah air segara terealisasi. Otomatis ini berpengaruh pada kualitas internet yang baik. Tak heran berbagai penyedia cloud gaming akan kebanjiran pengguna dari tanah air.

Benarkan Cloud Gaming adalah Masa Depan Game?
Bila dipikirkan dalam waktu dekat sepertinya tidak, tapi buat jangka panjang bisa saya katakan ia. Untung membuat gamer hijrah butuh waktu panjang, mulai dari penyedia layanan, perangkat, dukungan internet hingga tentu saja tren.

Saat ini yang paling mendukung baru layanan saja, sedang yang lainnya masih belum cukup siap melakukan switch. Memang terdengar menjanjikan, tapi masih banyak yang skeptis terhadap cloud gaming.
Bahkan produsen seakan menghambat perkembangan ini, ini berdampak pada tidak lakunya produk mereka. Alhasil pengembangannya terus dilakukan, misalnya strategi membatasi regional wilayah (negara).

Contoh sederhananya adalah pembatasan cloud gaming di sejumlah negara dengan alasan koneksi internet tak stabil. PlaystationNow hanya menjangkau 19 negara, kemudian GeForce Now hanya bisa diakses di Amerika, Kanada, dan sejumlah negara Eropa.
Lalu Sony yang membeli hak cipta OnLive saja masih menutup rapat teknologi tersebut, untuk disempurnakan dan diluncurkan saat sudah cukup layak.

Sony punya nama besar di bisnis game, memudahkan membangun layanan cloud khusus buat para gamer konsol. Adopsi teknologi yang lengkap dari OnLive jadi alasan dan tentu saja sudah banyak platform gaming on demand yang mau bekerja sama dengan Sony. 
Kemudian yang paling ambisius menurut saya adalah Google dan Microsoft, selaku pemegang kuasa di mobile dan PC saat ini. Keduanya menggarap masing-masing proyek dengan sangat.

Google dengan Google Stadia-nya bisa dimainkan di browser milik mereka, Google Chrome. Sedangkan Microsoft dengan andalannya Project X-Cloud.

Terakhir tentu saja pembuat GPU ternama, NVIDIA punya proyek yang diberi nama dengan Project Shield. Membuat ia bisa memainkan game berbasis android pada berbagai perangkat secara fleksibel.

Secercah harapan yang dianggap menjanjikan tentu saja teknologi cloud sudah dimanfaatkan oleh sejumlah platform distribusi seperti Steam, Uplay, dan EA Origin sebagai cloud save.
Hanya saja harganya tergolong mahal, beda dengan layanan cloud seperti musik dan video yang sering kita konsumsi. Memang punya kepraktisan yang tidak dimiliki oleh perangkat gaming saat ini.

Sebagai contoh adalah Google Stadia yang menawarkan bermain game seperti membuka Youtube. Memudahkan memang, tapi gamer hardcore seperti kurang menilik hal tersebut.

Peran utamanya yang menurut saya terasa berharga adalah memastikan gamer menyimpan game dengan aman. Kejadian tidak diinginkan seperti perangkat rusak atau hilang dicuri bisa diantisipasi secara cloud.

Ini tidak menghilangkan jalan level game yang susah payah dimainkan, apalagi game sudah dianggap aset berharga bagi para gamer. Siapa sih yang mau ulang dari pertama lagi dan cloud gaming jadi jawabannya.

Melihat sepak terjangnya kini, cloud gaming punya kesempatan besar di masa depan. Untuk saat ini saya rasa butuh banyak pengembangan dan mempersiapkan infrastruktur yang menjangkau semua gamer dunia.

Memang saat ini ada banyak yang skeptis, saat segalanya sudah optimal. Semua gamer bisa menerimanya. Sama saat konsol, PC dan mobile gaming pertama kali hadir. Awalnya skeptis tapi kini semuanya ketagihan.

Semoga tulisan ini memberikan inspirasi dan pengetahuan. Akhir kata Have a Nice Days.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer