Friday, October 16, 2026

Mengapa Kita Harus Naik Gunung Sekali Seumur Hidup?

 

Tahun ini saya punya resolusi besar yang selama ini sering tertunda yakni naik gunung dan menaklukan hidden gam yang selama hanya sebatas melihatnya di sosial media

Ada masa ketika akhir pekan terasa seperti waktu untuk membayar utang tidur. Setelah lima atau enam hari berkutat dengan pekerjaan, rasanya pilihan paling masuk akal adalah bangun agak siang, duduk santai, lalu menikmati hari tanpa perlu ke mana-mana. Apalagi ketika pekerjaan mulai menyita banyak waktu, menghabiskan hari libur di rumah terasa seperti kemewahan yang sulit ditolak.

Saya juga pernah berada di fase itu. Hampir sepuluh tahun bekerja membuat keinginan menjelajah alam yang dulu cukup akrab perlahan tersimpan di belakang kepala. Padahal, semasa kuliah, kegiatan luar ruangan bukan sesuatu yang asing. Hanya saja, seiring bertambahnya kesibukan, rencana untuk kembali menikmati alam selalu punya alasan untuk ditunda.

Sampai akhirnya, dalam setahun terakhir, keinginan itu muncul lagi. Saya mulai rutin mencari tempat-tempat baru di sekitar Banda Aceh. Tidak harus jauh, tidak harus menginap, dan tidak mesti mendaki gunung yang tinggi. Kadang cukup berangkat Sabtu atau Minggu pagi, menemukan tempat yang belum pernah didatangi, lalu pulang sore hari dengan badan lelah dan kepala yang terasa lebih lapang.

Dari situ saya mulai berpikir, mungkin ada pengalaman yang memang perlu kita coba setidaknya sekali dalam hidup. Salah satunya adalah naik gunung.

Bukan berarti semua orang harus berubah menjadi pendaki yang setiap bulan mengejar puncak. Bukan juga berarti liburan ke pantai, menikmati kota, atau berdiam diri di rumah menjadi kurang menarik. Namun, mencoba naik gunung setidaknya sekali bisa memberi pengalaman berbeda: tentang tubuh, kesabaran, pertemanan, alam, dan cara kita melihat diri sendiri.

Saya Pernah Menyerah Setelah 15 Menit

Kalau sekarang ada yang mengira saya sejak awal punya fisik kuat untuk mendaki, jawabannya justru tidak. Pengalaman pertama saya mencoba hiking terjadi pada 2015, ketika seorang senior mengajak saya menuju Lhok Mata Ie, salah satu lokasi di pinggiran Banda Aceh. Untuk mencapai pantai tersembunyi itu, kami harus berjalan kaki sekitar satu jam.

Masalahnya, saya datang dengan persiapan yang nyaris tidak ada. Malam sebelumnya begadang, lalu pagi harinya makan cukup berat sebelum berangkat. Mungkin saya berpikir perjalanan itu tidak akan terlalu sulit. Toh, tinggal berjalan kaki, bukan?

Ternyata perkiraan saya meleset jauh. Baru sekitar 15 menit berjalan, napas mulai tidak beraturan. Badan terasa lemas, kepala rasanya tidak nyaman, sampai akhirnya saya muntah-muntah. Perjalanan yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan malah berubah menjadi momen yang cukup memalukan.

Kalau dipikir sekarang, penyebabnya cukup jelas. Saya tidak menyiapkan tubuh, tidak memahami kebutuhan perjalanan, dan terlalu percaya diri menghadapi jalur yang ternyata menguras tenaga. Setelah kejadian itu, saya bahkan cukup lama tidak diajak naik gunung lagi. Bisa jadi teman-teman sudah kapok melihat kondisi saya waktu itu.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi pengingat bahwa mendaki bukan sekadar soal punya niat atau ikut-ikutan teman. Ada persiapan yang perlu dilakukan. Tubuh punya batas, dan alam tidak selalu bisa diajak berkompromi dengan keinginan kita.

Sepuluh tahun kemudian, ketika keinginan menjelajah alam kembali muncul, saya mencoba memulainya dengan cara berbeda. Saya rutin pergi ke gym dan berlatih kekuatan. Awalnya saya mengira kalau otot kaki sudah kuat dan tubuh terbiasa berolahraga, hiking pasti terasa lebih mudah.

Ternyata saya masih harus belajar lagi. Gym memang membantu membangun kekuatan, tetapi jalur pendakian punya tantangan sendiri. Di tempat latihan, beban dan gerakan bisa dikontrol. Di alam, kita harus menghadapi tanjakan, akar pohon, batu, tanah licin, jalan sempit, dan kondisi yang berubah sepanjang perjalanan.

Dari situ saya belajar bahwa kuat mengangkat beban belum tentu kuat mendaki. Kita juga perlu mengatur ritme, menjaga langkah, dan tidak memaksakan diri hanya karena teman di depan berjalan lebih cepat. Kadang, kemampuan paling penting saat mendaki justru bukan berlari menuju puncak, melainkan tahu kapan harus memperlambat langkah.

Kita Tidak Harus Langsung Menaklukkan Gunung Tinggi

Ada anggapan bahwa naik gunung harus dimulai dengan perjalanan yang berat, jalur panjang, atau puncak yang terkenal. Padahal, menurut saya, langkah pertama tidak harus sejauh itu.

Saya sendiri memulai kembali dari lokasi-lokasi yang relatif dekat. Kami menjelajahi Lhok Mata Ie dan Pantai Lange, menyusuri hamparan ilalang di Lhok Keutapang, melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian Goh Leumo, hingga menikmati lanskap Cot Goh dan Savana Siron. Di Gunung Gle Bae, suasananya berbeda lagi. Hutan lumut yang hijau dan lembap membuat perjalanan terasa seperti memasuki dunia lain.

Tempat-tempat itu mengajarkan bahwa pengalaman menjelajah alam tidak selalu ditentukan oleh seberapa tinggi puncak yang berhasil dicapai. Kadang, berjalan kaki kurang dari satu jam saja sudah cukup untuk membuat kita menemukan sudut baru dari daerah yang selama ini kita anggap biasa.

Kita sering membayangkan harus pergi jauh untuk mendapatkan pengalaman yang berkesan. Padahal, bisa jadi ada tempat menarik tidak terlalu jauh dari rumah, hanya saja kita belum pernah benar-benar meluangkan waktu untuk mendatanginya.

Tentu, setiap lokasi punya tingkat kesulitan berbeda. Ada tempat yang mudah dicapai, ada yang memerlukan perjalanan panjang, dan ada pula jalur yang belum memiliki petunjuk memadai. Karena itu, memilih rute sesuai kemampuan merupakan bagian penting dari pengalaman pertama. Tidak perlu malu memilih jalur yang lebih mudah. Tujuan awalnya bukan membuktikan diri paling kuat, melainkan belajar menikmati perjalanan dengan aman.

Bagi saya, perjalanan-perjalanan kecil seperti ini menjadi semacam ruang latihan. Kami belajar membaca jalur, memperhitungkan waktu, membawa air dan makanan, memeriksa cuaca, serta menyiapkan perlengkapan dasar. Hal-hal yang terlihat sederhana justru bisa sangat penting ketika kita berada jauh dari permukiman.

Kami juga pernah mengalami perjalanan yang tidak berjalan mulus. Ada lokasi yang sulit ditemukan di peta, jalan setapak yang tertutup semak, kendaraan bocor, bahkan pengalaman kehabisan bensin. Sejak itu, kami tidak hanya mengandalkan satu sumber informasi. Video perjalanan, cerita warga setempat, dan peta offline bisa membantu, begitu pula mencatat titik terakhir yang mudah dikenali.

Dari pengalaman itu saya semakin paham bahwa naik gunung bukan hanya tentang pemandangan di akhir perjalanan. Ada proses belajar yang berlangsung sejak kita menyusun rencana sampai akhirnya kembali ke rumah.

Di Gunung, Kita Belajar Mengenali Diri Sendiri

Rutinitas sehari-hari sering membuat kita merasa sudah mengenal diri sendiri. Kita tahu pekerjaan apa yang harus diselesaikan, kapan harus berangkat, dan bagaimana menjalani hari. Namun, ketika berada di jalur pendakian, banyak hal bisa terasa berbeda.

Tanjakan yang panjang, napas yang mulai berat, atau kaki yang lelah akan memperlihatkan kemampuan kita yang sebenarnya. Ada saat ketika kita merasa sanggup melanjutkan perjalanan, tetapi ada pula saat ketika tubuh meminta jeda. Di situ kita belajar membedakan antara menyerah terlalu cepat dan memaksakan diri secara tidak bijak.

Saya juga mulai memahami bahwa kebugaran tidak bisa hanya diukur dari satu jenis latihan. Rutin ke gym memang membantu, tetapi mendaki membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan medan. Jogging, latihan kekuatan kaki, naik turun tangga, dan kardio bisa menjadi bagian dari persiapan. Pengalaman membaca kondisi jalur dan mengenali batas tubuh juga tidak kalah penting.

Hal lain yang saya pelajari adalah mengatur kecepatan. Saat mendaki bersama orang lain, mudah sekali tergoda untuk mengikuti langkah mereka. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan berbeda. Memaksakan diri mengejar orang yang lebih cepat bisa membuat tenaga habis sebelum perjalanan selesai.

Mendaki mengajarkan bahwa perjalanan bukan perlombaan. Kita tidak harus menjadi orang pertama yang tiba. Lebih baik bergerak dengan ritme yang bisa dipertahankan, beristirahat ketika diperlukan, dan memastikan seluruh rombongan tetap dalam kondisi baik.

Pelajaran seperti ini rasanya tidak hanya berlaku di gunung. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering membandingkan pencapaian dengan orang lain. Melihat teman sudah sampai pada tahap tertentu, kita merasa harus berlari lebih cepat. Padahal, setiap orang punya jalur, bekal, dan waktunya masing-masing.

Mungkin itu salah satu alasan mengapa naik gunung layak dicoba. Kita diberi kesempatan untuk mengalami sendiri bahwa mencapai tujuan bukan semata-mata soal kecepatan, melainkan juga tentang cara menjaga diri selama perjalanan.

Pemandangan Indah Tidak Selalu Datang dengan Mudah

Salah satu hal yang membuat saya ingin kembali menjelajah adalah pengalaman melihat alam dari sudut yang berbeda. Dari atas bukit, laut terlihat luas dan garis pantai tampak seperti lukisan. Di lokasi lain, hamparan ilalang bergerak mengikuti angin. Ada pula hutan yang lembap, suara serangga, dan suasana tenang yang sulit ditemukan ketika kita berada di tengah kota.

Tetapi pemandangan seperti itu tidak selalu datang dengan mudah. Kadang kita harus berjalan jauh, melewati jalur yang tidak jelas, atau menghadapi cuaca yang berubah. Ada perjalanan yang terasa ringan, ada pula yang membuat kaki pegal sampai keesokan harinya.

Justru proses itulah yang membuat pemandangan di tujuan terasa berbeda. Kita tidak hanya melihat sesuatu yang indah, tetapi juga mengingat bagaimana usaha untuk sampai ke sana. Setiap langkah, jeda untuk minum, obrolan singkat dengan teman, sampai rasa lega ketika menemukan jalur yang benar menjadi bagian dari kenangan.

Dalam beberapa perjalanan, kami pernah bertemu ular, melewati jalan yang dipenuhi kalajengking, dan melihat sekumpulan monyet yang seolah sedang berebut wilayah. Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika melihat gajah dari kejauhan. Tubuhnya besar, tetapi ia tampak tenang dan pemalu. Ia memperhatikan kami sebentar dari jarak tertentu, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.

Momen seperti itu membuat saya sadar bahwa hutan bukan ruang kosong yang menunggu kedatangan manusia. Kita sedang memasuki rumah bagi banyak makhluk hidup. Kita datang sebagai tamu, sehingga sudah semestinya menjaga jarak, tidak mengganggu satwa, dan tidak merasa berhak menguasai semua yang kita temui.

Saya juga masih mengingat seekor kupu-kupu yang terbang tidak jauh dari rombongan kami. Ia seperti mengikuti perjalanan dari satu titik ke titik lain, sampai kami menemukan sumber air. Entah kebetulan atau bagian dari perilaku alaminya, pengalaman kecil itu terasa istimewa. Di tengah perjalanan yang melelahkan, menemukan sumber air menjadi hal yang sangat berarti.

Alam punya cara sendiri untuk membuat kita memperhatikan hal-hal kecil. Sesuatu yang mungkin tidak akan kita hiraukan ketika sedang terburu-buru, bisa terasa sangat berharga ketika kita berada jauh dari keramaian.

Naik Gunung Membuat Lingkaran Pertemanan Bertambah Luas

Awalnya, saya lebih sering ikut open trip. Cara ini praktis karena banyak kebutuhan perjalanan sudah diatur penyelenggara. Namun, lama-kelamaan saya ingin lebih leluasa menentukan jadwal dan rute. Biaya perjalanan juga bisa lebih ringan ketika transportasi, konsumsi, dan kebutuhan lain dibagi bersama teman.

Masalahnya, teman-teman lama mulai sulit diajak. Sebagian sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Hari libur menjadi waktu untuk beristirahat atau berkumpul bersama orang rumah. Saya memahami alasan itu karena setiap orang punya prioritas sendiri.

Akhirnya, kami mencoba mencari teman baru yang punya minat serupa. Kami membuat grup WhatsApp kecil untuk orang-orang yang senang mendaki, camping, atau sekadar menemukan tempat baru di akhir pekan. Dari grup itu, perlahan muncul banyak rencana. Ada yang menawarkan lokasi, mencari rute, atau mengajak ke tempat yang belum pernah didatangi.

Saya baru menyadari bahwa teman perjalanan tidak harus selalu berasal dari lingkaran pertemanan lama. Kadang, kita hanya perlu menemukan orang yang punya kegemaran sama. Dari satu perjalanan, lahir obrolan dan rencana untuk perjalanan berikutnya.

Menariknya, usia juga tidak selalu menjadi batas. Saya pernah mengajak Tgk Faisal, yang sering saya lihat berolahraga di gym dan terbiasa naik turun tangga hampir setiap hari. Dari obrolan sederhana, saya mengetahui bahwa beliau ingin menjelajah alam, tetapi tidak punya teman untuk diajak.

Akhirnya saya tawarkan untuk ikut. Saya sempat khawatir karena perjalanan pertama yang kami pilih ternyata cukup berat. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti. Beliau terlihat santai sepanjang perjalanan. Belakangan saya baru sadar bahwa kebiasaannya naik tangga mungkin sudah menjadi modal yang berguna untuk menghadapi tanjakan.

Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk mempersiapkan diri. Kita tidak pernah benar-benar tahu pengalaman atau kemampuan apa yang dimiliki orang lain sebelum berjalan bersama mereka.

Naik gunung juga memberi waktu untuk mengenal orang dengan cara berbeda. Dalam perjalanan panjang, obrolan bisa bergerak dari cerita masa kecil, pekerjaan, rencana masa depan, sampai hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak sempat dibicarakan. Kita juga bisa melihat bagaimana seseorang bersikap ketika lelah, lapar, atau menghadapi rencana yang berubah.

Hubungan yang awalnya hanya sebatas saling menyapa di tempat olahraga atau grup percakapan bisa berkembang menjadi pertemanan setelah sama-sama melewati perjalanan. Bahkan, perjalanan alam juga bisa menjadi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, jauh dari gangguan rutinitas harian.

Jangan Sampai Kita Datang Hanya untuk Meninggalkan Sampah

Semakin sering menjelajah, semakin sering pula saya melihat hal yang membuat sedih. Ada orang yang datang menikmati keindahan alam, tetapi meninggalkan botol plastik, bungkus makanan, tisu, dan berbagai kemasan begitu saja di jalur.

Bagi saya, istilah hidden gem bukan berarti tempat yang boleh kita datangi lalu eksploitasi sesuka hati. Ketika sebuah lokasi mulai dikenal banyak orang, tanggung jawab untuk menjaganya seharusnya ikut meningkat. Jangan sampai tempat yang sebelumnya bersih justru kehilangan keindahannya karena orang-orang yang datang untuk menikmatinya.

Saya dan teman-teman berusaha memegang prinsip sederhana: apa yang dibawa masuk, sebisa mungkin dibawa kembali keluar. Kedengarannya sepele, tetapi kebiasaan seperti ini penting jika ingin tempat yang sama tetap bisa dinikmati orang lain.

Mendaki juga membuat kita lebih sadar bahwa alam tidak selalu berada dalam kendali manusia. Jalur bisa berubah licin saat hujan, sumber air tidak selalu mudah ditemukan, dan satwa liar punya ruang hidup yang harus dihormati. Karena itu, persiapan dan sikap bertanggung jawab sama pentingnya dengan semangat untuk berangkat.

Saya tidak ingin romantisasi naik gunung membuat orang lupa pada risikonya. Mendaki bukan kegiatan yang selalu menyenangkan atau cocok untuk semua kondisi. Kita perlu memilih jalur sesuai kemampuan, mencari informasi yang dapat dipercaya, memeriksa cuaca, membawa perlengkapan yang memadai, dan tidak ragu membatalkan perjalanan ketika situasinya tidak aman. Pergi bersama orang lain juga membantu, terutama bagi yang masih pemula.

Tujuan kita bukan membuktikan bahwa manusia bisa menaklukkan alam. Justru sebaliknya, perjalanan itu bisa mengajarkan bahwa kita harus tahu diri ketika berada di tengah alam yang jauh lebih luas daripada kehidupan sehari-hari.

Ada Rasa yang Sulit Dijelaskan Ketika Berada di Tengah Alam

Bagi saya, menjelajah alam bukan hanya soal menemukan tempat baru atau menambah foto di galeri. Ada perasaan tertentu ketika berdiri di atas bukit, melihat laut dari kejauhan, mendengar suara satwa liar, atau berada di tengah hutan yang jauh dari hiruk-pikuk kota.

Di tengah rutinitas, kita sering terlalu sibuk memikirkan pekerjaan, target, dan urusan yang seolah tidak ada habisnya. Namun, ketika berada jauh dari keramaian, kita punya kesempatan untuk berhenti sejenak. Kita melihat betapa luasnya alam dan menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar di sekitar kesibukan kita sendiri.

Bagi saya, momen-momen itu juga menghadirkan rasa dekat dengan Sang Pencipta. Keindahan laut, rapatnya pepohonan, dan luasnya pegunungan membuat saya merenungkan betapa banyak hal yang tidak bisa dikendalikan manusia. Ada rasa kecil, tetapi sekaligus rasa syukur karena diberi kesempatan menyaksikan semuanya.

Tentu, pengalaman setiap orang bisa berbeda. Ada yang menemukan ketenangan, ada yang menikmati tantangan fisik, dan ada yang senang karena bisa berkumpul bersama teman. Tidak ada satu alasan yang harus berlaku untuk semua orang.

Namun, setidaknya dengan mencoba naik gunung, kita memberi diri sendiri kesempatan untuk merasakan pengalaman yang berbeda dari keseharian. Kita mungkin pulang dengan kaki pegal, baju kotor, dan tubuh lelah. Tetapi bisa jadi, ada juga cerita yang terus diingat bertahun-tahun kemudian.

Jadi, Mengapa Harus Naik Gunung Sekali Seumur Hidup?

Saya tidak punya jawaban bahwa setiap orang wajib mendaki gunung tinggi. Bahkan, saya sendiri masih belajar dan belum merasa menjadi pendaki yang hebat. Ada banyak jalur yang belum saya datangi, kemampuan yang perlu ditingkatkan, dan pengalaman yang masih ingin saya kumpulkan.

Namun, saya percaya mencoba naik gunung setidaknya sekali layak dipertimbangkan. Bukan demi mengejar foto di puncak, bukan pula untuk membuktikan diri lebih kuat daripada orang lain. Kita bisa melakukannya untuk mengenal kemampuan tubuh, belajar bersabar, memperluas pertemanan, menikmati keindahan alam, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak dari rutinitas.

Tidak harus langsung mendaki gunung yang tinggi. Mulailah dari jalur yang sesuai kemampuan, cari teman yang bisa dipercaya, pelajari kondisi lokasi, dan persiapkan tubuh. Kalau belum terbiasa berjalan jauh, latih diri secara bertahap. Dengarkan tubuh sendiri dan jangan malu memperlambat langkah.

Pengalaman pertama mungkin tidak selalu berjalan mulus. Bisa jadi kita kelelahan, salah memperkirakan waktu, atau baru menyadari bahwa perjalanan jauh ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Namun, selama dilakukan dengan persiapan yang baik dan keputusan yang bijak, pengalaman itu bisa menjadi pelajaran berharga.

Saya pernah menjadi orang yang menyerah setelah 15 menit berjalan. Sekarang, setelah kembali rutin menjelajah, saya memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang harus sudah kita miliki sejak awal. Ada hal-hal yang bisa dipelajari, kebiasaan yang bisa dibangun, dan rasa percaya diri yang tumbuh sedikit demi sedikit.

Mungkin kita tidak akan langsung jatuh cinta pada kegiatan mendaki. Tidak masalah. Setidaknya kita pernah mencoba keluar dari kebiasaan, melihat dunia dari sudut yang berbeda, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengalami sesuatu yang baru.

Pada akhirnya, naik gunung bukan semata-mata tentang sampai ke puncak. Ada perjalanan yang berlangsung di dalam diri: belajar menghargai batas kemampuan, memahami orang lain, menjaga lingkungan, dan menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dijalani dengan tergesa-gesa.

Jadi, kalau selama ini kamu selalu menunda keinginan untuk mencoba naik gunung karena merasa bukan anak alam, mungkin suatu hari nanti kamu bisa memulainya dari jalur yang sederhana. Ajak teman, siapkan diri, dan nikmati prosesnya.

Siapa tahu, setelah perjalanan pertama itu, kamu menemukan alasan sendiri untuk kembali. Bukan hanya karena pemandangan di puncak, tetapi karena ada sesuatu yang berubah dalam dirimu sepanjang perjalanan menuju ke sana.

Sebab, terkadang kita memang perlu berjalan lebih jauh dari biasanya untuk menyadari bahwa dunia jauh lebih luas daripada rutinitas yang selama ini kita jalani.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer