Tahun
ini saya punya resolusi besar yang selama ini sering tertunda yakni naik gunung
dan menaklukan hidden gam yang selama hanya sebatas melihatnya di sosial media
Ada
masa ketika akhir pekan terasa seperti waktu untuk membayar utang tidur.
Setelah lima atau enam hari berkutat dengan pekerjaan, rasanya pilihan paling
masuk akal adalah bangun agak siang, duduk santai, lalu menikmati hari tanpa
perlu ke mana-mana. Apalagi ketika pekerjaan mulai menyita banyak waktu,
menghabiskan hari libur di rumah terasa seperti kemewahan yang sulit ditolak.
Saya juga pernah berada di fase itu. Hampir sepuluh tahun bekerja membuat keinginan menjelajah alam yang dulu cukup akrab perlahan tersimpan di belakang kepala. Padahal, semasa kuliah, kegiatan luar ruangan bukan sesuatu yang asing. Hanya saja, seiring bertambahnya kesibukan, rencana untuk kembali menikmati alam selalu punya alasan untuk ditunda.
Sampai
akhirnya, dalam setahun terakhir, keinginan itu muncul lagi. Saya mulai rutin
mencari tempat-tempat baru di sekitar Banda Aceh. Tidak harus jauh, tidak harus
menginap, dan tidak mesti mendaki gunung yang tinggi. Kadang cukup berangkat
Sabtu atau Minggu pagi, menemukan tempat yang belum pernah didatangi, lalu
pulang sore hari dengan badan lelah dan kepala yang terasa lebih lapang.
Dari
situ saya mulai berpikir, mungkin ada pengalaman yang memang perlu kita coba
setidaknya sekali dalam hidup. Salah satunya adalah naik gunung.
Bukan
berarti semua orang harus berubah menjadi pendaki yang setiap bulan mengejar
puncak. Bukan juga berarti liburan ke pantai, menikmati kota, atau berdiam diri
di rumah menjadi kurang menarik. Namun, mencoba naik gunung setidaknya sekali
bisa memberi pengalaman berbeda: tentang tubuh, kesabaran, pertemanan, alam,
dan cara kita melihat diri sendiri.
Saya Pernah Menyerah Setelah 15 Menit
Kalau
sekarang ada yang mengira saya sejak awal punya fisik kuat untuk mendaki,
jawabannya justru tidak. Pengalaman pertama saya mencoba hiking terjadi pada
2015, ketika seorang senior mengajak saya menuju Lhok Mata Ie, salah satu
lokasi di pinggiran Banda Aceh. Untuk mencapai pantai tersembunyi itu, kami
harus berjalan kaki sekitar satu jam.
Masalahnya,
saya datang dengan persiapan yang nyaris tidak ada. Malam sebelumnya begadang,
lalu pagi harinya makan cukup berat sebelum berangkat. Mungkin saya berpikir
perjalanan itu tidak akan terlalu sulit. Toh, tinggal berjalan kaki, bukan?
Ternyata
perkiraan saya meleset jauh. Baru sekitar 15 menit berjalan, napas mulai tidak
beraturan. Badan terasa lemas, kepala rasanya tidak nyaman, sampai akhirnya
saya muntah-muntah. Perjalanan yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan
malah berubah menjadi momen yang cukup memalukan.
Kalau
dipikir sekarang, penyebabnya cukup jelas. Saya tidak menyiapkan tubuh, tidak
memahami kebutuhan perjalanan, dan terlalu percaya diri menghadapi jalur yang
ternyata menguras tenaga. Setelah kejadian itu, saya bahkan cukup lama tidak
diajak naik gunung lagi. Bisa jadi teman-teman sudah kapok melihat kondisi saya
waktu itu.
Namun,
pengalaman tersebut justru menjadi pengingat bahwa mendaki bukan sekadar soal
punya niat atau ikut-ikutan teman. Ada persiapan yang perlu dilakukan. Tubuh
punya batas, dan alam tidak selalu bisa diajak berkompromi dengan keinginan
kita.
Sepuluh
tahun kemudian, ketika keinginan menjelajah alam kembali muncul, saya mencoba
memulainya dengan cara berbeda. Saya rutin pergi ke gym dan berlatih kekuatan.
Awalnya saya mengira kalau otot kaki sudah kuat dan tubuh terbiasa berolahraga,
hiking pasti terasa lebih mudah.
Ternyata
saya masih harus belajar lagi. Gym memang membantu membangun kekuatan, tetapi
jalur pendakian punya tantangan sendiri. Di tempat latihan, beban dan gerakan
bisa dikontrol. Di alam, kita harus menghadapi tanjakan, akar pohon, batu,
tanah licin, jalan sempit, dan kondisi yang berubah sepanjang perjalanan.
Dari
situ saya belajar bahwa kuat mengangkat beban belum tentu kuat mendaki. Kita
juga perlu mengatur ritme, menjaga langkah, dan tidak memaksakan diri hanya
karena teman di depan berjalan lebih cepat. Kadang, kemampuan paling penting
saat mendaki justru bukan berlari menuju puncak, melainkan tahu kapan harus
memperlambat langkah.
Kita Tidak Harus Langsung Menaklukkan Gunung Tinggi
Ada
anggapan bahwa naik gunung harus dimulai dengan perjalanan yang berat, jalur
panjang, atau puncak yang terkenal. Padahal, menurut saya, langkah pertama
tidak harus sejauh itu.
Saya
sendiri memulai kembali dari lokasi-lokasi yang relatif dekat. Kami menjelajahi
Lhok Mata Ie dan Pantai Lange, menyusuri hamparan ilalang di Lhok Keutapang,
melihat Kota Banda Aceh dari ketinggian Goh Leumo, hingga menikmati lanskap Cot
Goh dan Savana Siron. Di Gunung Gle Bae, suasananya berbeda lagi. Hutan lumut
yang hijau dan lembap membuat perjalanan terasa seperti memasuki dunia lain.
Tempat-tempat
itu mengajarkan bahwa pengalaman menjelajah alam tidak selalu ditentukan oleh
seberapa tinggi puncak yang berhasil dicapai. Kadang, berjalan kaki kurang dari
satu jam saja sudah cukup untuk membuat kita menemukan sudut baru dari daerah
yang selama ini kita anggap biasa.
Kita
sering membayangkan harus pergi jauh untuk mendapatkan pengalaman yang
berkesan. Padahal, bisa jadi ada tempat menarik tidak terlalu jauh dari rumah,
hanya saja kita belum pernah benar-benar meluangkan waktu untuk mendatanginya.
Tentu,
setiap lokasi punya tingkat kesulitan berbeda. Ada tempat yang mudah dicapai,
ada yang memerlukan perjalanan panjang, dan ada pula jalur yang belum memiliki
petunjuk memadai. Karena itu, memilih rute sesuai kemampuan merupakan bagian
penting dari pengalaman pertama. Tidak perlu malu memilih jalur yang lebih
mudah. Tujuan awalnya bukan membuktikan diri paling kuat, melainkan belajar
menikmati perjalanan dengan aman.
Bagi
saya, perjalanan-perjalanan kecil seperti ini menjadi semacam ruang latihan.
Kami belajar membaca jalur, memperhitungkan waktu, membawa air dan makanan,
memeriksa cuaca, serta menyiapkan perlengkapan dasar. Hal-hal yang terlihat
sederhana justru bisa sangat penting ketika kita berada jauh dari permukiman.
Kami
juga pernah mengalami perjalanan yang tidak berjalan mulus. Ada lokasi yang
sulit ditemukan di peta, jalan setapak yang tertutup semak, kendaraan bocor,
bahkan pengalaman kehabisan bensin. Sejak itu, kami tidak hanya mengandalkan
satu sumber informasi. Video perjalanan, cerita warga setempat, dan peta
offline bisa membantu, begitu pula mencatat titik terakhir yang mudah dikenali.
Dari
pengalaman itu saya semakin paham bahwa naik gunung bukan hanya tentang
pemandangan di akhir perjalanan. Ada proses belajar yang berlangsung sejak kita
menyusun rencana sampai akhirnya kembali ke rumah.
Di Gunung, Kita Belajar Mengenali Diri Sendiri
Rutinitas
sehari-hari sering membuat kita merasa sudah mengenal diri sendiri. Kita tahu
pekerjaan apa yang harus diselesaikan, kapan harus berangkat, dan bagaimana
menjalani hari. Namun, ketika berada di jalur pendakian, banyak hal bisa terasa
berbeda.
Tanjakan
yang panjang, napas yang mulai berat, atau kaki yang lelah akan memperlihatkan
kemampuan kita yang sebenarnya. Ada saat ketika kita merasa sanggup melanjutkan
perjalanan, tetapi ada pula saat ketika tubuh meminta jeda. Di situ kita
belajar membedakan antara menyerah terlalu cepat dan memaksakan diri secara
tidak bijak.
Saya
juga mulai memahami bahwa kebugaran tidak bisa hanya diukur dari satu jenis
latihan. Rutin ke gym memang membantu, tetapi mendaki membutuhkan kemampuan
beradaptasi dengan medan. Jogging, latihan kekuatan kaki, naik turun tangga,
dan kardio bisa menjadi bagian dari persiapan. Pengalaman membaca kondisi jalur
dan mengenali batas tubuh juga tidak kalah penting.
Hal
lain yang saya pelajari adalah mengatur kecepatan. Saat mendaki bersama orang
lain, mudah sekali tergoda untuk mengikuti langkah mereka. Padahal, setiap
orang memiliki kemampuan berbeda. Memaksakan diri mengejar orang yang lebih
cepat bisa membuat tenaga habis sebelum perjalanan selesai.
Mendaki
mengajarkan bahwa perjalanan bukan perlombaan. Kita tidak harus menjadi orang
pertama yang tiba. Lebih baik bergerak dengan ritme yang bisa dipertahankan,
beristirahat ketika diperlukan, dan memastikan seluruh rombongan tetap dalam
kondisi baik.
Pelajaran
seperti ini rasanya tidak hanya berlaku di gunung. Dalam kehidupan sehari-hari,
kita sering membandingkan pencapaian dengan orang lain. Melihat teman sudah
sampai pada tahap tertentu, kita merasa harus berlari lebih cepat. Padahal,
setiap orang punya jalur, bekal, dan waktunya masing-masing.
Mungkin
itu salah satu alasan mengapa naik gunung layak dicoba. Kita diberi kesempatan
untuk mengalami sendiri bahwa mencapai tujuan bukan semata-mata soal kecepatan,
melainkan juga tentang cara menjaga diri selama perjalanan.
Pemandangan Indah Tidak Selalu Datang dengan Mudah
Salah
satu hal yang membuat saya ingin kembali menjelajah adalah pengalaman melihat
alam dari sudut yang berbeda. Dari atas bukit, laut terlihat luas dan garis
pantai tampak seperti lukisan. Di lokasi lain, hamparan ilalang bergerak
mengikuti angin. Ada pula hutan yang lembap, suara serangga, dan suasana tenang
yang sulit ditemukan ketika kita berada di tengah kota.
Tetapi
pemandangan seperti itu tidak selalu datang dengan mudah. Kadang kita harus
berjalan jauh, melewati jalur yang tidak jelas, atau menghadapi cuaca yang
berubah. Ada perjalanan yang terasa ringan, ada pula yang membuat kaki pegal
sampai keesokan harinya.
Justru
proses itulah yang membuat pemandangan di tujuan terasa berbeda. Kita tidak
hanya melihat sesuatu yang indah, tetapi juga mengingat bagaimana usaha untuk
sampai ke sana. Setiap langkah, jeda untuk minum, obrolan singkat dengan teman,
sampai rasa lega ketika menemukan jalur yang benar menjadi bagian dari
kenangan.
Dalam
beberapa perjalanan, kami pernah bertemu ular, melewati jalan yang dipenuhi
kalajengking, dan melihat sekumpulan monyet yang seolah sedang berebut wilayah.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika melihat gajah dari
kejauhan. Tubuhnya besar, tetapi ia tampak tenang dan pemalu. Ia memperhatikan
kami sebentar dari jarak tertentu, lalu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Momen
seperti itu membuat saya sadar bahwa hutan bukan ruang kosong yang menunggu
kedatangan manusia. Kita sedang memasuki rumah bagi banyak makhluk hidup. Kita
datang sebagai tamu, sehingga sudah semestinya menjaga jarak, tidak mengganggu
satwa, dan tidak merasa berhak menguasai semua yang kita temui.
Saya
juga masih mengingat seekor kupu-kupu yang terbang tidak jauh dari rombongan
kami. Ia seperti mengikuti perjalanan dari satu titik ke titik lain, sampai
kami menemukan sumber air. Entah kebetulan atau bagian dari perilaku alaminya,
pengalaman kecil itu terasa istimewa. Di tengah perjalanan yang melelahkan,
menemukan sumber air menjadi hal yang sangat berarti.
Alam
punya cara sendiri untuk membuat kita memperhatikan hal-hal kecil. Sesuatu yang
mungkin tidak akan kita hiraukan ketika sedang terburu-buru, bisa terasa sangat
berharga ketika kita berada jauh dari keramaian.
Naik Gunung Membuat Lingkaran Pertemanan Bertambah Luas
Awalnya,
saya lebih sering ikut open trip. Cara ini praktis karena banyak kebutuhan
perjalanan sudah diatur penyelenggara. Namun, lama-kelamaan saya ingin lebih
leluasa menentukan jadwal dan rute. Biaya perjalanan juga bisa lebih ringan
ketika transportasi, konsumsi, dan kebutuhan lain dibagi bersama teman.
Masalahnya,
teman-teman lama mulai sulit diajak. Sebagian sibuk dengan pekerjaan dan
keluarga. Hari libur menjadi waktu untuk beristirahat atau berkumpul bersama
orang rumah. Saya memahami alasan itu karena setiap orang punya prioritas
sendiri.
Akhirnya,
kami mencoba mencari teman baru yang punya minat serupa. Kami membuat grup
WhatsApp kecil untuk orang-orang yang senang mendaki, camping, atau sekadar
menemukan tempat baru di akhir pekan. Dari grup itu, perlahan muncul banyak
rencana. Ada yang menawarkan lokasi, mencari rute, atau mengajak ke tempat yang
belum pernah didatangi.
Saya
baru menyadari bahwa teman perjalanan tidak harus selalu berasal dari lingkaran
pertemanan lama. Kadang, kita hanya perlu menemukan orang yang punya kegemaran
sama. Dari satu perjalanan, lahir obrolan dan rencana untuk perjalanan
berikutnya.
Menariknya,
usia juga tidak selalu menjadi batas. Saya pernah mengajak Tgk Faisal, yang
sering saya lihat berolahraga di gym dan terbiasa naik turun tangga hampir
setiap hari. Dari obrolan sederhana, saya mengetahui bahwa beliau ingin
menjelajah alam, tetapi tidak punya teman untuk diajak.
Akhirnya
saya tawarkan untuk ikut. Saya sempat khawatir karena perjalanan pertama yang
kami pilih ternyata cukup berat. Namun, kekhawatiran itu tidak terbukti. Beliau
terlihat santai sepanjang perjalanan. Belakangan saya baru sadar bahwa
kebiasaannya naik tangga mungkin sudah menjadi modal yang berguna untuk
menghadapi tanjakan.
Dari
pengalaman itu, saya belajar bahwa setiap orang punya cara sendiri untuk
mempersiapkan diri. Kita tidak pernah benar-benar tahu pengalaman atau
kemampuan apa yang dimiliki orang lain sebelum berjalan bersama mereka.
Naik
gunung juga memberi waktu untuk mengenal orang dengan cara berbeda. Dalam
perjalanan panjang, obrolan bisa bergerak dari cerita masa kecil, pekerjaan,
rencana masa depan, sampai hal-hal sederhana yang sebelumnya tidak sempat
dibicarakan. Kita juga bisa melihat bagaimana seseorang bersikap ketika lelah,
lapar, atau menghadapi rencana yang berubah.
Hubungan
yang awalnya hanya sebatas saling menyapa di tempat olahraga atau grup
percakapan bisa berkembang menjadi pertemanan setelah sama-sama melewati
perjalanan. Bahkan, perjalanan alam juga bisa menjadi kesempatan untuk
menghabiskan waktu bersama orang-orang tercinta, jauh dari gangguan rutinitas
harian.
Jangan Sampai Kita Datang Hanya untuk Meninggalkan Sampah
Semakin
sering menjelajah, semakin sering pula saya melihat hal yang membuat sedih. Ada
orang yang datang menikmati keindahan alam, tetapi meninggalkan botol plastik,
bungkus makanan, tisu, dan berbagai kemasan begitu saja di jalur.
Bagi
saya, istilah hidden gem bukan berarti tempat yang boleh kita datangi lalu
eksploitasi sesuka hati. Ketika sebuah lokasi mulai dikenal banyak orang,
tanggung jawab untuk menjaganya seharusnya ikut meningkat. Jangan sampai tempat
yang sebelumnya bersih justru kehilangan keindahannya karena orang-orang yang
datang untuk menikmatinya.
Saya
dan teman-teman berusaha memegang prinsip sederhana: apa yang dibawa masuk,
sebisa mungkin dibawa kembali keluar. Kedengarannya sepele, tetapi kebiasaan
seperti ini penting jika ingin tempat yang sama tetap bisa dinikmati orang
lain.
Mendaki
juga membuat kita lebih sadar bahwa alam tidak selalu berada dalam kendali
manusia. Jalur bisa berubah licin saat hujan, sumber air tidak selalu mudah
ditemukan, dan satwa liar punya ruang hidup yang harus dihormati. Karena itu,
persiapan dan sikap bertanggung jawab sama pentingnya dengan semangat untuk
berangkat.
Saya
tidak ingin romantisasi naik gunung membuat orang lupa pada risikonya. Mendaki
bukan kegiatan yang selalu menyenangkan atau cocok untuk semua kondisi. Kita
perlu memilih jalur sesuai kemampuan, mencari informasi yang dapat dipercaya,
memeriksa cuaca, membawa perlengkapan yang memadai, dan tidak ragu membatalkan
perjalanan ketika situasinya tidak aman. Pergi bersama orang lain juga
membantu, terutama bagi yang masih pemula.
Tujuan
kita bukan membuktikan bahwa manusia bisa menaklukkan alam. Justru sebaliknya,
perjalanan itu bisa mengajarkan bahwa kita harus tahu diri ketika berada di
tengah alam yang jauh lebih luas daripada kehidupan sehari-hari.
Ada Rasa yang Sulit Dijelaskan Ketika Berada di Tengah Alam
Bagi
saya, menjelajah alam bukan hanya soal menemukan tempat baru atau menambah foto
di galeri. Ada perasaan tertentu ketika berdiri di atas bukit, melihat laut
dari kejauhan, mendengar suara satwa liar, atau berada di tengah hutan yang
jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di
tengah rutinitas, kita sering terlalu sibuk memikirkan pekerjaan, target, dan
urusan yang seolah tidak ada habisnya. Namun, ketika berada jauh dari
keramaian, kita punya kesempatan untuk berhenti sejenak. Kita melihat betapa
luasnya alam dan menyadari bahwa kehidupan tidak hanya berputar di sekitar
kesibukan kita sendiri.
Bagi
saya, momen-momen itu juga menghadirkan rasa dekat dengan Sang Pencipta.
Keindahan laut, rapatnya pepohonan, dan luasnya pegunungan membuat saya
merenungkan betapa banyak hal yang tidak bisa dikendalikan manusia. Ada rasa
kecil, tetapi sekaligus rasa syukur karena diberi kesempatan menyaksikan
semuanya.
Tentu,
pengalaman setiap orang bisa berbeda. Ada yang menemukan ketenangan, ada yang
menikmati tantangan fisik, dan ada yang senang karena bisa berkumpul bersama
teman. Tidak ada satu alasan yang harus berlaku untuk semua orang.
Namun,
setidaknya dengan mencoba naik gunung, kita memberi diri sendiri kesempatan
untuk merasakan pengalaman yang berbeda dari keseharian. Kita mungkin pulang
dengan kaki pegal, baju kotor, dan tubuh lelah. Tetapi bisa jadi, ada juga
cerita yang terus diingat bertahun-tahun kemudian.
Jadi, Mengapa Harus Naik Gunung Sekali Seumur Hidup?
Saya
tidak punya jawaban bahwa setiap orang wajib mendaki gunung tinggi. Bahkan,
saya sendiri masih belajar dan belum merasa menjadi pendaki yang hebat. Ada
banyak jalur yang belum saya datangi, kemampuan yang perlu ditingkatkan, dan
pengalaman yang masih ingin saya kumpulkan.
Namun,
saya percaya mencoba naik gunung setidaknya sekali layak dipertimbangkan. Bukan
demi mengejar foto di puncak, bukan pula untuk membuktikan diri lebih kuat
daripada orang lain. Kita bisa melakukannya untuk mengenal kemampuan tubuh,
belajar bersabar, memperluas pertemanan, menikmati keindahan alam, dan memberi
ruang bagi diri sendiri untuk berhenti sejenak dari rutinitas.
Tidak
harus langsung mendaki gunung yang tinggi. Mulailah dari jalur yang sesuai
kemampuan, cari teman yang bisa dipercaya, pelajari kondisi lokasi, dan
persiapkan tubuh. Kalau belum terbiasa berjalan jauh, latih diri secara
bertahap. Dengarkan tubuh sendiri dan jangan malu memperlambat langkah.
Pengalaman
pertama mungkin tidak selalu berjalan mulus. Bisa jadi kita kelelahan, salah
memperkirakan waktu, atau baru menyadari bahwa perjalanan jauh ternyata tidak
semudah yang dibayangkan. Namun, selama dilakukan dengan persiapan yang baik
dan keputusan yang bijak, pengalaman itu bisa menjadi pelajaran berharga.
Saya
pernah menjadi orang yang menyerah setelah 15 menit berjalan. Sekarang, setelah
kembali rutin menjelajah, saya memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang
harus sudah kita miliki sejak awal. Ada hal-hal yang bisa dipelajari, kebiasaan
yang bisa dibangun, dan rasa percaya diri yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Mungkin
kita tidak akan langsung jatuh cinta pada kegiatan mendaki. Tidak masalah.
Setidaknya kita pernah mencoba keluar dari kebiasaan, melihat dunia dari sudut
yang berbeda, dan memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengalami
sesuatu yang baru.
Pada
akhirnya, naik gunung bukan semata-mata tentang sampai ke puncak. Ada
perjalanan yang berlangsung di dalam diri: belajar menghargai batas kemampuan,
memahami orang lain, menjaga lingkungan, dan menyadari bahwa hidup tidak selalu
harus dijalani dengan tergesa-gesa.
Jadi,
kalau selama ini kamu selalu menunda keinginan untuk mencoba naik gunung karena
merasa bukan anak alam, mungkin suatu hari nanti kamu bisa memulainya dari
jalur yang sederhana. Ajak teman, siapkan diri, dan nikmati prosesnya.
Siapa
tahu, setelah perjalanan pertama itu, kamu menemukan alasan sendiri untuk
kembali. Bukan hanya karena pemandangan di puncak, tetapi karena ada sesuatu
yang berubah dalam dirimu sepanjang perjalanan menuju ke sana.
Sebab,
terkadang kita memang perlu berjalan lebih jauh dari biasanya untuk menyadari
bahwa dunia jauh lebih luas daripada rutinitas yang selama ini kita jalani.

0 komentar:
Post a Comment