Monday, November 11, 2019

Konten Kreator dan Lumrahnya Pelanggaran Hak Cipta

Era digital seakan memberikan informasi yang sangat cepat dan tanpa terbatas. Informasi seakan tak terbendung banyaknya dan dibagikan oleh siapa pun itu. Orang yang paling getol membagikan itu semua adalah konten kreator. Ia jadi kiblat dari para pengguna yang harus informasi dan konten, mulai dari tulisan, gambar, audio hingga video.

Hidup konten kreator dianggap mulai sejahtera karena ia mendapatkan reward sepadan atas kerja kerasnya. Namun ada banyak konten kreator abal-abal level perorangan hingga level perusahaan melakukan tindakan keji. Sulitnya mendapatkan ide segar yang menarik tapi instan, seakan mereka gelap mata dan melakukan tindakan plagiat.

Mengambil hasil kreator lainnya tanpa sepengetahuan dan bahkan meraut untung dari itu semua. Hasil plagiat tersebut akhirnya nangkring di Google, Blog, Youtube hingga sosial medianya tanpa ada kredit pemilik asalnya.  Mulai dari software, tulisan, musik, gambar hingga audio.

Ada banyak dari konten kreator, penulis, produser hingga programmer menjadi korban plagiat dan pembajakan. Jerih payah serta riset yang mereka lakukan dalam kurun waktu panjang. Dalam sekejap mata dibajak dan diplagiat orang tak bertanggung jawab, mereka malah untung besar setelah.

Tujuan dasar adalah mendapatkan profit dalam sekejap, maka lahirlah kreator abal-abal yang miskin ide. Ia tahu apa yang dilakukan melanggar hukum dan bila ketahuan kariernya di dunia kreator tamat. Tapi apa daya dengan godaan reward dan viewer yang besar seakan ia rela mengambil risiko tersebut.

Dari manakah budaya plagiat lahir?
Plagiat tidak lahir dengan sendirinya, ia lahir dari lingkungan apatis atas segala sesuatu yang orang lain hasilnya. Ia menganggap ini bukanlah sebuah pelanggaran karena lingkungan melakukan hal serupa. Semua baru disadari sadar saat ada laporan dan si korban tahu.
 Image result for cheating in exam
Bagi saya di Indonesia tingkat plagiat sangat tinggi dan itu sudah lahir sejak bangku sekolah. Bermula dari kebiasaan menyontek dan berlanjut hingga tahap bangku perkuliahan. Patokan nilai bagus adalah segala-galanya dibandingkan kejujuran.

Para siswa lebih bangga dapat nilai bagus hasil menyontek dibandingkan nilai jelek tapi jujur. Teman yang lebih pintar jadi sasaran manusia pemalas yang ingin nilai tinggi, bisa ditebak nilai mereka juga bagus meskipun effort-nya sangat kurang.

Saat memasuki dunia kreatif, akan lahir dua model kreator yang mengandalkan ide sendiri dan kreator bermodal konten orang lain. Mirisnya kreator plagiat cepat naik daun, ia seakan punya banyak bahan yang ia colong entar dari mana. Bermodal hanya searching, download, dan kemudian reupload ulang.

Siklus para plagiator:

Malas melakukan riset > Kebiasan menyontek > Mau cepat kaya dan terkenal > Mencari karya orang lain yang diplagiat > Melakukan aksi plagiat karya orang > Cita-citanya kesampaian.

Memang di dunia ini tak ada hal yang baru, apa yang kita tulis sudah pernah atau dipikirkan oleh manusia-manusia sebelumnya. Hanya saja penyampaian atau sudut pandang yang kadang sedikit berbeda. Metode yang bisa digunakan kreator pemula adalah dengan

Ambil + Tiru + Modifikasi = Menghasilkan konten khas dirimu

Proses itu butuh waktu dengan latihan terus menerus agar otak dengan mudahnya bisa menghasilkan konten yang mujarab. Boleh sih asalkan tak lupa mencantumkan referensi bukan malah menganggap hak cipta diri sendiri dengan bangganya.

Seorang konten kreator tidak sembarangan dalam mendapatkan sebuah ide, sebelumnya nantinya ia eksekusi dengan sangat matang. Ada sejumlah tahap yang sering dihadapi konten kreator mulai dari

Penyaringan ide, ide yang pertama kali muncul dalam benak pikiran, lalui coba dituangkan sedemikian rupa. Apakah itu masuk akal atau tidak, kemudian dipilah-pilah mana segera dieksekusi sebagai sebuah konten. 
Jangan sampai ide dicuri atau didahului orang lain. Pencurian ide jadi hal yang umum terjadi akibat telat mengeksekusinya. Pesaing langsung dengan cepat merealisasikan ide tersebut sedangkan Anda terlalu lama memendamnya.

Pengembangan ide, setiap detiknya mampu mengalir memenuhi pikiran kita, bahkan di waktu yang tak terduga. Bila sudah matang, sudah saatnya dikembangkan, apa yang harus dan apa yang tidak harus dimuat dalam konten. 
Ada juga kreator yang sudah menyimpan di dalam kepala apa saja yang ia lakukan dalam mengembangkan ide. Bagi yang tak terbiasa, lembaran kecil jadi sebuah cara menuliskan ide tersebut. Ia akan membentuk kerangka awal sebelum nantinya project tersebut dijalankan. Apa kesulitannya dan apa saja yang harus di dalami.

Eksekusi ide, tahap ini ialah proses akhir sebuah ide itu telah layak untuk dihasilkan. Proses ini bisa dilakukan seorang diri atau menggunakan tim kreatif. Sehingga kreator hanya bertugas membuat konten tanpa memikirkan hal-hal teknis lainnya.

Bahkan mereka sudah punya kapan waktu postingan dan ide apa saja yang harus ada untuk beberapa hari ke depan. Ide tak datang setiap waktu, saat kebanjiran ide, saat itulah mengeksekusinya dan membuat konten sebanyaknya. Sebagai cadangan di hari esok.

Hasil, inilah tahap akhir setelah kerja keras dari mencari ide hingga mengeksekusinya. Tinggal memosting dan dinikmati oleh penikmat konten, mereka sudah tak sabar menunggu konten Anda. Setiap like, komentar, hingga share jadi balasan buat kreator atas kerja kerasnya. Ia layak dihargai dan mendapatkan reward atas kontennya.
Proses panjang ini tidak dilakukan oleh para plagiat, ia hanya berada di tahap hasil saja dan kemudian tinggal posting. Inilah yang harus ditindak tegas. Ada sejumlah cara dalam mendeteksi plagiat, ada banyak fitur yang bisa memudahkan proses tersebut.

Pihak penyedia layanan pun sangat cepat merespons mengenai aksi plagiat, salah satunya dengan melakukan Take Down hingga proses gugatan untuk plagiator. Sehingga konten kreator tidak ragu lagi karyanya dicolong orang tak bertanggung jawab. Ia bisa mengecheck sendiri atau melalui platform tempatnya menghasilkan karya. Supaya ada tindak lanjut dan efek jera buat pelaku.

Contoh aksi kreator plagiat
Ada sejumlah jenis konten plagiat yang dideteksi, mulai dari tulisan, gambar, video hingga rekaman audio musik. Berikut sejumlah cara yang bisa digunakan dalam mendeteksi plagiat.

Mendeteksi blog atau tulisan yang diplagiat
Ada begitu banyak aplikasi yang bisa mendeteksi tulisan offline atau yang ada di blog. Karena konten tulisan dianggap paling pertama hadir di internet. Pelaku plagiat bisa langsung dideteksi secara cepat dengan mengetahui kadar plagiat yang ia lakukan.
 Image result for plagiarism check
Salah satu aplikasi yang bisa digunakan adalah Plagiarism Check untuk mengetahui yang bersangkutan mengambil hak cipta orang lain. Cukup ampuh di dunia perkuliahan, jurnalistik hingga Blog. Para dosen, editor hingga blogger sangat terbantu dengan fitur ini. Sehingga nantinya plagiator akan lebih berpikir ulang melakukan tindakan tersebut.

Ini sangat berharga ke depan untuk menindak tegas yang memiliki kebiasaan plagiat. Bahkan blogger bisa menggunakan script khusus yang dibenamkan dalam blog. Sehingga pelaku tak bisa melakukan teknik Cltr + A, Cltr + C dan Cltr + V dalam membuat konten.

Mendeteksi gambar yang diplagiat
Fitur Google Images mampu mendeteksi gambar yang serupa atau identik. Ini sering digunakan supaya kita tahu siapa saja yang menggunakan gambar milik kita. Pada blog atau website sering sekali ada pencurian gambar tanpa memberikan keterangan pengguna. 

Google images bisa mendeteksi hal tersebut dan meskipun pelaku memodifikasi dengan mengubah tanggal upload jauh sebelum pemilik pertama memostingnya.

Pertama sekali ada dengan membuka Google Images,
kemudian akan muncul Upload an Image.
Kemudian tinggal upload foto yang dinilai mungkin punya kemiripan. Hasilnya bisa dilihat apakah gambar kita plagiat atau murni buatan sendiri.
Bagi Anda yang ingin mencari gambar yang bebas digunakan untuk blog, ada sejumlah cara. Salah satunya dengan menggunakan fitur pengaturan Labeled for noncommercial reuse with modification atau bisa juga memilih Labeled for noncommercial reuse.

Nantinya akan didapatkan berbagai gambar yang diinginkan tanpa melanggar hak cipta. Bisa digunakan pada blog dengan nyaman. Meskipun jumlahnya terbatas, lebih baik dibandingkan harus banyak tapi plagiat punya orang lain.

Mendeteksi video Youtube yang diplagiat
Konten kreator dianggap pekerjaan yang menjanjikan di sejumlah platform. Salah satunya yang dilakukan Youtube dengan mendeteksi kecurangan. Besarnya pengguna Youtube seakan membuat konten kreator abal-abal mencuri konten pengguna lainnya di dunia jauh. Memodifikasinya sedemikian rupa menjadi konten dan kemudian ia meraut viewer serta tentunya derasnya Adsense.

Youtube memecahkan solusi tersebut dengan membuat fitur yang mampu membaca algoritma melalui fitur Copyright Match Tool. Ini terjadi sejak seorang konten kreator Youtube pertama sekali mengupload videonya tersebut di akun miliknya. Algoritma tersebut akan mencari video yang menyerupai dengan tingkat kemiripan yang sama persis dan mirip. Si pengupload akan mendapatkan sebuah notifikasi pemberitahuan Match andai saja ia melanggar.
Pemilik pertama konten tersebut juga akan mendapatkan pemberitahuan serupa. Ia pun diberikan tiga opsi oleh Youtube, mulai dari mendiamkan video tersebut, menghubung konten kreator yang mencomot video miliknya, dan meminta pihak Youtube melakukan take down pada video tersebut (sesuai dengan pengajuan syarat yang sudah ia lakukan).
 Image result for Copyright Match Tool.
Hanya saja, kelemahannya ada banyak konten kreator abal-abal yang mencari celah. Mereka melakukan sedikit modifikasi, mulai dari memotong video kurang dari 10 detik, mempercepat video, memotong video, menggunakan teknik mirror hingga menambahkan watermark beserta dubbing supaya menghilangkan jejak plagiatnya.

Tapi saya berharap Youtube mencoba formula baru lagi dengan algoritma yang lebih kompleks. Melakukan plagiat bukan hanya sebatas video utuh, tapi ada teknik licik seperti memotong video kurang dari beberapa detik, melakukan zoom, memotong video, menambah watermark serta menambah suara dengan dubbing dapat ditindak lanjuti. Supaya makin banyak kreator yang rajin melakukan riset sebelum memosting di akunnya.

Mendeteksi plagiat dari audio dan nada musik
Mendeteksi plagiat di musik memang susah-susah gampang, bagi penggemar atau pengamat musik sebuah genre pasti bisa mengetahui plagiat tersebut. Plagiat yang paling sering dilakukan adalah dengan mencuri Beat dan komponen lainnya.

Salah satu kasus yang paling panas adalah salah seorang DJ Produser kenamaan Marshmello dianggap melakukan plagiat pada lagunya Happier ft Bastille dengan genre Future Bass. Kemiripan adalah pada Beat melodi pada Lead remix lagu One Republic “I Lived” milik Arty DJ produser kenamaan Rusia yang bergenre Progressive House.
Ia sendiri sudah meremix single One Republic I lived 5 tahun lalu (tahun 2014), sedangkan Marshmello baru mengeluarkan single Happier tahun lalu (2018). Tapi nyatanya Arty hanya yang lebih dahulu mengupload videonya hanya mendapatkan 4 jutaan viewer sedangkan Marshmello sudah lebih menyentuh angka 400 jutaan viewer.
Jelas ia dirugikan karena ketenaran Marshmello dan menuntut ke pengadilan sebagai bentuk pembelaan. Bila berhasil menang gugatan, Arty bisa mendapatkan hak cipta atas Beat tersebut dan dalam single Happier akan ada nama Arty sebagai komposer.

Meskipun begitu, di dunia musik sebuah genre, kemiripan adalah hal yang lumrah. Itu karena nada-nadanya melodi yang dekat terkecuali sang produser menggunakan nada-nada yang jauh. Bila saja nadanya sama persis, itu dipastikan itu plagiat.

Tak hanya itu saja, di era musik saat ini plagiat musik makin mudah ditemukan. Kecuali sang produser atau penyanyi menggunakan nada-nada musik dari era terdahulu. Peluang untuk diketahui melakukan plagiat makin kecil. Konsekuensi lainnya adalah plagiat membuat penikmat musik berpikir dua kali mendengarkan karya si produser.

Itulah sejumlah cara mengetahui kreator ulung yang melakukan aksi plagiat di sejumlah platform. Niatan jahat dan tak terpuji ini tak layak apresiasi. Ada banyak kreator lainnya menjadi korban dan bahkan karya buatannya berhasil melambung tinggi oleh plagiator.

Kebijakan penyedia layanan, berbagai aplikasi pendeteksi plagiat hingga laporan korban jadi bukti kuat bahkan plagiat harus diberantas. Supaya tak ada lagi konten tiruan tak layak diapresiasikan dan bahkan nasibnya di platform tersebut segera berakhir.

Bila pun ia bermain kembali, dengan cara bersih supaya lahir lebih banyak lagi kreator kreatif menuangkan ide bukan kreatif mencuri ide orang lalu memodifikasinya. Semoga postingan ini menginspirasi dan Have a Nice Day.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Halo Penulis

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Berlangganan via Email