Friday, March 29, 2019

Memblokir Game, Cara Tak Cerdas Menyelesaikan Masalah

Aksi penembakan keji yang terjadi di Christchurch, New Zealand beberapa waktu lalu berbuntut panjang. Bukan saja ada banyak korban yang berjatuhan jiwa, tetapi pelaku penembakan ternyata terinspirasi dari game FPS yang ia mainkan di rumahnya. Pikiran radikalnya hingga merela membeli senjata, berlatih menembak dan kemudian melakukan aksi terkutuk tersebut.

Dampaknya, sejumlah game FPS akan jadi korban pemblokiran di sejumlah negara. Negara seperti India, China, Malaysia hingga menyusul Indonesia akan melakukan pemblokiran dan pembatasan jam main bagi penggunanya. Pemblokiran ini beralasan karena banyak adegan kekerasan seperti tembak-tembakan dan pemukulan hingga adegan kekerasan lainnya.
Namanya saja game bergenre FPS, sudah pasti adegan tembak-tembakan.
Di Indonesia melalui fatwa MUI dan pemerintah di bawah Kominfo sedang getol melarang game FPS (PUBG), meskipun kesannya tebang pilih. PUBG jadi korban karena alasannya menginspirasi penembak di New Zealand, meskipun penembak sebenarnya bermain Fortnite, game saingan PUBG.

FPS (First Person Shooter) sendiri game yang paling banyak dikembangkan para developer game sejak dulu. Hanya saja karakter, sudut pandang dan jalan  cerita yang dihadirkan memberikan sensasi lebih hidup. Para gamer FPS sendiri sangat banyak karena dinilai bisa bermain lepas tanpa terikat waktu layaknya genre game seperti sport.

Berbicara game FPS, seakan saya ingat masa kecil saat itu dibelikan sebuah Nintendo sebelum ekspansi PlayStation hadir. Game bernama Duck Hunt tidak menggunakan konsol, akan tetapi menggunakan pistol yang diarahkan ke kawanan bebek di pinggir kolam. Game itu seakan melatih konsentrasi dan fokus hingga akhirnya bisa menembak kawanan bebek. Bila gagal fokus, kita malah menembak Anjing yang sudah berhasil menangkap bebek tersebut.
Share:

Sunday, March 24, 2019

Jadi Produser Musik Jempolan dengan ASUS Vivobook Pro F570

Saya punya mimpi besar menjadi produser musik EDM. Akan tetapi  jalan ke sana begitu sulit dan terjal, semua harus dilakukan secara otodidak. Mencari guru jangan harap karena Musik Pop dan Musik Rock masih jadi musik sejuta umat. Orang-orang mendengarkan musik EDM langsung saja banyak yang mengeritkan dahi.

Itu musik genre apa? Genre yang hanya buat hore-hore dan loncat-loncat tidak jelas itu. Sanggah teman saat saya menjelaskan genre EDM..

Namun kini genre EDM mulai dikenal lebih luas, banyak DJ Produser yang berhasil menelurkan karyanya dari PC atau laptop miliknya dan diajak label rekaman. Mereka umumnya datang anak rumahan yang sering ditolak gabung band atau tidak punya bakat menyanyi karena bersuara cempreng. Tapi ia punya mimpi besar di berkarya dunia musik.

Anak-anak yang ditolak atau introvert itu tidak menyerah, musik bisa dibuat dengan apa saja. Bisa dengan peralatan dapur yang menghasilkan simfoni bunyi nan indah. Di era digital pun musik dibuat dengan sangat praktis tanpa harus punya studio atau bahkan mengajak teman ke studio buat manggung. Bagi mereka yang introvert dan sedikit teman itu sebuah beban. Lahirnya aplikasi digital yang bisa belajar musik dari rumah sangat membantu.

Impian itu akhirnya datang dari musik di balik komputer, bisa dibuat aplikasi dan bahkan tanpa studio. Begitu praktis hanya butuh kemampuan memainkan nada. Perkenalan itu buat saya tahu aplikasi seperti FL Studio, aplikasi gratisan yang bisa belajar musik EDM. Mengetahui banyak nada, mencoba kombinasi Bass, snare, kick hingga belajar piano secara virtual. Setiap malam selalu dilarutkan dalam FL Studio. 
Share:

Saturday, March 23, 2019

Perjalanan Malam Hari, Pilihan Favorit Saat Naik Bus

Rute Sumatra dari dulu terkenal dengan medan yang menantang dan punya trek panjang nan berliku. Pemandangan alam dan hutan hujan khas Sumatra jadi sebuah hal yang menantang buat siapa saja. Kemudian setiap kota yang dilalui punya segudang pengalaman yang tidak terlupakan.

Perjalanan darat jadi alternatif yang paling saya gunakan, hanya saja lokasi rumah saya masih jauh dari angkutan bus. Hanya sesekali saja merasakan pengalaman naik bus, itu pun saat pergi ke Medan. Sensasi dan suspensi getaran terasa jadi sangat minim.
Share:

Friday, March 15, 2019

Bagaimana Wujud dan Penerapan Society 5.0?

Pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss melahirkan kejutan besar buat negeri matahari terbit. Itu disampaikan melalui Perdana Menterinya, Shinzo Abe. Bahwa Jepang akan melakukan disrupsi besar di dunia teknologi dan sisi humanisme.

Konsep itu dikenal dengan Society 5.0 yang mengedepankan dalam mengintegrasikan dunia maya dengan ruang fisik. Peran manusia di dalamnya sebagai pusat kontrol (human-centered) dan menghapus kesenjangan antar setiap manusia.
Share:

Tuesday, March 12, 2019

Gaming Menyenangkan Bersama Zenfone Max M2

Bermain game, mungkin sudah jadi kebiasaan yang sulit dilepaskan sejak kecil. Dan kebiasaan itu seakan sulit dihilangkan bak penghilang stres dan pembunuh rasa bosan. Beruntunglah kalian yang lahir saat ini, akses bermain game pun semakin mudah dan gampang. Era gaming sudah bergeser bak hiburan di kala senggang hingga kompetisi yang hadiahnya besar bukan kepalang.

Seakan saya mengenang masa saat kecil, bermain game sangat sulit dan bahkan mahal. Butuh ke rumah teman buat bisa bermain. Bermain ke rental pun harus menyisihkan sebagian besar uang jajan buat sendiri, andai bermain sendiri. Siap-siap saja kantong bisa jebol dan satu hal lagi, dimarahi emak karena ngabisin uang jajan.
Share:

Saturday, March 9, 2019

Ekspektasi Luar Biasa saat Berkunjung ke Pustaka Unsyiah

Memori terngiang pertama sekali, tepat 9 tahun yang lalu saya diterima di kampus Jantong Hate rakyat Aceh, Universitas Syiah Kuala. Hingga 5 tahun berselang saya telah berhasil menyelesaikan studi di salah satu Fakultas Kelautan dan Perikanan. Memori mendaftar ulang mahasiswa baru kala itu dilaksanakan di pustaka Unsyiah. 

Saat itulah saya menjadi salah satu mahasiswa di bawah panji Unsyiah dan menuntut ilmu di sana. Sebagai seorang alumni, setiap kali berkunjung ke Unsyiah, mungkin pilihan jatuh pada pustaka. Ada banyak kenangan dan perjuangan hingga akhirnya meraih gelar sarjana. Gedungnya dahulu dan sekarang terlihat menjulang seakan ada semangat di dalamnya.
Share:

Kenalan Blogger

My photo
Blogger & Part Time Writer EDM Observer

Part of EcoBlogger Squad

Part of EcoBlogger Squad